Ca' Bas dan Rekan-rekan,
Untuk harga VPN yang disebut relative mahal tersebut, ada beberapa kasus antara lain : Kasus pertama : Koneksi VPN yang relative mahal baik untuk koneksi International ataupun untuk koneksi didalam wilayah Indonesia, bisa terjadi jika menggunakan satellite. Penggunaan satellite ini dipakai, karena biasanya memang tidak ada pilihan lain. Misalnya kapasitas optik keluar negeri habis atau tidak tersedia dan belum ada jaringan backbone terrestrial yang menjangkau wilayah tertentu. Koneksi VPN jenis ini bisa relative mahal karena komponen cost paling utama yang menentukan opex adalah harga transponder. Harga transponder yang digunakan oleh operator VPN untuk bandwidth sebesar 36 MHz jika menyewa pada ‘teman sendiri’ (maksudnya operator satellite dalam negeri) sekitar $ 1,5 juta per tahun. Bandwidth sebesar ini, umumnya dengan kondisi dan perangkat yang ada di lapangan hanya bisa dengan modulasi QPSK FEC 3/4 yang mengakibatkan hanya cukup untuk VPN 13,5 E1 link. Pembayaran transponder biasanya dimuka, yang berarti biaya transponder saja per E1 dengan bunga 15% sekitar $ 10.000,- per bulan per E1. Yang ini sudah pasti mengakibatkan EBITDA untuk service VPN dengan kondisi tersebut lebih kecil dari 12%, belum lagi cost untuk maintenance dan administrasi yang berarti bisa nombok bahkan jika investasi ground station gratis atau mendapatkan perangkat dari atas langit . Bandingkan dengan EBITDA untuk selluler yang bisa mencapai 70%, pertanyaan ‘mahal’ dalam hal ini malah perlu diletakkan dalam proporsinya. Untuk yang diberitakan dalam attachment tersebut, mungkin VPN yang dimaksud adlah VPN yang menggunakan satellite dan yang kebetulan menyewa menggunakan satellite dalam negeri, yang memang relative ‘mahal’. Dan kalau mau slebor, kita pindahkan VPN (1:1) E1 satellite ke NewYork, kita ingin tahu juga apa mereka mau nombok dengan menjual link E1 sebesar $ 1000,- perbulan J, apalagi kalau dilihat dari katulistiwa, ground station satellite di Newyork agak horisontal. Jika operator VPN menyewa satellite asing (yang rata-rata meskipun kalah start dengan Indonesia awalnya, seperti Thailand, Malaysia, Jepang, dan Cina) mungkin karena banyak meluncurkan satellite bisa memberikan harga transponder setidaknya ¾ dari harga transponder satellite dalam negeri. Yang bisa mengakibatkan operator VPN bisa sedikit bernapas lega, karena EBITDA setidaknya bisa mencapai 20% setelah berhemat di cost maintenance dan administrasi. Lebih bagus lagi kalau kondisi pancaran transponder satellite asing tersebut memungkinkan untuk modulasi PSK, yang setidaknya bisa membuat operator VPN bisa bernapas agak lega karena EBITDA sedikit meningkat menjadi 30% (dengan engineering effort yang patut dihargai). Dengan kondisi ini harga $ 11.300 perbulan per E1 yang disampaikan dalam file attachment, tidak bisa serta merta karena salah kelola, atau cari untung berlebihan, tetapi memang harga yang relative mahal yang sebenarnya ‘murah’ dalam kacamata kewajaran (Dibandingkan dengan jika kita memproduksi sesuatu dengan cost Rp 1, dan dijual dengan harga Rp 4, untuk menggambarkan EBITDA 75%). Kasus kedua : Karena kapasitas backbone International Indonesia semula hanya didesain untuk komunikasi voice, begitu ada permintaan untuk komunikasi data, harga backbone dengan terrestrial (optic) masih mahal, sekitar $ 3000,- perbulan per E1. Ini yang menyebabkan biaya VPN termasuk akses internet Indonesia keluar negeri juga mahal. Tetapi jika harga ini dijual dengan $ 11.300 perbulan, tentu harga jual ini sudah termasuk kategori keterlaluan. Untuk mendorong ketersediaan backbone International yang memadai dengan harga yang lebih terjangkau pemerintah sudah membuka tender untuk 3 operator backbone International tahun 2007. Kedepan diharapkan bisa mendorong harag E1 sampai $ 250,- per bulan. Jika ini terjadi, memang harga broadband internet akses akan lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Kasus ketiga : Jika yang dimaksud adalah harga VPN terrestrial di Jakarta, tentu terlalu mahal. Dan karana tidak masuk akal, praktis bukan kasus yang ini. Umumnya harga VPN E1 di Jakarta untuk lokal Jakarta, sekitar $ 900,- per bulan. Sedikit lebih baik dari harga VPN E1 di New York. Demikian komentar dari saya, semoga Jakarta dan daerah-daerah lainnya dalam waktu-waktu mendatang bisa mendapat akses VPN atau Broadband Internet Akses dengan bandwidth yang memadai dengan harga yang lebih bersahabat. Salam, -yohan S- EL’93 -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Basuki Suhardiman Sent: Saturday, July 05, 2008 3:31 PM To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [indonesia] World's Most Expensive IP VPN? Heheheheh ... Gimana Indonesia mau maju ? http://www.lightreading.com/document.asp?doc_id=158097 Think your IP VPN bills are too high? Then don't move to Jakarta, Indonesia, home of one of the world's most expensive 2 Mbit/s E-1 VPN port, priced at over $11,300 per month according to TeleGeography Inc. <http://www.lightreading.com/complink_redirect.asp?vl_id=7403> 4.5/1533 - Release Date: 7/3/2008 7:19 PM
