At 11:44 07/05/2008, S.Rahardjo wrote:
Mas Zaenal,

Ini sudah dicoba oleh Saddam Husein dulu dengan memindahkan devisa dan transaksi ekspor ke Euro. Akibatnya Amrik marah dan merasa terancam, akhirnya Irak diserang.

Apakah benar karena Irak pindah transaksi ekspornya ke Euro terus diserang USA ? apakah bisa kasih pencerahan sumber infonya dari mana ?

Hal serupa mulai dilaksanakan oleh Iran, dan sekarang sedang dimatangkan untuk menyerang Iran. Hanya tertunda karena pemilu. Ada expert dari FAO dikantor cerita (orang Honduras), monster Amrik itu akan tetap begitu, biar kepalanya ganti-ganti.

Apakah benar karena Iran pindah transaksi ekspornya ke Euro terus akan diserang USA ? apakah bisa kasih pencerahan sumber infonya dari mana ? bukannya gossip saja ?
Jika benar apakah tidak bisa dilaporkan untuk sidang dewan keamanan PBB ?

Yang pasti dengan semakin banyak negara yang tidak menggunakan USD nya untuk ekspor, berarti nilai USD akan semakin turun terus ? Apakah Indonesia masih akan pegang USD terus ? wah tanda tanda Indonesia makin terpuruk terus dong ? :-(

Makanya (DR.Flores Rodas) tidak minat baca pemilu di USA, hasilnya akan sama saja. Dengan kenaikan harga minyak yang untung juga USA, semua perusahaan minyak besar didunia ada sahamnya dan laporan terakhir dari perusahaan-perusahaan minyaknya menambah laba sampai 63%.

Tapi apakah juga tidak melambatkan pertumbuhan ekonomi rakyat USA juga ? karena cost semuanya menjadi naik ?

Salam,
Zaenal


Salam,
SR

PS:
Ini ada bahan bacaan menarik


 KENAIKAN HARGA BBM: KEINGINAN PEMERINTAH ATAU PIHAK LUAR?

Dalam waktu dekat, pemerintah kembali akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak, BBM. Bagi publik Indonesia, kenaikan harga BBM berarti bertambahnya beban biaya hidup sehari-hari. Jadi, kenaikan harga BBM selalu tidak populer. Padahal, tahun depan, Indonesia kembali akan menggelar pemilihan umum. Berikut penjelasan Revrisond Baswir, pakar ekonomi politik dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta:

Revrisond Baswir [RB]: Saya ingin mengemukakan tiga hal, komentar saya mengenai rencana itu. Yang pertama, ada kesan pemerintah plin-plan. Kenapa? Karena awal tahun ini, baik presiden mau pun wakil presiden, dengan tegas menjamin pada publik, bahwa harga BBM tidak akan naik, sampai dengan 2009. Tetapi, tiba-tiba kan berubah, dalam tempo yang relatif singkat.

Yang kedua, pemerintah baru saja mengajukan APBN-P (red: perubahan) ke DPR, bulan lalu. Dan di sana juga tidak ada tanda-tanda bahwa harga BBM akan dinaikkan. Tetapi, tiba-tiba, sekarang pikiran pemerintah berubah lagi. Jadi, kesan yang kedua, pemerintah jadi amatir.

Nah, yang terakhir, saya mengira, bahwa, kalau kita bicara soal latar belakang, rampaknya ada desakan yang amat kuat, dari pihak-pihak di luar pemerintahan, yang berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu di pemerintahan. Yang mendesak agar pemerintah menaikkan harga BBM.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Pak Revrisond, apakah desakan ini dari luar negeri? Dari Bank Dunia atau Asian Development Bank misalnya?

RB: Ya, saya kira yang paling jelas, tentu saja kalau kita urut, sejak dikeluarkannya UU Migas, sebenarnya sudah lama ada keinginan banyak pihak, untuk menyerahkan harga BBM ini pada mekanisme pasar. Tetapi, kan agenda itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Karena dianggap bertentangan dengan UUD.

Nah sekarang, ada masalah lain lagi. Selain soal-soal yang tadinya bersifat ideologis, atau teori ekonomi, kini ada masalah hadirnya SPBU-SPBU asing (red: Stasiun Pengisian BBM untuk Umum) di Indonesia, yang juga ingin menjual BBM secara eceran. Nah, selama harga BBM di Indonesia dijual dengan harga bersubsidi, maka rencana ekspansi dari perusahaan-perusahaan ini akan terhambat. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan SPBU Pertamina, kalau harga jualnya sangat murah.

RNW: Pak Revrisond, jika terjadi kenaikan harga BBM, publik Indonesia selalu mengeluh. Padahal Presiden SBY, selama masa jabatannya sudah dua kali menaikkan harga BBM. Kini harga BBM kembali akan naik, menurut Pak Revrisond apa dampak kebijakan ini, bagi posisi Presiden SBY?

RB: Ya, saya kira sudah jelas ya, kenaikan harga BBM akan menyebabkan beban hidup rakyat semakin berat. Dan sudah pasti itu akan berdampak kepada popularitas pemerintahan SBY-JK. Dan kalau kita belajar dari pemerintahan sebelumnya, kepentingan modal internasional yang berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu di dalam negeri, itu seringkali tidak perduli.

Misalnya, pada era Bu Mega, desakan yang sangat kuat adalah melakukan privatisasi. Dan akhirnya itu menimbulkan perlawanan, yang dibayar mahal oleh Bu Mega, karena beliau kemudian dikalahkan. Dan pihak-pihak internasional itu memang tidak perduli. Karena yang penting, bagi mereka adalah, agenda-agenda mereka jalan. Bahwa itu harus dibayar mahal oleh rezim yang berkuasa, dengan kekuasaan, saya kira, itu tidak begitu penting bagi mereka.

RNW: Pak Revrisond, jadi pertanyaannya, mengapa Pemerintah Republik Indonesia, mau mengambil kebijakan yang beresiko mereka jadi tidak populer?

RB: Ya, saya kira, inilah satu fenomena yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa yang namanya Indonesia, sebagai negara berdaulat, itu masih dipertanyakan tingkat kedaulatannya. Karena sangat mudah diintervensi, baik oleh negara-negara besar, mau pun oleh lembaga-lembaga multi-lateral, seperti IMF dan World Bank, termasuk oleh jaringan modal internasional.

Jadi, ini adalah bagian, atau kenyataan, riil politik di Indonesia. Bahwa elit politik di Indonesia sangat lemah, ketika berhadapan dengan tekanan-tekanan dari jaringan modal internasional.

RNW: Jadi ini menurut anda, lebih banyak desakan-desakan dari pihak luar, ketimbang pertimbangan politik di dalam negeri sendiri?

RB: Ooh, sudah pasti. Karena begini, karena saya mencoba melihat secara finansial, ke dalam APBN. Bukankah tadi ya, APBN-P juga baru diajukan oleh pemerintah. Dan kalau kita belajar dari APBN-P, sebenarnya penerimaan negara dari Migas dan Pph, Pajak Penghasilan Migas, itu masih tetap lebih besar, daripada subsidi yang tercantum di sana. Jadi, secara finansial, mestinya tidak ada persoalan.

Tadi, persoalannya, kalau dianggap sebagai masalah. Pertama, secara ideologis, ini bertentangan dengan logika ekonomi pasar. Yang kedua, dari segi bisnis, perusahaan migas asing di Indonesia, ini akan menghambat ekspansi mereka.

----- Original Message -----
From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Achmad Zaenal Abidin
To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
Cc: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] ; <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, May 06, 2008 9:42 PM
Subject: [Alumni Margoyudan123] Re: [indonesia] Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesainnya

Mas Yohan dan Rekans,

Bukannya yang namanya cadangan devisa itu adalah jumlah placement BI/Pemerintah dalam valuta asing ditambah dengan selisih antara perolehan devisa hasil export/transfer masuk dari negara lain dikurangi dengan pembayaran untuk import/transfer keluar ke negara lain.

Jika harga minyak mentah didunia naik, maka karena Pemerintah RI sekarang merupakan net importir, tentu biaya yang harus dibayar (transfer keluar) dalam bentuk devisa makin besar untuk membayar minyak mentah untuk diolah di Kilang kilang Indonesia atau minyak "mateng" untuk pengadaan BBM dalam negeri.

Tentu jika makin besar yang harus dibayar, cadangan devisa akan turun seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dan volume import minyak mentah/"mateng".

Misalnya Pemerintah mempunyai cadangan devisanya dalam valuta Euro atau GBP, turunnya cadangan devisa tidak sederas naiknya harga minyak dalam USD dikalikan dengan volume import tetapi nilai devisa masih bisa bertambah dengan naiknya nilai kurs Euro atau GBP terhadap USD.

Makanya Iran sekarang pakai mata uang Euro untuk transaksi ekspornya.
Indonesia kenapa tidak mulai ? padahal walaupun nilai USD turun terhadap Euro/GBP tetap saja nilai rupiah merosot juga terhadap USD karena kekawatiran tekornya APBN karena harga minyak naik terus ? apakah ini tidak dua kali rugi ? :-(

Salam,
Zaenal

At 00:22 05/05/2008, yohan wrote:

.

__,_._,___

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.10/1421 - Release Date: 07/05/2008 17:23

Kirim email ke