Kang Yadi & rekans
Capres dan cawapres periode 2009-2014 harus pasangan orang yang selalu
berbeda pandangan (pro IMF dan anti IMF), capresnya mempunyai sifat
"ngerem" dan cawapresnya mempunyai sifat "ngegas" , sangat menguasai
ekonomi /ekonom dan teknologi/teknokrat, usianya masih relatip muda,
pernah ngurusin NGO dan mempunyai integritas yang tinggi untuk rakyatnya.
*Presiden* : /*Dr. Sri Mulyani */dan *wakil Presiden* : /*Dr.ir. Rizal
Ramli*/
Salam,
Hilman Muchsin
Sumitro Roestam wrote:
Pak Yadi dan Kawan2 Yth,
Saya ingin tambahkan kriteria nomor 6:
- Capres 2009-2014 harus bersedia hidup sederhana dan berpola hidup
sederhana seperti Presiden Iran Ahmadinejad. Tinggal dirumah sendiri
yang sempit, tidur dilantai, naik mobil sendiri yang sederhana,
pengawalan yg minim, kalau datang terlambat ke mesjid, maka beliau
tidak minta didudukkan di depan.
Jadi beliau bisa menjadi panutan para pemimpin lainnya untuk hidup
sederhana, tidak ber-lomba2 menumpuk kekayaan yang bisa berakibat
melakukan pelanggaran hukum.
Wassalam,
S Roestam
------------------
YADI supriadi wendy wrote:
A Nizami (by way of Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>)
wrote:
Sistem Ekonomi Neoliberalisme/Globalisasi berupa Privatisasi,
Kenaikan Harga Barang (Pencabutan âEURoeSubsidi), Deregulasi,
Perdagangan bebas, dan sebagainya telah menyengsarakan penduduk di
seluruh dunia.
Jika pada tahun 1980 20% penduduk terkaya penghasilannya 45 kali
lipat dari 20% penduduk termiskin, pada tahun 2000 meningkat jadi 75
kali lipat. 1,3 Milyar penduduk (1/6) penghasilannya di bawah US$
1/hari. Lebih dari 80 negara tahun 1999 income per capitanya lebih
rendah daripada tahun 1989. (Tabb, William K. "Globalization."
Microsoft® Encarta® 2006). Beda antara kaya dan miskin makin jauh.
Itulah dampak sistem Ekonomi Neoliberalisme. Sayangnya kaum
Neoliberalis saat ini menguasai kabinet dan juga DPR.
Dengan dana yang besar, kaum Neoliberalis bisa menentukan bahwa
calon presiden Indonesia yang bisa terpilih adalah orang yang
âEUR?Bisa Diterima Pasar.âEUR? Artinya mau menjalankan program
Neoliberalis.
Oleh karena itu terjadi berbagai kenaikan harga barang seperti BBM
yang mengikuti harga âEUR?PasarâEUR? dunia. âEUR?PasarâEUR? lebih
diutamakan ketimbang kemampuan rakyat untuk membeli. Karenanya BBM
dari tahun 2005 hingga 2008 naik 3 kali lipat.
Dengan kenaikan ini, berarti dari tahun 2005 hingga 2008 Premium
naik dari Rp 1.810 menjadi Rp 6.000 atau naik sebesar 231% hanya
dalam waktu 3 tahun. Tarif angkutan umum naik dari Rp 1.000 menjadi
Rp 2.500. Harga sembako pun naik cukup tajam seperti beras dari Rp
3.000 jadi Rp 6.000/kg.
BarangHarga 2005Harga 2008Kenaikan
Premium1.8106.000231%
Beras3.0006.000100%
Angkutan Umum1.0002.500150%
Minyak Goreng4.50013.000189%
UMR635.000972.00053%
Dalam kurun waktu 3 tahun besar rata-rata kenaikan harga barang
168%. Ini sangat memberatkan masyarakat karena UMR dari tahun 2005
hingga 2008 hanya naik dari Rp 635.000 jadi Rp 972.000. Cuma 53%.
Itu pun banyak pekerja yang tidak menikmati upah UMR misalnya guru
sekolah swasta (terutama SD dan TK), pramuniaga di pertokoan atau
pelayan di warung makan. Petani pun sulit karena meski harga beras
di pasar naik tajam namun harga beli gabah dari petani sangat
rendah. Para nelayan dan supir angkot sangat terpukul karena mereka
banyak memakai BBM. Di media massa diberitakan banyak nelayan tidak
melaut pasca kenaikan harga BBM.
Terjadi proses pemiskinan masal karena rata-rata kenaikan harga
barang 3 kali lipat lebih besar daripada kenaikan penghasilan
masyarakat.
Setelah kenaikan harga BBM ketiga kali yang dilakukan oleh rezim
SBY-Kalla dalam 3 tahun terakhir, berat rasanya untuk memilih SBY
sebagai presiden. Bahkan Amien Rais menyatakan SBY tak layak dipilih
jadi presiden.
Tahun 2005 SBY menaikan harga BBM sampai 125%. Ini adalah program
pemiskinan massal yang tidak memikirkan kepentingan rakyat. Yang
ketiga kali sampai 28,7%. Ini pun diwarnai dengan rasa khawatir
nanti tidak populer pada pemilihan presiden tahun 2009. Jika sudah
terpilih kembali, bukan tidak mungkin SBY-Kalla tega menaikannya
lebih besar lagi.
Kepala Bappenas, Paskah Suzetta bahkan menyarankan agar harga minyak
di Indonesia mengikuti harga pasar yang sekarang disebut harga
âEURoeKeekonomianâEUR?. Harga minyak di Indonesia yang UMRnya kurang
dari Rp 1 juta/bulan mau disamakan dengan harga minyak di New York
yang UMRnya Rp 11 juta/bulan (US$ 7,15/jam).
Yang mampu dilakukan SBY-Kalla hanyalah menaikan harga BBM dan
harga-harga lainnya mengikuti harga Internasional. Harga minyak
goreng naik dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 16.000/kg. Harga kedelai
naik dari Rp 4.000 menjadi Rp 8.000/kg. Namun SBY-Kalla gagal
menaikan pendapatan rakyatnya. Kenaikan UMR jauh di bawah kenaikan
harga barang. Contohnya keluarga Basse yang mati kelaparan
penghasilannya hanya sekitar Rp 225 ribu/bulan atau kurang dari US$
25/bulan.
Pertumbuhan ekonomi yang katanya 6% tidak sejalan dengan turunnya
nilai rupiah (dari Rp 8000-an per dollar menjadi 9000-an per dollar)
dan besarnya penderita kurang gizi/gizi buruk yang mencapai 5 juta
jiwa karena kelaparan. Dari Aceh, NTT, Sulawesi, hingga Papua rakyat
mati kelaparan. Bisakah rakyat Indonesia bertahan jika SBY terpilih
kembali?
Rezim SBY-Kalla sepertinya sangat dipengaruhi oleh ekonom
Neoliberalis yang lebih memikirkan kepentingan kapitalis/pengusaha
dibanding mayoritas rakyat Indonesia. Lebih dari 90% sumber kekayaan
alam Indonesia seperti minyak, gas, emas, perak, dan sebagainya
dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing seperti Exxon Mobil,
Chevron, BP, Freeport, dan sebagainya.
Meski Indonesia katanya sudah lepas dari IMF, tapi mantan Direktur
IMF justru menjabat jadi Menko Perekonomian kabinet SBY. Berbagai
program IMF seperti privatisasi BUMN, penghapusan subsidi BBM,
privatisasi Perguruan Tinggi Negeri, terus berjalan tanpa henti.
Lebih dari separuh produksi minyak yang saat ini kurang dari 1 juta
bph diekspor ke luar negeri (500 ribu bph). Indonesia mengekspor
begitu banyak gas sehingga menjadi negara eksportir LNG terbesar
kedua di dunia (baru tahun 2006 posisi Indonesia sebagai eksportir
LNG terbesar disusul oleh Qatar). Indonesia juga mengekspor 70%
batubara ke luar negeri. Sementara rakyatnya justru kekurangan energi.
Listrik sering padam di berbagai tempat karena PLN harus membeli
minyak dan gas Indonesia dari perusahaan MNC dengan harga
Internasional. Jika tidak bisa, MNC tersebut memilih menjual migas
Indonesia ke luar negeri. Kita tidak punya kedaulatan atas migas
milik kita. Akibatnya industri sulit berkembang. BBM sulit didapat
sehingga rakyat tidak bisa berusaha. Rakyat tidak dapat berusaha
karena mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk antre minyak
tanah, gas, minyak goreng, beras raskin, dan sebagainya karena
langka dan mahalnya barang-barang kebutuhan yang ada.
Kelompok Ekonom Neoliberalis berusaha melakukan
privatisasi/penjualan BUMN-BUMN. Mereka juga berusaha melucuti
pelayanan masyarakat yang diberikan oleh pemerintah sambil berusaha
mengurangi pajak yang harus dibayar oleh pengusaha-pengusaha
kaya/spekulan pasar. Sebagai contoh kalau untuk barang sehari-hari
yang dibeli oleh rakyat besar PPN 10%, maka untuk barang yang
dipermainkan spekulan pasar seperti saham pajaknya hanya 0,1%! Pajak
barang mewah seperti mobil mewah pun turun sangat drastis.
Pemberantasan hukum pun meski kelihatannya menggembirakan namun
skalanya masih kelas teri. Kelas milyar, belum trilyun. Belum lagi
pengembalian harta korupsi yang nyaris tidak ada. Contohnya kasus
dirugikannya uang negara hingga Rp 600 trilyun dalam kasus KLBI/BLBI
hingga kini uang negara belum bisa dikembalikan meski hanya separuh.
Kriteria Calon Presiden Ideal
1.Tidak menganut sistem Ekonomi Neoliberalisme yang lebih
mengutamakan kepentingan perusahaan Multi National Company ketimbang
rakyat Indonesia
2.Tidak menjalankan agenda Neoliberalisme IMF, World Bank, dan WTO
yang memaksakan Privatisasi BUMN, Rumah Sakit Pemerintah, dan PTN,
Deregulasi
3.Melakukan Nasionalisasi Perusahaan Tambang atau minimal
mendapatkan bagi hasil yang wajar
4.Menyediakan PTN dengan harga terjangkau bagi rakyat miskin
5.Memiliki program Berdikari. Secara mandiri mengolah Kekayaan Alam
demi kemakmuran rakyat. Tidak memakai kebijakan pengemis yang
bergantung pada âEURoeInvestor AsingâEUR?
6.Memberi petani lahan minimal seluas 2 hektar per KK
7.Tidak menaikan harga bensin lebih dari 10% per tahunnya (apalagi
sampai 125%!)
8.Tidak memakai kaum Neoliberalis (mis: ex direktur Bank Dunia atau
IMF) sebagai menteri.
Lalu siapa yang pantas jadi presiden?
bagaimana kalau kita kerucutkan kriterianya sbb;
1. jujur [ini mutlak - negara kita sedang kekurangan dan butuh orang
yang jujur!]
2. pintar atau smart [sudah barang tentu]
3. berani [kalo tidak berani melaksanakan, ya sami bae jeung bohong
atuh!]
4. harus ada keturunan bangsawan atau kesatria [kalau anak rakyat
biasa akan terlalu banyak friksinya, musuh tidak sungkan dan banyak
orang tidak akan peduli. tapi kalau kepada keturunan "raja", musuh
sungkan untuk menentangnya dan juga orang akan banyak peduli dan
bahkan akan mendukung]
5. timing yang tepat [contohnya adalah kenapa suharto yang jadi
presiden, bukan yang lain? salah satu alasan karena suharto waktu itu
pas sedang jadi pangkostrad]
6. .........
7. .............
--
Yours Affectionately,
_Yadi__ Supriadi Wendy_
Mob: 0815 4625 8792 / 089989 75713* *
YM: yswendy Skype: yswendy1
-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi
kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next
better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt