Hilman wrote:
Bung Edy purnomo,

maksudnya kalo Rizal Ramli, adalah orang yang "pecinta kekacauan" ya ???? Bagaimana kalo diganti dengan Tifatul Sembiring (presidennya PKS) ?, Orangnya bersih, masih muda, pendidikannya sangat baik, punya masa yang berpendidikan cukup, dan belum pernah punya kasus di pemerintahan (termasuk DPR). Indonesia harus berani melakukan perubahan, oleh karena itu Dr. Sri Mulyani nampaknya orang yang cukup pantas untuk jadi Presiden, dia sangat cerdas, berani mengambil resiko, dan sangat dikenal . kalo AZA, saya pikir untuk jadi Dirut PN Gas, sudah cukup.

Salam,
Hilman Muchsin



Purnomo wrote:
Orang yang pantas jadi Presiden Republik ini adalah seperti teman saya AZA. Berani tegas dan berani menggantung koruptor. Betul nggak Zaa ?. Ruwetnya negeri ini karena Korupsi dari ujung BI sampai ujung Senayan dan semua harus direformasi . Kalau mbak Sri yaa bisa pantas , tapi kalau kang Rizal waahh jangan deh dari pada negeri ini tambah kacau .
EP

    ----- Original Message -----
    *From:* Hilman <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
    *To:* [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
    *Sent:* Wednesday, July 09, 2008 2:07 PM
    *Subject:* [itb77] Re: [indonesia] Re: Calon Presiden Indonesia
    yang Ideal


    Kang Yadi & rekans

    Capres  dan cawapres periode 2009-2014 harus pasangan orang yang
    selalu berbeda pandangan (pro IMF dan anti IMF), capresnya
    mempunyai sifat "ngerem" dan cawapresnya mempunyai sifat
    "ngegas" , sangat menguasai ekonomi /ekonom dan
    teknologi/teknokrat, usianya masih relatip muda, pernah ngurusin
    NGO dan mempunyai integritas yang tinggi untuk rakyatnya.

    *Presiden* : /*Dr. Sri Mulyani */dan *wakil Presiden* : /*Dr.ir.
    Rizal Ramli*/

    Salam,
    Hilman Muchsin

    Sumitro Roestam wrote:
    Pak Yadi dan Kawan2 Yth,

    Saya ingin tambahkan kriteria nomor 6:

    - Capres 2009-2014 harus bersedia hidup sederhana dan berpola
    hidup sederhana seperti Presiden Iran Ahmadinejad. Tinggal
    dirumah sendiri yang sempit, tidur dilantai, naik mobil sendiri
    yang sederhana, pengawalan yg minim, kalau datang terlambat ke
    mesjid, maka beliau tidak minta didudukkan di depan.
    Jadi beliau bisa menjadi panutan para pemimpin lainnya untuk
    hidup sederhana, tidak ber-lomba2 menumpuk kekayaan yang bisa
    berakibat melakukan pelanggaran hukum.

    Wassalam,
    S Roestam
    ------------------


    YADI supriadi wendy wrote:
    A Nizami (by way of Achmad Zaenal Abidin
    <[EMAIL PROTECTED]>) wrote:

    Sistem Ekonomi Neoliberalisme/Globalisasi berupa Privatisasi,
    Kenaikan Harga Barang (Pencabutan “Subsidi), Deregulasi,
    Perdagangan bebas, dan sebagainya telah menyengsarakan
    penduduk di seluruh dunia.

    Jika pada tahun 1980 20% penduduk terkaya penghasilannya 45
    kali lipat dari 20% penduduk termiskin, pada tahun 2000
    meningkat jadi 75 kali lipat. 1,3 Milyar penduduk (1/6)
    penghasilannya di bawah US$ 1/hari. Lebih dari 80 negara
    tahun 1999 income per capitanya lebih rendah daripada tahun
    1989. (Tabb, William K. "Globalization." Microsoft®
    Encarta® 2006). Beda antara kaya dan miskin makin jauh.
    Itulah dampak sistem Ekonomi Neoliberalisme. Sayangnya kaum
    Neoliberalis saat ini menguasai kabinet dan juga DPR.

    Dengan dana yang besar, kaum Neoliberalis bisa menentukan
    bahwa calon presiden Indonesia yang bisa terpilih adalah
    orang yang �Bisa Diterima Pasar.� Artinya mau menjalankan
    program Neoliberalis.

    Oleh karena itu terjadi berbagai kenaikan harga barang
    seperti BBM yang mengikuti harga �Pasar� dunia.
    �Pasar� lebih diutamakan ketimbang kemampuan rakyat untuk
    membeli. Karenanya BBM dari tahun 2005 hingga 2008 naik 3
    kali lipat.

    Dengan kenaikan ini, berarti dari tahun 2005 hingga 2008
    Premium naik dari Rp 1.810 menjadi Rp 6.000 atau naik sebesar
    231% hanya dalam waktu 3 tahun. Tarif angkutan umum naik dari
    Rp 1.000 menjadi Rp 2.500. Harga sembako pun naik cukup tajam
    seperti beras dari Rp 3.000 jadi Rp 6.000/kg.

    BarangHarga 2005Harga 2008Kenaikan
    Premium1.8106.000231%
    Beras3.0006.000100%
    Angkutan Umum1.0002.500150%
    Minyak Goreng4.50013.000189%
    UMR635.000972.00053%

    Dalam kurun waktu 3 tahun besar rata-rata kenaikan harga
    barang 168%. Ini sangat memberatkan masyarakat karena UMR
    dari tahun 2005 hingga 2008 hanya naik dari Rp 635.000 jadi
    Rp 972.000. Cuma 53%. Itu pun banyak pekerja yang tidak
    menikmati upah UMR misalnya guru sekolah swasta (terutama SD
    dan TK), pramuniaga di pertokoan atau pelayan di warung
    makan. Petani pun sulit karena meski harga beras di pasar
    naik tajam namun harga beli gabah dari petani sangat rendah.
    Para nelayan dan supir angkot sangat terpukul karena mereka
    banyak memakai BBM. Di media massa diberitakan banyak nelayan
    tidak melaut pasca kenaikan harga BBM.

    Terjadi proses pemiskinan masal karena rata-rata kenaikan
    harga barang 3 kali lipat lebih besar daripada kenaikan
    penghasilan masyarakat.

    Setelah kenaikan harga BBM ketiga kali yang dilakukan oleh
    rezim SBY-Kalla dalam 3 tahun terakhir, berat rasanya untuk
    memilih SBY sebagai presiden. Bahkan Amien Rais menyatakan
    SBY tak layak dipilih jadi presiden.

    Tahun 2005 SBY menaikan harga BBM sampai 125%. Ini adalah
    program pemiskinan massal yang tidak memikirkan kepentingan
    rakyat. Yang ketiga kali sampai 28,7%. Ini pun diwarnai
    dengan rasa khawatir nanti tidak populer pada pemilihan
    presiden tahun 2009. Jika sudah terpilih kembali, bukan tidak
    mungkin SBY-Kalla tega menaikannya lebih besar lagi.

    Kepala Bappenas, Paskah Suzetta bahkan menyarankan agar harga
    minyak di Indonesia mengikuti harga pasar yang sekarang
    disebut harga “Keekonomian�. Harga minyak di Indonesia
    yang UMRnya kurang dari Rp 1 juta/bulan mau disamakan dengan
    harga minyak di New York yang UMRnya Rp 11 juta/bulan (US$
    7,15/jam).

    Yang mampu dilakukan SBY-Kalla hanyalah menaikan harga BBM
    dan harga-harga lainnya mengikuti harga Internasional. Harga
    minyak goreng naik dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 16.000/kg.
    Harga kedelai naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 8.000/kg. Namun
    SBY-Kalla gagal menaikan pendapatan rakyatnya. Kenaikan UMR
    jauh di bawah kenaikan harga barang. Contohnya keluarga Basse
    yang mati kelaparan penghasilannya hanya sekitar Rp 225
    ribu/bulan atau kurang dari US$ 25/bulan.

    Pertumbuhan ekonomi yang katanya 6% tidak sejalan dengan
    turunnya nilai rupiah (dari Rp 8000-an per dollar menjadi
    9000-an per dollar) dan besarnya penderita kurang gizi/gizi
    buruk yang mencapai 5 juta jiwa karena kelaparan. Dari Aceh,
    NTT, Sulawesi, hingga Papua rakyat mati kelaparan. Bisakah
    rakyat Indonesia bertahan jika SBY terpilih kembali?

    Rezim SBY-Kalla sepertinya sangat dipengaruhi oleh ekonom
    Neoliberalis yang lebih memikirkan kepentingan
    kapitalis/pengusaha dibanding mayoritas rakyat Indonesia.
    Lebih dari 90% sumber kekayaan alam Indonesia seperti minyak,
    gas, emas, perak, dan sebagainya dikuasai oleh
    perusahaan-perusahaan asing seperti Exxon Mobil, Chevron, BP,
    Freeport, dan sebagainya.

    Meski Indonesia katanya sudah lepas dari IMF, tapi mantan
    Direktur IMF justru menjabat jadi Menko Perekonomian kabinet
    SBY. Berbagai program IMF seperti privatisasi BUMN,
    penghapusan subsidi BBM, privatisasi Perguruan Tinggi Negeri,
    terus berjalan tanpa henti.

    Lebih dari separuh produksi minyak yang saat ini kurang dari
    1 juta bph diekspor ke luar negeri (500 ribu bph). Indonesia
    mengekspor begitu banyak gas sehingga menjadi negara
    eksportir LNG terbesar kedua di dunia (baru tahun 2006 posisi
    Indonesia sebagai eksportir LNG terbesar disusul oleh Qatar).
    Indonesia juga mengekspor 70% batubara ke luar negeri.
    Sementara rakyatnya justru kekurangan energi.

    Listrik sering padam di berbagai tempat karena PLN harus
    membeli minyak dan gas Indonesia dari perusahaan MNC dengan
    harga Internasional. Jika tidak bisa, MNC tersebut memilih
    menjual migas Indonesia ke luar negeri. Kita tidak punya
    kedaulatan atas migas milik kita. Akibatnya industri sulit
    berkembang. BBM sulit didapat sehingga rakyat tidak bisa
    berusaha. Rakyat tidak dapat berusaha karena mereka harus
    menghabiskan waktu berjam-jam untuk antre minyak tanah, gas,
    minyak goreng, beras raskin, dan sebagainya karena langka dan
    mahalnya barang-barang kebutuhan yang ada.

    Kelompok Ekonom Neoliberalis berusaha melakukan
    privatisasi/penjualan BUMN-BUMN. Mereka juga berusaha
    melucuti pelayanan masyarakat yang diberikan oleh pemerintah
    sambil berusaha mengurangi pajak yang harus dibayar oleh
    pengusaha-pengusaha kaya/spekulan pasar. Sebagai contoh kalau
    untuk barang sehari-hari yang dibeli oleh rakyat besar PPN
    10%, maka untuk barang yang dipermainkan spekulan pasar
    seperti saham pajaknya hanya 0,1%! Pajak barang mewah seperti
    mobil mewah pun turun sangat drastis.

    Pemberantasan hukum pun meski kelihatannya menggembirakan
    namun skalanya masih kelas teri. Kelas milyar, belum trilyun.
    Belum lagi pengembalian harta korupsi yang nyaris tidak ada.
    Contohnya kasus dirugikannya uang negara hingga Rp 600
    trilyun dalam kasus KLBI/BLBI hingga kini uang negara belum
    bisa dikembalikan meski hanya separuh.

    Kriteria Calon Presiden Ideal

    1.Tidak menganut sistem Ekonomi Neoliberalisme yang lebih
    mengutamakan kepentingan perusahaan Multi National Company
    ketimbang rakyat Indonesia
    2.Tidak menjalankan agenda Neoliberalisme IMF, World Bank,
    dan WTO yang memaksakan Privatisasi BUMN, Rumah Sakit
    Pemerintah, dan PTN, Deregulasi
    3.Melakukan Nasionalisasi Perusahaan Tambang atau minimal
    mendapatkan bagi hasil yang wajar
    4.Menyediakan PTN dengan harga terjangkau bagi rakyat miskin
    5.Memiliki program Berdikari. Secara mandiri mengolah
    Kekayaan Alam demi kemakmuran rakyat. Tidak memakai kebijakan
    pengemis yang bergantung pada “Investor Asing�
    6.Memberi petani lahan minimal seluas 2 hektar per KK
    7.Tidak menaikan harga bensin lebih dari 10% per tahunnya
    (apalagi sampai 125%!)
    8.Tidak memakai kaum Neoliberalis (mis: ex direktur Bank
    Dunia atau IMF) sebagai menteri.

    Lalu siapa yang pantas jadi presiden?

    bagaimana kalau kita kerucutkan kriterianya sbb;
    1. jujur [ini mutlak - negara kita sedang kekurangan dan butuh
    orang yang jujur!]
    2. pintar atau smart [sudah barang tentu]
    3. berani [kalo tidak berani melaksanakan, ya sami bae jeung
    bohong atuh!]
    4. harus ada keturunan bangsawan atau kesatria [kalau anak
    rakyat biasa akan terlalu banyak friksinya, musuh tidak
    sungkan dan banyak orang tidak akan peduli. tapi kalau kepada
    keturunan "raja", musuh sungkan untuk menentangnya dan juga
    orang akan banyak peduli dan bahkan akan mendukung]
    5. timing yang tepat [contohnya adalah kenapa suharto yang
    jadi presiden, bukan yang lain? salah satu alasan karena
    suharto waktu itu pas sedang jadi pangkostrad]
    6. .........
    7. .............

--
    Yours Affectionately,

    _Yadi__ Supriadi Wendy_

    Mob: 0815 4625 8792 / 089989 75713* *

    YM: yswendy Skype: yswendy1

    -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
    ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi
    alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan
    milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt






Kirim email ke