Pak Nugroho dan pak Hengki,

(1). Yang dikembangkan Brazil adalah etanol, bukan metanol.

(2). Di dalam bukunya, George Olah dkk mengusulkan daur-ulang karbon 
dioksida  (yang diemisikan  oleh  cerobong-cerobong asap  
pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fosil atau  industri dan 
kemudian secara sangat encer tapi mengkhawatirkan berakumulasi di 
atmosfir)  melalui hidrogenasi menjadi metanol [reduksi'hidrogenasi 
termokatalitik] dengan hidrogen yang diperoleh via aneka cara, a.l. 
elektrolisis, dari sumber-sumber energi terbarukan termasuk nuklir (Olah cs 
adalah kelompok yang sangat pro nuklir dan amat yakin teknologi nuklir bisa 
diterapkan dengan keamanan terjamin, di USA tentunya). Apa yang diusulkan Olah 
dkk ini secara konseptual akan mereduksi emisi gas rumah kaca dan secara 
teoretik memang mungkin; sayangnya secara ekonomi untuk masa ini masih tak laik.

(3). Membangkitkan hidrogen untuk keperluan di atas dari batubara (a.l. via 
gasifikasi) tidak memecahkan masalah emisi CO2, karena pembuatan hidrogen dari 
batubara tetap saja akan mengemisikan  CO2  (batubara kan malah 
sumber energi yang paling tinggi kadar karbonnnya.

(4). Proses yang sudah mulai kelihatan "promising" sekalipun masih mahal untuk 
membangkitkan H2 bagi kebutuhan pada (2) di atas adalah proses Carnol yang 
mendekomposisi metan (gas bumi) menjadi karbon (yang berupa padatan ringkas 
yang mudah ditangani dan disimpan) dan hidrogen (CH4 -----> 2H2  
+  C).

(5). Menurut saya, untuk Indonesia, pendekatan terbaik untuk 
mereduksi/memitigasi  emisi karbon dioksida adalah  
(a). pemanfaatan  biofuel dan listrik berbasis biomassa (ini adalah 
rute  daur-ulang CO2  via  fotosintesis [reduksi fotokatalitik]).
(b). reduksi elektrokatalitik CO2 menjadi metan, metanol, etilen, dan 
hidrokarbon-hidrokarbon lebih tinggi dengan bantuan listrik dari sumber 
terbarukan (tanpa mebangkitkan hidrogen).  Teknologi ini sekarang sedang 
giat dikembangkan di berbagai lembaga penelitian di dunia dan memiliki potensi 
untuk diterapkan dalam skala besar maupun UKM.

Salam

Tatang H S



--- On Sun, 15/6/08, nugrohohn <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: nugrohohn <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Methanol Pak Olah, CTL, GTL (Re: indonesia Digest V3 #1)
To: [email protected]
Date: Sunday, 15 June, 2008, 8:54 AM


Pak Hengki dkk,

Methanol dijadikan pengganti "bengsin" (di Bandung dulu rasanya "spelling"nya 
adalah bengsin, ya?) diterapkan secara luas di Barzil,  Sudah lama ...

Lebih setahun ylll di TB Kinokuniya Jakarta saya beli buku Beyond Oil and Gas: 
The Methanol Economy. Buku bagus sekali: kepadatan pengetahuannya, bahasanya 
... The Methanol Economy ditulis oleh Pak Olah, (sangat senior, 80+, "Nobel 
Prize Laurate" Kimia sudah agak lama) dan tim risetnya.  Saya lupa detail 
isinya (bukunya pun kini entah dimana) tapi gagasan besar yang diturunkan di 
situ sangat menawan: CO2 akan diambilkan dari polusi yang diproduksi dunia 
(issue mengenai "climate change" b
 ukankah
adalah ketakutan terhadap produksi CO2, yang dihasilkan terutama oleh 
pembakaran bahan bakar fosil?).  Jadi nanti   --bila gagasan besar yang 
dituliskan di buku ini bakalan terwujud-- umat bumi akan mendapatkan 2 
keuntungan sekaligus: terserapnya emisi karbondioksida  yang menjadi  kecemasan 
dunia, dan terproduksinya energi  (methanol) dalam jumlah besar  ...   Wow.

Tentu saja pekerjaan Pak Olah cs (di USC) masih dalam tahapan riset, tapi 
dengan pondasi  sains yang  jauh lebih kokoh  dibandingkan  "Blue Energy"  yang 
kemudian muncul  (dan saya lumayan "malu" ketika di Konferensi Perubahan Iklim 
Global di Bali Desember 2007, yang dihadiri sekitar 15.000 orang dari seluruh 
dunia, BE dipromosikan oleh Indonesia ...).  

Sedikit tentang buku Pak Olah, barangkali bisa jadi bahan inspirasi atau 
diskusi:
http://books.google.co.id/books?id=xH_JyuL08K4C&dq=beyond+oil+and+gas+the+methanol+economy&psp=1&source=gbs_summary_s&cad=0

Tentang CTL, GTL.
Pak Benni Murdany tahun 1982 --atas perintah Pak Hartarto-- telah mullai 
meng-eksplor Sasol, Afrika Selatan, untuk belajar CTL (Coal Liquefaction, Coal 
To Liquid).  Saya kira kemudian  --beberapa tahun terakhir ini-- ada beberapa 
tim dari Indonesia yang pergi ke sana, entah belajar serius atau sekedar 
"tour."  Bahkan awal bulan ini saya mengerti kalau ada tim Indonesia yang pergi 
ke sana (Sasol, Afrika Selatan), di negeri yang telah lama mempraktekkan CTL.

Saya kini agak ragu.  Bila cara kerja kita --terutama di Pemerintahan-- tidak 
terlalu serius, komplet dan agak "all-out" seperti Brazil mengembangkan 
methanol atau Afsel mengembangkan CTL, kita di Indonesia mungkin hanya akan 
agak banyak berputar-putar di seputar ide saja.  Pa
 dahal,
soal energi kita memang benar-benar krisis, bukan hanya barangnya yang mulai 
langka, tapi penanganannya yang lumayan "babaliut ..."

GTL sudah diriset lumayan lama oleh Indonesia.  Kita tidak menerapkannya.  Yang 
menerapkan  proyek GTL (Gas To Liquid) adalah BINTULU, Kalimantan, Malaysia.  

Salam,

Hanan












Triharyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Mohon maaf bila topik ini agak berat tapi menurut saya penting.

Pada tanggal 2 juni 2008, pak SBY memberikan kuliah umum tentang pandangan
beliau terhadap solusi energi Indonesia
<http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/02/ti
me/161357/idnews/949068/idkanal/10> di depan 62 pakar dan ilmuwan di gedung
Sekertariat Negara. Salah satu kutipan yang banyak dibaca orang adalah
statement beliau "I am not a scientist" untuk merespond hiruk-pikuk berita
"Blue energy". Tapi sebenarnya ada beberapa konsep pemikiran yang sangat
baik dipaparkan oleh pak SBY dan seharusnya disebar-luaskan di media massa.

Setelah mengalami kesulitan bahan baku untuk pengembangan program Bahan
Bakar Nabati (BBN), karena harga produk pangan (minyak sawit dan ketela)
yang membumbung, rupanya pak SBY terus berfikir dan mencari alternatif
energi lainnya. Pemikiran terakhir beliau adalah mengembangkan "Energi
Biomassa dan Energi Methanol". Inilah solusi yang beliau tawarkan kepada
pa
 da para
pakar & ilmuwan dengan istilah "Program Khusus" (lihat sheet
presentasi beliau), sebagai konklusi dari paparan selama beberapa jam.

Energi Biomassa hampir semua tahu yaitu misalnya pembangkitan listrik dengan
menggunakan bahan baku sekam padi, jerami padi, cangkang kelapa sawit, dari
bagasse tebu dll. Saya telah
<http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=93>;  menulis 
tentang ini
pada link berikut. Salah satu challenge di pengembangan Energi Biomassa
adalah pengumpulan bahan baku. 

Lalu apakah itu Energi methanol & bahkan "Methanol economy" ?.  Salah satu
aplikasi "Energi methanol" adalah energi yang berbasis Dimethyl Ether (DME).
DME adalah bahan bakar yang diproduksi dari Hydrogen melalui proses
pembuatan Methanol. Di Cina,
<http://www.klmyhgyq.gov.cn/Project/ShowArticle.asp?ArticleID=68>;  DME 
telah
digunakan secara massal untuk menggantikan LPG yang semakin hari semakin
langka dan mahal. Indonesia saat ini sudah harus mulai mengimport LPG untuk
program konversi minyak tanah. Silahkan
<http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=72>;  baca di 
link ini.
Untuk mengatasi kelangkaan LPG, maka Indonesia perlu untuk mulai memproduksi
DME secara mandiri sebagai pengganti LPG. 

Sampai disini saya sepakat dan sangat mendukung konsep pak SBY untuk energi
Biomassa dan energi Methanol. Namun perbedaan saya dengan pemikiran beliau
adalah pada "detail cara pembuatan methanol". Pak SBY memilih untuk membuat
Methanol dari Hydrogen hasil
elektrolisa air (H2O) - lihat sheet dari
presentasi beliau. Mungkin pemikiran inilah yang membuat beliau begitu
tergiur dengan program "Blue energy". Approach ini walaupun secara teknis
bisa, namun energi yang dihasilkan jauh lebih kecil dari energi yang
di-injeksikan. Jadi net energy negatif. Ini status teknologi yang saya
ketahui sampai hari ini.

Pada saat pemaparan pak SBY, para peserta tidak diperkenankan memberikan
masukan. Namun andaikan saya diberi kesempatan, maka saya ingin menyarankan
ke beliau untuk membuat Methanol dari hydrogen yang diperoleh melalui proses
Gasifikasi batu bara (sebagaimana yang saya tulis di white paper
<http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=89>;  saya). 
Jangan
melalui elektrolisa air !!. Gasifikasi batubara sudah sangat proven dan
relatif ekonomis.
Pemikiran tentang melalui Gasifikasi batubara ini serupa
dengan pemikiran pak
<http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/02/01241563/batu.bara.dan.solusi.b
ahan.bakar.minyak>  Hartarto yang beliau tulis di Kompas beberapa hari yang
lalu. Walaupun saya tidak pernah bertemu dengan pak Hartarto, tapi kebetulan
konklusi kita sama. Menurut saya, inilah salah satu solusi bahan bakar
bangsa ini dimasa mendatang.

Demikian pemikiran saya

Salam

Hengki



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke