Teman semua;
Ijinkan saya meneruskan kabar dari mas Bambang Hertadimas (a.k.a Mas Paimo)
yang akhirnya tiba di Utara benua Afrika.
Silakan dinikmati cerita dari Mas Paimo. Sengaja saya tidak publikasikan email
Mas Paimo karena takut merepotkan karena terbatasnya waktu untuk mengakses
email.
Tabik;
Puguh
====================================================================
LET'S DANCE WITH THE WIND AND MAKING LOVE WITH THE SUN!!!
RABAT,
Shalawat Badr dan Marhaban yang terdengar dikumandangkan serta
iringan tabuhan rebana bertalu-talu dari halaman KBRI oleh para warga Indonesia
dan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Maroko, menandai berakhirnya
perjalanan saya yang bertajuk TRANS ANDALUCIA CYCLING TRIP 2010. Sebuah
perjalanan bersepeda jarak jauh, melintas Belgia Prancis Spanyol Portugal
dan Maroko (Belgium France Spain Portugal Morocco). Saya tiba di Rabat
pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 setelah menempuh jarak 3538,5 kilometer dari
kota Brussels dalam waktu 48 hari dari 55 hari masa pengembaraan. (meninggalkan
Brussels, Belgia pada tanggal 18 Juni 2010). Sebuah perjalanan yang cukup
panjang, berliku dan melelahkan. Tidak sekedar mengandalkan kekuatan otot tapi
juga melilbatkan seluruh eksistensi tubuh, keseimbangan dan sinergi antara
fisik, rasio, rasa dan naluri.
Prosesi penyambutan, sudah diawali jauh sebelum mencapai kota
Rabat ini. Tiga hari sebelumnya (Kamis, 5 Agustus 2010) saat saya sudah
memasuki kawasan Maroko, dekat kota Tanger. Saya disambut/dijemput oleh Bapak
Hadi Syarifuddin dan ibu. Diberitahu bahwa warga Indonesia akan berkumpul di
KBRI, untuk merayakan HUT RI ke 65. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika saya
bisa memasuki kota Rabat pada saat itu. Padahal jarak yang masih harus saya
tempuh adalah lebih dari 350 Km.
Tantangan tersebut di atas membuat saya jadi terpacu. Walaupun
dengan beban berat, pada hari terakhir tersebut saya mampu menempuh jarak lebih
dari 125 kilometer dalam waktu kurang dari 6 jam. Dan hal ini menjadi jarak
terjauh dan tercepat yang pernah saya lakukan dalam perjalanan ini. Berat
memang, tapi saya puas !
Di batas kota Rabat, saya sudah di tunggu oleh 10 orang
pembalap sepeda nasional Maroko dan Ketua Federasi Sepeda Kerajaan Maroko.
Kemudian bergabung pula Bapak Tosari Wijaya selaku Duta Besar dan juga para
Staf KBRI. Akhir perjalanan yang indah dan sangat mengharukan, setelah apa yang
saya alami selama dalam perjalanan sebelumnya.
BERBAGAI RUTE,
Sejak meninggalkan kota Nantes di Prancis sampai akhirnya
mencapai kota Rabat ini entah sudah berapa rute jalan yang saya lewati. Rute
Wisata Anggur di kawasan Bordeaux, kemudian jalur wisata pilgrimage Camino
Santiago de Compostella. Ruta Camino de Castillo, ruta des Vinho de Asteltejo
dll, Dan sebuah pengalaman menarik bagi saya, karena tidak semua jalur
kendaraan bermotor boleh dilalui sepeda. Namun rambu-rambu lalu lintas penunjuk
arah buat pengendara sepeda sangat jelas. Sehingga saya harus mencari jalan
alternatif yang akibatnya saya harus melaluii jalanan sepi. Melintasi daerah
pertanian yang luas-luas, naik turun bukit landai melawan angin di tengah terik
matahari yang menyengat.
Di Prancis pernah mengalami suhu maksimum 44 derajat Celcius. Itu
hanya beberapa jam. Tetapi siksaan yang tak terkira adalah saat menyusuri
jalanan yang mengubungkan kota Lisboa,Portugal sampai Sevilla, Spanyol. Selama
5 hari bersepeda saya dipanggang dalam temperatur rata-rata 47 derajat celcius.
Terasa sekjali otak juga ikut memuai tak bisa berpikir lagi selain ingin
berteduh. Tapi apa daya saat berteduh di bawah bayang-bayang pepohonan yang
berharap dapat kesegaran. Namun suhu udara pun masih kisaran 38-39 derajat,
sedihnya udara yang dihembuskan angin pun udara panas. Bahkan untuk minum, air
di dalam bidon pun panas sekali. Saya hanya bisa berdoa agar selalu diberi
kekuatan di tengah suasana gersang tandus dan kering ini.
Saat sudah melintas perbatasan Portugal-Spanyol, kota kecil Rosal
de La Frontera. Tiba-tiba ban belakang meletus, rupanya ban luar aus tanpa saya
sadari. Itu terjadi pada Km 2700-an. Secepatnya saya ganti dengan ban luar
cadangan. Sialnya ukurannya tidak sesuai. Tidak kehabisan akal dengan dibantu
oleh Jose Emanuel yang kebutulan lewat dengan mobilnya, saya kerat ban cadangan
tersebut menjadi pelapis dalam dari ban luar yang rusak, Dan ban luar dari roda
depan yang relatif masih bagus saya tukar dengan roda belakang. Hasilnya
lumayan hari itu saya masih mampu bersepeda lebih dari 20 km sampai saat
istirahat berkemah.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya adalah upaya mencari
ban luar dengan ukuran yang sesuai. Tapi kenyataannya ukuran ban saya memang
tidak lazim dan belum banyak digunakan orang kecuali di kota besar. Puncak
kejadian yang cukup melelahkan adalah sehari sebelum mencapai kota Sevilla,
Spain.
Sesaat setelah istirahat siang saya bermaksud melanjutkan
perjalanan. Terlihat ban roda depan menggembung tidak wajar. Saya langsung
berpikir keras untuk mengatasinya, Satu-satunya cara adalah menjahit ban
tersebut dengan kawat. Pertama hanya kuat untuk 12 Km, kedua jahitan dengan
cara lain dan dilapis dengan aluminium, dan berikutnya sistim jahitan tidak ada
yang keluar ban dan kali keempat, saya jahit dengan rapi. Padahal saay itu
cuaca sangat panas sekali tidak ada tempat berteduh yang klayak untuk
memperbaiki, Tapi saya terus berusaha buat bertahan. Keringatpun bukan lagi
menetes tapi sudah mengucur deras yang terkadang membuat perih mata. Hari itu
takluk saat saya belum mencapai kota Sevilla. Tenda berhasil saya dirikan saat
matahari sudah tenggelam menyisakan sinarnya (sekitar pk 21.30).
Adalah kebahagiaan yang tak terkira sewaktu saya mendapatkan ban
baru yang sesuai ukurannya. Dan rasa kegirangan tersebut berlanjut saat
disambut keindahaan kota Sevilla. Rupanya Tuhan selalu memberikan hadiah
terbaik kalau kita mau berupaya. Terima kasih Tuhan.
TEMAN BARU,
Suatu saat, situsasi memaksa saya harus berkemah di tengah hutan.
Tenda saya dirikan dekat tempat pembuangan barang-barang tidak berguna.
Menjelang malam terdengar suara langkah kaki binatang menginjak dedaunan
kering. Terlihat seekor anjing berwarna hitam. Dari tampilannya saya duga
termasuk jenis anjing piaraan dan mungkin bersama pemiliknya juga sedang ke
arah saya berkemah, mungkin untuk buang air besar atau yang lainnya.
Satu dua jam berlalu tapi masih terdengar suara angjing tersebut
bekeliaran, artinya tidak ada orang datang atau saya menduga di sekitar tempat
berkemah memang ada orang yang menetap. Jadi saya harus waspada. Tengah malam
anjing tersbut tiba-tiba menyalak keras tidak jauh dari tenda. Rupanya ada yang
datang, dari suaranya saya duga ada rusa yang mendekat. Begitulah ketika rusa
pergi anjing tersebut diam lagi. Ah lumayan ada yang menjagaku, pikirku
sederhana.
Menjelang pagi saat saya harus keluar tenda untuk buat hajat,
anjing tersebut tersentak dari tidurnya yang tidak jauh dari tenda. Anjing
bagus itu rupanya bukan anjing liar, mungkin tertinggal dari pemiliknya saat
buang air di daerah itu. Melihat dia tidak rakus dan badannya masih bagusm
mungkin belum lama juga dia berada di situ. Karena masih curiga dengan orang
baru seperti saya. Saat saya memasak mie dia mencium aroma makanan, dan mulai
mendekat lenagkah demi langkah akhirnya ke depan tenda. Tak tega aku beri makan
dari sebagian makanan sarapanku. Dia mulai menunjukkan sikap bersahabat dan
manja. Saat saya menggulung tenda pun dia mulai berusaha menarik perhatian
dengan manarik narik dengan giginya ujung tenda yang saya gulung.
Saya harus melanjutkan perjalanan, tampaknya anjing yang tidak
mengerti bahasa Jawa atau bahasa inggris ini mengikutiku. Aduh, saya takut
kalau tertabrak kendaraan. Sebentar dia menjauh, saat saya mulai mengayuh, dia
mulai lari mengikuti. Begitulah terus berlari jika ada kendaraan lewat melintas
hutan tersebut dia beringsut ke sisi jalan sebentar. Tak tega meninggalkan,
saya mulai berusaha menggendong dan meletakkan di atas barang. Tiga kali sudah
saya coba, tapi begitu sepeda bergerak dia meloncat kembali. Sedih kalau saat
ada jalan turun dia mencoba mengejar sekuat tenaga. Lalu saya buat tempat minum
dari bekas botol kemasan air Setiap menemukan air dari botol kemasan, saya
usahakan dia untuk istirahat dan minum. Karena saya sendiri kekurangan air
akhirnya kami berbagi air minum.
Labih dari 9km dia berlari di jalanan mengikuti saya sampai
akhirnya tiba di sebuah pemukiman. Saya berharap ada seseorang yang mau
menerimanya, dan yakin karena dia termasuk jenis anjing bagus dan pintar. Kami
berdua istirahat dan berbagi kue di pinggir jalan. Terlihat dia mulai tidak
menghabiskan air, rupanya dia juga sudah mulai nyaman dengan situasi baru.
Apalagi dari seberang jalan beberapa ekor anjing sudah menyalak melihat
kedatangan kami.
Terbukti saat saya mulai bergerak untuk melanjtukan perjalanan dia memandang
acuh tak acuh. Kecapaian mungkin saja tapi itu lebih baik daripada dia harus
mengikuti terus sampai tak tau kemana. Bersyukur dia tinggal dan semoga
mendapatkan majikan yang baru. Saya masih ingat bagaimana dia berlari bagaimana
dia beringsut dan bagaimana dia kegirangan diberi air minum.
JBEL TOUBKAL.
Gunung tertinggi di kawasan Pegunungan Atlas, Morocco bernama
Jbel Toubkal 4167 meter di atas permukaan laut, dan menjadi bagian dari
perencanaan perjalanan saya sebelum berangkat. Dan sebagai gunung tertinggi di
Haut Atlas (High Atlas) juga di Utara Afrika (Northern Africa). Tetapi karena
beberapa kendala, saya menjadi pesimis untuk melakukan pendakian gunung ini.
Antara lain waktu yang tinggal beberapa hari lagi sebelum saya kembali ke
Indonesia, ransel yang tidak bisa diambil dari Kantor Pos Ceuta, Spanyol dll.
Dan saya sudah pasrah apabila ternyata akhirnya tidak jadi melakukan pendakian
gunung tersebut.
Peluang itu pun akhirnya datang, Senin, 9 Agustus 2010 sebenarnya
saya bermaksud mengunjungi kota Marrakech dan Casablanca dengan diantar anggota
PPI (Persatuan Pelajar dan mahasiswa Indonesia) Maroko, yaitu M. Sabiq Al Hadi,
25 dan Islahudin Fahmi, 18. Dalam perjalanan menuju Marrakech dengan kereta api
selama hampir 5 jam itulah. Hasrat untuk melakukan pendakian muncul lagi. Dan
kebetulan saya sendiri sudah hafal luar kepala. Kota maupun rute yang bakal
kami lalui.
Setibanya di Marrakech kami bertiga makan malam di sebuah café di
kawasan lapangan Jemaa el Fna (Jemaa el Fna Square) lalu mencari warung
internet buat melengkapi data yang kami perlukan. Setelah itu kami bermalam di
salah satu kamar kontrakan para mahasiswa yang menuntut ilmu di kota tersebut.
Sebelum memejamkan mata, pikiran saya masih dipenuhi rencana dan apa yang harus
dilakukan, Semua peralatan ada di Rabat. Dan peluang ini ada di depan pelupuk
mata Bukannya sekedar bonek (bondo nekad) tapi semua sudah saya perhitungkan.
Dengan pe,ikiran kalau pun tidak punya tenda setidaknya bisa bermalam di hut
(pondok pendaki)
Keesokan harinya, dengan sebuah taxi kami langsung menuju Imlil
dan dari situ mulailah kami berjalan kaki selama kurang lebih 6 jam sampai hut
terakhir yang dinamai Refuse du Toubkal (+3207 m dpl). Kami berkemah dengan
tenda sewaan dari pihak Hut dan menggunakan selimut tebal sebagai pengganti
sleeping bag. Malam hari hujan turun dengan lebat diawali hujan es. Dan suhu
udara meluncur drastis kisaran 12 derajat Celcius. Tapi kami bertiga bertahan
di dalam tenda meringkuk dalam selimut.
Dan baru keesokan harinya kami bertiga melanjutkan pendakian ke
puncak Jbel Toubkal. Walaupun tertatih tatih akhirnya kami sampai juga di
puncak gunung tersebut. Pemandangan alam yang menakjubkan dari puncak,
menggantikan seluruh jerih payah dalam upaya pencapaiannya. Dan bagi saya,
Gunung Jbel toubkal merupakan gunung ke 57 yang pernah saya daki. Gunung ketiga
di Afrika yang pernah saya daki setelah Gunung Kilimanjaro (+5896 meter dpl).
Mt Kenya (Point Lenana +4985 meter dpl) dan Gunungt Jbel Toubkal (+4167 meter
dpl).
Kalau dulu saya mendaki Gunung Kilimanjaro, sebagai gunung
tertinggi di Benua Afrika dengan mengendarai/membawa sepeda hingga puncaknya
(Uhuru Peak). Kali ini tidak dilakukan, karena sadar bahwa saya sudah tidak
muda dan tidak setangguh dulu lagi. Namun, tetap saja mempunyai nilai
tersendiri bagi saya karena untuk bisa sampai ke Maroko (Morocco) ini saya
harus mengayuh sepeda sejauh 3538,5 kilometer. Tentunya bukan pekerjaan remeh
temeh, yang sekedar mengandalkan kekuatan dengkul semata. Melainkan perlu
determinasi yang tinggi untuk bisa melakukannya. Senang sekali bisa mengakhiri
perjalanan ini dengan manis. Sebuah semangat yang tak pernah tercabik, tak
pernah kandas dan tak pernah berakhir.
EVERLASTING SPIRIT !!!
Salam dari Rabat, Morocco
12 Agustus 2010
PAIMO
--- In [email protected], "Puguh" <puguh_ima...@...> wrote:
>
> MENYUSURI JALUR JALAN YANG PANJANG DAN BERLIKU
>
>
> Lisboa atau kita lebih mengenalnya dengan Lisabon, ibukota
> Negara Portugal telah saya capai dengan selamat pada hari Rabu, 21 Juli 2010.
> Tidak dengan mudah saya mencapai kota ini, karena saya harus bersepeda sejauh
> 2509,4 kilometer dari kota Brussels, Belgia. Setelah melintasi Belgia,
> Prancis, Spanyol dan ditempuh dalam 33 hari