Pak Hengki dkk, Methanol dijadikan pengganti "bengsin" (di Bandung dulu rasanya "spelling"nya adalah bengsin, ya?) diterapkan secara luas di Barzil, Sudah lama ...
Lebih setahun ylll di TB Kinokuniya Jakarta saya beli buku Beyond Oil and Gas: The Methanol Economy. Buku bagus sekali: kepadatan pengetahuannya, bahasanya ... The Methanol Economy ditulis oleh Pak Olah, (sangat senior, 80+, "Nobel Prize Laurate" Kimia sudah agak lama) dan tim risetnya. Saya lupa detail isinya (bukunya pun kini entah dimana) tapi gagasan besar yang diturunkan di situ sangat menawan: CO2 akan diambilkan dari polusi yang diproduksi dunia (issue mengenai "climate change" bukankah adalah ketakutan terhadap produksi CO2, yang dihasilkan terutama oleh pembakaran bahan bakar fosil?). Jadi nanti --bila gagasan besar yang dituliskan di buku ini bakalan terwujud-- umat bumi akan mendapatkan 2 keuntungan sekaligus: terserapnya emisi karbondioksida yang menjadi kecemasan dunia, dan terproduksinya energi (methanol) dalam jumlah besar ... Wow. Tentu saja pekerjaan Pak Olah cs (di USC) masih dalam tahapan riset, tapi dengan pondasi sains yang jauh lebih kokoh dibandingkan "Blue Energy" yang kemudian muncul (dan saya lumayan "malu" ketika di Konferensi Perubahan Iklim Global di Bali Desember 2007, yang dihadiri sekitar 15.000 orang dari seluruh dunia, BE dipromosikan oleh Indonesia ...). Sedikit tentang buku Pak Olah, barangkali bisa jadi bahan inspirasi atau diskusi: http://books.google.co.id/books?id=xH_JyuL08K4C&dq=beyond+oil+and+gas+the+methanol+economy&psp=1&source=gbs_summary_s&cad=0 Tentang CTL, GTL. Pak Benni Murdany tahun 1982 --atas perintah Pak Hartarto-- telah mullai meng-eksplor Sasol, Afrika Selatan, untuk belajar CTL (Coal Liquefaction, Coal To Liquid). Saya kira kemudian --beberapa tahun terakhir ini-- ada beberapa tim dari Indonesia yang pergi ke sana, entah belajar serius atau sekedar "tour." Bahkan awal bulan ini saya mengerti kalau ada tim Indonesia yang pergi ke sana (Sasol, Afrika Selatan), di negeri yang telah lama mempraktekkan CTL. Saya kini agak ragu. Bila cara kerja kita --terutama di Pemerintahan-- tidak terlalu serius, komplet dan agak "all-out" seperti Brazil mengembangkan methanol atau Afsel mengembangkan CTL, kita di Indonesia mungkin hanya akan agak banyak berputar-putar di seputar ide saja. Padahal, soal energi kita memang benar-benar krisis, bukan hanya barangnya yang mulai langka, tapi penanganannya yang lumayan "babaliut ..." GTL sudah diriset lumayan lama oleh Indonesia. Kita tidak menerapkannya. Yang menerapkan proyek GTL (Gas To Liquid) adalah BINTULU, Kalimantan, Malaysia. Salam, Hanan Triharyo wrote: Mohon maaf bila topik ini agak berat tapi menurut saya penting. Pada tanggal 2 juni 2008, pak SBY memberikan kuliah umum tentang pandangan beliau terhadap solusi energi Indonesia di depan 62 pakar dan ilmuwan di gedung Sekertariat Negara. Salah satu kutipan yang banyak dibaca orang adalah statement beliau "I am not a scientist" untuk merespond hiruk-pikuk berita "Blue energy". Tapi sebenarnya ada beberapa konsep pemikiran yang sangat baik dipaparkan oleh pak SBY dan seharusnya disebar-luaskan di media massa. Setelah mengalami kesulitan bahan baku untuk pengembangan program Bahan Bakar Nabati (BBN), karena harga produk pangan (minyak sawit dan ketela) yang membumbung, rupanya pak SBY terus berfikir dan mencari alternatif energi lainnya. Pemikiran terakhir beliau adalah mengembangkan "Energi Biomassa dan Energi Methanol". Inilah solusi yang beliau tawarkan kepada pada para pakar & ilmuwan dengan istilah "Program Khusus" (lihat sheet presentasi beliau), sebagai konklusi dari paparan selama beberapa jam. Energi Biomassa hampir semua tahu yaitu misalnya pembangkitan listrik dengan menggunakan bahan baku sekam padi, jerami padi, cangkang kelapa sawit, dari bagasse tebu dll. Saya telah http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=93>; menulis tentang ini pada link berikut. Salah satu challenge di pengembangan Energi Biomassa adalah pengumpulan bahan baku. Lalu apakah itu Energi methanol & bahkan "Methanol economy" ?. Salah satu aplikasi "Energi methanol" adalah energi yang berbasis Dimethyl Ether (DME). DME adalah bahan bakar yang diproduksi dari Hydrogen melalui proses pembuatan Methanol. Di Cina, http://www.klmyhgyq.gov.cn/Project/ShowArticle.asp?ArticleID=68>; DME telah digunakan secara massal untuk menggantikan LPG yang semakin hari semakin langka dan mahal. Indonesia saat ini sudah harus mulai mengimport LPG untuk program konversi minyak tanah. Silahkan http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=72>; baca di link ini. Untuk mengatasi kelangkaan LPG, maka Indonesia perlu untuk mulai memproduksi DME secara mandiri sebagai pengganti LPG. Sampai disini saya sepakat dan sangat mendukung konsep pak SBY untuk energi Biomassa dan energi Methanol. Namun perbedaan saya dengan pemikiran beliau adalah pada "detail cara pembuatan methanol". Pak SBY memilih untuk membuat Methanol dari Hydrogen hasil elektrolisa air (H2O) - lihat sheet dari presentasi beliau. Mungkin pemikiran inilah yang membuat beliau begitu tergiur dengan program "Blue energy". Approach ini walaupun secara teknis bisa, namun energi yang dihasilkan jauh lebih kecil dari energi yang di-injeksikan. Jadi net energy negatif. Ini status teknologi yang saya ketahui sampai hari ini. Pada saat pemaparan pak SBY, para peserta tidak diperkenankan memberikan masukan. Namun andaikan saya diberi kesempatan, maka saya ingin menyarankan ke beliau untuk membuat Methanol dari hydrogen yang diperoleh melalui proses Gasifikasi batu bara (sebagaimana yang saya tulis di white paper http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=89>; saya). Jangan melalui elektrolisa air !!. Gasifikasi batubara sudah sangat proven dan relatif ekonomis. Pemikiran tentang melalui Gasifikasi batubara ini serupa dengan pemikiran pak Hartarto yang beliau tulis di Kompas beberapa hari yang lalu. Walaupun saya tidak pernah bertemu dengan pak Hartarto, tapi kebetulan konklusi kita sama. Menurut saya, inilah salah satu solusi bahan bakar bangsa ini dimasa mendatang. Demikian pemikiran saya Salam Hengki
