Ha-ha-ha,.... 1. Negara RI memiliki energi yang berlimpah dan di kelola oleh Pemerintah,. 2. Pemerintah untuk mengelola kekayaan negara mendirikan berbagai regulasi dan unit bisnis untuk melayani kesejahteraan rakyat,. 3. Pemerintah dengan segala i'tikad nya ingin bekerja produktif, efisien dan tepat sasaran. 4. Regulasi yang dibuat,.. berupaya menguntungkan rakyat indonesia dibanding pengusahan asing yang datang ke Indonesia,... tapi kenyataannya terbalik,.. mereka bawa untung besar buanget. 5. Unit Bisnis untuk mensejahterakan rakyat (seperti PLN) sudah bekerja keras,. agas rakyat bisa menikmati semua kekayaan negara dengan adil dan hasilnya makmur.. 6. Pokok e semuanya serba indah sesuai dengan azas dan sila yang ada dalam Pancasila. 7. DPR,.. wakil rakyat ? 8. Lembaga Judikatif ,. penegak hukum ? Tapi,......... kenapa tak kunjung tiba - adil dan makmur nya ,. rakyat yang tidak sejahtera,.... semakin banyak orang yang tak takut kepada Tuhan (Koruptor),. sudah tidak ada lagi mufakat,. kecuali gue yang paling benar,.. Ampuuunnnnn,....
BUNUH KORUPTOR ________________________________ Dari: Lili Tjarli <[email protected]> Kepada: [email protected]; [email protected] Terkirim: Ming, 24 Januari, 2010 16:00:09 Judul: [indonesia] Re: Bls: Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" kasihan PLN disalahin terus oleh orang tak tahu diri yang hanya tau menikmati listrik tapi tidak mau membantu sama sekali ________________________________ From: [email protected] on behalf of joefrizal joefrizal Sent: Sel 19/01/2010 10:46 To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Bls: Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" Kalau boleh urug rembug, sebenarnya ide pak Dahlan Iskan itu adalah ide yang sederhana dan tepat sasaran. Ide ini tidak pernah terealisir, karena beberapa hal; 1. PLN ogah-ogahan untuk membeli gas. Mungkin karena tim negosiasi PLN yang kurang jeli dan tidak punya jiwa bisnis dalam negosiasi gas. 2. Dahulu ada isu bahwa ada mafia solar sehingga perubahan ke gas itu selalu terhambat (benar atau tidaknya Tuhan yang maha tahu) Pada harga minyak $ 70/Bbl, maka harga solar mungkin kira kira $ 85/bbl. Harga solar ini setara dengan $ 14/mmbtu. Harga gas domestik dari PGN saja mungkin sekitar $ 6/mmbtu. Dari perhitungan sederhana ini dapat dilihat bahwa harga gas hanya 40 % dari harga minyak solar. Pertanyaannya, kenapa PLN tidak mau beli? Berdasarkan pengalaman, PLN hanya mau beli gas yang harganya lebih murah lagi dan PLN tidak pernah memperhitungkan betapa banyak kerugiannya kalau keputusan membeli gas ini di tunda-tunda. Itulah kenapa kalau deal dengan PLN, untuk menuntaskan Gas Sales Agreement (GSA), bisa makan waktu bertahun-tahun, tanpa hasil. Kasihan BP Migas dan juga teman-teman di KPS yang mati-matian membantu agar gas-gas dari KPS dapat diupayakan dijual ke PLN. Kalau PLNJ mau berubah, maka langkah sederhananya adalah: 1. perbanyak jumlah staf (minimal 4 kali lipat dari jumlah staf sekarang) untuk pembelian gas dan bahan baku primer. 2. delegasikan pembelian gas-gas kepada daerah. Mudah-mudahan PLN kita ini bisa berubah dibawah nakhoda pak Dahlan Iskan. Mari kita doakan agar beliau berhasil. Wassallam, Joefrizal --- On Mon, 1/18/10, Sholeh Mr <[email protected]> wrote: From: Sholeh Mr <[email protected]> Subject: [indonesia] Bls: Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" To: [email protected] Date: Monday, January 18, 2010, 9:01 PM Menurut saya, ide nya Dirut PLN tentang Gas, belum menunjukkan gebrakan yang radikal. Urusan gas - itu kan problem lama,. pengaturan gas melalui undang-undang gas,.. harus terus disesuaikan dengan kebutuhan energi di Indonesia,.. revisi lageeeeeee.. Ada comment : Buyer gas nanti tidak percaya lagi dengan pemerintah Indonesia ? Terserah pemerintah, mana yang mau dipilih,.. revisi undang-undang gas atau rakyat Indonesia ribut terus untuk urursan energy,.. He-he-he Salam,... BUNUH KORUPTOR,. ________________________________ Dari: S Rahardjo <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sel, 19 Januari, 2010 09:01:22 Judul: [indonesia] Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" Artikel menarik dari Dahlan Iskan yg saat ini sudah menjadi Dirut PLN dari milist tetangga. SR http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828 <http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828> http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940 <http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940> [ Selasa, 17 November 2009 ] Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (1) Cari Payung yang Berhemat Rp 10 Triliun Per Tahun DIREKTUR utama PLN harus melakukan ini. Terutama kalau semua orang menghendaki kelistrikan Indonesia bisa baik. Tapi, semua direktur utama PLN, baik yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang tidak akan bisa melakukan ini. Bayangkan. PLN memiliki banyak sekali pembangkit listrik raksasa yang mestinya dijalankan dengan gas, kini harus diberi makan solar. PLTG "salah makan" ini meliputi sekitar 5.000 MW! Yang 740 MW dua buah ada di dekat Jakarta. Yang 1.000 MW ada di Gresik. Yang 750 MW ada di Pasuruan. Dan di beberapa tempat lagi di Jawa ini. PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) itu tentu didesain untuk diberi "makan" gas. Namun, PLN tidak bisa mendapatkan gas. Bukankah negeri ini punya banyak gas? Juga dikenal sebagai pengekspor gas? Ya. Itu benar. Tapi, untuk PLN terlalu banyak persoalannya. Kalau saya uraikan di sini bisa menghabiskan seluruh halaman surat kabar ini. Yang jelas, akibat tidak bisa mendapatkan gas, PLTG-PLTG tersebut diberi makan solar. Memang desain mesinnya memungkinkan untuk itu, meski kapasitasnya berkurang sampai 15 persen. Maka PLTG itu sudah sepantasnya kini disebut PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Solar). PLTG "salah makan" inilah salah satu penyebab utama kesulitan PLN dan sekaligus kesulitan menteri keuangan. PLTG "salah makan" inilah yang menjadi salah satu penyebab direksi PLN beserta seluruh staf dan karyawannya telah menjadi bangsa pengemis. Tiap bulan PLN harus mengemis ke menteri keuangan untuk bisa mendapatkan subsidi. Pada 2008 saja, subsidi itu mencapai Rp 60 triliun setahun. Baca: Rp 60.000.000.000.000. Mengapa? Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas, biaya produksi listriknya bisa lebih murah. Tinggal hampir separonya. Harga gas kini sekitar USD 7 dolar/ton ekuivalen. Padahal, harga solar USD 16 dolar/ton ekuivalen. Solar itulah "makanan" PLTG yang harganya lebih mahal, tapi rasanya lebih pahit. Kapasitas PLTG-nya turun 15 persen. Dengan menggunakan solar itu, asapnya begitu hitam. Kalau saja Anda melewati tol dari Bandara Cengkareng ke arah Tanjung Priok (Jakarta), menengoklah ke utara. Anda akan melihat di arah pantai dekat Ancol sana banyak cerobong yang mengeluarkan asap hitam. Itulah bukti nyata kasus PLTG "salah makan". Cerobong yang mengeluarkan asap hitam itu pertanda PLTG tersebut lagi diberi makanan yang salah dan karena itu kentutnya yang mestinya tidak kelihatan menjadi jelas berwarna hitam. Kalau saja 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut diberi makanan yang benar, PLN akan menghemat sedikitnya Rp 10 triliun. Itu per tahun! Pasti menteri keuangan yang cantik itu akan kelihatan semakin cantik karena mulai bisa tersenyum. Sang menteri barangkali selama ini kesal juga karena setiap bulan harus melayani pengemis subsidi dengan nilai yang begitu menggemaskan. Ada lagi yang lebih menggemaskan. Sebagai orang swasta yang kalau melakukan investasi menggunakan 10 kalkulator (agar bisa berhemat), saya sangat gemas akan keputusan investasi seperti itu di masa lalu. Untuk investasi 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut, menurut perkiraan saya, telah menghabiskan uang sekitar Rp 100 triliun. Mayoritas dilakukan waktu Orde Baru. Anehnya, masih juga diizinkan pembangunan PLTG baru 740 MW di dekat Jakarta. PLTG ini memang milik swasta. Tidak memberatkan keuangan PLN. Tapi, ketika mulai membangun dulu, si swasta minta jaminan pemerintah bahwa pemerintah pasti bisa memberikan gas kepadanya. PLTG baru itu akhirnya selesai dibangun. Masih gres. Baru sekitar dua bulan lalu selesai dan mulai beroperasi. PLTG ini memerlukan gas kira-kira 230 MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). Seperti sudah bisa diduga, pemerintah tidak bisa menyediakan gas dari sumber yang baru untuk memenuhi janjinya itu. Akibatnya, sangat parah. Baik secara fisik maupun secara akal sehat. Pemerintah dengan mudah memutuskan mengalihkan gas yang selama ini untuk jatah PLTG milik PLN ke PLTG baru milik swasta itu. Agar janjinya kepada swasta asing terpenuhi. Saya tidak sampai hati menuliskan akibat fisik yang ditimbulkan oleh kebijaksanaan ini. Lalu, bagaimana bisa mengatasi persoalan PLTG "salah makan" ini? Mengapa membangun PLTG kalau sudah tahu tidak akan bisa mendapatkan gas? Mengapa membangun PLTG kalau setelah dijalankan mengakibatkan PLN/negara harus menderita kerugian Rp 10 triliun/tahun? Dirut PLN harus mengubah itu semua. Tapi, Dirut PLN, yang sekarang maupun yang akan datang, tidak akan mampu mengubahnya. Kecuali diberi payung hukum untuk boleh mengatasinya. Inilah payung yang sekali diberikan bisa menghasilkan penghematan Rp 10 triliun per tahun. Payung, begitu sederhana barangnya. Puluhan triliun rupiah manfaatnya. (bersambung) Rabu, 18 November 2009 ] Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (2-Habis) Pilihan Realistis atau Yang Radikal PERTANYAAN: Indonesia begitu kaya gas. Mengapa PLN sampai tidak bisa mendapatkan gas? Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5.000 MW, harus diberi "minum" solar yang dalam setahun menghabiskan uang PLN Rp 80 triliun? Urusan ini rumitnya bukan main. Memang yang berhak mengatur perdagangan gas adalah pemerintah. Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik. Tapi, saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu. Yang jelas, pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta. Asing maupun domestik. Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan harga terbaik. Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit. Maka, PLN harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain: pedagang luar negeri maupun pedagang dalam negeri, seperti Perusahaan Gas Negara (PGN). Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini: pembeli harus mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur, berapa pun jumlahnya. Di sini PLN ditakdirkan kurang bisa fleksibel. Sebuah pembangkit listrik tentu sudah didesain memerlukan gas sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari kebutuhan itu dan kadang sedikit kelebihan. Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan, katakanlah 15 persen, dari kebutuhan sebuah pembangkit listrik, dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, tidak dibeli semua pemilik sumur gas rugi. Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang sangat khusus antara PLN dan PGN. Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya kelebihan, kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN. Sebaliknya, kalau produksi sebuah sumur gas kurang dari jumlah yang diinginkan PLN, PGN yang harus menambahnya. Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada. Egoisme setiap perusahaan masih sangat menonjol. Padahal, dua-duanya milik pemerintah. Memang itu saja belum cukup. PGN juga sebuah perusahaan yang harus berlaba. Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik. PGN sendiri kekurangan gas untuk melayani pelanggannya. Baik pelanggan rumahan dan terutama pelanggan industri. Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN sebagai sama-sama pembeli gas dari ladang migas. Persaingan ini yang sampai sekarang belum mendapatkan jalan keluar. Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu jangan cepat-cepat rukun. Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap tahun mengeruk uang PLN sampai Rp 80 triliun akan kehilangan bisnis yang mengilap dari pedagangan solar. Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang pintar kan PLN dan pemerintah sendiri. Tentu ide yang paling realistis adalah membangun LNG-gasifikasi terminal. PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN diminta membangun terminal LNG-gasifikasi. PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk kepentingan PLN. Bisa dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng) bisa juga dari Qatar atau Iran. Atau dari tempat lainnya. LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal LNG-gasifikasi. Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon. Bahkan, sudah pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung di lepas pantai Jakarta. Agar dekat dengan "PLTG salah makan" yang sekarang membuat masalah itu. Saya tidak melihat jalan lain. Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja sama yang baik dengan PGN atau membangun terminal LNG-gasifikasi. Yang pertama harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus difasilitasi pemerintah. Memang masih ada jalan lain. Tapi, terlalu radikal. Lelang saja PLTG-PLTG itu! Daripada bikin penyakit yang mengisap darah keuangan pemerintah. Hasil lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang direkondisi seperti baru. Jalan "gila" itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya Rp 10 triliun/setahun. Baca: 10.000.000.000.000/setahun. Kalau saja di swasta dan saya yang menjadi pemiliknya, saya akan lakukan yang terakhir ini. Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah. Tapi, dua seri tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa PLN mengalami kesulitan selama ini. Dan mengapa sulit pula dipecahkan. (*) -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt ________________________________ Akses email lebih cepat. <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis) <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> Scanned by IronPort Email Security Gateway DISCLAIMER: This Message is confidential; it contents does not constitute a commitment by PT. INDONESIA POWER, except where provided for in a written agreement between you and PT. INDONESIA POWER. Any unauthorized disclosure, use or dissemination of the content, either whole or partial, is strictly prohibited. If you are not the intended recipient of the message or you have received this electronic transmission in error, please notify or contact the sender immediately. PT.INDONESIA POWER is subsidiary of PT. PLN PERSERO which operates in power generating business. Through its 130 power plants, with a total capacity of 8,872 MW, PT.INDONESIA POWER has contributed significantly to the Java Bali interconnection system electricity supply. PT.INDONESIA POWER operates through its eight generating Business Unit (GBU) : Suralaya, Priok, Saguling, Kamojang, Mrica, Semarang, Perak Grati, Bali and one maintenance Services business unit (MSBU). Scanned by IronPort Email Security Gateway -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com
