Bang Johand , pak Adrisman dan rekans2 Ysh.,

Krisis yang ada di Indonesia juga menimpa dunia . We're not the only one.
Krisis tersebut antara lain : 
- krisis energi
- krisis ekonomi
- krisis pangan
Semua krisis tersebut mengharuskan kita  BERHEMAT dan MENGHENTIKAN 
PEMBOROSAN .
Sayang pemerintah kita terlambat membangun infrastruktur sehingga 
terjadi pemborosan yang berlarut-larut pada penggunaan BBM karena lack 
of transportation facilities . Bisa dihitung pemborosan yang terjadi 
karena kemacetan jalan2 di kota2 besar , termasuk Jakarta .

Krisis energi yang diatasi dengan diversifikasi pangan menjadi energi 
sudah terbukti memukul sektor pangan . Sawit, jagung, ketela pohon yang 
diubah menjadi minyak nabati hanya akan berkahir dengan kelangkaan 
pangan , harga2 jadi naik dan minyak nabati nya juga akan mahal .
Seharusnya alternative energy dibuka seluas-luasnya untuk berbagai macam 
energi , khususnya yang muranh dan terjangkau nilai ekonominya dan 
teknologi perawatannya .

Petunjuk Presiden SBY beberapa hari yang lalu tentang perlunya langkah2 
pasti dalam mengatasi krisis perlu dijawab dengan sikap positif dan 
langkah nyata .
Keinginan untuk meningkatkan peran industri pertambangan , misalnya , 
bisa dijawab dengan program2 yang mendukung cara mengatasi krisis 
tersebut . 
Perusahaan2 Tambang bisa mengubah beberapa HA lahan reklamasinya dengan 
tanaman industri biodiesel sekaligus mengolahnya menjadi BBN untuk 
mengurangi konsumsi BBM . Program Community Development dan CSR bisa 
diarahkan dengan mengajak banyak rakyat2 sekitar tambang untuk menanam 
bahan makanan dengan teknologi pertanian yang lebih maju , dlsbnya .
Penggunaan supreme biodiesel yang berasal dari ganggang perlu diuji 
coba , untuk menghasilkan BBN dan juga mengurangi emisi karbon .

Masyarakat di kota2 besar diharuskan melaksanakan program penghematan 
penggunaan listrik dan beberapa gedung2 besar bisa mulai memasang panel2 
surya untuk listrik tenaga surya . 
PLN bisa mengkonsentrasikan diri untuk memilih lokasi pembangkit 
listriknya yang dekat dengan sumber2 energi2 alternatif , seperti 
panasbumi , energi angin dan energi surya dlsbnya .

Untuk mengatasi krisis , diperlukan langkah2 nyata dan mulai dari diri 
sendiri . Dan gerakan penghematan ini layak dilakukan oleh alumni ITB 
sebagai wujud kepedulian terhadap persoalan bangsa .

Salam hangat ,
PriyoPS , Tambang '71


-----Original Message-----
From: "Adrisman Tahar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Thu, 08 May 2008 07:14:37 +0700
Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah  
Penyelesaiannya

> 
>   Pak Johand,
> 
>   Terima kasih sekali atas knowledge-nya sangat berharga. Saya
> benar-benar  
> sepakat bahwa tanpa data yang memadai, kita tak akan dapat menghasilkan
>  
> kerangka berpikir dan analisis yang baik.
> 
>   Namun, sebetulnya beberapa informasi yang sempat saya utarakan,
> datanya  
> tak terlalu susah diperoleh. Kebetulan, karena pernah bekerja lima
> tahun  
> di Pusat Penelitian Energi ITB (bantu-bantu Pak Saswinadi, Pak Tatang  
> Hernas, dan Pak Tasrif), serta sekarang berkecimpung di Business  
> Development & Planning MedcoEnergi, karena keseringan dihajar dan  
> dimarahin, akhirnya harus membiasakan mengeluarkan pikiran berbasis  
> informasi akurat.
> 
>   Back to topic, intinya kita semua sepakat bahwa persoalan karut-marut
>  
> energi sedapat mungkin harus diletakkan pada konteks kebijakan yang  
> membalans semua "vested interest" para stakeholder di bumi Nusantara
> ini.
> 
>   Mudah-mudahan ujungnya akan ke sana ya, Pak. Amin..!
> 
>   Salam,
> 
>   Adrisman Tahar (Ade)
> 
> On Thu, 08 May 2008 00:40:59 +0700, Johand Dimalouw <[EMAIL PROTECTED]>
>  
> wrote:
> 
> > Rekan Adrisman dan Agung yth,
> > Memang masalah energi ini membuat kita sulit berbicara dan
> menganalisa.  
> > Slah satu penyebabnya adalah ketiadaan data yg bisa kita semua
> berpijak  
> > dan bisa berpikir dan menganalisanya dgn baik.
> > Subsidi Energi
> > Kalau kita pakai data dari ESDM yg mengurus energi NKRI, kita  
> > memproduksi energi yg dapat diperdagangkan yaitu Minyak Bumi, Gas
> Alam  
> > dan Batu bara. Sekitar 50% dari produksi Gas Alam dan Batu bara kita 
> > expor. Karena harga di luar lebih tinggi dari di dalam negeri
> sendiri,  
> > para pengusaha cenderung expor dgn akibat kebutuhan sendiri kesulitan
>  
> > dipenuhi.
> > Minyak Bumi saya sendir kira sejak tahun 2004 kita sudah jadi
> pengimpor  
> > tetapi kalau kita lihat data dari ESDM, maka kita selalu expor,
> kecuali  
> > tahun 2006 yg jumlahnya sangat kecil (2,4 juta barrel). Biaya
> produksi  
> > kita kurang dari $15 /barel (2007). Selama ini memang kita selalu
> expor  
> > minyak bumi kita yg dinilai lebih mahal dan kita impor minyak bumi
> yg  
> > harganya lebih murah dari Timur Tengah. (selisih harganya bisa
> beberapa  
> > dollar). Yg disebut 'Subsidi BBM' itu sebenarnya 'Subsidi NKRI kepada
>  
> > PERTAMINA, untuk mengilang minyak bumi yg murah dari Timur
> Tengah untuk  
> > membuat dan penyediaan BBM untuk konsumsi dlm Negeri, menggunakan
> uang  
> > dari hasil expor minyak bumi. Juga karena kapasitas kilang minyak  
> > PERTAMINA terbatas maka sebagian BBM memang diimpor untuk menutup  
> > kekurangan hasil kilang kita.
> > Dengan mengalihkan konsumsi BBM ke BBG (LPG) dan Batubara, seharusnya
>  
> > masalah kekurangan BBM ini dapat teratasi bila kita rencanakan dgn
> baik  
> > sejak awal pembangun kita ini.
> > Isu  yang sering diangkat bahwa 'orang kaya' yg menikmati 'subsidi  
> > harga' BBM karena mereka yg pakai mobil dll, menurut saya memang  
> > nampaknya begitu, secara kasat mata. Tapi kalau dianalisa lebih
> lanjut,  
> > siapa yg 'membayar gaji' orang2 kaya itu? Semia biaya mereka
> ujung2nya  
> > masuk dalam 'biaya produksi' apapun yg mereka produksi (baik barang 
> > maupun jasa) dan yg membayar adalah konsumen alias rakyat juga.
> > Market Price. Kalau kita bicara 'market price' kita mau pakai 'market
>  
> > price' yg mana karena market itu banyak ada di mana-mana? Amerika,  
> > Eropa, Jepang, Singapura atau Jakarta atau ...?
> > Market price Minyak Bumi di USA mahal sekali karena mereka harus
> impor  
> > dari luar sekitar 65% - 70%  kebutuhan mereka dan mereka pakai
> sekitar  
> > 20 juta barel sehari. Jadi kalau saluran impor terganggu mereka  
> > kelabakan dan harga naik gila2an; sekarang $122/brl. Arab Saudi
> berbalik  
> > 100%.  Kalau tak ada yg beli, mereka bisa jual dibawah $ 10 per
> barrel  
> > mereka sudah untung besar. Kita gimana dgn harga $30/brl kita juga
> sdh  
> > untung besar.  Kita pakai 'market price yg mana yg mana?
> > Market Price Beras, market price tenaga kerja, dll juga demikian,  
> > bervariasi sekali khan?
> > Bedanya di mana? Kalau pengusaha minyak bumi itu perusahaan2 besar  
> > Negara USApun bisa mereka atur, jadi mereka desak pemerintah kita
> untuk  
> > naikan BBM kita dgn alasan 'Market priceUSA'  dan bersamaan pula
> mereka  
> > mendesak kita untuk digaji dgn gaji yg kecil dgn alasan 'market price
>  
> > Indonesia' khan. Saya pribadi ngalami ini (gaji saya sbg VP lebih
> kecil  
> > dari Sr Engineer mereka, sekitar 30% saja dar orang mereka dan diam
> saja  
> > krn saya sadar saya digaji oleh negara sediri untuk bekerja di  
> > kontraktornya).
> > Bagai mana kalau para petani kita menuntuk untuk pakai 'market price 
> > Jepang' untuk harga beras yg kini di atas $1000/ton? 
> > Jadi menurut saya kita harus konsiten saja.
> > Indonesia sdh Non OPEC. Data ESDM mengatakan kita masih Petroleum  
> > exporting Country. Kita impor dan expor minnyak bumi hampir sama
> banyak,  
> > dan Gas Alam kita, kita expor dalam bentuk LNG lebih dari 50%
> produksi  
> > kita. Total produksi Gas/LNG setara 500 juta brl (2007) setahun. Ini 
> > angka terrendah sejak tahun 2000. Produksi minyak kita masih dapat  
> > dinaikkan, apa bila kita mau dgn sungguh2. Saat ini masih ada ladang 
> > kita yg diproduksi dgn biaya operasi hanya $6/brl. Tidak ada insentif
>  
> > untuk meningkatkannya karena keterikatan kontrak usahanya. Bayangkan 
> > apabila anda invest $1/bbl dengan hasil $2, tetapi anda hanya dapat  
> > total $1,12/bbl (kembali modal $1/brl dan bagi untung $0,12/brl). Apa
>  
> > anda mau invest? Di sinilah masalah kita yg tak terbaca/terlihat
> dengan  
> > akibat, produksi minyak kita terus menurun padahal kita  
> > memiliki kesempatan yg sangat besar bila insentif diperbesar
> sedikit,  
> > misalnya dlm contoh di atas diberi $0,24/brl dar hasil keuntungan  
> > $1/brl. 
> > Sekedar masukan,
> > Salam
> > JD   
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: Adrisman Tahar <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Wednesday, May 7, 2008 5:08:05 PM
> > Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah
>  
> > Penyelesaiannya
> >
> >
> >   Mas Anggono,
> >
> >   Saya tergugah dengan pemikirannya. Terlihat kematangan dan
> kedalaman 
> > analisis di dalamnya.
> >   Namun, bagaimana menurut pendapat Mas tentang
> informasi-informasi 
> > berikut ini:
> >
> >     (i) Subsidi energi, terutama dalam bentuk subsidi harga,
> umumnya 
> > justru lebih banyak dinikmati oleh golongan menengah ke atas. Kaum 
> > perekonomian kelas bawah, justru menikmati lebih sedikit.
> >
> >     (ii) Perekonomian kita sesungguhnya adalah perekonomian minyak.
> Kata 
> > orang-orang, efek petroleum pada day-to-day activity sangat
> kentara. 
> > Artinya, jika perekonomian seperti ini tidak dibangun dengan market  
> > price, 
> > tentunya ini memberikan sinyal yang salah pada kegiatan yang  
> > berlangsung. 
> > Sinyal yang pada ujungnya, tidak akan membawa kegiatan perekonomian
> pada 
> > efisiensi. Hmm, jika efisiensi gagal jadi tujuan, tentu pertumbuhan
> dan 
> > kesejahteraan tidak akan tercapai juga.
> >
> >     (iii) Indonesia itu pada dasarnya sudah jadi net-importer oil  
> > country. 
> > Nilai duit yang kita keluarkan untuk mengimpor minyak justru pada
> saat  
> > ini 
> > lebih besar daripada jumlah duit yang kita peroleh dari jualan
> minyak. 
> > Artinya, kita sudah tak bisa mengklaim bisa memainkan harga minyak. 
> > Artinya juga, kita harus mengambil langkah-langkah untuk melakukan 
> > penurunan konsumsi karena volume impor yang begitu besar. Artinya
> juga, 
> > kita mau tak mau harus menjadikan harga minyak di pasar
> internasional 
> > sebagai referensi paling sahih (di sanalah, in my humble opinion, 
> > kesalahan terbesar dari opini Pak Kwik Kian Gie yang legendaris).
> >
> >     (iv) Sedikit bicara dari sisi swasta, besarnya porsi subsidi
> di 
> > anggaran negara memberikan tekanan pada sustainabilitas fiskal. Hal
> ini 
> > akan meningkatkan country risk dari sebuah negara. Nah, efeknya besar
>  
> > buat 
> > rencana-rencana investment di Indonesia. Country risk akan meningkat,
>  
> > dan 
> > pasti suku bunga meningkat dan prosedur-prosedur terkait finansial
> makin 
> > bikin puyeng. Intinya, makin jauh harapan untuk membuka new
> investment  
> > di 
> > dalam negeri.
> >
> >     (v) Satu hal yang benar-benar susah di negeri ini adalah
> birokrasi 
> > pemerintahan yang tidak bagus dan terkesan serampangan, profesional,
> dan 
