Dear Dee Dee,

Saya sudah dengar tentang Coachsurfing ini, dan menurut saya ini suatu program 
yang sangat bagus. 
Cuma terus terang sehari-hari saya kuatir tidak punya waktu untuk diberikan 
kepada komunitas ini, maka saya ragu untuk bergabung. 

Anyway, semoga 'obrolan' kita ini berguna bagi para traveler, karena ternyata 
ada beberapa faktor 'tak terduga' yang bisa merusak jalan2, bahkan berbahaya: 
kriminalitas, kehabisan uang, cuaca, kekacauan, dan seperti yang Dee Dee 
ceritakan, terkena penyakit berat. 

Buat yang lain yang telah menanggapi, terima kasih telah turut memperkaya 
wawasan kami. 
BTW saya tidak bilang kalau orang2 Eropa itu tidak ramah kalau ditanya, mereka 
menjawab dengan ramah sih, tapi begitu krisis, semua sibuk mengurus diri 
sendiri dan hanya berkumpul sesama 'bangsanya', dengan pengecualian terhadap 
gadis2 (tetap mau membantu dan bahkan mengajak kenalan). 
Contohnya waktu kami semua kebingungan gara2 pesawat stranded dan harus 
mengganti jadwal lewat internet, ada satu penumpang yang punya laptop 
berinternet, tapi setiap kali orang2 Asia meminta bantuannya dia mengatakan 
maaf tidak ada waktu, tapi dia menyediakan waktu berinternet banyak sekali 
kepada gadis2 Italia, Spanyol dan Belanda. Yang punya telepon juga tidak mau 
bantu, misalnya mengatakan "I have my sister take care of my rescheduling, you 
should find your family to do that".  Contoh lain adalah saat istri saya panik 
kehilangan tasnya, semua orang Asia yang ada di ruangan breakfast kecil itu 
bereaksi, ada yang berusaha bantu mencari, menghubungi petugas hotel, dan 
menghibur istri saya. Yang orang Eropa? tetap melanjutkan sarapan.
Kalimat "Are you OK?" hanya ditanyakan oleh sesama Asia, sepanjang 3 kali 
halangan yang kami hadapi (pencurian, stranded, dan chaos di bandara). 
Tentunya kemauan bantu orang lain itu terserah masing2 individu, tapi 
ketidakpedulian kolektif ini cukup mengguncang saya, dan mempertanyakan nilai2 
(kemanusiaan dan agama) yang mereka anut. 

Yah mungkin ini juga berkah dari pengalaman perjalanan... mengetahui baik 
buruknya suatu masyarakat, dan mengetahui apa yang dapat kita lakukan 
selanjutnya. 

Cheers,

Indra




--- On Mon, 12/28/09, deedee <[email protected]> wrote:

From: deedee <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Catper "Kacau Balau" (alias apa saja yang harus 
disiapkan kalau pergi jauh)
To: "anthonyrayindra" <[email protected]>, 
[email protected]
Date: Monday, December 28, 2009, 9:52 AM

Mas Indra, 



turut berdukacita atas musibah nya.



Saya bukan bermaksud menggurui, tapi pengalaman saya selama travelling
ke luar negri, alangkah bermanfaatnya apabila kita menjadi anggota
jaringan silaturahmi internasional (atau sering dikenal juga dengan
traveller exchange) couchsurfing : http://www.couchsurfing.org dimana
kita akan punya teman (penduduk lokal) di setiap negara. 



Yang biasa saya lakukan adalah, sebelum saya berangkat ke negara
tersebut, saya menghubungi orang2 yang akan saya temui atau calon host
yg akan saya inapi, atau saya bisa post di forum itinerary saya selama
di negara tersebut, dan biasanya dari sekian banyak yang saya hubungi,
pasti akan ada teman2 baru yang bersedia bertemu untuk sekedar "say
helllo", ikutan menemani jalan2, sampai membantu apabila kita ada
kesulitan di negara tersebut. 



Demikian juga apabila ada teman dari negara lain yang berkunjung ke
negara kita, mereka pasti sudah punya beberapa teman lokal di
Indonesia. beberapa kasus yang saya pernah involve misalnya membantu
teman dari german yang ketika baru datang ke Indonesia dia mendapat
musibah demam berdarah (kami mengurus dia dari membantu urusan
admisnitrasi RS atau menghubungi keluarganya, gantian menjaga dia
selama sakit, dll dsb), atau ketika satu teman Amerika mendadak
dirampok di jalan jaksa (membantu dia menghubungi kedutaan nya,
menghubungi keluarganya, meminjami uang, memberikan tumpangan menginap
hingga dia bisa survive sampai urusan nya beres), maka ketika kita
mendapatkan berita tersebut (baik dari forum ataupun berita dari mulut
ke mulut), kita semua berusaha semaksimal mungkin membantu teman yang
lagi mendapatkan kemalangan tersebut.



Keuntungan nya menjadi anggota (gratis) tersebut adalah, semua anggota
couchsurfing BISA berbahasa Inggris, sehingga ketika kita mendapatkan
berita buruk tentang anggota couchsurfing (baik yang sudah kenal maupun
yang belum) suatu negara yang mayoritas penduduknya tidak bisa
berbahasa Inggris, maka teman2 lokal kita di negara tersebut bisa
membantu kita.



Hal ini tidak berlaku hanya untuk orang asing, tetapi juga untuk teman2
Indonesia. ketika saya ke Jogja 2 minggu kemarin, saya sama sekali
tidak mendapatkan penginapan karena liburan long week end, dan teman2
couchsurfing jogja saya bisa membantu saya menemukan penginapan (Rp
40,000 per malam buat dua orang aja loh, hare gene masih ada penginapan harga 
segitu ??? hehe), sampe penyewaan motor
yang kala itu semuanya udah fully booked. Selain mendapakan teman baru,
saya juga berkesempatan menjelajah goa tubing & goa jomblang (yang
belum dibuka untuk umum) yang mungkin tidak akan saya ketahui dan alami kalau 
saya
tidak berkenalan dengan teman2 anggota couchsurfing Jogja.




Demikian sekedar masukan, semoga informasinya berguna

 salam,
Deedee Caniago
*they don't care how much you know until they know how much you care*

From: anthonyrayindra <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, December 25, 2009 2:48:33 PM
Subject: [indobackpacker] Catper "Kacau Balau" (alias apa saja yang harus 
disiapkan kalau pergi jauh)








 



  


    
      
      
      Dear Friends,



Barangkali pengalaman kami bisa dijadikan pelajaran, dan berguna dalam 
mempersiapkan segala sesuatunya saat jalan2 jauh.



Tanggal 10 Desember yang lalu saya dan istri cuti dan liburan ke Eropa. 

Hari-hari awal berlangsung sangat indah, mulai dari London, terus ke Paris, 
lanjut ke Lourdes. 

Sedikit catatan bagi yang ke Lourdes, Desember di Lourdes sangat sepi, nyaris 
kota mati. Restoran juga buka cuma jam makan siang saja, dan menu-nya terbatas. 
Tapi kami menikmati suasana hening dan sangat pribadi di sana.  



1. Maling Roma

Kemudian kami sampai di Roma. 

Di semua buku dan panduan mengatakan harus hati-hati saat berjalan-jalan di 
Roma, karena banyak copet. 

TERNYATA, baru mulai breakfast di dalam hotel, tas istri lenyap. Semua hilang: 
paspor, uang, kartu kredit, kamera, perhiasan dll. Kami benar2 tidak sadar 
kapan pencurian itu terjadi. 

Hotelnya Windrose, di jalan Via Gaeta, dan orang2nya SANGAT tidak peduli. 
Mereka cuma mengatakan "I don't know, I don't know", tidak mau menunjukkan 
CCTV, bahkan kata maaf atau menawarkan minum untuk menenangkan istri saya yang 
panik juga tidak. Mereka cuma menyuruh saya pergi ke polisi untuk buat laporan. 



Untungnya (orang Jawa selalu bilang Untung), orang2 Kedubes RI di Roma 
sangat-sangat kooperatif, terutama pak Febby dan Pak Jun, Konsul RI di Roma. 
Walau hari itu Sabtu (Kedubes tutup), mereka bersedia datang ke kantor untuk 
mengurus pembuatan paspor sementara, karena besok paginya saya harus balik ke 
Amsterdam untuk pulang. 

Untuk membuat paspor, diperlukan foto dan berbagai dokumen seperti fotokopi 
paspor lama. 



Panik karena uang di dompet tinggal sedikit, saya berusaha mencari cash advance 
dulu (untuk bayar taksi, foto dll), dan setelah itu mencari-cari tempat foto, 
yang akhirnya ketemu di dalam terminal, yaitu loket buat pasfoto untuk anak 
muda itu. Untuk Cash Advance, Sabtu bank tutup namun untung beberapa Money 
Changer bisa menukar cash Advance dengan kartu MasterCard saya. 



Saat mengurus paspor baru, orang2 Kedubes mengatakan bahwa pencurian di Roma 
sangat sering terjadi. Bahkan seorang pengusaha kehilangan seluruh barang 
berharganya yang disimpannya di dalam brankas (Safe Deposit Box) di dalam 
kamarnya, karena seluruh brankasnya digondol maling!! Jadi benar2 tidak ada 
tempat yang aman di Roma... lha di dalam kamar hotel saja dibobol...? Kan tidak 
mungkin menyeret2 koper ke mana2... lebih diincar lagi dong?



2. Badai Salju

Akhirnya, dengan bantuan luar biasa pak Jun, konsul RI di Roma, paspor selesai 
sore itu juga. Kami pun segera bersiap pulang lewat Amsterdam (naik KLM ke 
Jakarta). Hati gelisah dan tidak betah, dan istri sangat was-was, jadi jam 6 
pagi esoknya kami langsung ke airport Fiumicino untuk penerbangan jam 10, 
Roma-Amsterdam, dengan Easy Jet. 

Ternyata penerbangan dibatalkan karena badai salju. Kami harus menunggu di 
airport sampai jam 6 sore baru akhirnya mendapat kamar hotel. 

Anehnya, di airport itu tidak ada internet, sedangkan pengubahan jadwal Easy 
Jet hanya bisa lewat internet. Di sana juga sama sekali tidak ada petugas di 
gerai Easy Jet, dan semua petugas di sana adalah petugas outsourcing (bukan 
orang Easy Jet), jadi mereka sama sekali tidak bisa bantu mengubah jadwal. 

Cuma dikasih nomor telepon Customer Service Easy Jet, yang hanya menjawab dalam 
bahasa Itali, dan itupun hanya bisa merujuk ke website Easy Jet. 



Karena takut tidak mendapat seat di penerbangan Easy Jet yang berikutnya, kami 
berusaha mencari seat atau mengatur seat KLM kami yang Amsterdam-Jakarta. 
Ternyata konter KLM di Roma itu kecil saja, dan petugasnya juga belepotan 
bahasa Inggrisnya dan tidak dapat membantu banyak. Saya juga men-SMS saudara di 
Indonesia untuk bantu chance flight di website Easy Jet, tapi mereka mengatakan 
fitur penggantian itu belum ada di website, satu2nya cara beli tiket lagi. 



Setelah mendapat kamar hotel malam itu, saya segera berusaha mencari seat untuk 
esok hari (tanggal 21 Des), tapi benar, kami tidak dapat mengubah hari meskipun 
ada cancellation, dan penerbangan 21 Des juga sudah penuh. 



Untung lagi, ada orang India yang juga stranded mengatakan ada pesawat lain, 
Ryan Air, yang juga ke Belanda, tapi turunnya di Eindhoven. 

Kami langsung memutuskan untuk membeli lagi tiket Ryan Air ke Eindhoven, 
penerbangan pertama jam 6 pagi, harga 240 Euro berdua. (BTW kami juga lihat 
masih ada kursi dengan KLM atau Alitalia, tapi harganya 900 Euro perorang!)



Jam 2 pagi buta kami sudah bergegas ke bandara Ciampino, 35 km dari Fiumicino, 
dengan taksi habis 70 Euro. Kami harus pagi2 karena berdasarkan pengalaman di 
Easy Jet kemarin kami harus urus paspor baru agak lama (karena Visa Schengen 
ikut hilang bersama paspor lama).



Hati kembali cemas melihat banyaknya orang yang mengantri di Fiumicino, karena 
ternyata Ryan Air juga banyak cancel kemarin. Namun akhirnya berhasil naik juga 
menuju Eindhoven. 



3. Chaos

Badai salju kali ini benar2 melumpuhkan transportasi Eropa. 5 kereta canggih 
Eurostar London-Paris bahkan mogok di bawah laut, dan perlu waktu sampai 5-12 
jam untuk menyelamatkan ribuan penumpang yang terkurung dalam kegelapan, 
kedinginan, kelaparan dan kekurangan oksigen. 



Akibat lainnya: jalur kereta biasa juga cancel, dan jalur lalu lintas macet 
total. 

Itulah yang terjadi saat kami tiba di Eindhoven, dan naik bis ke Amsterdam. 
Jarak tempuh yang biasanya cuma 2 jam menjadi hampir 5 jam. 

Sesampainya di bandara Schiphol, kekacauan tampak jelas. Para penumpang yang 
pesawatnya cancel antri mengular untuk mengatur keberangkatan, dan banyak yang 
sudah kelelahan tidur di bandara. Kasihan yang anak2, menangis kelelahan. 
Komputer dan jalur bagasi bandara ikut2an rusak, jadi suasana makin tidak 
keruan. 



Sore harinya akhirnya semua bisa diatasi dan kami siap boarding. Namun hati 
tetap was-was karena badai salju masih tampak jelas mengamuk di luar. Namun 
akhirnya pesawat tetap berangkat meski delay 1 jam karena harus dihangatkan 
dulu untuk membuang salju yang menumpuk di sayap. 



Sekitar 15 jam kemudian akhirnya kami sampai di tanah air (23 Des). Total waktu 
kami bergerak tanpa tidur yang layak mulai dari Roma sampai Jakarta mungkin 
sekitar 40 jam lebih...



Pelajaran yang mungkin bisa kita ambil

1) Miliki kartu kredit Visa atau MasterCard.

Sangat berguna kalau kepepet. 



2) Pisahkan paspor (dan dokumen perjalanan lain) dengan uang. 

Yang diincar katanya uang saja, yang lain sebenarnya tidak. 



3) Pakai body wallet. 

Kami sebenarnya sudah punya, tapi karena terus2an harus ambil paspor dan uang 
(misalnya untuk check in), jadinya malah takut dokumennya jatuh dan akhirnya 
ditaruh di tas. 



4) Fotokopi semua dokumen penting: Paspor, Visa (misalnya Schengen dan UK), 
KTP, SIM, tiket, dan nomor2 penting (bank, KBRI, PIN, dll). Dan bawa di tempat 
terpisah. 

Kalau perlu di-scan dan dikirim ke email, jadi bisa di-print ulang (seperti 
kami mencetak ulang tiket).



5) Telepon yang dapat diandalkan. 

Maksudnya yang dapat digunakan untuk mengirim SMS ke Indonesia. 



6) Orang yang dapat diandalkan di Indonesia.

Untuk membantu memblokir kartu kredit, dll. 

BTW: kartu Amex tidak dapat diblokir dari Roma, harus dari Indonesia. Jadi kita 
harus interlokal ke Indonesia. 



7) Asians stick with Asians.

Bukan maksudnya rasis, tapi pengalaman kami menunjukkan orang2 Barat tidak 
peduli dengan nasib orang Asia. Yang membantu kami ya sesama orang2 Asia, 
seperti dari sesama bangsa di Kedubes RI, orang India, dan Filipina. Yang 
paling parah ya orang Italia sendiri, memberi informasi saja hanya dalam bahasa 
Italia, sampai kami harus meminta-2 dalam bahasa Inggris. 



8) Hampir tidak ada tempat yang aman di Italia

Kata buku2, tempat yang tidak aman adalah di tempat2 keramaian wisata dan di 
jalan2, tapi seperti cerita di atas, di dalam kamar hotel saja bisa dibobol. 
Ada pula yang kehilangan tas di dalam bis group turnya sendiri. 

Salah satu tamu hotel juga mengatakan tas kameranya dicuri saat di dalam 
Vatikan. Jadi benar2 sudah tidak ada tempat yang dianggap suci lagi, pokoknya 
turis ya dibabat (Tapi kalau dibilang hanya mengincar turis juga kurang tepat, 
karena pada saat saya membuat laporan di polisi, ada 4 orang Italia yang juga 
melaporkan kehilangan). 

Apalagi kalau pakai spell (kayak gendam), ya mau hati-2 bagaimanapun juga tetap 
susah, kalau sudah diincar ya tinggal tunggu lengah saja (atau dibuat lengah).



Sekali lagi, yang menyakitkan hati saya adalah ketidakpedulian orang Italia 
terhadap kesulitan yang dihadapi orang (atau malah bagian dari komplotan?) 



Saya tidak menemukan saran apa agar aman di Italia... mungkin tinggal di hotel 
yang sangat mahal (agar security terjamin)? Tapi kami waktu kami tinggal di 
Marriot pun penuh dengan wejangan agar hati2, bahkan sampai bilang "don't open 
door if a stranger knocks your door".. wah wah wah... 



9) Gunakan merek2 yang dapat diandalkan.

Saya sedang mempertimbangkan ganti bank, karena bank ini aneh sekali prosedur 
pemblokirannya. Dia berulang kali meminta "harus orangnya langsung yang 
memblokir". Lha kami di Roma, bagaimana? Jawabannya "kirim kartu keluarga", lha 
gimana caranya??? Akhirnya dia bersedia memblokir sementara (24 jam). 



10) Beli Asuransi.

Kami membeli asuransi, dan berharap dapat ganti sebagian dari kerugian kami 
(Note: asuransi tidak mengganti seluruh nilai barang yang hilang, tapi hanya 
senilai tertentu sesuai tabel polis). Proses pengurusan masih berlangsung, 
kalau ada yang funny-funny business akan saya laporkan di email mendatang.



11) Perhatikan musim dan faktor di luar kuasa kita.

Jika pergi ke negara yang tidak dapat kita kendalikan (misalnya bahasanya), 
perhatikan sekali berita. Misalnya cuacanya, dan apakah ada pemogokan (strike). 



12) Harga = kualitas

Pesawat Low Cost ya kualitasnya cenderung Low, terutama saat krisis.

Service-nya juga low, kemampuan petugasnya low (bahkan jumlah petugasnya very 
low).

Pertimbangkan hal ini saat mengatur budget, apalagi jika membawa orang yang 
lebih lemah (misalnya anak2 atau lansia). 



Apalagi ya... ?



Sekian catper kami, yang awalnya berjudul "honeymoon package" berubah menjadi 
"for better for worse test package".... :)





    
     

    
    




  








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke