Pak Johand,

Terima kasih sekali atas knowledge-nya sangat berharga. Saya benar-benar sepakat bahwa tanpa data yang memadai, kita tak akan dapat menghasilkan kerangka berpikir dan analisis yang baik.

Namun, sebetulnya beberapa informasi yang sempat saya utarakan, datanya tak terlalu susah diperoleh. Kebetulan, karena pernah bekerja lima tahun di Pusat Penelitian Energi ITB (bantu-bantu Pak Saswinadi, Pak Tatang Hernas, dan Pak Tasrif), serta sekarang berkecimpung di Business Development & Planning MedcoEnergi, karena keseringan dihajar dan dimarahin, akhirnya harus membiasakan mengeluarkan pikiran berbasis informasi akurat.

Back to topic, intinya kita semua sepakat bahwa persoalan karut-marut energi sedapat mungkin harus diletakkan pada konteks kebijakan yang membalans semua "vested interest" para stakeholder di bumi Nusantara ini.

 Mudah-mudahan ujungnya akan ke sana ya, Pak. Amin..!

 Salam,

 Adrisman Tahar (Ade)

On Thu, 08 May 2008 00:40:59 +0700, Johand Dimalouw <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Rekan Adrisman dan Agung yth,
Memang masalah energi ini membuat kita sulit berbicara dan menganalisa. Slah satu penyebabnya adalah ketiadaan data yg bisa kita semua berpijak dan bisa berpikir dan menganalisanya dgn baik.
Subsidi Energi
Kalau kita pakai data dari ESDM yg mengurus energi NKRI, kita memproduksi energi yg dapat diperdagangkan yaitu Minyak Bumi, Gas Alam dan Batu bara. Sekitar 50% dari produksi Gas Alam dan Batu bara kita expor. Karena harga di luar lebih tinggi dari di dalam negeri sendiri, para pengusaha cenderung expor dgn akibat kebutuhan sendiri kesulitan dipenuhi. Minyak Bumi saya sendir kira sejak tahun 2004 kita sudah jadi pengimpor tetapi kalau kita lihat data dari ESDM, maka kita selalu expor, kecuali tahun 2006 yg jumlahnya sangat kecil (2,4 juta barrel). Biaya produksi kita kurang dari $15 /barel (2007). Selama ini memang kita selalu expor minyak bumi kita yg dinilai lebih mahal dan kita impor minyak bumi yg harganya lebih murah dari Timur Tengah. (selisih harganya bisa beberapa dollar). Yg disebut 'Subsidi BBM' itu sebenarnya 'Subsidi NKRI kepada PERTAMINA, untuk mengilang minyak bumi yg murah dari Timur Tengah untuk membuat dan penyediaan BBM untuk konsumsi dlm Negeri, menggunakan uang dari hasil expor minyak bumi. Juga karena kapasitas kilang minyak PERTAMINA terbatas maka sebagian BBM memang diimpor untuk menutup kekurangan hasil kilang kita. Dengan mengalihkan konsumsi BBM ke BBG (LPG) dan Batubara, seharusnya masalah kekurangan BBM ini dapat teratasi bila kita rencanakan dgn baik sejak awal pembangun kita ini. Isu  yang sering diangkat bahwa 'orang kaya' yg menikmati 'subsidi harga' BBM karena mereka yg pakai mobil dll, menurut saya memang nampaknya begitu, secara kasat mata. Tapi kalau dianalisa lebih lanjut, siapa yg 'membayar gaji' orang2 kaya itu? Semia biaya mereka ujung2nya masuk dalam 'biaya produksi' apapun yg mereka produksi (baik barang maupun jasa) dan yg membayar adalah konsumen alias rakyat juga. Market Price. Kalau kita bicara 'market price' kita mau pakai 'market price' yg mana karena market itu banyak ada di mana-mana? Amerika, Eropa, Jepang, Singapura atau Jakarta atau ...? Market price Minyak Bumi di USA mahal sekali karena mereka harus impor dari luar sekitar 65% - 70%  kebutuhan mereka dan mereka pakai sekitar 20 juta barel sehari. Jadi kalau saluran impor terganggu mereka kelabakan dan harga naik gila2an; sekarang $122/brl. Arab Saudi berbalik 100%.  Kalau tak ada yg beli, mereka bisa jual dibawah $ 10 per barrel mereka sudah untung besar. Kita gimana dgn harga $30/brl kita juga sdh untung besar.  Kita pakai 'market price yg mana yg mana? Market Price Beras, market price tenaga kerja, dll juga demikian, bervariasi sekali khan? Bedanya di mana? Kalau pengusaha minyak bumi itu perusahaan2 besar Negara USApun bisa mereka atur, jadi mereka desak pemerintah kita untuk naikan BBM kita dgn alasan 'Market priceUSA'  dan bersamaan pula mereka mendesak kita untuk digaji dgn gaji yg kecil dgn alasan 'market price Indonesia' khan. Saya pribadi ngalami ini (gaji saya sbg VP lebih kecil dari Sr Engineer mereka, sekitar 30% saja dar orang mereka dan diam saja krn saya sadar saya digaji oleh negara sediri untuk bekerja di kontraktornya). Bagai mana kalau para petani kita menuntuk untuk pakai 'market price Jepang' untuk harga beras yg kini di atas $1000/ton? 
Jadi menurut saya kita harus konsiten saja.
Indonesia sdh Non OPEC. Data ESDM mengatakan kita masih Petroleum exporting Country. Kita impor dan expor minnyak bumi hampir sama banyak, dan Gas Alam kita, kita expor dalam bentuk LNG lebih dari 50% produksi kita. Total produksi Gas/LNG setara 500 juta brl (2007) setahun. Ini angka terrendah sejak tahun 2000. Produksi minyak kita masih dapat dinaikkan, apa bila kita mau dgn sungguh2. Saat ini masih ada ladang kita yg diproduksi dgn biaya operasi hanya $6/brl. Tidak ada insentif untuk meningkatkannya karena keterikatan kontrak usahanya. Bayangkan apabila anda invest $1/bbl dengan hasil $2, tetapi anda hanya dapat total $1,12/bbl (kembali modal $1/brl dan bagi untung $0,12/brl). Apa anda mau invest? Di sinilah masalah kita yg tak terbaca/terlihat dengan akibat, produksi minyak kita terus menurun padahal kita memiliki kesempatan yg sangat besar bila insentif diperbesar sedikit, misalnya dlm contoh di atas diberi $0,24/brl dar hasil keuntungan $1/brl. 
Sekedar masukan,
Salam
JD   


----- Original Message ----
From: Adrisman Tahar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 7, 2008 5:08:05 PM
Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesaiannya


  Mas Anggono,

  Saya tergugah dengan pemikirannya. Terlihat kematangan dan kedalaman 
analisis di dalamnya.
  Namun, bagaimana menurut pendapat Mas tentang informasi-informasi 
berikut ini:

    (i) Subsidi energi, terutama dalam bentuk subsidi harga, umumnya 
justru lebih banyak dinikmati oleh golongan menengah ke atas. Kaum 
perekonomian kelas bawah, justru menikmati lebih sedikit.

    (ii) Perekonomian kita sesungguhnya adalah perekonomian minyak. Kata 
orang-orang, efek petroleum pada day-to-day activity sangat kentara. 
Artinya, jika perekonomian seperti ini tidak dibangun dengan market price,  tentunya ini memberikan sinyal yang salah pada kegiatan yang berlangsung. 
Sinyal yang pada ujungnya, tidak akan membawa kegiatan perekonomian pada 
efisiensi. Hmm, jika efisiensi gagal jadi tujuan, tentu pertumbuhan dan 
kesejahteraan tidak akan tercapai juga.

    (iii) Indonesia itu pada dasarnya sudah jadi net-importer oil country.  Nilai duit yang kita keluarkan untuk mengimpor minyak justru pada saat ini 
lebih besar daripada jumlah duit yang kita peroleh dari jualan minyak. 
Artinya, kita sudah tak bisa mengklaim bisa memainkan harga minyak. 
Artinya juga, kita harus mengambil langkah-langkah untuk melakukan 
penurunan konsumsi karena volume impor yang begitu besar. Artinya juga, 
kita mau tak mau harus menjadikan harga minyak di pasar internasional 
sebagai referensi paling sahih (di sanalah, in my humble opinion, 
kesalahan terbesar dari opini Pak Kwik Kian Gie yang legendaris).

    (iv) Sedikit bicara dari sisi swasta, besarnya porsi subsidi di 
anggaran negara memberikan tekanan pada sustainabilitas fiskal. Hal ini 
akan meningkatkan country risk dari sebuah negara. Nah, efeknya besar buat  rencana-rencana investment di Indonesia. Country risk akan meningkat, dan 
pasti suku bunga meningkat dan prosedur-prosedur terkait finansial makin 
bikin puyeng. Intinya, makin jauh harapan untuk membuka new investment di 
dalam negeri.

    (v) Satu hal yang benar-benar susah di negeri ini adalah birokrasi 
pemerintahan yang tidak bagus dan terkesan serampangan, profesional, dan 
lamban. Jadi, program dan kebijakan yang bagus pun, menjadi tak efektif 
dan malah membawa efek yang lebih buruk. Dan, akhirnya masyarakat kemudian 
menilai program yang cerdas sebagai sebuah kesalahan.

  Punten, mohon maaf kalo sok tau...Cuma sekedar sharing info yang saya 
miliki.

  Salam,

  Adrisman Tahar (Ade)
    TK'95


On Wed, 07 May 2008 15:30:39 +0700, agung anggono <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

Subsidi mungkin suatu saat harus dicabut untuk menghindari pola hidup 
boros, tetapi sebelum subsidi dicabut seharusnya daya beli dinaikkan 
dulu. Soal pengalihan subsidi untuk bidang lain (misalnya pendidikan) 
belum tentu pemerintah bisa konsisten. Lha wong ada sekolah di Jl. 
Senopati sampai ambruk atapnya karena kondisi yang sudah terlalu bobrok 
menunjukkan bahwa pemerintah mengurus yang di daerah elit Jakarta saja 
tidak bisa apalagi mengurus sekolah di cerita Laskar Pelangi nya Andre 
Hirata.

Naiknya harga BBM dalam negeri karena naiknya harga BBM dunia mungkin 
perlu dipertanyakan kembali relevansinya. Salah seorang teman kita 
pernah menyajikan perhitungannya Kwik Kian Gie soal deficit anggaran 
karena harga BBM dunia naik. Logikanya adalah kita sebagai negara 
penghasil minyak semestinya senang dengan naiknya harga minyak dunia, 
karena barang jualan kita semakin mahal. Jadi semestinya kenaikan harga 
BBM dalam negeri tidak perlu dilakukan.

Hal lain lagi adalah timing untuk mengumumkan. Sebelum harga naik, 
pemerintah sudah gembar-gembor akan menaikkan harga. Akibatnya harga 
sudah naik duluan. Ketika harga BBM benar-benar naik harga kebutuhan 
pokok ikut naik lagi. Sehingga menimbulkan efek berganda.

AA/AS84


----- Original Message ----
From: Pekik A. Dahono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 7, 2008 9:52:53 AM
Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah 
Penyelesainnya

Subsidi tetap perlu ...
apa bedanya Indonesia yang kaya minyak dengan Singapore yg tidak punya
minyak ?

Bedanya, mestinya kita lebih makmur dari Singapore. Subsidi bisa dipakai
untuk membuat sekolah gratis, kesehatan gratis, dsb.

soal jalan macet
ya itu salahnya pemerintah tidak pernah menambah jalan baru kecuali 
jalan
tol saja ...

Kemacetan tidak bisa diatasi dengan membangun jalan. Kemacetan bisa
dikurangi dengan memperbanyak mass transportation system. Di mana-mana, 
yang
namanya kota besar macet kok.


soal penyelundupan , ah itu masalah niat aja koq ...

Tapi jangan dikasih iming2 dong.



Untuk mengurangi subsidi tanpa menaikkan harga BBM sebenarnya semua orang
tahu. Tinggal pemerintah niat apa enggak.
1) Kalau ingin mengurangi subsidi, mengapa cari pertamax lebih susah dari
cari cari premium? Mengapa cari solar DEX lebih susah dari cari solar
bersubsidi? Coba kalau cari premium lebih susah dari cari pertamax, 
terutama
di kota besar, saya yakin subsidi berkurang.
2) Mengapa cari gas susah saat orang disuruh beralih dari minyak tanah ke
gas.
3) Mengapa PLN tidak jualan listrik bersubsidi dan non subsidi?
4) Kalau Pertamina dan PLN menyatakan harga ekonomi atau harga pasar, 
siapa
yang memeriksa? Masih monopoli kok bisa bilang harga pasar.

>
>
>
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi 
serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt









--
Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke