Ini versi for Dummies dari Pak Umar Said, mudah-mudahan jadi lebih mudah
dicerna...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



*PASIEN RUMAH SAKIT*

(Oleh Umar Said)



Pada tahun 1997 ada 16 orang kurang sehat. Mereka dibawa ke rumah sakit dan
diukur berbagai indikator kesehatannya seperti suhu badan, tekanan darah,
detak jantung, analisa darah dan urin, di rongent, dan analisa lainnya. Dari
hasil berbagai analisa itu, orang-orang itu memang dinyatakan sakit parah.
Tentu pengukuran analisa kesehatan ini tidak dilakukan oleh seorang, tetapi
dilakukan beberapa orang dengan tugas dan keahliannya yang berbeda-beda.



Kemudian, hasil analisa kesehatan para pasien ini diserahkan ke tim dokter
ahli, salah satunya sebagai ketua tim. Tim dokter menghadapi masalah rumit.
Penyakit pasien ini bisa menular ke orang lain. Tetapi rumah sakit juga
sedang kekurangan obat. Sulit menolong 16 pasien itu. Penasehat rumah sakit
menyarankan untuk tidak menolong 16 pasien itu. Akhirnya tim dokter memang
memutuskan untuk tidak menolong 16 pasien itu. Akibatnya mereka mati semua.



Celakanya keputusan tim dokter itu telah menyebabkan banyak orang menjadi
ketakutkan. Orang-orang sehat takut mengalami nasib yang sama, yaitu tidak
akan ditolong jika sakit. Orang tidak mau ke rumah sakit itu. Banyak orang
yang pindah tempat. Rumah sakit menjadi kesulitan. Tidak ada pasien datang.
Tidak ada pasien berarti tidak ada pemasukan uang. Rumah sakit menjadi
merana. Orang mengatakan rumah sakit mengalami krisis. Hampir sepuluh tahun
rumah sakit mengalami kesulitan keuangan. Secara pelahan, kepercayaan orang
kepada rumah sakit itu mulai pulih kembali.



Tahun 2008, ada satu orang mengalami sakit yang sama. Indikator kesehatannya
diukur seperti biasanya.



Hasil analisis kesehatan diserahkan ke tim dokter lain untuk diperiksa. Tim
dokter ini memang mempunyai tugas dan keahlian untuk itu. Tim ini khawatir
jika tidak ditolong penyekitnya bias menular ke orang lain. Tim dokter ini
juga mengingat akibat dari keputusan tim dokter tahun 1998. Atas berbagai
pertimbangan itu, kali ini tim dokter memutuskan untuk menolong pasien itu.
Meskipun  tim dokter sudah berbeda tetapi pengalaman buruk 1998 rupanya
menjadi acuan untuk membuat keputusan kali ini. Rumah sakit mengeluarkan
biaya untuk menolongnya. Biaya itu menjadi hutang pasien kepada rumah sakit.
Kali ini dokter tidak mau mengambil risiko sekecil apapun agar peristiwa
1997 tidak terulang.



Selanjutnya pemberian obat kepada pasien diserahkan kepada tim medis yang
bertugas di ruang perawatan. Pemberian obat itu tidak dilakukan oleh tim
dokter yang memutuskan untuk menolong pasien, juga bukan oleh tim di
laboraturium yang menyediakan data kesehatan pasien. Memang demikian
pembagian tugasnya.



Singkatnya karena ditolong, pasien ini menjadi sembuh. Kekhawatiran ada
penularan penyakit juga tidak terjadi. Pasien itu sekarang bahkan sudah
mulai bisa bekerja lagi. Sudah mulai mempunyai penghasilan lagi. Tetapi dia
masih mempunyai hutang pada rumah sakit, yang harus dilunasinya.



Hari ini, ada orang yang menggungat tim dokter sebagai telah melakukan
mal-praktek. Para penggugat mengatakan penyakit pasien tidak gawat, buktinya
dia sembuh. Penyakit pasien juga tidak menular, buktinya tidak ada yang
tertular.



Disini masyarakat mulai dibuat bingung. Yang salah dokter yang menolong atau
para penggugat. Pertimbangan profesional tim dokter dipersoalkan oleh para
penggugat, padahal mereka bukan dokter. Para penggugat, yang bukan dokter
itu, mencoba memaksakan teori penyembuhannya sendiri. Mereka memaksakan
teorinya bahwa penyakit pasien tidak gawat dan tidak menular. Bukankah
pasien sembuh karena ditolong. Bukankah penyakit tidak menular karena
diobati.



Para penggugat menjadi frustasi. Mereka mencari dalih lain. Keabsahan
praktek dokter dipersoalkan. Dicari apa mungkin dokter ini ada hubungan
dengan pasien. Apa mungkin dokter penolong ini disuap oleh keluarga pasien.
Dokter dipaksa mengakui bahwa data laboratorium yang dipakai dasar
memutuskan untuk menolong tidak cermat. Singkatnya dokter penolong itu
dipaksa mengaku dosa. Namun semua tuduhan itu bisa ditangkal dengan baik.
Para penggugat makin frustrasi.



Seperti itulah cerita bank Century. Tahun 1997 ada 16 bank sakit yang tidak
ditolong. IMF sebagai penasehat ekonomi Pemerintah tidak menyarankan
Indonesia menolong 16 bank itu. Bank-bank tidak ditolong dan mati.



Penyakit memang menular. Terjadi pelarian dana keluar negeri. Akibatnya
lebih banyak lagi bank yang menjadi sakit atau kesulitan. Indonesia
mengalami krisis ekonomi yang sangat dalam. Indonesia ditakuti sebagai
tempat yang tidak aman bagi investasi. Investasi tidak terjadi di Indonesia.
Itu seperti rumah sakit yang ditakuti dan ditinggal orang. Tidak ada pasien
datang.



Tahun 2008 pasiennya bernama bank Century. Tim penyedia analisis kesehatan
bank adalah Bank Indonesia. Dokter yang memutuskan menolong pasien adalah
Menteri Keuangan - Ibu Sri Mulyani. Beliau sekarang dituduh melakukan
mal-praktek.



Mungkin rakyat tidak mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang perbankan,
tetapi rakyat mempunyai daya rasa yang sangat halus namun tajam. Jutaan
orang merasa Ibu Sri Mulyani patut diacungi jempol karena menyelamatkan
ekonomi Indonesia.



Namun kalau dalam praktek penyelamatan bank ini ada orang yang ikut menerima
obat yang diperuntukkan bagi Century, orang itulah yang harus diusut melalui
jalur hukum. Semua setuju jalur hukum itu ditegakkan.



Mari kita bersama-sama membangun Indonesia. Marilah berhenti menghujat dan
menyalahkan orang lain. Ingat bahwa bangsa lain terus bekerja dan
meninggalkan kita.



Jakarta, 16 Januari 2010.

Kirim email ke