Yaaah... Dibahas lagi :(( Nyerah deh, gue filter dulu sementara milis ini, ntar gue aktifkan lagi kalo gue siap baca2 beginian...
--------------------- Teuku Reiza Yuanda http://freepdfhosting.com/uploads/66c03c14c1.pdf ----- Original Message ---- From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, June 19, 2008 9:56:22 PM Subject: [indonesia] Forum Kebangsaan Pembela Pancasila Gelar Aksi Kembali Temans, Apakah ada yang bisa kasih pencerahan ? maksud SBY pengecut itu apa? Apakah Goenawan Moehammad ini tokoh AKKBB sekaligus tokoh FKPP (Forum Kebangsaan Pembela Pancasila) juga ? berkaitan dengan tulisan Goenawan Mohammad dibawah dengan rencana demo yang nampak mempunyai "benang merah" ? Kenapa Pembela Pancasila tetapi tidak mengutamakan Persatuan Indonesia yang merupakan sila ketiga ? dengan cara mengabaikan penghujatan agama atas nama ke bhinnekaan ? Salam, Zaenal --- Pada Kam, 19/6/08, Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Dari: Rumah Ilmu Indonesia <[EMAIL PROTECTED]> > Topik: [anggotaicmi] Tidak Kapok, Forum Kebangsaan Pembela Pancasila Gelar > Aksi Kembali > Kepada: [EMAIL PROTECTED] > Tanggal: Kamis, 19 Juni, 2008, 7:56 AM > Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, > Wah, wah, wah, aktivis pluralisme ini emang ndak > kapok-kapok ya ... > AKKBB kalah pamor, mereka bikin lagi yang laen, ganti nama, > ganti kulit, > isinya tetep itu itu juga > > Lihat http://www.derap.net <http://www.derap.net/> > > Salam, --- Pada Sel, 17/6/08, Andrianto Soekarnen <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Dari: Andrianto Soekarnen <[EMAIL PROTECTED]> > Topik: [iaitbjakarta] Goenawan Mohamad tentang Indonesia > Kepada: [EMAIL PROTECTED] > Tanggal: Selasa, 17 Juni, 2008, 1:10 PM > Tulisan GM, tentang INDONESIA, untuk Abu Bakar Ba'asyir > dan Rizieq Shihab. > > > lemet > FI90 > ================= > Indonesia > > Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu > sebuah statemen > dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: "SBY > Pengecut!" > > Yang membacakannya Abu Bakar Ba'asyir, disebut sebagai > "Amir" Majelis > Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat > aksi terorisme. > Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela > Islam, yang sedang > dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir. > > Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan > dengan gampang. > Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, > dijebloskan ke dalam sel > pengap, atau dipancung. > > Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan > Ba'asyir! Ini bukan > Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini > Indonesia tahun > 2007. > > Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang > tahanan boleh > dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak > dianggap bersalah > sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan > membuat maklumat, > bahkan mengecam Kepala Negara. > > Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan > dengan > hati-hati--karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan > berendah hati > dan beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau > masing-masing tak > boleh meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. > Beradab: karena > dengan kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap > diakui haknya untuk > membela diri; ia bukan hewan untuk korban. > > Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan > Ba'asyir, sebab itu > pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan > mutlak kepada > hakim, jaksa, polisi--juga tak bisa digantungkan kepada > kadi, majelis > ulama, Ketua FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang > sebenarnya tak di > tangan manusia. > > Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: > kita percaya > kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia > Yang Maha Sempurna > yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. > Dengan kata > lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan > diri. Iman > membentuk, dan dibentuk, sebuah etika kedaifan. > > Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang > tak tepermanai > di 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat > ketimbang bertolak > dari kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk > membuat 220 juta orang > tanpa konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk > punya cara terbaik > mengelola sengketa. > > Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita > gagal. Saya baca > sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang > disusun oleh > orang-orang Indonesia yang prihatin: "… ternyata, > sejarah Indonesia tidak > bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita > menyaksikan pemberontakan > Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan > pertengahan 1960-an. > Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei > 1998, konflik > antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di > Aceh dan Papua, > sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, > Munir." > > Ingatkah, Saudara Ba'asyir dan Saudara Shihab, semua > itu? Ingatkah Saudara > berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut > karena kita > menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap > memandang diri > paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. > Saya mengimbau > agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat > yang disebut > "bhineka-tunggal-ika". Saya mengimbau agar > Saudara juga merawat rahmat itu. > > Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama > halnya dengan > meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap > usaha yang berbeda > untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak > mungkin berilusi > ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri > sempurna--dengan > mengklaim diri sebagai buatan Tuhan--akan tertutup bagi > koreksi, sementara > kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak > perlu dikoreksi. > > Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila > dirumuskan. > > Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak > asasinya--dan itulah > yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala > Negara. > > Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, > adalah buah sejarah > dan geografi tanah air ini--di mana perbedaan diakui, > karena kebhinekaan > itu takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan. > > Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik > dari tradisi > lokal, "gotong-royong". Kata itu kini telah > terlalu sering dipakai dan > disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang > dikatakan Bung Karno: > "gotong-royong" itu "paham yang > dinamis," lebih dinamis ketimbang > "kekeluargaan". > > Artinya, "gotong-royong" mengandung kemungkinan > berubah-ubah cara dan > prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang > satu ikatan > primordial, ikatan "kekeluargaan". Sebab, ada > tujuan yang universal, yang > bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja--"yang kaya > dan yang tidak > kaya," kata Bung Karno, "yang Islam dan yang > Kristen", "yang bukan > Indonesia tulen dengan yang peranakan yang menjadi bangsa > Indonesia." > > "Gotong-royong" itu juga berangkat dari > kerendahan hati dan sikap beradab, > sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan > membawa nama > Tuhan--atau justru karena membawa nama Tuhan--siapa pun, > juga Saudara > Ba'asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan > yang disebut Bung Karno > sebagai "egoisme-agama." > > Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun > kita tahu, tanah > air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika > "egoisme" itu dikobarkan. > Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: > "Hendaknya negara > Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat > menyembah Tuhannya > dengan cara leluasa." > > Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara > Shihab dan > Ba'asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti > apa-apa? > > Goenawan Mohamad Cari tahu ramalan bintang kamu - Yahoo! Indonesia Search. http://id.search.yahoo.com/search?p=%22ramalan+bintang%22&cs=bz&fr=fp-top -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
