Ya bukan otaknya yang nggak beres. Dalam mengambil keputusan kan
parameter-parameternya banyak. Menghilangkan atau mereduksi beberapa
parameter, katakanlah dengan hanya mempertimbangkan nilai pembukuan
saja - sebagai parameter pembuatan keputusan misalnya - jelas
menimbulkan kesalahan logika dalam pengambilan keputusan. Kan ilmu
logika sudah ada sejak Aristoteles dan Plato.

BN

2008/5/16 Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]>:
> "Kesalahan logika" apa maksudnya otaknya tidak beres Pak Ben ?
>
> 2008/5/14 Benny Nasution <[EMAIL PROTECTED]>:
>>
>> Logikanya saya setuju. Kalau Nasi rawon di Indonesia harganya Rp.
>> 5000/porsi terus di New York satu porsi Rp.100.000 ($10) apa artinya
>> "pemerintah" atau "pedagang rawon" rugi Rp. 95.000/porsinya? Wuih..
>>
>> Sekedar info, minggu lalu saya di Arab Saudi, dan ditengah perjalanan,
>> bisnya ngisi bensin. Harga bensin dipompa bensin adalah 26
>> halalah/liter atau 0.26 X Rp 2500/riyal = Rp. 650/liter. Apa iya sih
>> pemerintah Arab Saudi mensubsidi bensin di negaranya? Sepertinya ada
>> kesalahan logika dalam menerapkan parameter perhitungan kita. Terus
>> kita mau ngomong apa ya, negara dengan penghasilan per kapita yang
>> sudah begitu tinggi, pengeluaran untuk beli bensin serendah itu?
>>
>> BN
>

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke