Doktor Irsal, Kalau orang2 Yahudi memang betul2 pintar, tentu mereka tidak akan susah2 ke library atau 'reinventing the libraries' at home untuk buku2 yg tebalnya >= 4.73 cm itu sementara mereka masih punya dua saudara di Google yg akan mengarahkan mereka ke link ebooks di R***share:->
Salam, Andri On 2/24/09, irsal imran <[email protected]> wrote: > Sebetulnya kalau kita biasa naik train di New York City, pasti kita juga > bisa tahu kenapa Yahudi pintar (mungkin bisa juga dijadikan disertasi..:)). > Biasanya mereka nggak pernah jalan gerombolan, dan selalu sendiri, paling > banyak bertiga. Kalau orang bule di dalam train ngalor ngidul nggak tentu > arah (orang yang nggak dikenalpun diajak ngomong), maka si yahudi selalu > mengambil posisi dipojok dan langsung membuka buku yang tebalnya minimal 5 > cm. Di kehidupan bangsa Yahudi (saya dulu sering ke rumah dosen pembimbing > yang Yahudi) umumnya mereka punya library (ini juga dibilang oleh dosen > saya) dimana anak-anak mereka bisa dikurung di dalamnya untuk menyantap > buku2 mulai dari science sampai history. Jadi kalau dilihat kondisinya > seperti itu, memang wajar kalau mereka punya pengetahuan lebih banyak dari > kita. > > > salam, > > > -Irsal > > > > > ________________________________ > From: Guntur Supriyadi <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 24, 2009 8:37:17 AM > Subject: [indonesia] Re: Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi (Great Person > Theory?) > > > Sama... > Yang terkenal suka dapat straight A, bukannya orang asia timur? > Mereka Yahudi banyak penemuannya kan karena didukung dana yang kuat. > Kalo lomba2 di bidang eksakta yang suka menang cina, indonesia, vietnam, > russia, india. > Artikel tentang yahudi ini rasanya hanya salah satu propaganda dari orang > yahudi... > Mendingan nggak usah forward artikel ini... > Sesuatu kalo sering diulang-ulang, bisa dianggap benar... > ----- Original Message ----- > From: yorga effendi > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 24, 2009 1:34 PM > Subject: [indonesia] Re: Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi (Great Person > Theory?) > > saya secara pribadi tidak percaya kalau bangsa Yahudi itu lebih superior > dari bangsa lain, dalam artian bahwa secara genetik mereka lebih unggul dari > bangsa-bangsa lainnya di dunia. > > sejarah menunjukkan, peradaban2 besar masa lalu bisa lahir dari berbagai > macam suku bangsa: persia, mesir, india, maya, inca, cina, indonesia, dll, > etc. tanpa melibatkan bangsa yahudi. > > saya cenderung melihat ini sebagai psywar untuk melemahkan mental bangsa2 > non yahudi. > > Namun ada satu hal yang saya ingat dari buku "are you joking mr. feynman?" : > yaitu mengenai pengakuan feynman ttg kultur bangsa yahudi yang sangat > memperhatikan pendidikan. > > jadi ini lebih ke Nurture dari pada Nature. > > best regards, > yorga > > > > > ________________________________ > From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Monday, February 23, 2009 11:06:02 PM > Subject: [indonesia] Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi (Great Person Theory?) > > > Assalamu'alaikum wr. wb., > > Menurut Great Person Theory: "Leaders (and winners) are born, not made." > > Namun, bila teori ini yang diperturutkan secara totaliter dan dijadikan > alibi untuk ngeles, nyaleg, atau nyapres daripada berusaha mengungkapkan > kebenaran secara ilmiah, mungkin trend of leaderships manusia akan berbalik > ke abad kepemimpinan berdasarkan "darah biru" dengan tiap pergantian dinasti > yang nyaris selalu "berdarah-darah" bahkan di antara "sesama si biru". > > Dan, btw, setelah "pembantaian internal" selesai dan kemudian diambil sampel > darahnya, kok ternyata nyaris semuanya "berdarah merah" (kecuali kebetulan > para ahli forensik tersebut menemukan corpses dari keturunan E.T. atau > Predator :>). > > Saya percaya, apapun sifat genetik yang dimiliki seseorang, tanpa ikhtiar > untuk membangkitkan dan mempertajam potensi tersebut, maka akan sia-sia > sajalah karunia Allah tersebut. Ini termasuk nggak nyukurin nikmat juga > bukan? ;-) > > Ini sebagai pengantar yang way-too-ngelantur (pretty-cherry-sorry Mommy > about that;-) untuk artikel berikut. > > Semoga berkenan (dan bukan hoax;-). > > Wassalamu'alaikum wr. wb., > Andri > > > Source: not yet verified > > > Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi > > [Selasa,17 Februari 2009 - 04:24 AM] Artikel Dr Stephen Carr Leon patut > menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah > berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah > sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat > ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?" > > Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung > hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi > begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini > suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? > > Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda > ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus > mengumpulkan data-data yang setepat mungkin. > > Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah > mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan > bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan > menyelesaikan soal bersama suami. > > Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku > matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan > Stephen suka matematika. > > Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?" > > Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang > melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius." > > Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. > > Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan > latihan matematika sampai genap melahirkan. > > Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung > dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari > makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur > dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan. > > Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak > dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak > perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat > orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu > yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. > > Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen > menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan > yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau > fillet)," > ungkapnya. > > Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada > bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak > bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. > > Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan > terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah > buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau > roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. > Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. > > Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, > jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar > dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. > > Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat > merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, > keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu > penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel. > > Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka > sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang > badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever). > > Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka > memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah > dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. > Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah > tentu bakal menjadikan anak pintar. > > Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. > > Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. > > Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika > berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan > Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya > bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya. > > Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari > pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang > diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. > Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak > fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara. > > Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini > murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk > menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan > memboroskan, tetap diteliti dengan serius. > Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu > akan dibawa ke jenjang lebih tinggi. > > Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh > terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar > ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan > proyek. Mereka harus memperaktekkanya. > Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat > keuntungan sebanyak $US 1 juta! > > Anda terperanjat? > > Itulah kenyataannya. > > Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang > cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan > semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin? > > Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di > Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah > mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin > memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. > > Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas > akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir > setengah darinya adalah anak-anak. > > Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak > bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, > Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina > yang sudah hafidz al-Quran. > > Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan > Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, > bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran > yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi. > > Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza > yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens > berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi > mereka. > Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih > begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah > penghafal Quran itu telah syahid. > > Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi > lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi > Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam > membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya. > > Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang > penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang > ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal. > > Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari > penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah > menemui beberapa bukti menyokong teori ini. > "Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu. > > Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun > bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! > Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!! > > "Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak > universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. > Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa > mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah > kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? > Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?" > > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
