Sebenarnya persoalan nya ,
dimana kita bisa melihat harga itu sendiri ?
apa yang dimaksud pasar ?
siapa yang mengendalikan informasi dari 'pasar' ?
dimana kita bisa tahu informasi supply vs demand ?
misal utk tender , dimana kita bisa menghitung harga OE (owner estimate)
kalau tidak ada patokan harga ?
adanya ketidakpercayaan karena tidak terbuka nya informasi tentang pasar
dan harga (price determination) ...
belum lagi faktor kecepatan, updating informasi pasar ...
On Sun, 1 Jun 2008, [EMAIL PROTECTED] wrote:
Kalau melihat inconvenience truth atau membahas global climate change
mestinya manusia berkoperasi untuk kelangsungan kehidupannya di bumi dong
he he he...(bhm)
ps. Kalau bisa kompetisinya di yang enak enak aja seperti sepakbola dsb
tapi jangan di "siapa paling kaya" atau "siapa paling berkuasa"
Mungkin karena kita dulu belajar pradigmanya Darwin ... "survival of
the fittest" (natural selection). Itu jelas2 paradigma kompetisi ;-)
Dan diambil dari fenomena alam. Di alam ... keduanya ada ... baik
kompetisi maupun kooperasi. Tinggal permasalahan "boundary" ... .
Pada batas mana masih berkooperasi, diluar batas itu sudah menjadi
kompetisi.
Dalam fenomena alam ... sperma yang jutaan itu saling "berkompetisi"
memperebutkan sel telur. Tapi, setelah satu sperm yang menang membuahi
sel telur, proses di dalamnya menjadi "kooperasi" ... dimana sel2
tersebut berkooperasi membentuk seorang bayi (fetus) ...
Di dalam sebuah perusahaan ... pegawainya bisa jadi saling
berkompetisi mencapai jenjang karier tertinggi dalam perusahan
tersebut. Tapi mereka musti berkooperasi saat perusahaan sedang
berkompetisi dgn perusahaan lain.
Di dalam sebuah negara masing2 perusahaan saling berkompetisi untuk
mendapatkan pasar dan resource. Tapi mereka musti berkooperasi saat
negara sedang berkompetisi dgn negara lain.
Jad ... kunci dari paradigma "kooperasi" ini adalah ... perlu dibangun
semangat "kompetisi" terhadap "pihak lain". Isu2 nasionalisme, atau
sosialisme, atau localisme versus globalisme ... itu akan membentuk
kedua hal tersebut ... kooperasi "ke dalam" ... dan kompetisi "ke
luar".
Kondisi kooperasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya kondisi kompetisi
... demikian sebaliknya. Saat seorang manusia sedang berkompetisi dgn
manusia lain ... seluruh sel tubuhnya harus berkooperasi dgn baik ...
kalau mau menang ;-)
Nah ... ajakan anda untuk berkooperasi itu ... sebenarnya kita ini
sedang mau .. berkompetisi dgn siapa ? ;-)
salam,
-ai-
2008/5/31 Harlizon MBAu <[EMAIL PROTECTED]>:
Kuncinya ada di "KERJASAMA (untuk BERSAMA)" Pak Bango Samparan. Bahasa
ke kiniannya "COOPERATION".
Semua alam yang tumbuh di compose oleh Yang Maha Pencipta dengan
konsep "COOPERATION" ini...
Sila perhatikan alam sekeliling anda, bahkan tubuh anda sendiri...
Tidak ada yang FULL LIBERAL di alam ini... Kalau ada yang bilang
begitu, sepertinya itu cuma tipuan saja...
Atau akalnya nga nyampe...
Kerjasama yang solid tidak bisa terjadi jika menganggap orang lain
bukan bahagian dari KELUARGA (besar) KITA.
Karena merasa satu keluarga orang bisa saling membantu...
Dengan itu masalah bersama dapat diatasi dengan lebih mudah...
Kalau tidak salah, salah satu tokoh kita yang memperjuangkan
konsep-konsep PERTUMBUHAN BERKESINAMBUNGAN diatas adalah Bp Mohammad
Hatta...
Kok sepertinya sangat sedikit atau hampir tidak ada pengikut beliau
yang memperjuangkannya di zaman kompetisi sekarang...
Anak-anak beliau yang saya kenal sekilaspun kok sepertinya tidak
begitu terlihat memperjuangkannya...
Sekolah-sekolah dan perguruan tinggipun mempromosikan kompetisi...,
yakni kebalikan dari COOPERATION...
Mereka tidak mengerti bahwa itu MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI...
Salam Z
2008/5/31 Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>:
Di dalam ilmu ekonomi sebetulnya tidak ada yang dinamakan pasar bebas,
yang ada adalah pasar persaingan sempurna.
Asumsi pasar persaingan sempurna sendiri bermuara pada kesimpulan
"semua pelaku ekonomi memiliki kekuatan yang sama." Sebabnya,
ketidaksamaan kekuatan pelaku ekonomi pasti akan membuat persaingannya
menjadi tidak sempurna.
Pasar bebas, merupakan doktrin baru, yang diusung oleh pelaku-pelaku
ekonomi kuat. Gambarannya: kambing dan singa harus masuk ke satu arena
atau kurungan yang sama, untuk bertarung. Nah, kecuali ada keajaiban,
pastilah si kambing yang koyak-koyak.
Negeri ini memang aneh, hakekatnya kambing tetapi suka sekali
ditandingkan dengan singa:-) Siapa yang salah?
Tapi, kadang saya juga pusing, harus mulai dari mana memperbaiki negeri
ini.
Salam
B. Samparan
2008/5/30 A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>:
Kenapa Pasar Komoditas lebih mahal dan turun naik tidak karuan
ketimbang
pasar tradisional?
Ini gambarannya:
Pasar Tradisional:
Produsen->Distributor->Pengecer->Pembeli
Pasar Komoditas:
B U R S A K O M O D I T A S
Produsen->Spekulan->Spekulan->Spekulan->Spekulan...(tidak terhingga
sampai
jatuh tempo)->Distributor->Pengecer->Pembeli
Harusnya Pasar Komoditas dilarang memperjual-belikan Sembako dan BBM
agar
harganya tidak dipermainkan spekulan.
===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau
http://syiarislam.wordpress.com
--- On Thu, 5/29/08, Sang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Sang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-nasional] Sistemnya Pasar Bebas, kok Harga tetap
naik?
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, May 29, 2008, 3:26 AM
Ini yg saya malah makin bingung sekarang-sekarang ini....
Liberalisasi segalanya sepertinya bukannya bikin harga makin murah,
makin efisiensi dari segi produksi, bukannya makin efektif
distribusi barang... tapi kok segalanya makin tidak karu-karuan. ..
Mulai dari terigu, gula, beras, minyak sayur dll
Minyak bumi yg dikonversi jadi BBM kok bisa jadi naik melambung
tinggi dipasaran global? padahal sekarang sistem laissez faire
liberalisasi perdagayang yg semestinya makin efisien dalam hal cost
produksi, makin efektif dll...
Kok jadinya terbalik kearah sebaliknya.. . harga bukannya jadi rendah
karena persaingan bebas.. bukannya makin mampu dijangkau semua
kalangan, malah makin menggila bergerak ke 150$ dollar... dan yg
untung malahan investor , penanam modal dan pedagang besar..
Dan yg menderita pasti orang-orang kecil dgn penghasilan pas-pasann..
Kenapa dgn sistem kapitalistik liberalisasi sekarang harga malahan
bukannya makin efisien malah makin menggila?
jawaban utama saya yakin bukan tersebab kelangkaan dan permintaan
tinggi....produk global cukup kok!
Mohon penjelasan bagi ahli kita yg punya pengetahuan soal ini...
Sang
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt