selagi PLN tutup mulut dan tdk terus terang mengenai masalahnya maka akan sulit 
juga mencari jalan keluar yg tepat.Kita hanya bisa mereka-reka.
Seperti yg kita ketahui bahwa disamping membeli Batubara dari penambang besar, 
PLN juga membeli dari penambang kecil yg kadang2 menamakan dirinya 
"konsortium". Pertanyaannya siapa diantara dua tersebut yg wanprestasi.
Hal lain yg perlu dicermati adalah pasokan dengan kualitas yg dibawah ketentuan 
sehingga pembangkit akan memakai batubara lebih banyak dan akibatnya adalah 
"short supply".
Bisnis batubara dg PLN cukup besar dan menggiurkan untuk "diatur".
Pembangkit dinegara lain yg mengandalkan pasokan batubara dari Ind tidak 
mengalami hal ini.
Bagaimana ya? 



----- Original Message ----
From: husni shebubakar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, 25 June, 2008 8:38:34 AM
Subject: [indonesia] Re: PLTU Cilacap Stop Produksi Listrik


coba kontrak batubara mengikuti paradigma kontrak penjualan energy yang 
lain,mungkin ngga alot markotot. ikuti harga pasar aja lah.
salam


2008/6/24 Iskandar K <[EMAIL PROTECTED]>:

Negosiasi alot markotot biasa menjadi sebab. Satu pihak bertahan dgn argumen 
kontrak harus dipatuhi (setup harga di awal tidak memprediksi adanya price-up, 
siapapun juga tidak ada yang bisa), dilain pihak ditekan oleh request 
stakeholders untuk mengambil opportunity gain more profit.
Ketika deadlock, ancaman berhenti supply biasa digunakan (win-lose solution). 
Ketika pihak yang merasa dirugikan (lose side) tidak bisa mencari jalan keluar 
(dimungkinkan karena panjangnya jalur birokrasi dan tercampur dgn unsur 
politis) maka statement "gw ga takut" akan keluar, akhirnya lost-lost solution 
terjadi.
 
Di otomotif, hal ini biasa terjadi. Tapi hukum supply dan demand berlaku dgn 
fair. Masing-masing pihak, menjaga bagaimana caranya bisnis berlangsung 
long-term. Karena itu, perlu namanya teman baik, saudara tua, dll. Saling 
support, ketika satu pihak terbebani, pihak lain akan membantu memikulnya, 
karena bisnis tidak bisa berjalan sendirian.
 
Sekarang, apakah skema ini akan terus terjadi ?
Pemerintah harus bisa meminimasi lost yang terjadi. Skema pembatasan ekspor 
bisa jadi wacana.
Pemerintah bisa menerapkan obligasi subsidi terbatas pada komoditas batubara.
Produsen batubara harus membagi guna kepentingan ketahanan energi nasional.
 
Pertanyaan selanjutnya, apa pemerintah bisa (dan punya power bargaining) untuk 
melaksanakannya?
Mari kita berhitung.
 
-CK-
 

________________________________

From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of herman rachman
Sent: 24 Juni 2008 20:36
To: [email protected] 

Subject: [indonesia] Re: PLTU Cilacap Stop Produksi Listrik
 
Yah, itu hasil karya alumni ITB juga. Kalau mau serius,pasokan batubara 
cukup.Yang diperdagangkan dipasar bebas utk pasokan industri di Jawa ,jumlahnya 
cukup banyak. Coba kita cari akar penyebabnya (bukan kambing hitam)
Selamat berkarya
 
 
----- Original Message ----
From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, 24 June, 2008 8:18:27 PM
Subject: [indonesia] Re: PLTU Cilacap Stop Produksi Listrik

kira-kira...

rumah para mentri dan istana serta kediaman pejabat negara lainnya ...bakal 
mati lampu gak yah?



2008/6/24 Widodo <[EMAIL PROTECTED]>:


-- 
Husni Shebubakar.
Directional Drilling & Geosteering Consultant
Hp 62811883696
Hp 966557218982
Home: 62218483546


      __________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html

Kirim email ke