menurut saya, Dahlan hanya kebingungan dengan industri kertas koran kolega 
koleganya mengapa access power nya tidak laku laku? 
mengapa?

http://ap2i.blogspot.com/

--- On Mon, 1/18/10, Sholeh Mr <[email protected]> wrote:

From: Sholeh Mr <[email protected]>
Subject: [indonesia] Bls:   Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang  
"Salah Makan"
To: [email protected]
Date: Monday, January 18, 2010, 10:01 PM


Menurut saya, ide nya Dirut PLN  tentang Gas, belum menunjukkan gebrakan yang 
radikal.

Urusan gas - itu kan problem lama,. pengaturan gas  melalui  undang-undang 
gas,.. harus terus disesuaikan dengan kebutuhan energi di Indonesia,.. revisi 
lageeeeeee..

Ada comment : Buyer gas nanti tidak percaya lagi dengan pemerintah Indonesia ?

Terserah pemerintah, mana yang mau dipilih,.. revisi undang-undang gas atau  
rakyat Indonesia ribut terus untuk urursan energy,..

He-he-he

Salam,...

BUNUH KORUPTOR,.




 
Dari: S Rahardjo <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sel, 19 Januari, 2010 09:01:22
Judul: [indonesia]   Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang  "Salah Makan"

 
Artikel menarik dari Dahlan Iskan yg saat ini sudah menjadi Dirut PLN dari
milist tetangga. SR
 
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828
<http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828> 
http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940
<http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940> 
 
 
[ Selasa, 17 November 2009 ] 
Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (1) 
Cari Payung yang Berhemat Rp 10 Triliun Per Tahun

DIREKTUR utama PLN harus melakukan ini. 
Terutama kalau semua orang menghendaki kelistrikan Indonesia 
bisa baik.
Tapi, semua direktur utama PLN, baik yang lalu, yang sekarang, 
maupun yang akan datang tidak akan bisa melakukan ini.

Bayangkan. 
PLN memiliki banyak sekali pembangkit listrik raksasa yang 
mestinya dijalankan dengan gas, kini harus diberi makan solar. 
PLTG "salah makan" ini meliputi sekitar 5.000 MW! 
Yang 740 MW dua buah ada di dekat Jakarta. 
Yang 1.000 MW ada di
 Gresik. 
Yang 750 MW ada di Pasuruan. 
Dan di beberapa tempat lagi di Jawa ini.

PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) itu tentu didesain untuk
diberi "makan" gas. 
Namun, PLN tidak bisa mendapatkan gas. 
Bukankah negeri ini punya banyak gas? 
Juga dikenal sebagai pengekspor gas? 
Ya. Itu benar. 
Tapi, untuk PLN terlalu banyak persoalannya. 
Kalau saya uraikan di sini bisa menghabiskan seluruh halaman 
surat kabar ini. 

Yang jelas, akibat tidak bisa mendapatkan gas, 
PLTG-PLTG tersebut diberi makan solar. 
Memang desain mesinnya memungkinkan untuk itu, 
meski kapasitasnya berkurang sampai 15 persen.
Maka PLTG itu sudah sepantasnya kini disebut PLTS 
(Pembangkit Listrik Tenaga Solar).

PLTG "salah makan" inilah salah satu penyebab utama kesulitan 
PLN dan sekaligus kesulitan menteri keuangan. 
PLTG "salah makan" inilah yang menjadi salah satu penyebab 
direksi PLN beserta seluruh
 staf dan karyawannya telah menjadi 
bangsa pengemis. 
Tiap bulan PLN harus mengemis ke menteri keuangan untuk bisa 
mendapatkan subsidi.
Pada 2008 saja, subsidi itu mencapai Rp 60 triliun setahun. 
Baca: Rp 60.000.000.000.000. 

Mengapa?

Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas, biaya produksi listriknya 
bisa lebih murah. 
Tinggal hampir separonya. 
Harga gas kini sekitar USD 7 dolar/ton ekuivalen. 
Padahal, harga solar USD 16 dolar/ton ekuivalen. 

Solar itulah "makanan" PLTG yang harganya lebih mahal, 
tapi rasanya lebih pahit. 
Kapasitas PLTG-nya turun 15 persen. 
Dengan menggunakan solar itu, asapnya begitu hitam. 
Kalau saja Anda melewati tol dari Bandara Cengkareng ke arah 
Tanjung Priok (Jakarta), menengoklah ke utara. 
Anda akan melihat di arah pantai dekat Ancol sana banyak 
cerobong yang mengeluarkan asap hitam. 
Itulah bukti nyata kasus PLTG "salah makan". 
Cerobong yang
 mengeluarkan asap hitam itu pertanda PLTG 
tersebut lagi diberi makanan yang salah dan karena itu kentutnya 
yang mestinya tidak kelihatan menjadi jelas berwarna hitam.

Kalau saja 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut diberi makanan 
yang benar, PLN akan menghemat sedikitnya Rp 10 triliun. 
Itu per tahun! 
Pasti menteri keuangan yang cantik itu akan kelihatan semakin 
cantik karena mulai bisa tersenyum. 
Sang menteri barangkali selama ini kesal juga karena setiap bulan 
harus melayani pengemis subsidi dengan nilai yang begitu 
menggemaskan.

Ada lagi yang lebih menggemaskan. 
Sebagai orang swasta yang kalau melakukan investasi 
menggunakan 10 kalkulator (agar bisa berhemat), 
saya sangat gemas akan keputusan investasi seperti itu di 
masa lalu. 
Untuk investasi 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut, 
menurut perkiraan saya, telah menghabiskan uang sekitar 
Rp 100 triliun. 
Mayoritas dilakukan
 waktu Orde Baru.

Anehnya, masih juga diizinkan pembangunan PLTG baru 
740 MW di dekat Jakarta. 
PLTG ini memang milik swasta. 
Tidak memberatkan keuangan PLN. 
Tapi, ketika mulai membangun dulu, si swasta minta jaminan 
pemerintah bahwa pemerintah pasti bisa memberikan gas 
kepadanya.

PLTG baru itu akhirnya selesai dibangun. 
Masih gres. 
Baru sekitar dua bulan lalu selesai dan mulai beroperasi. 
PLTG ini memerlukan gas kira-kira 230 MMBTU 
(Million Metric British Thermal Unit). 
Seperti sudah bisa diduga, pemerintah tidak bisa menyediakan gas 
dari sumber yang baru untuk memenuhi janjinya itu.

Akibatnya, sangat parah. 
Baik secara fisik maupun secara akal sehat. 
Pemerintah dengan mudah memutuskan mengalihkan gas yang 
selama ini untuk jatah PLTG milik PLN ke PLTG baru milik 
swasta itu. 
Agar janjinya kepada swasta asing terpenuhi. 
Saya tidak sampai hati menuliskan akibat
 fisik yang ditimbulkan 
oleh kebijaksanaan ini. 

Lalu, bagaimana bisa mengatasi persoalan PLTG 
"salah makan" ini? 
Mengapa membangun PLTG kalau sudah tahu tidak akan bisa 
mendapatkan gas? 
Mengapa membangun PLTG kalau setelah dijalankan 
mengakibatkan PLN/negara harus menderita kerugian 
Rp 10 triliun/tahun?

Dirut PLN harus mengubah itu semua. 
Tapi, Dirut PLN, yang sekarang maupun yang akan datang,
tidak akan mampu mengubahnya. 
Kecuali diberi payung hukum untuk boleh mengatasinya. 
Inilah payung yang sekali diberikan bisa menghasilkan 
penghematan Rp 10 triliun per tahun.

