Kang AZA....mainkan lah incremental cost nya dulu

Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Mas Yohan dan Rekans,

 Bukannya yang namanya cadangan devisa itu adalah jumlah placement 
BI/Pemerintah dalam valuta asing ditambah dengan selisih antara perolehan 
devisa hasil export/transfer masuk dari negara lain dikurangi dengan pembayaran 
untuk import/transfer keluar ke negara lain.

 Jika harga minyak mentah didunia naik, maka karena Pemerintah RI sekarang 
merupakan net importir, tentu biaya yang harus dibayar (transfer keluar) dalam 
bentuk devisa makin besar untuk membayar  minyak mentah untuk diolah di Kilang 
kilang Indonesia atau minyak "mateng" untuk pengadaan BBM dalam negeri.

 Tentu jika makin besar yang harus dibayar, cadangan devisa akan turun seiring 
dengan kenaikan harga minyak mentah dan volume import minyak mentah/"mateng".

 Misalnya Pemerintah mempunyai cadangan devisanya dalam valuta Euro atau GBP, 
turunnya cadangan devisa tidak sederas naiknya harga minyak dalam USD dikalikan 
dengan volume import tetapi nilai devisa masih bisa bertambah dengan naiknya 
nilai kurs Euro atau GBP terhadap USD.

 Makanya Iran sekarang pakai mata uang Euro untuk transaksi ekspornya.
 Indonesia kenapa tidak mulai ? padahal walaupun nilai USD turun terhadap 
Euro/GBP tetap saja nilai rupiah merosot juga terhadap USD karena kekawatiran 
tekornya APBN karena harga minyak naik terus ? apakah ini tidak dua kali rugi ? 
:-(

 Salam,
 Zaenal 
  
 At 00:22 05/05/2008, yohan wrote:
 Dear rekan-rekan,
 Berikut bahan bacaan yang mungkin berguna disaat senggan :
  
 Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesainnya
 Oleh Yohan Suryanto, ver 1.0
 Jika dicermati berdasarkan data ‘Sabtu Santai: Simulasi Investasi Saham’ oleh 
JD dalam mailing list IA-ITB, antara tanggal 23 Februari 2008 sampai 29 Maret 
2008, kisaran harga minyak mentah dunia antara $100 sampai $115 per barel. Pada 
kondisi tersebut, berdasarkan data situs BI per 3 April 2008 yang disarikan 
oleh Detik Finance, justru cadangan devisa Indonesia meningkat dari $ 57,125 
Milyar menjadi $ 58,980 Milyar.  Artinya dengan kondisi harga minyak yang 
mencapai kisaran tersebut, secara net cadangan devisa Indonesia dalam mata uang 
USD justru meningkat. Ini merupakan sinyal yang cukup menggembirakan dan 
menjadi batu pijakan pada kita untuk mengambil langkah jangka pendek (1-2 tahun 
kedepan) yang tepat untuk menyikapi kondisi harga minyak mentah yang mencapai 
kisaran antara $100-$120 USD dewasa ini.
 Realitas ini memberikan tuntunan yang lebih konkrit pada kita bahwa kenaikan 
Minyak mentah sampai level $ 5- $ 25 lebih tinggi dari rencana APBN ( $ 95) 
masih bisa diakomodasi oleh cadangan devisa NKRI. Meskipun tidak terkait 
langsung, ini menjadi pertanda bahwa kebutuhan konsumsi BBM (Bensin, Solar dan 
Kerosin) dalam negeri dengan kebijakan yang tepat tidak akan memakan devisa. 
Ini merupakan indikasi yang kuat bahwa bahwa produksi minyak mentah Indonesia 
yang mencapai 1 juta barrel perhari masih mencukupi untuk kebutuhan dalam 
negeri dengan pertumbuhannya dalam 1-2 tahun mendatang.
  
 Selanjutnya bisa dilihat di  
http://yohans.wordpress.com/2008/05/04/krisis-energi-sektor-bbm-dan-langkah-langkah-penyelesaiannya/
 
  
 Salam,
 -yohan S-
 EL’93
  


  Back-up email for: [EMAIL PROTECTED]



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke