Benar itu Ca’ Bas, untuk Hub memang bagusnya di Hawai atau Singapore karena hub 
bisa masuk internet gateway Tier-1 dengan biaya yang relative murah. Contoh 
slebor Newyork karena penulisnya membandingkan harga E1 di Newyork yang bisa 
mencapai $ 1000,- per bulan dengan $ 11.300,- di Indonesia, kalau menggunakan 
satellite mana mungkin orang Newyork bisa nggak tombok jika menjual VPN E1 $ 
1.000 per bulan J.

 

Yang saya tahu, yang disebut dalam tulisan itu bukan penyelenggara VSAT dalam 
negeri seperti CSM, karena CSM sudah pake equipment ground segment yang bisa 
support modulasi 16 QAM untuk akses internet lansung ke Tier-1 menggunakan 
satellite. Meskipun untuk itu ada investasi lebih mahal karena antenna yang 
diperlukan juga lebih besar. Biasanya penyelenggara ada yang menggunakan QPSK 
untuk VSAT, karena perangkatnya masih yang lama, dan kalaupun upgrade equipment 
agar lebih stabil tanpa memperbesar antenna biasanya modulasi yang digunakan 
adalah 8 PSK. 



Bayangkan saja dengan sewa transponder sekitar $ 1.5 juta per tahun, dengan 16 
QAM meskipun teorinya bisa cukup untuk 22 E1 link, prakteknya dilapangan hanya 
cukup untuk 18 E1. Lha kalau dijual dengan $ 10.000,- per bulan saja, basic 
cost $ 7.500,- menyebabkan EBITDA tidak akan lebih baik dari 25% . Yang pasti 
setelah dikurangi dengan biaya administrasi dan maintenance kelihatan sekali 
VPN satellite memberikan yang terbaik buat industri telekomunikasi, lha 
EBITDAnya kalau nggak hati-hati bisa-bisa Cuma 10% dengan menawarkan SLA yang 
memadai. Coba bayangkan kalau ada operator telekomunikasi yang memiliki EBITDA 
75%, ini khan seperti punya produk dengan biaya produksi Rp 10.000,- dan dijual 
dengan harga Rp 40.000,- kepada masyarakat. Dilihat dari sudut pandang 
kewajaran, mungkin yang modiel seperti ini terlalu mahal untuk masyarakat 
keseluruhan J.

 

Salam,

-yohan-

 

Basuki Suhardiman (Sent: Sunday, July 06, 2008 2:21 PM) wrote :

Ini bukan relatif mahal , ini mahal sekali ....

Kasus pertama ..
Kalau soal satelit , memang dari asalnya sudah lebih mahal ...
kalau mau pindahkan HUB , ya ke Hawai saja , yang coverage nya 
terjangkau ke Indonesia ,tidak di Newyork ..
sekarang khan sudah banyak operataor pakai 16 QAM , koq masih pakai 
QPSK ? :-)

Kasus kedua ,

Memang yang punya bandwidth macam Indosat ,memang tidak niat jual murah 
saja :-)
kapasitas ada koq , tapi turunin harga tidak dilakukan , secara 
teknologi juga bisa di tekan cost nya (kalau pemilihan teknologi nya 
tepat, misal pakai standard gigabit ethernet)
sampai akhirnya telkom beli bandwidth dari Singtel juga (utk speedy) 
dan 'banting2 an ' harga ...
Backbone fiber optics tidak hanya di rancang untuk voice saj a, mereka 
(Indosat) juga sejak awal sudah merancang utk data tapi bukan untuk 
Internet ..

thanks

yohan wrote:

> Ca' Bas dan Rekan-rekan,
>
> 
>
> Untuk harga VPN yang disebut relative mahal tersebut, ada beberapa 
> kasus antara lain :
>
> 
>
> _Kasus pertama : _
>
> 
>
> Koneksi VPN yang relative mahal baik untuk koneksi International 
> ataupun untuk koneksi didalam wilayah Indonesia, bisa terjadi jika 
> menggunakan satellite. Penggunaan satellite ini dipakai, karena 
> biasanya memang tidak ada pilihan lain. Misalnya kapasitas optik 
> keluar negeri habis atau tidak tersedia dan belum ada jaringan 
> backbone terrestrial yang menjangkau wilayah tertentu. Koneksi VPN 
> jenis ini bisa relative mahal karena komponen cost paling utama yang 
> menentukan opex adalah harga transponder. Harga transponder yang 
> digunakan oleh operator VPN untuk bandwidth sebesar 36 MHz jika 
> menyewa pada ‘teman sendiri’ (maksudnya operator satellite dalam 
> negeri) sekitar $ 1,5 juta per tahun. Bandwidth sebesar ini, umumnya 
> dengan kondisi dan perangkat yang ada di lapangan hanya bisa dengan 
> modulasi QPSK FEC 3/4 yang mengakibatkan hanya cukup untuk VPN 13,5 E1 
> link.
>
> 
>
> Pembayaran transponder biasanya dimuka, yang berarti biaya transponder 
> saja per E1 dengan bunga 15% sekitar $ 10.000,- per bulan per E1. Yang 
> ini sudah pasti mengakibatkan EBITDA untuk service VPN dengan kondisi 
> tersebut lebih kecil dari 12%, belum lagi cost untuk maintenance dan 
> administrasi yang berarti bisa nombok bahkan jika investasi ground 
> station gratis atau mendapatkan perangkat dari atas langit . 
>  bisa mencapai 70%,JBandingkan dengan EBITDA untuk selluler yang 
> pertanyaan ‘mahal’ dalam hal ini malah perlu diletakkan dalam proporsinya.
>
> 
>
> Untuk yang diberitakan dalam attachment tersebut, mungkin VPN yang 
> dimaksud adlah VPN yang menggunakan satellite dan yang kebetulan 
> menyewa menggunakan satellite dalam negeri, yang memang relative 
> ‘mahal’. Dan kalau mau slebor, kita pindahkan VPN (1:1) E1 satellite 
> ke NewYork, kita ingin tahu juga apa mereka mau nombok dengan menjual 
> link E1 sebesar $ 1000,- perbulan J, apalagi kalau dilihat dari 
> katulistiwa, ground station satellite di Newyork agak horisontal.
>
> 
>
> Jika operator VPN menyewa satellite asing (yang rata-rata meskipun 
> kalah start dengan Indonesia awalnya, seperti Thailand, Malaysia, 
> Jepang, dan Cina) mungkin karena banyak meluncurkan satellite bisa 
> memberikan harga transponder setidaknya ¾ dari harga transponder 
> satellite dalam negeri. Yang bisa mengakibatkan operator VPN bisa 
> sedikit bernapas lega, karena EBITDA setidaknya bisa mencapai 20% 
> setelah berhemat di cost maintenance dan administrasi. Lebih bagus 
> lagi kalau kondisi pancaran transponder satellite asing tersebut 
> memungkinkan untuk modulasi PSK, yang setidaknya bisa membuat operator 
> VPN bisa bernapas agak lega karena EBITDA sedikit meningkat menjadi 
> 30% (dengan engineering effort yang patut dihargai). Dengan kondisi 
> ini harga $ 11.300 perbulan per E1 yang disampaikan dalam file 
> attachment, tidak bisa serta merta karena salah kelola, atau cari 
> untung berlebihan, tetapi memang harga yang relative mahal yang 
> sebenarnya ‘murah’ dalam kacamata kewajaran (Dibandingkan dengan jika 
> kita memproduksi sesuatu dengan cost Rp 1, dan dijual dengan harga Rp 
> 4, untuk menggambarkan EBITDA 75%). 
>
> 
>
> _Kasus kedua :_
>
> Karena kapasitas backbone International Indonesia semula hanya 
> didesain untuk komunikasi voice, begitu ada permintaan untuk 
> komunikasi data, harga backbone dengan terrestrial (optic) masih 
> mahal, sekitar $ 3000,- perbulan per E1. Ini yang menyebabkan biaya 
> VPN termasuk akses internet Indonesia keluar negeri juga mahal. Tetapi 
> jika harga ini dijual dengan $ 11.300 perbulan, tentu harga jual ini 
> sudah termasuk kategori keterlaluan.
>
> 
>
> Untuk mendorong ketersediaan backbone International yang memadai 
> dengan harga yang lebih terjangkau pemerintah sudah membuka tender 
> untuk 3 operator backbone International tahun 2007. Kedepan diharapkan 
> bisa mendorong harag E1 sampai $ 250,- per bulan. Jika ini terjadi, 
> memang harga broadband internet akses akan lebih terjangkau bagi 
> masyarakat Indonesia.
>
> 
>
> _Kasus ketiga :_
>
> Jika yang dimaksud adalah harga VPN terrestrial di Jakarta, tentu 
> terlalu mahal. Dan karana tidak masuk akal, praktis bukan kasus yang 
> ini. Umumnya harga VPN E1 di Jakarta untuk lokal Jakarta, sekitar $ 
> 900,- per bulan. Sedikit lebih baik dari harga VPN E1 di New York.
>
> 
>
> Demikian komentar dari saya, semoga Jakarta dan daerah-daerah lainnya 
> dalam waktu-waktu mendatang bisa mendapat akses VPN atau Broadband 
> Internet Akses dengan bandwidth yang memadai dengan harga yang lebih 
> bersahabat.



Kirim email ke