Sabbatical leave (lebih beken di North America) mempunyai batasan yang dimaksud masa kepegawaian sebelum boleh mengambil. Kalau ini tergantung pada kebijakan perusahaan masing-masing. Ada yang kudu mengabdi minimum empat tahun baru boleh mengambil. Itupun dengan panjang cuti yang ditentukan aturan, misalnya 4th mengabdi, 3 minggu cuti. Semakin lama mengabdi (dihitung masa aktif) makin panjang cuti yang diberikan. Karena dianggap sebagai bentuk terimakasih kepada karyawan. Udah cuti digaji lagi :)
Ada beberapa yang "memperpanjang" sabbatical leave tadi, misalnya karena ngga puas cuma 3 minggu akhirnya menjadi 4 minggu, dengan seminggu sebagai 'unpaid leave' Dulu trend untuk jelajah ini diasosiasikan pada lulusan sekolah menuju kuliah di Inggris yang disebut Gap Year. Karena itu kenapa kebanyakan para backpacker dari Eropa masih begitu muda ketika mulai melanglang buana. Eh ngga taunya saat resesi begini banyak eksekutif (baik senior atau junior) yang mengambil "career break" jadi semacam gap year untuk travelling. Ngga keluar dari kerjaan, tapi juga ngga digaji. Biasanya mereka ini lebih memilih menjadi volunteer backpackpacker yakni melakukan kerja sosial sembari ke negara2 dunia ketiga. Karena mereka tentu sudah punya skill yang memadai untuk melakukan kerja bhakti. Yang membuat perusahaan2 itu bersedia memberikan cuti karena UU perburuhan menjamin itu. Pegawe ngga bisa dipecat seenaknya, tapi pegawe juga ngga bisa cuti seenaknya. Perusahaan memahami keinginan pegawe yang pengen keluar dari ruang kubikal, sedangkan pegawe juga gatal untuk mencari pengalaman baru mencari sosok jati diri (cieee..). Beberapa kawan penyuka jalan yang saya kenal di Indonesia lebih memilih keluar pekerjaan untuk melakukan backpacking lebih dari 3 minggu. Salah satu alasannya adalah ngga mau membebani perusahaan dan tidak mau meninggalkan track record yang buruk. Disamping itu perlindungan karyawan kayaknya masih lemah, baik UU dan juga pengadilan khusus ketenaga kerjaan (semacam ombudsman). Mungkin udah saatnya mengenalkan backpacking pada Kepala HRD? he he he.. Salam, Ambar --- In [email protected], yudasmoro <mahavish...@...> wrote: > > Mas Puguh > > saya juga sering "ngiri" sama pelancong2 yg liburnya sampe bulan2an gitu > hehe. Setahu saya untuk di Indonesia memang beluma da yg menerapkan hal > seperti ini. Mungkin karena hal pencarian jati diri masih kurang diperhatikan > disini. > > -- On Fri, 8/14/09, puguh_imanto <puguh_ima...@...> wrote: > > > From: puguh_imanto <puguh_ima...@...> > Subject: [indobackpacker] Sabatical Leave (was: Re: Jumlah minimun) > To: [email protected] > Date: Friday, August 14, 2009, 6:32 AM > > > > DI indonesia sabatical leave tampaknya belum banyak diadopsi dalam peraturan > kepegawaian. Saya pernah dengar kalo pegawai negri punya "cuti di luar > tanggungan kantor" tapi saya kurang jelas apakah ini bisa dikatagorikan > seperti sabatical leave. Kalopun sudah ada aturan didalam pedoman > kepegawaian, biasanya si pegawai yang takut untuk mengambil 'sabatical > leave', karena takut mejanya diambil orang... > > Mungkin karena sulitnya mendapat pekerjaan di negara berkembang seperti > Indonesia dan hasil kerja yang secara financial yang tidak memungkinkan untuk > melakukan bertahan lama tanpa mendapatkan penghasilan bulanan tetap. >
