Saya lihat permasalahannya lebih kepada dikotomi antara sains/logika dengan agama. Di Indonesia, persoalan nuklir pun menjadi persoalan agama dan membutuhkan fatwa. Rushdie difatwa mati oleh Khomeini, dan banyak lagi kasus berdarah-darah lagi atas nama agama. Kematian Giordano Bruno karena menentang otoritas agama saat itu, Copernicus, Galileo...
Berita baiknya, bukan Indonesia saja yang mengalami permasalahan seperti ini, meski porsinya mungkin berbeda, jadi kita tidak tertinggal sekali, huehehe. Bagaimanapun, agama juga mencatat banyak penemuan atas nama agama. Saya melihat kegigihan Iran salah satunya dilandasi oleh dasar agama. Begitupula mengamati perkembangan peradaban Islam di zaman Dark Age (label yang dikuasai oleh yang kuat), atau Eropa zaman pencerahan. Seperti yang diceritakan mas bhm, ada perulangan-perulangan dalam sejarah (membentuk fraktal, hoho). Hal yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana sejarah ini mampu menambah kesadaran bagi manusia agar menjadi lebih baik. 2008/6/11 <[EMAIL PROTECTED]>: > Bung Ai, > anda selalu memakai nalar yang runtut. Hebat euy! > Umberto Ecco bukannya pernah menulis tentang kajian ilmuwan Katholik > terhadap kumpulan buku2 sihir dan bidah yang ditulis dengan huruf2 cacing > (maksudnya huruf Arab) berpengaruh besar terhadap Renaissance di Eropa. > Eropa (Barat) berkembang berkat pengetahuan dari ilmuwan muslim.......di > pihak lain Wahabi, "berhasil" memurnikan kembali ajaran Islam (menurut > pandangannya) dan cendekiawan Muslim kehilangan catatan2 ilmiah yang > dimusnahkan mereka. Pola2 pembantaian masal terhadap kaum yang tidak > sepaham mereka lakukan. Karbala korban awal dari kaum Wahabi. Awal abad ke > 20, mereka melarang kaum Muslimin non Wahabi pergi menuaikan haji ke > Mekah, sampai2 kumpulan ulama dari negeri2 muslim (termasuk negeri Jawa > yang diwakili NU) datang ke sana dan sampai ke ancaman "perang" apabila > tidak diijinkan naik haji waktu itu. Ketimbang dikeroyok rame2, akhirnya > penguasa Mekah membuka kembali gerbang ke tanah suci. Ancam mengancam, adu > fisik seperti begini seharusnya jangan dilanjutkan. Ditaruh di belakang > jadi bagian sejarah yang kelam. Sudah saatnya penyebaran doktrin Islam > lewat proses yang nalar. Praktek2 biadab jaman batu tidak ada manfaatnya > sama sekali. Hasil kreasi peradaban yang ratusan tahun, bisa musnah dalam > sehari oleh kumpulan amarah manusia yang tidak terkendali. Iman seseorang > sifatnya individual, tanggung jawab sama Gusti Allah sifatnya langsung > tanpa perantara......apalagi perantara tersebut ternyata kumpulan calo2 > kekuasaan. > Bukankan lebih nikmat hidup damai berdampingan, tolong menolong tanpa > saling mengganggu? > > peace ah! > eme > > > ---------------------------- Original Message ---------------------------- > Subject: [indonesia] Re: Catatan Moderator :Re: [Fwd:Tulisan Victor Silaen > di Sinar Harapan] - Pasca Monas > From: "Adi Indrayanto" <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Tue, June 10, 2008 10:55 pm > To: [email protected] > -------------------------------------------------------------------------- > > Sebenarnya memang Islam dulu terbagi menjadi 2 bagian, Islam Timur > berpusat di Baghdad yang mengikuti paradigma Al Ghazali dan menyebar ke > arah Timur, dan Islam Barat berpusat di Cordova dan Toledo di > Spanyol yang mengikuti paradigma seperti Ibn Rush, Ibn Sina yang > menyebar ke Eropa dan berkontribusi para renaissance di Itali. > Indonesia ... ya terkena pengaruh yang Islam Timur ... paradigma Al > Ghazali ... . > > Tapi ... saya kira sejarah revolusi industri malah muncul di Eropa setelah > munculnya "anti-thesa" dari Khatolik yang selama itu menguasai Eropa, > yaitu Protestan. Dialektika yang terjadi itu bukan hanya > dimulut saja ... tapi sampai berdarah-darah :-( Semangat Protestanism > mencoba "mengkaji ulang" semua monopoli kebenaran gereja Khatolik saat itu > memunculkan pemikiran2 alternatif. Yg sebagian memang diambil dari > peradaban Islam (yg sudah mengumpulkan lebih dulu berbagai ilmu dari > Yunani, Mesir kuno, Persia, dsbnya). > > Mungkin perlu dialektika antara paradigma konservatif macam (Wahabism > seperti FPI?) dgn paradigma liberal macam JIL ;-) Asal syaratnya > jangan sampai berdarah-darah saja ... :-( > > > salam, > > -ai- > > > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