> > lamban. Jadi, program dan kebijakan yang bagus pun, menjadi tak
> efektif 
> > dan malah membawa efek yang lebih buruk. Dan, akhirnya masyarakat  
> > kemudian 
> > menilai program yang cerdas sebagai sebuah kesalahan.
> >
> >   Punten, mohon maaf kalo sok tau...Cuma sekedar sharing info yang
> saya 
> > miliki.
> >
> >   Salam,
> >
> >   Adrisman Tahar (Ade)
> >     TK'95
> >
> >
> > On Wed, 07 May 2008 15:30:39 +0700, agung anggono
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> >
> >> Subsidi mungkin suatu saat harus dicabut untuk menghindari pola
> hidup 
> >> boros, tetapi sebelum subsidi dicabut seharusnya daya beli
> dinaikkan 
> >> dulu. Soal pengalihan subsidi untuk bidang lain (misalnya
> pendidikan) 
> >> belum tentu pemerintah bisa konsisten. Lha wong ada sekolah di Jl. 
> >> Senopati sampai ambruk atapnya karena kondisi yang sudah terlalu
> bobrok 
> >> menunjukkan bahwa pemerintah mengurus yang di daerah elit Jakarta
> saja 
> >> tidak bisa apalagi mengurus sekolah di cerita Laskar Pelangi nya
> Andre 
> >> Hirata.
> >>
> >> Naiknya harga BBM dalam negeri karena naiknya harga BBM dunia
> mungkin 
> >> perlu dipertanyakan kembali relevansinya. Salah seorang teman kita 
> >> pernah menyajikan perhitungannya Kwik Kian Gie soal deficit
> anggaran 
> >> karena harga BBM dunia naik. Logikanya adalah kita sebagai negara 
> >> penghasil minyak semestinya senang dengan naiknya harga minyak
> dunia, 
> >> karena barang jualan kita semakin mahal. Jadi semestinya kenaikan
> harga 
> >> BBM dalam negeri tidak perlu dilakukan.
> >>
> >> Hal lain lagi adalah timing untuk mengumumkan. Sebelum harga naik, 
> >> pemerintah sudah gembar-gembor akan menaikkan harga. Akibatnya
> harga 
> >> sudah naik duluan. Ketika harga BBM benar-benar naik harga
> kebutuhan 
> >> pokok ikut naik lagi. Sehingga menimbulkan efek berganda.
> >>
> >> AA/AS84
> >>
> >>
> >> ----- Original Message ----
> >> From: Pekik A. Dahono <[EMAIL PROTECTED]>
> >> To: [email protected]
> >> Sent: Wednesday, May 7, 2008 9:52:53 AM
> >> Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan
> Langkah-langkah 
> >> Penyelesainnya
> >>
> >>> Subsidi tetap perlu ...
> >>> apa bedanya Indonesia yang kaya minyak dengan Singapore yg tidak
> punya
> >>> minyak ?
> >>>
> >> Bedanya, mestinya kita lebih makmur dari Singapore. Subsidi bisa
> dipakai
> >> untuk membuat sekolah gratis, kesehatan gratis, dsb.
> >>
> >>> soal jalan macet
> >>> ya itu salahnya pemerintah tidak pernah menambah jalan baru
> kecuali 
> >>> jalan
> >>> tol saja ...
> >>>
> >> Kemacetan tidak bisa diatasi dengan membangun jalan. Kemacetan bisa
> >> dikurangi dengan memperbanyak mass transportation system. Di
> mana-mana, 
> >> yang
> >> namanya kota besar macet kok.
> >>
> >>>
> >>> soal penyelundupan , ah itu masalah niat aja koq ...
> >>
> >> Tapi jangan dikasih iming2 dong.
> >>
> >>>
> >>
> >> Untuk mengurangi subsidi tanpa menaikkan harga BBM sebenarnya semua 
> >> orang
> >> tahu. Tinggal pemerintah niat apa enggak.
> >> 1) Kalau ingin mengurangi subsidi, mengapa cari pertamax lebih susah
>  
> >> dari
> >> cari cari premium? Mengapa cari solar DEX lebih susah dari cari
> solar
> >> bersubsidi? Coba kalau cari premium lebih susah dari cari
> pertamax, 
> >> terutama
> >> di kota besar, saya yakin subsidi berkurang.
> >> 2) Mengapa cari gas susah saat orang disuruh beralih dari minyak
> tanah  
> >> ke
> >> gas.
> >> 3) Mengapa PLN tidak jualan listrik bersubsidi dan non subsidi?
> >> 4) Kalau Pertamina dan PLN menyatakan harga ekonomi atau harga
> pasar, 
> >> siapa
> >> yang memeriksa? Masih monopoli kok bisa bilang harga pasar.
> >>
> >>> >
> >>> >
> >>> >
> >>> --
> >>> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
> ilmu/teknologi 
> >>> serta
> >>> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
> dan
> >> akhirat.
> >>>
> >>> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> >>> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
> >>>
> >>
> >>
> >
> >
> >
> 
> 
> 
> -- 
> Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/
> 
> -- 
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
> serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
> 
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt



-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke