Gua mau berbagi pengalaman membuat passport nih. Tulisan ini gua kopas dari blog gua http://andhikapandu.blogspot.com/2009/09/langkah-membuat-passport-di-kantor.html
-- Ini pengelaman pertama kalinya gua berhubungan dengan birokrat. Awalnya biasa aja, tetapi setelah sampai di tahap akhir pengurusan passport di Imigrasi Bandung. Baru gua sadar, bahwa gua adalah seseorang yang ga sabar, pemarah, dan pendendam. So, kalau lo pengen melatih kesabaran? Silahkan datang ke birokrasi terdekat! ----- Tanggal 14 Januari 2009. Gua mengurus passport di kantor Imigrasi Bandung Jl.Surapati. Awalnya gua ragu untuk urus sendiri, selain gua belum pernah berurusan dengan birokrat, gua juga tipe orang yang malas dipersulit. Jadi kalau ada orang yang menyediakan jasa cepat (calo) lebih baik gua pake itu aja. Selain mudah gua juga ga perlu tunggu lama. Tetapi jelas, kekurangannya adalah lebih mahal. Karena bulan ini gua banyak pengeluaran penting ; seperti kolokium, dan smester baru. Oleh karen itu gua pun mengurungkan niat menggunakan jasa calo. ----- Ini kira-kira perbandingan antara lo pakai jalur cepat dengan jalur normal : - Jalur normal : Rp.270rb, selesai kira-kira 12 hari. - Jalur cepat (calo) : Rp. 750rb, selesai 2 hari - Jalur super cepat (calo) : Rp.1jt, selesai selama 1 hari saja!! Dilihat dari perbandingannya. Terlihat jelas, menggunakan jasa calo lebih mudah, cepat, tapi 300-400% lebih mahal. Sedangkan jalur normal menyediakan harga lebih murah, tetapi lama, dan yang pastinya perlu kesabaran. ---- Dengan berbekal keteguhan gua waktu itu. Akhirnya gua memberanikan diri pergi ke kantor Imigrasi Bandung, Jl.Surapati. Kebetulan jarak kantor itu dari rumah gua cuma butuh sekitar 5 menit aja pakai motor. Kesan pertama terhadap kantor ini antara lain: sumpek, karena banyak mobil diparkir di halaman parkir yang amat sempit, juga orang banyak berlalulalang. Saking banyaknya, kita bahkan sulit membedakan antara pelamar, atau calo, karena semuanya sama-sama menggunakan baju bagus. Ada suatu ketentuan yang gua baru tahu pertama kali ketika gua ke Imigrasi. Kita harus mengenakan baju formal, maksudnya pria menggenakan kemeja, sedangkan wanita bebas asal sopan, dan tidak berpenampilan seperti Dewi Persik, karena khawatir anda hanya akan menjadi objek penghibur mata pria yang kelelahan menunggu di sana. ----- Ada beberapa tahapan (jalur normal) sampai lo dapat passport lo. Tahap I : Penyerahan Dokumen dan Formulir Tahap II : Pembayaran Tahap III : Wawancara, ambil sidik jari, juga pemotretan. Tahap IV : Pengambilan Passport. Dari Tahap I s/d Tahap II biasanya butuh waktu kira-kira 5 harian, sampai lo diminta untuk balik lagi ke kantor imigrasi untuk melakukan pembayaran. Tahap III yaitu wawancara, kira-kira selang sehari setelah tahap II. Nah, yang terakhir tahap IV kurang lebih 7 hari setelah tahap III. Jadi total semua ada 13 hari (versi gua). Kalau lo lewat calo lebih baik nggak usah bingung-bingung ngitung berapa hari passport lo bakalan selesai. Cukup datang, dipotret ambil sidik jari, pulang, tidur, besok jadi. Tapi, kalau lo pakai jalur normal. Silahkan simak paragraf tentang jumlah hari dalam setiap tahapan yang ada dengan seksama. Ingat belajar itu lebih enak dari pengalaman orang lain. Ini pengalaman buruk gua dan gua akan bagi ceritanya ke lo-lo semua. ---- Tahap I Setelah gua mengisi formulir dan melengkapinya dengan data penunjang, seperti : - Foto Copy KTP - Foto Copy Kartu Keluarga (KK) - Foto Copy Akte Kelahiran Akhirnya gua submit dokumen-dokumen tersebut dalam sebuah map khusus dari Imigrasi berwarna kuning yang terdapat kolom : Nama, Kewarganegaraan, Tanggal Lahir, No.KTP. Yang harus kita isi dengan benar. Ada uniknya, untuk membeli map itu, jangan repot-repot ceulang-cileung (Sunda : mondar-mandir) di dalam kantor Imigrasi. Karena ketika lo tanya petugas informasi Imigrasi di sana. "Di mana saya bisa dapat map-nya?". Petugas bagian informasi akan dengan senang menjawab, "Di kantin". ?? ?? Akhirnya gua mencari kantin yang ternyata tempatnya bukan di dalam kantor imigrasi, tapi di luar dekat parkiran motor kantor Imigrasi. Harga map-nya sungguh mahal Rp.6000, dengan harga segitu lo bisa dapetin 1 buah map beserta 1 buah sampul passport (inget ini cuma sampulnya doang). ~Tolol, juga dalam hati gua~. Akhirnya gua bilang ke orang yang di kantin. Pandu : Bu, maaf sampulnya ga usah, map-nya aja Ibu-ibu di kantin : Dek, ini wajib lho Pandu : Wajib kenapa? Ibu-ibu : Udah ketentuannya begitu. Pandu : Ibu ini aneh, percuma dong saya punya sampulnya tapi passportnya belum ada? Pandu : Seumur-umur baru kali ini saya beli buah jeruk, tapi cuma dapet kulitnya. Ibu-ibu : ... ... Akhirnya gua pun meninggalkan kantin dan kembali lagi ke dalam kantor. Gua duduk di depan loket I tempat penyerahan berkas pendaftaran. Kurang lebih sekitar 45 menit setelah berkas dikumpulkan, gua dipanggil namanya "Andhika Panduwinata" melalui pengeras suara atau terdengar "Ansdfhiksdf Psdfansdfu Wsdfisdfnatsdfa" akibat kualitas mic yang kurang bagus. Gua bergegas ke loket dan segera ambil kuitansi. Isi dari kuitansi itu adalah tanggal gua harus kembali ke imigrasi untuk pembayaran dan wawancara. Di situ kuitansi itu ditulis : Kalau gua harus kembali lagi ke Imigrasi untuk melakukan pembayaran pada tanggal 19 Januari 2009 dan juga wawancara tanggal 20 januari 2009. Pertanyaan gua yang paling mendasar. "Kenapa harinya tidak di satukan aja yah dengan saat gua mau wawancara?". Konyol dah?! --- Tahap II Setelah pulang dari Jatinangor tanggal 19 Januari, tepatnya jam 14:00. Gua ke Imigrasi lagi sesuai dengan tanggal pembayaran. Setelah gua memarkirkan motor bebek jadul tahun 70 gua. Gua langsung ambil nomor dan melakukan pembayaran di Loket Pembayaran. Pandu : Mas, saya ingin bayar. Ini kuitansinya. Mas : .... Mas : .... Mas : .... (tetap diam) Pandu : Mas, ini saya ingin bayar. Mas : Iya, tunggu dulu, saya selesein berkas ini dulu. Pandu : Bilang Dong!! (kesal) Setelah gua bilang nada lebih tegas, akhirnya dia langsung mengambil berkas gua dan menerima pembayaran gua sebesar Rp.270rb. Langsung setelah gua dapet bukti pembayaran gua, langsung cabut. Gerah gua di sana lama-lama. ---- Tahap III : Wawancara, Ambil Sidik Jari, Pemotretan Besokannya setelah melakukan pembayaran, gua kembali lagi. Sekarang lebih pagi jam 8:30 gua datengnya. Karena semakin siang, kondisi imigrasi semakin nggak karuan dengan banyaknya orang yang ngantri dan juga calo yang berkeliaran mengejar mangsa, jadi gua dateng lebih pagi. Setelah ambil nomor antrian, gua langsung di suruh ke dalam ruangan, katakanlah loket II. Di loket ini gua kasihin nomor antrian gua dengan sebelumnya dibubuhkan nama lengkap gua dulu "Andhika Pandhu Winata Keren Sekali". Hehe.. Sampai akhirnya ada suara dari pengeras suara. "Nomor 4019 Bapak. Andhika Pandhu Winata Ker... .. ?? maaf.. Silahkan masuk ke dalam ruangan Wawancara". Dalam hati gua "Gotcha?!". Note : ini cuma lelucon aja dan ga bener terjadi. Di dalam ruangan itu, ada sekitar lima meja dengan kamera di atasnya. Gua-pun menuju salah satu meja untuk melakukan sesi pemotretan. Akhirnya gua disuruh menghadap kamera dan.. 1.. 2... 3. "Iya, sekarang samping kanan". Otomatis karena mendengar kata samping, dan masih dalam konteks pemotretan, akhirnya gua merubah arah duduk gua menghadap ke samping kanan seperti narapidana yang diambil potretnya dari segala arah di depan kamera. Dalam hati "Kok aneh yah disuruh menyamping?". Akhirnya si bapak dari imigrasi tersenyum. "Maaf, maksud saya, sekarang tangan samping kanan, kita sekarang ambil sidik jari". Dalam hati ini gua malu banget, gua berharap cepet-cepet keluar dah dari ruangan ini. Akhirnya sidik jari guapun diambil. Selesai pengambilan gambar, dan sidik jari. Sekarang waktunya sesi wawancara. Kalau versi gua sih cuma ditanya nama lengkap, juga ditanya udah punya passport sebelumnya?. Tapi nggak tau deh kalau yang lain kayak gimana?. Setelah selesai, kita dapet secarik kertas yang harus diberikan ketika pengambilan passport tahap IV. --- Tahap IV : Pengambilan Passport. Tepatnya tanggal 28 Januari 2009, (hari pada saat gua tulis note ini), gua dapet passport gua. Ini adalah tahap yang paling menyebalkan dari semua tahap yang ada. Di sini lah pengujian kesabaran lo diukur sudah sampe di mana. Kira-kira hari ini jam 9:30, gua nyempetin ke Imigrasi sepulangnya dari temen gua. Seharusnya gua ambil tanggal 27 kemarin, hanya saja karena tanggal itu gua lagi ada kolokium, makanya gua baru sempet ambil hari ini. Seperti biasa, langkah pertama yang gua lakukan di kantor imigrasi adalah ambil nomor antrian. Setelah memberikan nomor antrian dan kertas yang gua dapet dari Tahap III kemaren. Gua pun mencari tempat duduk di barisan terdepan. Supaya lebih terdengar kalau nama gua dipanggil. Gua duduk di sebelah mantan pensiunan ABRI. Karena ga ada kerjaan, gua pun mengajak si bapak itu bicara ngalor ngidul seputar ; politik, sejarah, pendidikan. Karena menarik bahasan yang kita perbincangkan, akhirnya gua terbawa dalam percakapan tersebut. Gua pun tersadar sudah 1 jam gua di sini. Waduh!, udah jam setengah 11 aja nih. Gua ada keperluan lain di Cimahi jam 12, sedangkan gua mau ke Depok hari ini jam setengah 6. Akhirnya gua tanya ke petugas Imigrasi, tentang keberadaan passport gua. Dia bilang lagi diurus oleh kepala kantor jadi gua dipersilahkan menunggu. Gua masih biasa menolerir ini, akhirnya gua duduk manis lagi di bangku ruang tunggu. Karena ga ada kerjaan di sana, dan juga pembicaraan dengan bapak itu tiba-tiba menjadi hambar. Maka gua putusin untuk browsing GPRS aja sambil isi waktu. Mungkin ada miliaran situs di google kali, gua browse tadi pas lagi nunggu. sampai akhirnya gua liat waktu udah nunjukin jam 11:30. Waduh! Gua ada janji nih jam 12. Karena merasa kelaman nunggu sampai 2 jam di kantor imigrasi. Juga sedikit merasa dipermainkan karena ada seorang ibu-ibu yang baru menyerahkan surat hasil wawancara tapi 15 menit kemudian dia dapet passportnya. Akhirnya gua kembali bertanya ke petugas di loket penyerahan passport RI. Pandu : "Kapan passport saya selesai?" Petugas : "Sebentar lagi, sabar" Pandu : "Ya, elah, gimana saya bisa sabar. Ibu-ibu yang tadi dateng belakangan cuma 15 menit aja bisa dapet passprt masa saya yang udah 2 jam gini nunggu, ga juga ada!" Petugas : "Lagi diproses, lagi ditanda tangani kepala kantor" Pandu : "Ok, di mana ruangan kepala kantornya, saya menghadap dia sekarang!" Petugas : "Oh, maaf nggak bisa" Pandu : "Gini aja lah pak! Kapan pastinya tuh passport selesai, ntar saya balik lagi! Petugas : "Setelah istirahat" Pandu : "Ok, saya dateng lagi jam 13:30, tapi pastikan passportnya udah siap?" Petugas : "Iya" Untuk sementara karena gua ada keperluan lain lagi di Cimahi. Gua ke sana dulu. Kira-kira jam 13:30 gua udah di kantor Imigrasi Jl.Surapati lagi. Tanpa banyak basa-basi gua langsung ke loket penyerahan passport. Pandu : "Pak, saya mau ambil passport saya" Petugas : "Atas nama siapa pak?" Pandu : "Andhika Panduwinata" (Petugas sibuk mencari-cari.) Petugas : "Belum masuk pak" Pandu : Gimana sih, kan katanya selesai setelah istirahat. Yang bener kalau ngomong?!. Sebenernya gua ga enak ngomong dengan intonasi tegas ke bapak-bapak yang umurnya beda 30 tahun sama gua. Tapi, mau gimana lagi? Kalau gua ga proaktif, pastinya gua bakal jadi pihak yang lemah diantara calo-calo yang minta duluan di sana. Gua cuma ngarepin hak gua terpenuhi, setelah gua melakukan kewajiban dengan membayar sejumlah uang untuk pembuatan passport ini. Tapi, konyolnya dia lebih ngedahuluin calo-calo. Akhirnya gua ga bisa cuma diem, gua harus lebih tegas lagi. Pandu : Jadi sekarang saya harus nunggu berapa jam lagi??!! Sii petugas bertanya sama orang yang ada di sampingnya tentang kesiapan berkas atas nama gua. Dengan nada bisik-bisik tapi masih terdengar itu. Gua baru tahu, kalau berkas atas nama gua belum diambil dan dikirim ke kepala kantor untuk ditandatangani. (Dalam hati gua , sialan banget nih orang. Ngasih janji palsu ke gua?!) Petugas : "Tunggu sebentar , lagi ditandatangani" Pandu : "Apaan lagi ditandatanganin, saya denger bapak tadi bicara apa?! Berkas saya belum dikerjakan kan?!" Pandu : "Gini aja pak, saya mau bapak prioritasin saya, sebagai orang yang udah nunggu 4 jam disini! Bapak pikir kerjaan saya cuma diem aja di sini? Saya juga ada keperluan yang lain lagi pak! Pelamar yang lain, kayaknya ngeliatin gua, betapa marahnya gua waktu itu. Akhirnya gua pun memilih untuk duduk, ketimbang berkoar-koar ga jelas di sana. Ketika duduk, ada ibu-ibu yang juga curhat sama gua, kalau dia juga dari jam 12 belum keluar juga passportnya. Ngobrollah gua dengan ibu-ibu tersebut. Sampai akhirnya, waktu jam setengah 4. Dan gua mulai kesal. Gua kembali lagi ke loket penyerahan passport. Pandu : Pak, mana passport saya! Petugas : Iya, pak sedang ditandatangani. Pandu : PAK! YANG BENER KALAU KERJA!! JANGAN KAYA TAI GINI LAH PAK!! LO PIKIR KAGA CAPE GUA NUNGGU DI SINI!! ANJING LO!! (Reflek gua nendang meja kasir dengan keras) Keadaan imigrasi yang sudah mulai sepi sejak ditutup jam 3 tadi, tiba-tiba bertambah hening, sejak suara dominan gua mengisi ruangan itu. Semua mata tertuju ke gua yang saat itu merah mukanya, menahan luapan emosi. Pandu : LIMA MENIT LAGI GA SELESAI GUA OBRAK-ABRIK NI TEMPAT!! Konyolnya, setelah gua ancem kayak gitu. Ga ada semenit, passport gua dikasih juga. Kampret! Akhirnya si petugas suruh gua foto kopi dulu, dan di kasihin ke dia. Cepet-cepet deh gua selesein urusan di sana. Gerah, makin sore keadaan Bandung bukannya semakin dingin, malah semakin panas.. --- Kesan gua tentang ini. Untung buat passport cuma 5 tahun sekali. Kalau sebulan sekali bisa cepet jantungan gua. Jadi gua saranin ke lo-lo yang mau urus passport jalur normal. Jangan sungkan untuk cerewet, atau paling nggak galak, kalau lo ngerasa lo dibuat menunggu lama, sebenernya si birokrat lagi memohon, agar lo kasih uang ke dia supaya urusan diperlancar! -- Cheers.
