Sekedar sharing, Di belakang masjid Jami (Indian Jamia Mosque) ada kantin halal dan murah dengan cita rasa Melayu pula. Sebagian yg melayani bisa bahasa Melayu (Muslim Cham kayaknya). Dan di seberang Masjid Jami ada resto halal juga, Halal Saigon? lupa namanya, tapi cita rasanya Melayu. Boleh cakap Malaysia disana.
salam, Heru Susetyo On 3/23/10, Ningsih <[email protected]> wrote: > > > > Dear teman-teman, > > Mudah-mudahan cerita soal makanan halal di Ho Chi Minh ini bisa berguna > buat > teman-teman : > > Awal Februari 2010 kemarin saya ke Ho Chi Minh, kota di Vietnam sebelah > selatan yang dulu bernama Saigon. Sebagaimana informasi yang saya terima > akan susah kita cari makanan halal, maka informasi itu adalah benar adanya > kalau kita tidak berusaha mencari makanan halal itu.Buat saya sebenarnya > nggak masalah cuma makan roti aja, maklum lah perut bule .haha .. tapi yang > pasti InsyaAllah saya berusaha agar makanan yang saya makan halal . Dan di > HCMC ternyata nggak susah-susah amat buat dapetin tempat makan yang > menyediakan makanan halal. Problemnya memang dari sisi harga akan jauh > lebih > mahal daripada makanan Vietnam yang menyebar di tiap sudut jalan, di > pinggir > jalan, di pelataran parkir, di taman-taman di mana-mana deh. Tapi ya anggap > aja kita makan di mall Jakarta, harganya gak beda jauh, nyaris sama dan > sebangun. > > Pemburuan pertama halal food di HCMC ketika kami baru sampai di sana. > Resepsionis hotel yang ramah itu menunjukkan dimana saya bisa cari halal > food. Dia ngerti kok, katanya kamu pasti makan makanan halal, ya. Tempat > makanan yang dia tunjukkan adalah seputaran pasar Benh Than yang terkenal > itu. Dia bilang kalau di sana ada beberapa warung seafood enak. > > Setelah susah payah menerobos pasukan sepeda motor yang begitu banyaknya > terkonsentrasi di jalan menuju Ben Than Market [yang ternyata sepeda motor > bukan cuma terkonsentrasi di Ben Than tapi menyebar merata di mana-mana di > jalan seperti jamur di musim hujan], sampai juga saya di tempat yang > dimaksud. Pelayan yang ramai [tapi nggak tau ngomong apaan selain > Halal...halal] berhasil mendudukkan kami di warungnya. Tapi setelah membaca > daftar menu kami memutuskan hanya memesan minum saja. Tau dong kenapa :). > > But no problem, it was so nice sitting there sambil lihat motor lalu lalang > yang bikin heran karena hari itu sudah malam dan bukan malam minggu, > ngapain > yaa orang Vietnam itu pada keluar rumah keliling keliling di jalanan naik > motor ,mana cewe-cewenya banyak yang masih pakai piyama ? > > Di meja depan saya ada bule mupeng bergaya pasukan Harley nggak lupa bawa > motor gedenya sedang merayu mojang Vietnam yang putih mulus cantik. Latar > belakang sinetron ala Saigon itu adalah gedung tua kumuh dan lalu lalangnya > sepeda motor . Begitu eksotis ! Apalagi ketika acara perpisahan antara si > bule dan si nona. Setelah beberapa kata manis dari si bule dan ciuman di > jidat sang nona, lalu si nona balik badan dan berlari kecil, mungkin sudah > ditelpon ibunya disuruh pulang. Sementara si bule menyaksikan dengan mata > sok sayu, kemudian setelah si nona menghilang ketelan hiruk pikuknya pasar > malam dia langsung menyalakan motor gedenya dan meraung-raungkan gas > menambah pasokan CO2 di udara malam itu. Setidaknya itu adalah cerita acara > makan malam tanpa ada makanan di meja kami. Suer laper banget, tapi nggak > berkutik dengan menu di sana. > > Kemudian kami memutuskan balik ke hotel , dan tidak sengaja menemukan neon > sign bertuliskan HALAL ! Alhamdulilah, kami masuk ke rumah makan itu. Tapi > ternyata meskipun tulisannya OPEN, rumah makan itu sudah tutup, bo ! Tapi > kemudian Ncik Malaysia yang jaga bilang kalau dibawa pulang masih bisa. Oke > deh, kita bisa makan di hotel. > > Restoran halal pertama yang kami datangi ada di jalan Pham Hong Thai , > namanya VN Halal. Makanannya bervariasi dari makanan Vietnam, Cina dan > Malaysia. Saya beli pho vermicelli dengan irisan daging sapi tipis . > Rasanya > enak dan segar. Saya lupa kisaran harganya. Reasonable, lah. > > Setelah malam itu, sempat juga saya ke sana lagi lalu pesan spring roll. > Ternyata spring roll-nya digoreng jadi kayak lumpia goreng yang > kecil-kecil. > Nggak istimewa. > > Makanan halal selanjutnya yang kami kunjungi adalah Akbar Ali di Bui Vien > Street. Rumah Makan ini meyediakan menu masakan India. Di sekitar rumah > makan itu juga ada beberapa rumah makan halal yang bisa dicoba. Kalau kita > jalan dari Akbar Ali ke arah jalan Nguyen Thai Hoc di ujung jalan Bui Vien > juga ada rumah makan halal namanya Shahi Qila, India juga. > > Di Akbar Ali kami pesan Mix Palata Kabab, Naan dan Strawberry Lassi. Yang > terhidang di meja kami adalah kentang, udang, cumi, ikan dan ayam yang > semuanya dipanggang lalu disajikan dalam satu wadah hot plate. Menemani > kabab, dihidangkan juga bawang merah yang sudah diasamkan . kebayang deh . > bawang merah, asam pula . Sempat saya cobain, tapi saya nggak kuat makan > bawang merah asam itu. > > Naan yang dihidangkan berdiameter mungkin sekitar 25cm , dan kami pesan 2, > jadi lumayan banyak juga ternyata. Lassinya asam, manis dan segar. Total > yang saya bayar ke kasir VND 133.000, atau sekitar Rp 65 ribu. Menu itu > sudah sangat cukup banyak buat kami berdua. > > Rumah makan halal termahal yang saya datangi adalah ha...@saigon yang > letaknya di jalan Dong Du.Tempatnya kecil, sama lah dengan model bangunan > di > sana yang kecil tinggi langsing. Interiornya merah menarik dengan foto-foto > Saigon jaman dahulu. Masakannya enak. Di situ saya akhirnya cobain Spring > Roll Vietnam versi halal . Hehehe..habis selalu menelan ludah lihat makanan > yang dijual di kaki lima seperti spring roll, seafood, bermacam makanan > seperti siomay, pho yang kelihatan segar banget dengan setumpuk sayur mayur > .. nyam-nyam, tapi maaf yaaa . mo cari aman aja saya :) > > Lebih lanjut bisa lihat di : > > http://kokifrustasi.wordpress.com > > Regards, > > Ningsih > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