Payung, begitu sederhana barangnya. 
Puluhan triliun rupiah manfaatnya. (bersambung) 
 
 Rabu, 18 November 2009 ] 
Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (2-Habis) 
Pilihan Realistis atau Yang Radikal 

PERTANYAAN: Indonesia begitu kaya gas. 
Mengapa PLN sampai tidak bisa
 mendapatkan gas? 
Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5.000 MW, 
harus diberi "minum" solar yang dalam setahun menghabiskan 
uang PLN Rp 80 triliun?

Urusan ini rumitnya bukan main. 
Memang yang berhak mengatur perdagangan gas 
adalah pemerintah. 
Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik. 
Tapi, saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu. 
Yang jelas, pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta. 
Asing maupun domestik.

Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan 
harga terbaik. 
Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit. 
Maka, PLN harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain: 
pedagang luar negeri maupun pedagang dalam negeri, 
seperti Perusahaan Gas Negara (PGN).

Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini: 
pembeli harus mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur, 
berapa pun jumlahnya. 
Di sini PLN
 ditakdirkan kurang bisa fleksibel. 
Sebuah pembangkit listrik tentu sudah didesain memerlukan gas 
sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). 
Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari 
kebutuhan itu dan kadang sedikit kelebihan.

Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan, 
katakanlah 15 persen, dari kebutuhan sebuah pembangkit listrik, 
dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, tidak dibeli semua pemilik 
sumur gas rugi. 

Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang 
sangat khusus antara PLN dan PGN. 
Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya kelebihan, 
kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN. 
Sebaliknya, kalau produksi sebuah sumur gas kurang dari jumlah 
yang diinginkan PLN, PGN yang harus menambahnya. 

Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada. 
Egoisme setiap perusahaan masih sangat menonjol. 
Padahal, dua-duanya milik
 pemerintah. 

Memang itu saja belum cukup. 
PGN juga sebuah perusahaan yang harus berlaba. 
Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik. 
PGN sendiri kekurangan gas untuk melayani pelanggannya. 
Baik pelanggan rumahan dan terutama pelanggan industri. 
Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN sebagai
sama-sama pembeli gas dari ladang migas. 
Persaingan ini yang sampai sekarang belum mendapatkan 
jalan keluar.

Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu 
jangan cepat-cepat rukun. 
Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap 
tahun mengeruk uang PLN sampai Rp 80 triliun akan kehilangan 
bisnis yang mengilap dari pedagangan solar. 
Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang pintar 
kan PLN dan pemerintah sendiri.

Tentu ide yang paling realistis adalah membangun 
LNG-gasifikasi terminal. 
PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN
 diminta 
membangun terminal LNG-gasifikasi. 
PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau
gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk 
kepentingan PLN. 
Bisa dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng) 
bisa juga dari Qatar atau Iran.
Atau dari tempat lainnya. 

LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal 
LNG-gasifikasi. 
Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon. 
Bahkan, sudah pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung 
di lepas pantai Jakarta. 
Agar dekat dengan "PLTG salah makan" yang sekarang membuat 
masalah itu. 

Saya tidak melihat jalan lain.
Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja sama yang baik dengan 
PGN atau membangun terminal LNG-gasifikasi. 
Yang pertama harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus 
difasilitasi pemerintah. 

Memang masih ada jalan lain. 
Tapi, terlalu radikal.
 
Lelang saja PLTG-PLTG itu! 
Daripada bikin penyakit yang mengisap darah 
keuangan pemerintah. 
Hasil lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang 
direkondisi seperti baru. 

Jalan "gila" itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya 
Rp 10 triliun/setahun. 
Baca: 10.000.000.000.000/setahun. 
Kalau saja di swasta dan saya yang menjadi pemiliknya, saya akan 
lakukan yang terakhir ini. 

Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah. 
Tapi, dua seri tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa 
PLN mengalami kesulitan selama ini. 
Dan mengapa sulit pula dipecahkan. (*)




 



-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt




        Akses email lebih cepat. 
 Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang 
dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)


      

Kirim email ke