Pak Nugroho yth,

Tidak muluk-muluk, kami to the point saja, di plant kami imported CO2
sebanyak 40 ton per hari sudah kami ikat menjadi produk octanol, n-butanol
& iso-butanol (450 ton per hari). Pengikatan CO2 ini telah kami mulai dari
Januari 2007 hingga kini masih terus kami lakukan. Oxo alcohols ini
selanjutnya diikat dalam produk padatan PVC (syntetic leather, dll). Jika
alkohol digunakan sebagai bahan bakar akan kembali menjadi CO2 lagi
(+water).
Bila ada yang ingin tahu lebih jauh kami tidak keberatan untuk memberi
penjelasan.

ir. Untung Adinyoto
TK-ITB-77



> Pak Hengki dkk,
>
> Methanol dijadikan pengganti "bengsin" (di Bandung
> dulu rasanya
> "spelling"nya adalah bengsin, ya?) diterapkan
> secara luas di Barzil,Â
> Sudah lama ...
>
> Lebih setahun ylll di TB Kinokuniya Jakarta saya
> beli buku Beyond Oil
> and Gas: The Methanol Economy. Buku bagus sekali:
> kepadatan
> pengetahuannya, bahasanya ... The Methanol Economy
> ditulis oleh Pak
> Olah, (sangat senior, 80+, "Nobel Prize Laurate"
> Kimia sudah agak
> lama) dan tim risetnya.  Saya lupa detail isinya
> (bukunya pun kini
> entah dimana) tapi gagasan besar yang diturunkan
> di situ sangat
> menawan: CO2 akan diambilkan dari polusi yang
> diproduksi dunia (issue
> mengenai "climate change" bukankah adalah
> ketakutan terhadap produksi
> CO2, yang dihasilkan terutama oleh pembakaran
> bahan bakar fosil?).Â
> Jadi nanti   --bila gagasan besar yang
> dituliskan di buku ini
> bakalan terwujud-- umat bumi akan mendapatkan 2
> keuntungan sekaligus:
> terserapnya emisi karbondioksida  yang menjadiÂ
> kecemasan dunia, dan
> terproduksinya energi  (methanol) dalam jumlah
> besar  ...   Wow.
>
> Tentu saja pekerjaan Pak Olah cs (di USC) masih
> dalam tahapan riset,
> tapi dengan pondasi  sains yang  jauh lebih
> kokoh  dibandingkanÂ
> "Blue Energy"  yang kemudian muncul  (dan saya
> lumayan "malu" ketika
> di Konferensi Perubahan Iklim Global di Bali
> Desember 2007, yang
> dihadiri sekitar 15.000 orang dari seluruh dunia,
> BE dipromosikan oleh
> Indonesia ...).Â
>
> Sedikit tentang buku Pak Olah, barangkali bisa
> jadi bahan inspirasi
> atau diskusi:
> http://books.google.co.id/books?id=xH_JyuL08K4C&dq=beyond+oil+and+gas+the+methanol+economy&psp=1&source=gbs_summary_s&cad=0
>
> Tentang CTL, GTL.
> Pak Benni Murdany tahun 1982 --atas perintah Pak
> Hartarto-- telah
> mullai meng-eksplor Sasol, Afrika Selatan, untuk
> belajar CTL (Coal
> Liquefaction, Coal To Liquid).  Saya kira
> kemudian  --beberapa tahun
> terakhir ini-- ada beberapa tim dari Indonesia
> yang pergi ke sana,
> entah belajar serius atau sekedar "tour."Â  Bahkan
> awal bulan ini saya
> mengerti kalau ada tim Indonesia yang pergi ke
> sana (Sasol, Afrika
> Selatan), di negeri yang telah lama mempraktekkan
> CTL.
>
> Saya kini agak ragu.  Bila cara kerja kita
> --terutama di
> Pemerintahan-- tidak terlalu serius, komplet dan
> agak "all-out"
> seperti Brazil mengembangkan methanol atau Afsel
> mengembangkan CTL,
> kita di Indonesia mungkin hanya akan agak banyak
> berputar-putar di
> seputar ide saja.  Padahal, soal energi kita
> memang benar-benar
> krisis, bukan hanya barangnya yang mulai langka,
> tapi penanganannya
> yang lumayan "babaliut ..."
>
> GTL sudah diriset lumayan lama oleh Indonesia.Â
> Kita tidak
> menerapkannya.  Yang menerapkan  proyek GTL (Gas
> To Liquid) adalah
> BINTULU, Kalimantan, Malaysia.Â
>
> Salam,
>
> Hanan
> Triharyo  wrote:
>
> Mohon maaf bila topik ini agak berat tapi menurut
> saya penting.
>
> Pada tanggal 2 juni 2008, pak SBY memberikan
> kuliah umum tentang
> pandangan
> beliau terhadap solusi energi Indonesia
>  di depan 62 pakar dan ilmuwan di gedung
> Sekertariat Negara. Salah satu kutipan yang banyak
> dibaca orang
> adalah
> statement beliau "I am not a scientist" untuk
> merespond hiruk-pikuk
> berita
> "Blue energy". Tapi sebenarnya ada beberapa konsep
> pemikiran yang
> sangat
> baik dipaparkan oleh pak SBY dan seharusnya
> disebar-luaskan di media
> massa.
>
> Setelah mengalami kesulitan bahan baku untuk
> pengembangan program
> Bahan
> Bakar Nabati (BBN), karena harga produk pangan
> (minyak sawit dan
> ketela)
> yang membumbung, rupanya pak SBY terus berfikir
> dan mencari
> alternatif
> energi lainnya. Pemikiran terakhir beliau adalah
> mengembangkan
> "Energi
> Biomassa dan Energi Methanol". Inilah solusi yang
> beliau tawarkan
> kepada
> pada para pakar & ilmuwan dengan istilah "Program
> Khusus" (lihat
> sheet
> presentasi beliau), sebagai konklusi dari paparan
> selama beberapa
> jam.
>
> Energi Biomassa hampir semua tahu yaitu misalnya
> pembangkitan listrik
> dengan
> menggunakan bahan baku sekam padi, jerami padi,
> cangkang kelapa
> sawit, dari
> bagasse tebu dll. Saya telah
> http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=93>;
>  menulis
> tentang ini
> pada link berikut. Salah satu challenge di
> pengembangan Energi
> Biomassa
> adalah pengumpulan bahan baku.
>
> Lalu apakah itu Energi methanol & bahkan "Methanol
> economy" ?.  Salah
> satu
> aplikasi "Energi methanol" adalah energi yang
> berbasis Dimethyl Ether
> (DME).
> DME adalah bahan bakar yang diproduksi dari
> Hydrogen melalui proses
> pembuatan Methanol. Di Cina,
> http://www.klmyhgyq.gov.cn/Project/ShowArticle.asp?ArticleID=68>;
>
> DME telah
> digunakan secara massal untuk menggantikan LPG
> yang semakin hari
> semakin
> langka dan mahal. Indonesia saat ini sudah harus
> mulai mengimport LPG
> untuk
> program konversi minyak tanah. Silahkan
> http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=72>;
>  baca di link
> ini.
> Untuk mengatasi kelangkaan LPG, maka Indonesia
> perlu untuk mulai
> memproduksi
> DME secara mandiri sebagai pengganti LPG.
>
> Sampai disini saya sepakat dan sangat mendukung
> konsep pak SBY untuk
> energi
> Biomassa dan energi Methanol. Namun perbedaan saya
> dengan pemikiran
> beliau
> adalah pada "detail cara pembuatan methanol". Pak
> SBY memilih untuk
> membuat
> Methanol dari Hydrogen hasil elektrolisa air (H2O)
> - lihat sheet dari
> presentasi beliau. Mungkin pemikiran inilah yang
> membuat beliau
> begitu
> tergiur dengan program "Blue energy". Approach ini
> walaupun secara
> teknis
> bisa, namun energi yang dihasilkan jauh lebih
> kecil dari energi yang
> di-injeksikan. Jadi net energy negatif. Ini status
> teknologi yang
> saya
> ketahui sampai hari ini.
>
> Pada saat pemaparan pak SBY, para peserta tidak
> diperkenankan
> memberikan
> masukan. Namun andaikan saya diberi kesempatan,
> maka saya ingin
> menyarankan
> ke beliau untuk membuat Methanol dari hydrogen
> yang diperoleh melalui
> proses
> Gasifikasi batu bara (sebagaimana yang saya tulis
> di white paper
> http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=89>;
>  saya). Jangan
> melalui elektrolisa air !!. Gasifikasi batubara
> sudah sangat proven
> dan
> relatif ekonomis. Pemikiran tentang melalui
> Gasifikasi batubara ini
> serupa
> dengan pemikiran pak
>   Hartarto yang beliau tulis di Kompas beberapa
> hari yang
> lalu. Walaupun saya tidak pernah bertemu dengan
> pak Hartarto, tapi
> kebetulan
> konklusi kita sama. Menurut saya, inilah salah
> satu solusi bahan
> bakar
> bangsa ini dimasa mendatang.
>
> Demikian pemikiran saya
>
> Salam
>
> Hengki




--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke