MENYUSURI JALUR JALAN YANG PANJANG DAN BERLIKU

              Lisboa atau kita lebih mengenalnya dengan Lisabon, ibukota Negara 
Portugal telah saya capai dengan selamat pada hari Rabu, 21 Juli 2010. Tidak 
dengan mudah saya mencapai kota ini, karena saya harus bersepeda sejauh 2509,4 
kilometer dari kota Brussels, Belgia. Setelah melintasi Belgia, Prancis, 
Spanyol dan ditempuh dalam 33 hari dari 38 hari masa pengembaraan. Atau lima 
hari dari perbatasan negara antara Spanyol dan Portugal. Saya langsung mencari 
dan menuju Wisma Indonesia di Lisboa. Kedatangan saya disambut dengan baik oleh 
Duta Besar RI untuk Portugal, Bapak Albert Matondang beserta staf KBRI yang 
lain. Bahkan langsung dijamu makan malam.

              Pada zaman sekarang sulit bagi saya untuk menemukan warung 
internet, karena sudah hampir setiap rumah mempunyai fasilitas media tersebut. 
Oleh karena itu saya kesulitan untuk bisa mengirimkan berita ke Indonesia. 
Apalagi, lintasan yang saya lalui lebih sering melalui pelosok pelosok dan 
daerah pertanian.Terakhir kali saya bisa mengirimlan kabar ke tanah air adalah 
dari kota Nantes, Prancis.

              Perjalanan antara Nantes dan Bordeaux, sangat menyenangkan karena 
merupakan daripada bagian jalur wisata "vino". Melintasi daerah perkebunan 
anggur dan pusat pusat pengolahan minuman anggur yang menjadikan Bordeaux 
terkenal ke seluruh dunia. Dalam lintasan tersebut sering pula saya bermalam 
pada keluarga dari para pesepeda yang saya kenal dari komunitas pesepeda jarak 
jauh dari internet. Merupakan suatu keasyikan tersendiri mencari serta 
menemukan alamat mereka, baik yang ada di dalam kota ataupun di daerah pedesaan 
seperti sedang bermain puzzle. Mereka menerima dengan baik kedatangan saya, ada 
rasa empati dan kekeluargaan. Saya sendiri tidak habis pikir kenapa orang 
Prancis banyak sekali yang senang melakukan perjalanan jauh dengan sepeda. Ada 
sebuah keluarga dengan dua anak kecil yang selalu diajaknya berkelana dengan 
sepeda. Keluarga tersebut mempunyai koleksi buku buku bersepeda jarak jauh yang 
mengajak buah hatinya dalam melakukan kegiatan. Bahkan beberapa di antaranya 
berkeliling dunia dengan sepeda.

              Bordeaux – Bayonne, lintasan yang berbeda dengan jalur sebelumnya 
karena banyak sekali pohon-pohon pinus mengapit di kedua sisi jalan besar. Suhu 
udara siang hari kisaran 36 hingga 44 derajat Celcius, seringkali teriknya 
terasa menyengat kulit dan membuat mata nanar. Tidak ada angin, kalaupun ada 
membawa udara yang sangat kering. Dan kalau malam hingga pagi hari suhu jatuh 
antara 14 hingga 16 derajat Celcius. Dan matahari terbenam sekitar pukul 21.30 
malam, sehingga waktu untuk istirahat sangat kurang bagi saya. Hal inilah 
antara lain penyebab kenapa saya menjadi sangat lambat bergerak. Kalau 
sebelumnya saya menargetkan sehari harus bias mencapai 100 Km atau lebih, pada 
kenyataannya sehari saya hanya mampu menempuh jarak sekitar 80 – 90 kilometer. 
Dan hanya beberapa hari saja saya mampu melakukan sesuai target.

              Bayonne – Burgos, bagian dari perjalanan lain yang cukup seru. 
Sebenarnya dari Byonne saya akan menuju kota kecil St. Jean Pied-de-Port di 
lereng Pegunungan Pyrenees. Letaknya, tidak jauh dari kota Lourdes tempat 
wisata keagamaan yang sangat terkenal. Dan kota St. Jean Pied-de-Port merupak 
salah satu titik awal dari rute Camino Santiago de Compostelle, sebuah rute, 
ziarah yang juga sangat terkenal mengarah ke kota Santiago de Compostelle. Dan 
dari kota tersebut saya akan menuju Pamplona, yang mana ada acara tradisional 
yang terkenal dengan Torro-nya. Dimana beberapa sapi jantan – TORRO, yang 
agresif dilepaskan bersama sapi biasa dijalannan kota mengejar para orang-orang 
yang berbusana tradisi pula sampai stadion. Acara ini dilakukan dalam waktu 
seminggu melibatkan banyak orang bahkan para wisatawan dari mancanegara.

              Mengingat waktu yang terbatas, akhirnya saya menggunakan jalur 
alternatif. Dan acara di Pamplona pun hanya bisa saya saksikan dari tayangan 
televisi setiap pagi. Saya masih menggunakan jalur Camino Santiago de 
Compostelle, dari sisi lain. Dan saya pun mempunyai tanda pengenal – Credencial 
del Peregrino, untuk bisa menggunakan fasilitas dan akomodasi dengan ongkos 
murah. Dan Credencial ini ada lembar kosong untuk dicap atau distempel bila 
kita mengunjungi suatu tempat. Cap pertama saya dapatkan dari sebuah Kathedral 
Notre Dame di Charters, Prancis 

              Lintasan yang saya lalui tidak kalah menantang. Sewaktu di garis 
pantai harus melalui kota-kota wisata yang banyak sekali traffic light-nya. 
Sekali kayuh berhenti lagi dan berhenti lagi. Kemudian, harus terseok-seok 
menggenjot naik turun di lereng Pyrenees. Bahkan titik tertinggi saya harus 
melintasi sebuah punggungan – otsourte pass dengan ketinggian 685 meter dpl. 
Lalu jalan menukik turun meliuk-liuk sampai Atsasua. Perjalanan melintasi 
kawasan Basque tersebut sangat menyenangkan, bahkan baru saya ketahui bahwa 
permainan Hailai –yang dulu ada di Ancol, merupakan permainan tradisional 
orang-orang Basque tersebut.

              Dari Atsasua –Vitoria, saya benar-benar dipanggang dalamk suhu 
yang tinggi. Jalan yang saya susuri paralel dengan jalan bebas hambatan, sepi 
dan naik turun melambung melintasi daerah pertanian yang panas gersang. Begitu 
pula pada lintasan Vitoria – Burgos – Villadilid - Salamaca , saya lebih banyak 
menggunakan jalan-jalan kecil di pedasaan. Adalah sangat sulit mencari jalan 
keluar kota yang ramai untuk bisa menemukan jalan yang bisa dilalui sepeda 
untuk mencapai tujuan berikutnya. Dengan kesabaran dan telaten akhirnya toh 
saya selalu bisa menyelesaikannya dengan baik.

              Rute Salamanca – Ciudad Rodrigo – Perbatasan Spanyol-Portugal, 
saya dihadang angina yang sangat kencang dari arah depan, pernah sekali tanpa 
terasa saya mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, ketika menjumpaui sebuah desa 
kecil St. Cecilia, saya minta izin untuk diperbolehkan berkemah. Karena yang 
saya Tanya tidak mengerti bahasa |Jawa, lalu dia memanggil beberapa remaja yang 
sekiranya bias membantu. Mereka pun tidak mengerti bahasa Jawa apalagi bahasa 
Inggris. Dengan bahasa tubuh akhirnya saya diperbolehkan berkemah di luar 
lapangan sepak bolah futsal yang berpagar kawat. 

              Saya rebahkan tubuh dalam tenda untuk mengurangi rasa penat dan 
capai sambil menunggu datangnya malam. Sementara itu para remaja bermain sepak 
bola. Bersamaan dengan terbenamnya sang surya, saya terlelap sampai tengah 
malam. Tiba-tiba saya dikejutkan suara yang mengendap-ngendap, saya pikir orang 
yang akan mengandangkan kuda-kuda yang sedari sore merumput di sekitar tempat 
tersebut. Saya menjadi curiga karena mereka bicara sambil berbisik. Saya 
menduga pasti akan berbuat kurang menyenangkan. Benar saja dugaan saya, meraka 
lalu melempari tenda dengan bongkahan tanah lalu berteriak menakut-nakuti. Saya 
pun diam tidak bereaksi. Mereka pun pergi tapi kemudian datang lagi dari arah 
lain dari lapangan berpagar. Tanpa disadari mereka saya melihat bayangan mereka 
mengandap-ngendap. Saya dahului, mereka terkejut dan berlari ketakutan sambil 
membunyikan terompet yang sediannya untuk mengejutkan. Kejadian menjengkelkan 
ini berlangsung lama, cukup mengganggu masa istirahat saya. Tapi itulah bagian 
romatisme dari sebuah petualangan.

              Memasuki kawasan Portugal, suasana alamnya jauh berbeda, banyak 
sekali batuan andesit yang besar-besar. Mengingatkan saya pada daerah Indonesia 
bagian timur. Tapi anehnya di antara batuan tersebut mereka masih bisa mengolah 
tanahnya menjadi sebuah lahan yang produktif. Banyak bukit yang harus saya 
lintasi dan kwalitas permukaan jalan kurang baik dibandingkan dari 
negara-negara sebelumnya. Bahkan pada beberapa negara sebelumnya jalur-jalur 
khusus sepedanya dibuat khusus, lengkap dengan berbagai rambu jalan serta 
kwalitasnya sangat bagus. Dan tentunya masih jauh lebih baik daripada kondisi 
jalanan di kota Bandung.  

Lisboa- Portugal, 23 Juli 2010

PAIMO


--- In [email protected], "Puguh" <puguh_ima...@...> wrote:
>
> DIDIER GIRADEAU dan PIERRE DUPONT ,
> 
>               Sesuatu yang tidak mungkin, ternyata bisa terwujud juga. 
> Terbukti hanya dengan kekuatan sebuah mimpi sesulit apapun bisa 
> direalisasikan kalau ada kemauan. Senang sekali rasanya saya bisa bertemu 
> kembali dengan Didier Giradeau dan Pierre Dupont, di rumah mereka di St. 
> Colomban, 25Km sebelah selatan kota Nantes, Prancis. Saya bertemu mereka dua 
> hari lalu  Selasa,29 Juni 2010 setelah bersepeda sejauh 805,4 kilometer dari 
> kota Brussels, Belgia.
> 


Kirim email ke