Subsidi tetap perlu ...
apa bedanya Indonesia yang kaya minyak dengan Singapore yg tidak punya
minyak ?
soal jalan macet
ya itu salahnya pemerintah tidak pernah menambah jalan baru kecuali jalan
tol saja ...
soal penyelundupan , ah itu masalah niat aja koq ...
kalau mau , semua satelite remote sensing dan near realtime bisa digunakan
(sewa) utk mengawasi seluruh wilayah Indonesia ..
bisa mengawasi apapun ,
pernah lihat film enemy of the state kan ? satelit itu semua sekarang bisa
di sewa koq ...
soal APBN ? utang saja , koq repot (yang penting niat mbayar) ..
toh Bung Karno juga menanggung utang rakyat Indonesia 350 tahun (yang
utangnya baru kelar tahun 2003 dan dibayar oleh anaknya sendiri ,
Megawati waktu jadi presiden ..)
On Wed, 7 May 2008, yohan wrote:
Pak AZA dan Rekans,
Sebenarnya dengan biaya produksi seperti yang disampaikan oleh P JD, kita
bisa menjual BBM seenak perut kita, asal tidak lebih rendah dari rata-rata
Rp 1.117,- per liter untuk saat ini.Tapi untuk tahun depan bagaimana? Kalau
BBM murah-meriah, jumlah mobil yang membuat macet akan bertambah
gila-gilaan, sehingga harus sering-sering pijit karena nyopir. Selain itu
masalahnya khan pemerintah kita perlu dana juga untuk pembangunan dan
menahan 'ngilernya' para pemain melihat peluang kenaikan harga Minyak Mentah
Dunia, yang kalau dikonversi ke BBM harga rata-ratanya bisa diatas Rp 7.500
perliter. Kalau tidak ada dana ini bagaimana kita akan mencegah
penyelundupan Minyak Mentah atau BBM keluar dengan harga yang lebih
kinclong. Lha penyelundupan kayu yang baris ber baris disungai-sungai
Kalimantan aja susahnya setengah hidup J.
Jadi untuk sumber dana pembangunan, lebih baik menghilangkan subsidi BBM
daripada mencetak uang lagi dan kerepotan membendung penyelundupan BBM atau
Minyak Mentah kenegeri tetangga. Atau lebih baik menghilangkan subsidi BBM
daripada menjual 'ayam-ayam' penghasil 'emas' untuk mendapatkan 'emas' lebih
banyak, atau daripada kemacetan di Jakarta dan pantura semakin parah. Dan
kalau urusan pajak dan BBM kita minta ikut standar dunia, ya kami sebagai
warga negara minta juga ke pemerintah kalau ngurus jalan, pendidikan,
kesehatan, standar penghasilan juga bercita-cita ikut standar dunia J.
Salam,
-yohan S-
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Achmad Zaenal Abidin
Sent: Tuesday, May 06, 2008 9:20 PM
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah
Penyelesainnya
Mas Yohan dan Rekans,
Bukannya yang namanya cadangan devisa itu adalah jumlah placement
BI/Pemerintah dalam valuta asing ditambah dengan selisih antara perolehan
devisa hasil export/transfer masuk dari negara lain dikurangi dengan
pembayaran untuk import/transfer keluar ke negara lain.
Jika harga minyak mentah didunia naik, maka karena Pemerintah RI sekarang
merupakan net importir, tentu biaya yang harus dibayar (transfer keluar)
dalam bentuk devisa makin besar untuk membayar minyak mentah untuk diolah
di Kilang kilang Indonesia atau minyak "mateng" untuk pengadaan BBM dalam
negeri.
Tentu jika makin besar yang harus dibayar, cadangan devisa akan turun
seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dan volume import minyak
mentah/"mateng".
Misalnya Pemerintah mempunyai cadangan devisanya dalam valuta Euro atau GBP,
turunnya cadangan devisa tidak sederas naiknya harga minyak dalam USD
dikalikan dengan volume import tetapi nilai devisa masih bisa bertambah
dengan naiknya nilai kurs Euro atau GBP terhadap USD.
Makanya Iran sekarang pakai mata uang Euro untuk transaksi ekspornya.
Indonesia kenapa tidak mulai ? padahal walaupun nilai USD turun terhadap
Euro/GBP tetap saja nilai rupiah merosot juga terhadap USD karena
kekawatiran tekornya APBN karena harga minyak naik terus ? apakah ini tidak
dua kali rugi ? :-(
Salam,
Zaenal
At 00:22 05/05/2008, yohan wrote:
Dear rekan-rekan,
Berikut bahan bacaan yang mungkin berguna disaat senggan :
Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesainnya
Oleh Yohan Suryanto, ver 1.0
Jika dicermati berdasarkan data 'Sabtu Santai: Simulasi Investasi Saham'
oleh JD dalam mailing list IA-ITB, antara tanggal 23 Februari 2008 sampai 29
Maret 2008, kisaran harga minyak mentah dunia antara $100 sampai $115 per
barel. Pada kondisi tersebut, berdasarkan data situs BI per 3 April 2008
yang disarikan oleh Detik Finance, justru cadangan devisa Indonesia
meningkat dari $ 57,125 Milyar menjadi $ 58,980 Milyar. Artinya dengan
kondisi harga minyak yang mencapai kisaran tersebut, secara net cadangan
devisa Indonesia dalam mata uang USD justru meningkat. Ini merupakan sinyal
yang cukup menggembirakan dan menjadi batu pijakan pada kita untuk mengambil
langkah jangka pendek (1-2 tahun kedepan) yang tepat untuk menyikapi kondisi
harga minyak mentah yang mencapai kisaran antara $100-$120 USD dewasa ini.
Realitas ini memberikan tuntunan yang lebih konkrit pada kita bahwa kenaikan
Minyak mentah sampai level $ 5- $ 25 lebih tinggi dari rencana APBN ( $ 95)
masih bisa diakomodasi oleh cadangan devisa NKRI. Meskipun tidak terkait
langsung, ini menjadi pertanda bahwa kebutuhan konsumsi BBM (Bensin, Solar
dan Kerosin) dalam negeri dengan kebijakan yang tepat tidak akan memakan
devisa. Ini merupakan indikasi yang kuat bahwa bahwa produksi minyak mentah
Indonesia yang mencapai 1 juta barrel perhari masih mencukupi untuk
kebutuhan dalam negeri dengan pertumbuhannya dalam 1-2 tahun mendatang.
Selanjutnya bisa dilihat di
http://yohans.wordpress.com/2008/05/04/krisis-energi-sektor-bbm-dan-langkah-
langkah-penyelesaiannya/
Salam,
-yohan S-
EL'93
PT.CITRA SARI MAKMUR
SATELLITE & TERRESTRIAL NETWORK
Connecting the distance - anytime, anywhere, any content
http://www.csmcom.com
http://www.3g-net.net
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt