Sepertinya sudah sejak lama di Indonesia ada spekulan, jauh sebelum mencuat istilah pasar bebas, global market atau apapun namanya.
Dulu disebut dengan istilah 'tengkulak', yang membeli hasil bumi petani secara ijon. Mereka yang punya modal suka membeli hasil bumi sebelum masak untuk panen (ijon), yang biasanya dibeli dari para petani yang miskin dan sedang butuh uang. Hasil bumi itu dibeli dengan harga murah karena masih mentah (belum masak untuk dipanen). Ketika sudah masak dan dipanen, hasil bumi itu sudah menjadi milik si tengkulak, dan dijualnya dengan harga jauh lebih tinggi karena memang sudah masak. Beberapa jenis hasil bumi yang sering dibeli secara ijon oleh tengkulak adalah padi, jagung, dan buah-buahan. Tahun 1960-an saya sudah mendengar istilah 'tengkulak', dan bahkan diajarkan di Sekolah Dasar, agar anak-anak mengetahuinya dan menghindari perbuatan tengkulak. Bung Karno pun sangat menentang sistem ijon ini karena memang merupakan bagian dari sistem ekonomi neo-kapitalis, di mana si kaya memanfaatkan kesusahan orang (dalam hal ini para petani miskin yang sedang butuh uang) untuk kepentingan pribadinya. Bagaikan memancing di air keruh. Jadi, sudah lama di Indonesia ada spekulan. Salam, Ibnu Nugroho P. ----- Original Message ----- From: "Harlizon MBAu" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Friday, May 30, 2008 7:39 AM Subject: [indonesia] Re: [ekonomi-nasional] Sistemnya Pasar Bebas, kok Harga tetap naik? > Dari milis tetangga... > > 2008/5/29 Sang <[EMAIL PROTECTED]>: >> Ini yg saya malah makin bingung sekarang-sekarang ini.... >> >> Liberalisasi segalanya sepertinya bukannya bikin harga makin murah, >> makin efisiensi dari segi produksi, bukannya makin efektif >> distribusi barang... tapi kok segalanya makin tidak karu-karuan... >> Mulai dari terigu, gula, beras, minyak sayur dll >> >> Minyak bumi yg dikonversi jadi BBM kok bisa jadi naik melambung >> tinggi dipasaran global? padahal sekarang sistem laissez faire >> liberalisasi perdagayang yg semestinya makin efisien dalam hal cost >> produksi, makin efektif dll... >> >> Kok jadinya terbalik kearah sebaliknya... harga bukannya jadi rendah >> karena persaingan bebas.. bukannya makin mampu dijangkau semua >> kalangan, malah makin menggila bergerak ke 150$ dollar... dan yg >> untung malahan investor , penanam modal dan pedagang besar.. >> >> Dan yg menderita pasti orang-orang kecil dgn penghasilan pas-pasann.. >> >> Kenapa dgn sistem kapitalistik liberalisasi sekarang harga malahan >> bukannya makin efisien malah makin menggila? >> >> jawaban utama saya yakin bukan tersebab kelangkaan dan permintaan >> tinggi....produk global cukup kok! >> >> Mohon penjelasan bagi ahli kita yg punya pengetahuan soal ini... >> >> Sang > > 2008/5/30 A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>: >> Kenapa Pasar Komoditas lebih mahal dan turun naik tidak karuan ketimbang >> pasar tradisional? >> >> Ini gambarannya: >> Pasar Tradisional: >> Produsen->Distributor->Pengecer->Pembeli >> >> Pasar Komoditas: >> >> B U R S A K O M O D I T A S >> Produsen->Spekulan->Spekulan->Spekulan->Spekulan...(tidak terhingga sampai >> jatuh tempo)->Distributor->Pengecer->Pembeli >> >> Harusnya Pasar Komoditas dilarang memperjual-belikan Sembako dan BBM agar >> harganya tidak dipermainkan spekulan. > > 2008/5/30 Sang <[EMAIL PROTECTED]>: >> jadi penyebab utama para pemancing diar keruh ya pak Nizami... >> >> Memang kuat dugaan saya spekulan, yg dalam penggambaran adam smith >> adalah invisible hands .. yaitu tangan-tangan tak kelihatan yg >> mempermainkan harga demi keuntungan pribadi... >> >> Saya sependapat... >> >> Sang > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
