Yang menulis ini sepertinya sudah tahu bagaimana berhitung, segala apa yang 
harus dan apa yang tidak boleh. Mengapa tidak mengajukan diri jadi calon 
Presiden?

===============


----- Original Message ----
From: A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, July 5, 2008 11:54:02 AM
Subject: [indonesia] Calon Presiden Indonesia yang Ideal


Sistem Ekonomi Neoliberalisme/Globalisasi berupa Privatisasi, Kenaikan
Harga Barang (Pencabutan “Subsidi), Deregulasi, Perdagangan bebas, dan
sebagainya telah menyengsarakan penduduk di seluruh dunia.

Jika pada tahun 1980 20% penduduk terkaya penghasilannya 45 kali lipat
dari 20% penduduk termiskin, pada tahun 2000 meningkat jadi 75 kali
lipat. 1,3 Milyar penduduk (1/6) penghasilannya di bawah US$ 1/hari.
Lebih dari 80 negara tahun 1999 income per capitanya lebih rendah
daripada tahun 1989. (Tabb, William K. "Globalization."
Microsoft® Encarta® 2006). Beda antara kaya dan miskin makin jauh.
Itulah dampak sistem Ekonomi Neoliberalisme. Sayangnya kaum Neoliberalis
saat ini menguasai kabinet dan juga DPR.

Dengan dana yang besar, kaum Neoliberalis bisa menentukan bahwa calon
presiden Indonesia yang bisa terpilih adalah orang yang �Bisa Diterima
Pasar.� Artinya mau menjalankan program Neoliberalis.

Oleh karena itu terjadi berbagai kenaikan harga barang seperti BBM yang
mengikuti harga �Pasar� dunia. �Pasar� lebih diutamakan ketimbang
kemampuan rakyat untuk membeli. Karenanya BBM dari tahun 2005 hingga 2008
naik 3 kali lipat. 

Dengan kenaikan ini, berarti dari tahun 2005 hingga 2008 Premium naik
dari Rp 1.810 menjadi Rp 6.000 atau naik sebesar 231% hanya dalam waktu 3
tahun. Tarif angkutan umum naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.500. Harga
sembako pun naik cukup tajam seperti beras dari Rp 3.000 jadi Rp
6.000/kg.

BarangHarga 2005Harga 2008Kenaikan
Premium1.8106.000231%
Beras3.0006.000100%
Angkutan Umum1.0002.500150%
Minyak Goreng4.50013.000189%
UMR635.000972.00053%

Dalam kurun waktu 3 tahun besar rata-rata kenaikan harga barang 168%. Ini
sangat memberatkan masyarakat karena UMR dari tahun 2005 hingga 2008
hanya naik dari Rp 635.000 jadi Rp 972.000. Cuma 53%. Itu pun banyak
pekerja yang tidak menikmati upah UMR misalnya guru sekolah swasta
(terutama SD dan TK), pramuniaga di pertokoan atau pelayan di warung
makan. Petani pun sulit karena meski harga beras di pasar naik tajam
namun harga beli gabah dari petani sangat rendah. Para nelayan dan supir
angkot sangat terpukul karena mereka banyak memakai BBM. Di media massa
diberitakan banyak nelayan tidak melaut pasca kenaikan harga
BBM.

Terjadi proses pemiskinan masal karena rata-rata kenaikan harga barang 3
kali lipat lebih besar daripada kenaikan penghasilan masyarakat.

Setelah kenaikan harga BBM ketiga kali yang dilakukan oleh rezim
SBY-Kalla dalam 3 tahun terakhir, berat rasanya untuk memilih SBY sebagai
presiden. Bahkan Amien Rais menyatakan SBY tak layak dipilih jadi
presiden.

Tahun 2005 SBY menaikan harga BBM sampai 125%. Ini adalah program
pemiskinan massal yang tidak memikirkan kepentingan rakyat. Yang ketiga
kali sampai 28,7%. Ini pun diwarnai dengan rasa khawatir nanti tidak
populer pada pemilihan presiden tahun 2009. Jika sudah terpilih kembali,
bukan tidak mungkin SBY-Kalla tega menaikannya lebih besar lagi. 

