DIDIER GIRADEAU dan PIERRE DUPONT ,

              Sesuatu yang tidak mungkin, ternyata bisa terwujud juga. Terbukti 
hanya dengan kekuatan sebuah mimpi sesulit apapun bisa direalisasikan kalau ada 
kemauan. Senang sekali rasanya saya bisa bertemu kembali dengan Didier Giradeau 
dan Pierre Dupont, di rumah mereka di St. Colomban, 25Km sebelah selatan kota 
Nantes, Prancis. Saya bertemu mereka dua hari lalu  Selasa,29 Juni 2010 setelah 
bersepeda sejauh 805,4 kilometer dari kota Brussels, Belgia.

              Pertama kali bertemu mereka adalah pada tahun 1981 atau 29 tahun 
lalu di pedalaman pulau Sumatera. Saat itu saya sedang dalam penyelesaian 
perjalanan bersepeda Trans Sumatera Cycling Trip 1981 dan mereka dalam 
perjalanan berkeliling dunia dengan sepedanya. Hal yang paling saya ingat ; 
saat itu mereka mengajak makan siang bersama, yang sebelumnya juga, memasak 
bersama di dalam belantara Sumatera. Kemudian kami berpisah, mereka pergi lagi 
ke Singapura dan New Caledonia, Australila dan kembaki lagi ke Indonesia pada 
tahun 1983. Untuk kedua kalinya kami bertemu ; mereka langsung mengunjungiku ke 
Seni Rupa ITB tempat aku menuntut ilmu saat itu. Tentu saja kehadiran mereka di 
Kampus ITB membuat heboh teman-teman.

              Sejak saat itu, kami hanya saling kontak melalui surat menuyrat 
hingga saat kami dipertemukan. Sebuah pertemuan yang cukup mengharukan buat 
saya, karena sebelumnya adalah hal yang sangat mustahil buat saya untuk bisa 
berkunjung ke Prancis. Dan bukan perkara mudah untuk mewujudkan sebuah mimpi 
menjadi kenyataan. Walaupun saya harus terbang hampir setengah belahan bumi dan 
bersepeda beratus-ratus kilometer untuk menemuinya. Di bawah suhu ekstrem ; 
suhu antara 11 sampai 17 derajat Celcius tanpa sinar matahari ; di lain hari 
harus dipanggang berjam-jam di bawah sengatan matahari sampai 40 derajat 
Celcius. Bahkan tidak jarang diguyur hujan angin sampai 14 derajat Celcius ; 
Namun, kekuatan sebuah mimpi bisa mengatasi semua itu (the power of dream).


CATHY LECLERC, 

              Lain lagi ceritanya Cathy Leclerc, Pesepeda wanita dari Prancis 
yang berprofesi sebagai seorang guru jasmani tingkat SMP ini saya temui saat 
saya berkelana di Vietnam pada tahun 1997. Waktu itu saya dalam perjalanan 
Trans South East Asia by Bike 1997; melintasi Singapura – Malaysia – Thailand – 
Laos – Vietnam. Kami berpapasan di tengah jalan; saya mengarah ke Saigon dalam 
tiga hari dan Cathy menuju Hanoi. Setelah perjalanan berakhir; dia dari Prancis 
menceritakan bahwa dalam perjalanan di Vietnam seluruh identitas dan tiket 
pesawatnya raib dicopet orang di tengah sebuah taman Saigon. Sialnya lagi 
seluruh peralatan dan sepedanya di rampas oknum polisi dekat Kunming, China. 
Sewaktu pulang dari Hongkong dia sempat beli sepeda baru buat perjalanannya 
tahun 1998. Waktu itu dia bercerita pula tentang pangalamannya berkelana di 
Amerika Latin.

              Sejak pertemuan itulah, saya mulai mengumpulkan data dan 
terobsesi untuk bias melakukan perjalanan di Amerika Latin dengan sepeda. Dia 
banyak memberikan masukan data dan memberikan banyak pula inspirasi buat saya. 
Selang 8 tahun kemudian; tepatnya pada tahun 2005-2006 saya mampu bersepeda di 
Amerika Latin; melintasi Argentina – Bolivia dan Chile. Merupakan sebuah 
kegiatan spektakuler buat saya, karena selain menjadi perjalanan bersepeda 
terjauh,terlama. Saat itu saya sempat melintasi Atacama Desert, menyeberangi 
danau garam Salar de Uyuni; merambah Andean Altiplano dan Patagonia dll;
(the power of will);

              Pertemuannya di kota Paris membuatnya bangga. Karena sebelunya 
dia selalu tidak percaya kalau saya bisa menemuinya lagi apalagi saya bisa 
mengunjunginya dengan sepeda. Sebuah malam yang indah, di kota Paris. Kami 
bertiga: saya, Ati Bouchat dan Cathy Leclerc menyusuri sungai Seine dengan boat 
menikmati keindahan kelap kelip lampu kota Paris, khususnya dari menara Eifel. 
Suatu pengalaman hidup yang tak mungkin terlupakan.

              Sebagai seorang guru, dan pesepeda ternyata Cathy tetap setia 
dengan apa yang dilakukan. Saat ini; ketika saya menuju ke arah Nantes; dia 
sudah bersepeda lagi ke Islandia dan merupakan ketiga kalinya; Menurutnya 
Islandia negara yang sangat ideal dan indah untuk dikunjungi dengan sepeda.

BORDEAUX,

              Dalam perjalanan kali ini; memang bukan hanya mereka bertiga 
pesepeda jarak jauh Prancis, masih banyak lagi. Masih ada beberapa lagi yang 
sebelumnya pernah saya temui di dalam perjalanan saya sebelumnya. Ada  
Christopher Declerck dari Berlgia, Matthiew dll. Tapi yang paling penting 
mereka saling membantu dan menjalin persahabatan dengan tulus.
Dan saya sendiri menyadari bahwa saya bukan apa-apa; bukan pula siapa-siapa di 
Indonesia dan juga tidak sedang mewakili Indonsia. Tapi kalau boleh jujur, saya 
cukup bangga sebagai orang Indonesia. Bisa ikut mengenalkan Indonesia di negara 
orang lain. Coba; bisa dibayangkan bagaimana sedih dan sulitnya menjelaskan 
mengenai Indonesia. Ketika seseorang bertanya …… What is that? …. Saat saya 
mengatakan saya berasal dari Indonesia. 

              Siang ini; saya akan melanjutkan perjalanan lagi, mengarah ke 
kota Bordeaux. Sebuah kota yang sangat terkenal sebagai produsen minuman anggur 
di seluruh dunia. Pesan dari teman-teman, kalau ke Prancis tidak minum  anggur 
adalah belum afdol. Benar adanya. Minuman anggur di sini ada tiga macam putih, 
merah dan pink. Saya sudah sempat diajak untuk melihat tempat produksi dan cara 
mencicip untuk memilih anggur yang enak;
Sebuah keindahan dan kenikmatan yang luar biasa, yang mampu menghilangkan rasa 
penat dan capai setelah mengayuh ratusan kilometer. 

Perjalanan saya masih panjang, saya hanya bisa mohon doa restunya agar bisa 
selalu diberi kekuatan dan ketabahan dalam menyelesaikan perjalanan perjuangan 
demi kemuliaan bagi para pesepeda di Indonesia. Karena negara yang besar adalah 
negara yang mampu menghargai para pesepedanya. 


Kirim email ke