Panggung politik jadi ladang bisnis. Ada investasi, ada hasil; bisa untung, pas-pasan ataupun rugi. Pola pikir kepala daerahnya, pola pikir pengusaha, pebisnis. Orientasinya adalah bagaimana dia secara pribadi dapat untung sebesar-besarnya atas biaya investasi yg telah dikeluarkannya. KKN pun pasti terjadi dimana-mana.
Kalo begini rule of the game-nya, gimana bisa berharap masih ada pemimpin yg peduli kepada rakyat? Kasihan rakyat Indonesia... Selalu dikorbankan... Semoga Tuhan masih sayang Indonesia... Untuk Indonesia yang lebih baik... Salam, Widjayanto Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]> Date: Sat, 09 Aug 2008 11:40:19 To: undisclosed-recipients:;<Invalid address> Subject: [indonesia] "Korban" Sistem Pilkadal Kita Ada yang salah dalam sistem pilkadal kita. Apabila seorang calon kepala daerah butuh modal M(ilyar) untuk bertarung, logisnya ia harus bisa melunasi modal itu apabila menang - kecuali itu "uang hangus" milik sendiri. Kita ingat idiom "There's no such thing as a free lunch", maka tidak ada senyuman yang benar-benar tulus dari mulut seorang pemodal apabila uangnya sudah keluar. Sementara gaji dan tunjangan kepala daerah tidak ada yang mencapai M - dan sungguh aneh kalau ada - jadi darimana lagi bisa mengembalikan modal kalau bukan dari pat-pat-gulipat, korupsi, atau memberi "kemudahan" kepada yang mememodalinya sewaktu pilkada? Well, money doesn't grow on trees. Dan, itu semua kalau betul menang. Kalau tidak? Dua berita berikut ini mungkin bisa menjadi bahan kontemplasi, betapa sistem pilkadal kita memang sudah mendesak untuk diubah. Salam, Andri SI93 ---news1 begins--- http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2008/08/05/brk,20080805-129800,id.html Calon Bupati Ponorogo Masuk Rumah Sakit Jiwa Selasa, 05 Agustus 2008 | 17:21 WIB TEMPO Interaktif, Ponorogo:Yuli Nursanto (39), calon bupati asal Perumahan Singosaren, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur masuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Malang, pada Senin (4/8) malam. Yuli diduga mengalami depresi akibat permasalahan yang melilitnya pasca kalah dalam Pemilihan Bupati Ponorogo pada Agustus 2005 lalu. "Saya sendiri yang mengantarkan Bapak ke rumah sakit jiwa," kata Adjidah, istri Yuli Nursanto, Selasa (5/8). Ia membawa suaminya ke rumah sakit jiwa setelah dua kali mencoba bunuh diri. Menurut dia, upaya bunuh diri yang pertama adalah meminum Autan (lotion antinyamuk) yang dicampur kopi pada Juli lalu dan meminum 9 obat sakit kepala pada tiga hari lalu. "Namun ia selalu berhasil diselamatkan setelah dirawat di rumah sakit di Ponorogo," ujarnya. Ketika dirawat di rumah sakit, ayah empat anak itu kerapkali melupakan identitas orang di sekelilingnya. "Ia juga sering kejang-kejang dan tidak ingat kami," ujarnya. Bahkan, suaminya seringkali mengamuk dan merusak barang yang ada di dekatnya. "Tingkahnya semakin membahayakan," ujar Adjidah. Menurut Adjidah, suaminya terjerat utang sebesar Rp 9,3 miliar yang digunakan untuk biaya mengikuti Pemilihan Bupati Ponorogo lalu. "Sebesar 6 miliar sudah lunas, sisanya belum lunas," ujarnya. Ia mengatakan, yang memberatkan bagi suaminya adalah bunga utang itu terus berkembang sehingga membuat suaminya terjerat proses hukum. Saat menjadi calon, Yuli Nursanto berpasangan dengan Ahmad Sudarno yang saat itu diusung Partai Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Keduanya hanya mendapatkan 7 persen suara. Sementara itu, Adjidah kini sedang dalam proses gugat cerai dengan suaminya. Alasan ia minta gugat cerai, karena suaminya yang berlatar belakang pengusaha itu sebelumnya juga berselingkuh dengan salah satu staf di kantor radio miliknya. DINI MAWUNTYAS ---news1 ends--- ---news2 begins--- http://www.potretnews.com/politik_teks.php?idberitateks=579 Calonnya Kalah Pilkada, Donatur Banyak yang Sakit Jiwa MEDAN- Penyandang dana (donatur) dalam suatu pesta demokrasi sangat berpotensi mengalami gangguan jiwa. Terbukti, sejumlah kasus gangguan jiwa pada penyandang dana kampanye ditemukan pasca pemilu tahun 2004 serta pasca pilkada bupati/wali kota di sejumlah daerah. "Ada beberapa kasus gangguan jiwa berupa stres yang ditemukan pasca Pemilu 2004 dan pilkada bupati/ wali kota. Setelah ditelusuri, ternyata mereka adalah penyandang dana kampanye," kata Plt. Direktur RS Jiwa Sumatera Utara dr Donald F Sitompul, SpKJ di sela-sela pertemuan Direktur Rumah Sakit se-Sumut di Hotel Emerald Garden, Jumat (25/4/2008). Umumnya, lanjut Donald, para penyandang dana kampanye tersebut kecewa karena calon yang didukungnya kalah dalam pemilu. Kondisi ini semakin parah karena mereka meminjam uang kepada bank untuk keperluan kampanye dan tidak sanggup mengembalikannya. Kasus gangguan jiwa pada penyandang dana kampanye ini muncul sekitar sebulan pasca Pemilu. Mereka baru menyadari bahwa jumlah uang yang dipinjamnya kepada bank cukup besar setelah dilakukan penghitungan. Menurut Donald, gejala gangguan jiwa pada penyandang dana kampanye ini antara lain rasa takut yang berlebihan, cemas dan susah tidur. Karena itu, mereka harus segera menjalani terapi pengobatan agar gangguan jiwa yang dideritanya tidak semakin beraUmumnya, mereka hanya menjalani terapi rawat jalan dan tidak ada yang menjalani rawat inap di RS Jiwa. "Ada beberapa kriteria pasien gangguan jiwa yang harus menjalani rawat inap yakni mengganggu orang lain, membahayakan dirinya sendiri (mencoba bunuh diri) dan merusak lingkungan. Jika penderita gangguan jiwa tidak mempunyai sifat seperti tiga hal tersebut, maka tidak perlu menjalani rawat inap," ujar Donald. Mengenai pasca Pilkadasu, Donald mengatakan, sampai sejauh ini belum ditemukan adanya kasus gangguan jiwa yang dialami para penyandang dana kampanye Pilkadasu 2008. "Namun tidak tertutup kemungkinan hal itu terjadi jika penyandang dana kampanye Pilkadasu juga terlilit utang," ujarnya. Beban mental Di tempat terpisah, Psikolog RSU dr Pirngadi Medan Indah Kemala Hasibuan SPsi berpendapat, beban mental yang terlalu berat bisa menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan jiwa. Menurut Indah, beban mental itu muncul ketika seseorang yang terlalu ambisius tidak bisa mewujudkan cita-citanya. Apalagi orang tersebut telah banyak menghabiskan uang dan sulit untuk mengembalikannya. Dalam kondisi seperti ini, kata Indah, orang tersebut akan mengalami rasa malu yang berlebihan dan tidak percaya diri bertemu orang lain sehingga memicu terjadinya stres. "Salah satu solusi agar terhindar dari stres yakni jangan terlalu ambisius untuk mengejar suatu cita-cita dan kembali kepada ajaran agama," demikian Indah. (Wsp) ---news2 ends--- -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