Kepala Bappenas, Paskah Suzetta bahkan menyarankan agar harga minyak di
Indonesia mengikuti harga pasar yang sekarang disebut harga
“Keekonomian�. Harga minyak di Indonesia yang UMRnya kurang dari Rp 1
juta/bulan mau disamakan dengan harga minyak di New York yang UMRnya Rp
11 juta/bulan (US$ 7,15/jam).

Yang mampu dilakukan SBY-Kalla hanyalah menaikan harga BBM dan
harga-harga lainnya mengikuti harga Internasional. Harga minyak goreng
naik dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 16.000/kg. Harga kedelai naik dari Rp
4.000 menjadi Rp 8.000/kg. Namun SBY-Kalla gagal menaikan pendapatan
rakyatnya. Kenaikan UMR jauh di bawah kenaikan harga barang. Contohnya
keluarga Basse yang mati kelaparan penghasilannya hanya sekitar Rp 225
ribu/bulan atau kurang dari US$ 25/bulan. 

Pertumbuhan ekonomi yang katanya 6% tidak sejalan dengan turunnya nilai
rupiah (dari Rp 8000-an per dollar menjadi 9000-an per dollar) dan
besarnya penderita kurang gizi/gizi buruk yang mencapai 5 juta jiwa
karena kelaparan. Dari Aceh, NTT, Sulawesi, hingga Papua rakyat mati
kelaparan. Bisakah rakyat Indonesia bertahan jika SBY terpilih
kembali?

Rezim SBY-Kalla sepertinya sangat dipengaruhi oleh ekonom Neoliberalis
yang lebih memikirkan kepentingan kapitalis/pengusaha dibanding mayoritas
rakyat Indonesia. Lebih dari 90% sumber kekayaan alam Indonesia seperti
minyak, gas, emas, perak, dan sebagainya dikuasai oleh
perusahaan-perusahaan asing seperti Exxon Mobil, Chevron, BP, Freeport,
dan sebagainya. 

Meski Indonesia katanya sudah lepas dari IMF, tapi mantan Direktur IMF
justru menjabat jadi Menko Perekonomian kabinet SBY. Berbagai program IMF
seperti privatisasi BUMN, penghapusan subsidi BBM, privatisasi Perguruan
Tinggi Negeri, terus berjalan tanpa henti.

Lebih dari separuh produksi minyak yang saat ini kurang dari 1 juta bph
diekspor ke luar negeri (500 ribu bph). Indonesia mengekspor begitu
banyak gas sehingga menjadi negara eksportir LNG terbesar kedua di dunia
(baru tahun 2006 posisi Indonesia sebagai eksportir LNG terbesar disusul
oleh Qatar). Indonesia juga mengekspor 70% batubara ke luar negeri.
Sementara rakyatnya justru kekurangan energi. 

Listrik sering padam di berbagai tempat karena PLN harus membeli minyak
dan gas Indonesia dari perusahaan MNC dengan harga Internasional. Jika
tidak bisa, MNC tersebut memilih menjual migas Indonesia ke luar negeri.
Kita tidak punya kedaulatan atas migas milik kita. Akibatnya industri
sulit berkembang. BBM sulit didapat sehingga rakyat tidak bisa berusaha.
Rakyat tidak dapat berusaha karena mereka harus menghabiskan waktu
berjam-jam untuk antre minyak tanah, gas, minyak goreng, beras raskin,
dan sebagainya karena langka dan mahalnya barang-barang kebutuhan yang
ada.

Kelompok Ekonom Neoliberalis berusaha melakukan privatisasi/penjualan
BUMN-BUMN. Mereka juga berusaha melucuti pelayanan masyarakat yang
diberikan oleh pemerintah sambil berusaha mengurangi pajak yang harus
dibayar oleh pengusaha-pengusaha kaya/spekulan pasar. Sebagai contoh
kalau untuk barang sehari-hari yang dibeli oleh rakyat besar PPN 10%,
maka untuk barang yang dipermainkan spekulan pasar seperti saham pajaknya
hanya 0,1%! Pajak barang mewah seperti mobil mewah pun turun sangat
drastis.

Pemberantasan hukum pun meski kelihatannya menggembirakan namun skalanya
masih kelas teri. Kelas milyar, belum trilyun. Belum lagi pengembalian
harta korupsi yang nyaris tidak ada. Contohnya kasus dirugikannya uang
negara hingga Rp 600 trilyun dalam kasus KLBI/BLBI hingga kini uang
negara belum bisa dikembalikan meski hanya separuh.

Kriteria Calon Presiden Ideal

1.Tidak menganut sistem Ekonomi Neoliberalisme yang lebih mengutamakan
kepentingan perusahaan Multi National Company ketimbang rakyat
Indonesia
2.Tidak menjalankan agenda Neoliberalisme IMF, World Bank, dan WTO yang
memaksakan Privatisasi BUMN, Rumah Sakit Pemerintah, dan PTN,
Deregulasi
3.Melakukan Nasionalisasi Perusahaan Tambang atau minimal mendapatkan
bagi hasil yang wajar
4.Menyediakan PTN dengan harga terjangkau bagi rakyat miskin
5.Memiliki program Berdikari. Secara mandiri mengolah Kekayaan Alam demi
kemakmuran rakyat. Tidak memakai kebijakan pengemis yang bergantung pada
“Investor Asing�
6.Memberi petani lahan minimal seluas 2 hektar per KK
7.Tidak menaikan harga bensin lebih dari 10% per tahunnya (apalagi sampai
125%!)
8.Tidak memakai kaum Neoliberalis (mis: ex direktur Bank Dunia atau IMF)
sebagai menteri.

Lalu siapa yang pantas jadi presiden?

Pilihan pertama saya pada Hidayat Nur Wahid – Deddy Mizwar. Kenapa saya
memilih HNW? Pertama dia orangnya relatif sederhana. Ini penting sebab
orang yang boros dan mewah gaya hidupnya cenderung korupsi agar bisa
boros dan mewah.

Kedua HNW hingga saat ini relatif bersih. Sebagai Ketua MPR relatif
dikenal meski dari kharisma agak kurang ketimbang SBY yang gagah dan
ganteng. Kharisma bagi rakyat Indonesia yang mayoritas tidak terdidik
jauh lebih penting ketimbang yang lain. Sebagai contoh rakyat Indonesia
lebih memilih orang yang pendidikannya rendah, prestasi dan pengalaman
kurang ketimbang profesor Doktor yang mampu meredam anjloknya nilai
rupiah dari Rp 11.600/USD 1 menjadi Rp 6.700/USD 1.

Hidayat orangnya tenang dan tidak emosional. Ini adalah satu modal untuk
jadi seorang pemimpin.

Lalu kenapa saya memilih Deddy Mizwar sebagai wakil presiden? Karena
sebagai artis/public figure Deddy Mizwar sangat populer di mata rakyat.
Tanpa mengeluarkan biaya kampanye trilyunan rupiah dan kampanye di
berbagai daerah, rakyat di TPS juga sudah tahu siapa Deddy Mizwar.
Umumnya orang beranggapan Deddy Mizwar baik.

Tidak semua artis bisa menang pemilu. Contohnya Marissa Haque dan Rieke
Dyah Pitaloka gagal. Selain popularitas, rakyat juga masih memikirkan
kematangan artis tersebut. Bisa apa mereka?

Rano Karno dan Dede Yusuf menang karena mereka memiliki citra yang baik.
Kalau dipilih artis yang muncul di acara Gossip Show karena rumah
tangganya berantakan bisa jadi justru tidak terpilih. Rano Karno sebagai
artis berkualitas sangat tinggi. Sebagai pemimpin dia mampu memimpin
perusahaannya membuat produk yang berkualitas dan mensejahterakan
karyawannya. Rumah Tangganya juga jarang diterpa gosip. Ini adalah modal
yang bagus. 

Demikian pula Dede Yusuf yang selain populer juga imagenya cukup baik.
Jarang jadi sasaran gosip. Aktifnya di Partai Politik dan juga DPR jadi
bekal baginya untuk jadi pemimpin. Meski dana kampanye sangat minim, tapi
rakyat yang memilih sudah tahu siapa Dede Yusuf.

Jadi untuk melawan kandidat Pilpres yang punya banyak dana kampanye dari
para Pelaku Pasar diperlukan pasangan artis yang populer di masyarakat,
memiliki image yang baik, dan kematangan dalam memimpin (minimal
perusahaannya sendiri). Deddy Mizwar punya semua itu meski untuk
kegagahan dan tampang memang masih kalah dengan Rano Karno dan Dede
Yusuf. Sepele tapi ini penting bagi rakyat Indonesia....

Pertanyaannya adalah, beranikah PKS mencalonkan pak Hidayat Nur Wahid
sebagai capres mereka? Apa tetap bermain aman sebagai oportunis
mencalonkan capres lain yang lebih besar kemungkinan menangnya meski
mungkin orangnya tidak begitu bersih?

Selain HNW, di acara Republik Mimpi ditampilkan mantan Bupati Kutai,
Awang, yang saat ini diduga korupsi. Tim Republik Mimpi menampilkannya
dengan asumsi Awang difitnah dan meminta jika ada yang memiliki bukti
Awang korupsi untuk menghubungi mereka hingga bisa ditampilkan.

Tapi seandainya Awang bersih, dia cukup potensial sebagai pemimpin karena
ketika memimpin dia bisa menggratiskan dan memberi beasiswa rakyatnya
dari TK hingga universitas. Kebijakannya untuk mengadakan pendidikan yang
sesuai dengan kebutuhan daerahnya seperti industri perminyakan, gas, dan
pertanian sangat bagus. Begitu pula dengan visinya untuk memberi tiap
petani tanah seluas 5 hektar. Jika presiden Indonesia bervisi seperti
ini, maka Indonesia akan makmur!

Jika Awang memang tidak korupsi maka Awang layak dijadikan alternatif
calon presiden bersama Deddy Mizwar. Selain Deddy Mizwar bisa juga
dipakai Igo Ilham. Tapi popularitas Igo nampaknya masih jauh di bawah
Deddy Mizwar.

Alternatif calon presiden lain adalah Gamawan Fauzi yang saat ini
menjabat gubernur Sumatera Barat. Dia juga dikenal cukup bersih meski
dari segi prestasi saya belum melihatnya. Tapi bersih adalah satu modal
yang sangat penting untuk memimpin negeri ini.

Menteri Pertanian Anton Apriantono saya lihat juga cukup baik dalam
memimpin. Terbukti dia berhasil membuat Indonesia swasembada beras
sehingga muncul wacana ekspor beras. Memang harga beras naik dan juga
harga beras dari petani turun. Tapi itu tak lepas dari kebijakan bersama
dengan Menko Perekonomian, Mentri Keuangan, dan Mentri Perdagangan serta
Bulog dalam menetapkan kebijakan harga.

Anton juga berani menolak impor beras yang bisa menghancurkan para petani
di Indonesia. Dia juga sederhana dan bersih. Yang jadi masalah, beranikah
dia sebagai anak buah SBY maju jadi penantang SBY sebagai calon presiden
alternatif? Modal untuk jadi Presiden selain jujur, bersih, dan mampu
juga harus berani atau �sedikit ambisius� sebab rakyat negeri ini
jarang mau mencalonkan dan mendukung pemimpin yang jujur dan amanah.
Biasanya justru pemimpin yang ambisius yang maju dan mengucurkan uang
agar rakyat mau memilihnya.

Selain itu ada juga Sarwono Kusuma Atmaja dan Ibu Muba yang diam-diam
berhasil membuat perusahaan Taxi Putra (sebelumnya Citra, dan Kosti) yang
mampu mensejahterakan para sopirnya. Dengan setoran lebih rendah dari
Taxi lainnya, para pengemudi Taxi bisa memiliki mobil Taxi tersebut dalam
waktu 4-7 tahun. Setelah itu selama 2 tahun mereka menikmati sebagian
besar hasil setorannya. Pada saat yang sama, tarifnya memakai tarif lama
yang murah sehingga meringankan masyarakat. Informasi ini saya dapat dari
para supir taxi tersebut karena saya biasanya naik taxi
tersebut.

Orang seperti itulah yang meski tanpa jabatan, namun bisa memakmurkan
orang-orang di sekitarnya yang layak jadi presiden. Mereka sudah
membuktikan pengabdian mereka di lapangan. Bukan sekedar janji
kosong.

Itulah beberapa alternatif calon presiden yang ada dipikiran saya. Meski
tidak sempurna, namun saya melihat SBY-Kalla tidak layak dipilih
kembali.

Calon Presiden lain seperti Megawati dan Gus Dur adalah stok lama yang
pernah jadi presiden. Tak ada perubahan berarti ketika mereka memimpin.
Jadi Indonesia perlu stok pemimpin baru. Bukan barang “lama� yang
prestasinya biasa-biasa saja.

Ada pun Wiranto dan Sutiyoso saya melihat harta mereka terlalu banyak
untuk ukuran pejabat. Sementara saya belum melihat mereka memberi
sumbangan untuk orang miskin. Wiranto pernah memberi Warung Wiranto pada
pedagang Warteg, tapi baru sebatas masa Pemilu 2004. Sutiyoso saya lihat
prestasinya dalam mensejahterakan warga DKI Jakarta belum terlihat meski
dia menjabat beberapa periode. Tapi kedua calon ini tetap lebih baik
ketimbang SBY-Kalla yang gagal mengendalikan kenaikan harga barang
sehingga akhirnya memiskinkan masyarakat.

Amien Rais bisa jadi satu kandidat ideal. Namun Amien Rais sudah 2 kali
mengikuti Pilpres dan 2 kali gagal. Amien Rais sendiri menyatakan tidak
akan mengikuti Pilpres lagi. Bisa saja berpendapat bahwa saingan Amien
seperti Mega, Gus Dur, SBY sudah memimpin dan hasilnya mengecewakan,
mungkin Amien saat ini punya kesempatan.

Tapirakyat Indonesia lebih suka pemimpin yang tidak banyak bicara. Rakyat
Indonesia juga tidak suka pemimpin yang fisiknya kecil. Terbukti Habibie
yang bagus dari sisi kinerja tidak dipilih. Amien juga lebih banyak
didukung kelompok Muslim. Non Muslim kurang mendukung. Tapi dengan
masuknya Amien ke dalam AKKBB, bisa jadi dukungan ummat Islam jauh
berkurang. Secara politik dan ekonomi Amien adalah Nasionalis dan tidak
tunduk pada AS. Namun secara agama Amien agak liberal.

Saat ini ada begitu banyak kandidat calon presiden, yaitu: SBY, Megawati,
Wiranto, Gus Dur, Sutiyoso, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Prabowo, dsb.
Harusnya rakyat Indonesia cukup memilih satu atau dua pemimpin yang
bersih dan bijak sehingga suara tidak terpecah.

Yang jelas rakyat harus cerdas dan tidak mau disuap. Jangan mau disuap
dengan BLT atau uang lainnya untuk memilih calon tertentu. Jika rakyat
mau disuap uang Rp 100 ribu untuk memilih pemimpin tertentu, jangan heran
jika pemimpinnya juga korup. Rakyat korup akan menghasilkan pemimpin yang
korup. 

Jangan pilih pejabat dan parpol yang mendukung kenaikan harga BBM,
penjualan BUMN, tunduk kepada Pasar, dsb.

===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari
Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com

===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari
Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com



      

Kirim email ke