"Jangan terima makanan & minuman dari orang yang baru dikenal"...
oh, itu bukan di Eropa, tapi spanduk terminal Kp Rambutan & Pulo Gadung... Kalau masuk ke tempat obyek wisata yang cukup terbuka, coba jangan langsung ketengah, planga-plongo terpesona(dan mencari posisi foto "i was here, buat di tag di facebook)...coba melipir dulu dan berhenti. Biasanya dalam waktu singkat kelihatan mana yang 'akamsi' anak kampung situ, dan mana yang turis...kurangi 'sudut terbuka' misalnya dengan jalan melipir ke dinding, ato kalau di tempat makan memilih duduk dipojok sehingga mempersempit ruang gerak orang yang berniat lebih tidak baik(karena niat kita sendiri mungkin sudah tidak baik). Tentu tips2 tersebut berlaku untuk berurusan dengan copet yang menjunjung tinggi etika pencopet yaitu mengandalkan pengalih perhatian & kelihaian tangan. Hal tersebutagak sulit diterapkan menghadapi copet di kopaja sudirman-thamrin ato KRL jabotabek kelas ekonomi, yang berprinsip "pantang pulang sebelum dapat". In Europe imigrants create big problem. Also in America. Ask the Indian. Tabik, Puguh --- In [email protected], Kang Giman <gimana_...@...> wrote: > > atau simple nya gini kali ya, > 1. minta tolong di photo, kepada orang yang terlihat sedang photo-photo, > 2. tidak terlalu sering ambil photo, > 3.. tidak terlalu sering membuka peta, kalau pun ingin membuka peta, minggir > sebentar dan cari tempat yang nyaman > 4. tidak berlaku berlebihan, baik itu berpakaian atau membawa bawaan > 5. usahakan untuk tetap tenang walau ketahuan tersesat atau pada saat apapun > 6. belajar sedikit bahasa setempat > 7. membuat catatan kecil tempat2 yang ingin di tuju dan juga menuliskannya > dalam bahasa setempat, > 8. ehm...silahkan di tambah sendiri, maklum belum pernah ke Eropa > > KG > > > > >
