Ini bukan relatif mahal , ini mahal sekali ....
Kasus pertama ..
Kalau soal satelit , memang dari asalnya sudah lebih mahal ...
kalau mau pindahkan HUB , ya ke Hawai saja , yang coverage nya
terjangkau ke Indonesia ,tidak di Newyork ..
sekarang khan sudah banyak operataor pakai 16 QAM , koq masih pakai
QPSK ? :-)
Kasus kedua ,
Memang yang punya bandwidth macam Indosat ,memang tidak niat jual murah
saja :-)
kapasitas ada koq , tapi turunin harga tidak dilakukan , secara
teknologi juga bisa di tekan cost nya (kalau pemilihan teknologi nya
tepat, misal pakai standard gigabit ethernet)
sampai akhirnya telkom beli bandwidth dari Singtel juga (utk speedy)
dan 'banting2 an ' harga ...
Backbone fiber optics tidak hanya di rancang untuk voice saj a, mereka
(Indosat) juga sejak awal sudah merancang utk data tapi bukan untuk
Internet ..
thanks
yohan wrote:
Ca' Bas dan Rekan-rekan,
Untuk harga VPN yang disebut relative mahal tersebut, ada beberapa
kasus antara lain :
_Kasus pertama : _
Koneksi VPN yang relative mahal baik untuk koneksi International
ataupun untuk koneksi didalam wilayah Indonesia, bisa terjadi jika
menggunakan satellite. Penggunaan satellite ini dipakai, karena
biasanya memang tidak ada pilihan lain. Misalnya kapasitas optik
keluar negeri habis atau tidak tersedia dan belum ada jaringan
backbone terrestrial yang menjangkau wilayah tertentu. Koneksi VPN
jenis ini bisa relative mahal karena komponen cost paling utama yang
menentukan opex adalah harga transponder. Harga transponder yang
digunakan oleh operator VPN untuk bandwidth sebesar 36 MHz jika
menyewa pada ‘teman sendiri’ (maksudnya operator satellite dalam
negeri) sekitar $ 1,5 juta per tahun. Bandwidth sebesar ini, umumnya
dengan kondisi dan perangkat yang ada di lapangan hanya bisa dengan
modulasi QPSK FEC 3/4 yang mengakibatkan hanya cukup untuk VPN 13,5 E1
link.
Pembayaran transponder biasanya dimuka, yang berarti biaya transponder
saja per E1 dengan bunga 15% sekitar $ 10.000,- per bulan per E1. Yang
ini sudah pasti mengakibatkan EBITDA untuk service VPN dengan kondisi
tersebut lebih kecil dari 12%, belum lagi cost untuk maintenance dan
administrasi yang berarti bisa nombok bahkan jika investasi ground
station gratis atau mendapatkan perangkat dari atas langit .
Bandingkan dengan EBITDA untuk selluler yang bisa mencapai 70%,
pertanyaan ‘mahal’ dalam hal ini malah perlu diletakkan dalam proporsinya.
Untuk yang diberitakan dalam attachment tersebut, mungkin VPN yang
dimaksud adlah VPN yang menggunakan satellite dan yang kebetulan
menyewa menggunakan satellite dalam negeri, yang memang relative
‘mahal’. Dan kalau mau slebor, kita pindahkan VPN (1:1) E1 satellite
ke NewYork, kita ingin tahu juga apa mereka mau nombok dengan menjual
link E1 sebesar $ 1000,- perbulan J, apalagi kalau dilihat dari
katulistiwa, ground station satellite di Newyork agak horisontal.
Jika operator VPN menyewa satellite asing (yang rata-rata meskipun
kalah start dengan Indonesia awalnya, seperti Thailand, Malaysia,
Jepang, dan Cina) mungkin karena banyak meluncurkan satellite bisa
memberikan harga transponder setidaknya ¾ dari harga transponder
satellite dalam negeri. Yang bisa mengakibatkan operator VPN bisa
sedikit bernapas lega, karena EBITDA setidaknya bisa mencapai 20%
setelah berhemat di cost maintenance dan administrasi. Lebih bagus
lagi kalau kondisi pancaran transponder satellite asing tersebut
memungkinkan untuk modulasi PSK, yang setidaknya bisa membuat operator
VPN bisa bernapas agak lega karena EBITDA sedikit meningkat menjadi
30% (dengan engineering effort yang patut dihargai). Dengan kondisi
ini harga $ 11.300 perbulan per E1 yang disampaikan dalam file
attachment, tidak bisa serta merta karena salah kelola, atau cari
untung berlebihan, tetapi memang harga yang relative mahal yang
sebenarnya ‘murah’ dalam kacamata kewajaran (Dibandingkan dengan jika
kita memproduksi sesuatu dengan cost Rp 1, dan dijual dengan harga Rp
4, untuk menggambarkan EBITDA 75%).
_Kasus kedua :_
Karena kapasitas backbone International Indonesia semula hanya
didesain untuk komunikasi voice, begitu ada permintaan untuk
komunikasi data, harga backbone dengan terrestrial (optic) masih
mahal, sekitar $ 3000,- perbulan per E1. Ini yang menyebabkan biaya
VPN termasuk akses internet Indonesia keluar negeri juga mahal. Tetapi
jika harga ini dijual dengan $ 11.300 perbulan, tentu harga jual ini
sudah termasuk kategori keterlaluan.
Untuk mendorong ketersediaan backbone International yang memadai
dengan harga yang lebih terjangkau pemerintah sudah membuka tender
untuk 3 operator backbone International tahun 2007. Kedepan diharapkan
bisa mendorong harag E1 sampai $ 250,- per bulan. Jika ini terjadi,
memang harga broadband internet akses akan lebih terjangkau bagi
masyarakat Indonesia.
_Kasus ketiga :_
Jika yang dimaksud adalah harga VPN terrestrial di Jakarta, tentu
terlalu mahal. Dan karana tidak masuk akal, praktis bukan kasus yang
ini. Umumnya harga VPN E1 di Jakarta untuk lokal Jakarta, sekitar $
900,- per bulan. Sedikit lebih baik dari harga VPN E1 di New York.
Demikian komentar dari saya, semoga Jakarta dan daerah-daerah lainnya
dalam waktu-waktu mendatang bisa mendapat akses VPN atau Broadband
Internet Akses dengan bandwidth yang memadai dengan harga yang lebih
bersahabat.
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt