apakah ITB dan IA ITB sedang kesulitan menolong nasib PLN Java-Bali System/s? 
salam

http://ap2i.blogspot.com/

--- On Sun, 1/24/10, Lili Tjarli <[email protected]> wrote:

From: Lili Tjarli <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Bls:   Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang  
"Salah Makan"
To: [email protected], [email protected]
Date: Sunday, January 24, 2010, 4:00 AM

kasihan PLN disalahin terus oleh orang tak tahu diri yang hanya tau menikmati 
listrik tapi tidak mau membantu sama sekali

________________________________

From: [email protected] on behalf of joefrizal joefrizal
Sent: Sel 19/01/2010 10:46
To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Bls: Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang 
"Salah Makan"


Kalau boleh urug rembug, sebenarnya ide pak Dahlan Iskan itu adalah ide yang 
sederhana dan tepat sasaran. Ide ini tidak pernah terealisir, karena beberapa 
hal;
1. PLN ogah-ogahan untuk membeli gas. Mungkin karena tim negosiasi PLN yang 
kurang jeli dan tidak punya jiwa bisnis dalam negosiasi gas.
2. Dahulu ada isu bahwa ada mafia solar sehingga perubahan ke gas itu selalu 
terhambat (benar atau tidaknya Tuhan yang maha tahu) 
 
Pada harga minyak $ 70/Bbl, maka harga solar mungkin kira kira $ 85/bbl. Harga 
solar ini setara dengan $ 14/mmbtu. Harga gas domestik dari PGN saja mungkin 
sekitar $ 6/mmbtu. 
 
Dari perhitungan sederhana ini dapat dilihat bahwa harga gas hanya 40 % dari 
harga minyak solar. 
 
Pertanyaannya, kenapa PLN tidak mau beli? 
 
Berdasarkan pengalaman, PLN hanya mau beli gas yang harganya lebih murah lagi 
dan PLN tidak pernah memperhitungkan betapa banyak kerugiannya kalau keputusan 
membeli gas ini di tunda-tunda. Itulah kenapa kalau deal dengan PLN, untuk 
menuntaskan Gas Sales Agreement (GSA), bisa makan waktu bertahun-tahun, tanpa 
hasil.
 
Kasihan BP Migas dan juga teman-teman di KPS yang mati-matian membantu agar 
gas-gas dari KPS dapat diupayakan dijual ke PLN.
 
Kalau  PLNJ mau berubah, maka langkah sederhananya adalah:
1. perbanyak jumlah staf (minimal 4 kali lipat dari jumlah staf sekarang) untuk 
pembelian gas dan bahan baku primer.
2. delegasikan pembelian gas-gas kepada daerah.
 
Mudah-mudahan PLN kita ini bisa berubah dibawah nakhoda pak Dahlan Iskan. Mari 
kita doakan agar beliau berhasil.
 
 
Wassallam,
 
 
Joefrizal

--- On Mon, 1/18/10, Sholeh Mr <[email protected]> wrote:



    From: Sholeh Mr <[email protected]>
    Subject: [indonesia] Bls: Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang 
"Salah Makan"
    To: [email protected]
    Date: Monday, January 18, 2010, 9:01 PM
    
    

    Menurut saya, ide nya Dirut PLN  tentang Gas, belum menunjukkan gebrakan 
yang radikal.
    
    Urusan gas - itu kan problem lama,. pengaturan gas  melalui  undang-undang 
gas,.. harus terus disesuaikan dengan kebutuhan energi di Indonesia,.. revisi 
lageeeeeee..
    
    Ada comment : Buyer gas nanti tidak percaya lagi dengan pemerintah 
Indonesia ?
    
    Terserah pemerintah, mana yang mau dipilih,.. revisi undang-undang gas 
atau  rakyat Indonesia ribut terus untuk urursan energy,..
    
    He-he-he
    
    Salam,...
    
    BUNUH KORUPTOR,.
    
    
    
    
    

    
________________________________

    Dari: S Rahardjo <[email protected]>
    Kepada: [email protected]
    Terkirim: Sel, 19 Januari, 2010 09:01:22
    Judul: [indonesia] Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah 
Makan"
    
    
    Artikel menarik dari Dahlan Iskan yg saat ini sudah menjadi Dirut PLN dari
    milist tetangga. SR
    
    http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828
    <http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100828> 
    http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940
    <http://www1.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=100940> 
    
    
    [ Selasa, 17 November 2009 ] 
    Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (1) 
    Cari Payung yang Berhemat Rp 10 Triliun Per Tahun
    
    DIREKTUR utama PLN harus melakukan ini. 
    Terutama kalau semua orang menghendaki kelistrikan Indonesia 
    bisa baik.
    Tapi, semua direktur utama PLN, baik yang lalu, yang sekarang, 
    maupun yang akan datang tidak akan bisa melakukan ini.
    
    Bayangkan. 
    PLN memiliki banyak sekali pembangkit listrik raksasa yang 
    mestinya dijalankan dengan gas, kini harus diberi makan solar. 
    PLTG "salah makan" ini meliputi sekitar 5.000 MW! 
    Yang 740 MW dua buah ada di dekat Jakarta. 
    Yang 1.000 MW ada di Gresik. 
    Yang 750 MW ada di Pasuruan. 
    Dan di beberapa tempat lagi di Jawa ini.
    
    PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) itu tentu didesain untuk
    diberi "makan" gas. 
    Namun, PLN tidak bisa mendapatkan gas. 
    Bukankah negeri ini punya banyak gas? 
    Juga dikenal sebagai pengekspor gas? 
    Ya. Itu benar. 
    Tapi, untuk PLN terlalu banyak persoalannya. 
    Kalau saya uraikan di sini bisa menghabiskan seluruh halaman 
    surat kabar ini. 
    
    Yang jelas, akibat tidak bisa mendapatkan gas, 
    PLTG-PLTG tersebut diberi makan solar. 
    Memang desain mesinnya memungkinkan untuk itu, 
    meski kapasitasnya berkurang sampai 15 persen.
    Maka PLTG itu sudah sepantasnya kini disebut PLTS 
    (Pembangkit Listrik Tenaga Solar).
    
    PLTG "salah makan" inilah salah satu penyebab utama kesulitan 
    PLN dan sekaligus kesulitan menteri keuangan. 
    PLTG "salah makan" inilah yang menjadi salah satu penyebab 
    direksi PLN beserta seluruh staf dan karyawannya telah menjadi 
    bangsa pengemis. 
    Tiap bulan PLN harus mengemis ke menteri keuangan untuk bisa 
    mendapatkan subsidi.
    Pada 2008 saja, subsidi itu mencapai Rp 60 triliun setahun. 
    Baca: Rp 60.000.000.000.000. 
    
    Mengapa?
    
    Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas, biaya produksi listriknya 
    bisa lebih murah. 
    Tinggal hampir separonya. 
    Harga gas kini sekitar USD 7 dolar/ton ekuivalen. 
    Padahal, harga solar USD 16 dolar/ton ekuivalen. 
    
    Solar itulah "makanan" PLTG yang harganya lebih mahal, 
    tapi rasanya lebih pahit. 
    Kapasitas PLTG-nya turun 15 persen. 
    Dengan menggunakan solar itu, asapnya begitu hitam. 
    Kalau saja Anda melewati tol dari Bandara Cengkareng ke arah 
    Tanjung Priok (Jakarta), menengoklah ke utara. 
    Anda akan melihat di arah pantai dekat Ancol sana banyak 
    cerobong yang mengeluarkan asap hitam. 
    Itulah bukti nyata kasus PLTG "salah makan". 
    Cerobong yang mengeluarkan asap hitam itu pertanda PLTG 
    tersebut lagi diberi makanan yang salah dan karena itu kentutnya 
    yang mestinya tidak kelihatan menjadi jelas berwarna hitam.
    
    Kalau saja 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut diberi makanan 
    yang benar, PLN akan menghemat sedikitnya Rp 10 triliun. 
    Itu per tahun! 
    Pasti menteri keuangan yang cantik itu akan kelihatan semakin 
    cantik karena mulai bisa tersenyum. 
    Sang menteri barangkali selama ini kesal juga karena setiap bulan 
    harus melayani pengemis subsidi dengan nilai yang begitu 
    menggemaskan.
    
    Ada lagi yang lebih menggemaskan. 
    Sebagai orang swasta yang kalau melakukan investasi 
    menggunakan 10 kalkulator (agar bisa berhemat), 
    saya sangat gemas akan keputusan investasi seperti itu di 
    masa lalu. 
    Untuk investasi 5.000 MW PLTG "salah makan" tersebut, 
    menurut perkiraan saya, telah menghabiskan uang sekitar 
    Rp 100 triliun. 
    Mayoritas dilakukan waktu Orde Baru.
    
    Anehnya, masih juga diizinkan pembangunan PLTG baru 
    740 MW di dekat Jakarta. 
    PLTG ini memang milik swasta. 
    Tidak memberatkan keuangan PLN. 
    Tapi, ketika mulai membangun dulu, si swasta minta jaminan 
    pemerintah bahwa pemerintah pasti bisa memberikan gas 
    kepadanya.
    
    PLTG baru itu akhirnya selesai dibangun. 
    Masih gres. 
    Baru sekitar dua bulan lalu selesai dan mulai beroperasi. 
    PLTG ini memerlukan gas kira-kira 230 MMBTU 
    (Million Metric British Thermal Unit). 
    Seperti sudah bisa diduga, pemerintah tidak bisa menyediakan gas 
    dari sumber yang baru untuk memenuhi janjinya itu.
    
    Akibatnya, sangat parah. 
    Baik secara fisik maupun secara akal sehat. 
    Pemerintah dengan mudah memutuskan mengalihkan gas yang 
    selama ini untuk jatah PLTG milik PLN ke PLTG baru milik 
    swasta itu. 
    Agar janjinya kepada swasta asing terpenuhi. 
    Saya tidak sampai hati menuliskan akibat fisik yang ditimbulkan 
    oleh kebijaksanaan ini. 
    
    Lalu, bagaimana bisa mengatasi persoalan PLTG 
    "salah makan" ini? 
    Mengapa membangun PLTG kalau sudah tahu tidak akan bisa 
    mendapatkan gas? 
    Mengapa membangun PLTG kalau setelah dijalankan 
    mengakibatkan PLN/negara harus menderita kerugian 
    Rp 10 triliun/tahun?
    
    Dirut PLN harus mengubah itu semua. 
    Tapi, Dirut PLN, yang sekarang maupun yang akan datang,
    tidak akan mampu mengubahnya. 
    Kecuali diberi payung hukum untuk boleh mengatasinya. 
    Inilah payung yang sekali diberikan bisa menghasilkan 
    penghematan Rp 10 triliun per tahun.
    
    Payung, begitu sederhana barangnya. 
    Puluhan triliun rupiah manfaatnya. (bersambung) 
    
    Rabu, 18 November 2009 ] 
    Dahlan Iskan: Dampak Pembangkit Listrik yang "Salah Makan" (2-Habis) 
    Pilihan Realistis atau Yang Radikal 
    
    PERTANYAAN: Indonesia begitu kaya gas. 
    Mengapa PLN sampai tidak bisa mendapatkan gas? 
    Sehingga sebagian pembangkitnya, sekitar 5.000 MW, 
    harus diberi "minum" solar yang dalam setahun menghabiskan 
    uang PLN Rp 80 triliun?
    
    Urusan ini rumitnya bukan main. 
    Memang yang berhak mengatur perdagangan gas 
    adalah pemerintah. 
    Mestinya pemerintah bisa mengaturnya lebih baik. 
    Tapi, saya masih belum tahu siapa yang disebut pemerintah itu. 
    Yang jelas, pemilik-pemilik ladang gas adalah perusahaan swasta. 
    Asing maupun domestik.
    
    Para pemilik ladang gas tentu ingin menjual gasnya dengan 
    harga terbaik. 
    Sebab, investasi untuk menemukan ladang gas tidak sedikit. 
    Maka, PLN harus bersaing dengan pembeli-pembeli lain: 
    pedagang luar negeri maupun pedagang dalam negeri, 
    seperti Perusahaan Gas Negara (PGN).
    
    Keinginan lain para pemilik ladang gas adalah ini: 
    pembeli harus mengambil semua gas yang dihasilkan suatu sumur, 
    berapa pun jumlahnya. 
    Di sini PLN ditakdirkan kurang bisa fleksibel. 
    Sebuah pembangkit listrik tentu sudah didesain memerlukan gas 
    sekian MMBTU (Million Metric British Thermal Unit). 
    Sedangkan produksi sebuah sumur gas kadang kurang dari 
    kebutuhan itu dan kadang sedikit kelebihan.
    
    Dalam hal produksi sebuah sumur gas kelebihan, 
    katakanlah 15 persen, dari kebutuhan sebuah pembangkit listrik, 
    dilema muncul: dibeli semua PLN rugi, tidak dibeli semua pemilik 
    sumur gas rugi. 
    
    Maka, mestinya, tidak ada jalan lain kecuali ada kerja sama yang 
    sangat khusus antara PLN dan PGN. 
    Kalau PLN mendapatkan sumur gas yang produksinya kelebihan, 
    kelebihan itu bisa disalurkan ke PGN. 
    Sebaliknya, kalau produksi sebuah sumur gas kurang dari jumlah 
    yang diinginkan PLN, PGN yang harus menambahnya. 
    
    Sampai sekarang kerja sama seperti itu rasanya belum ada. 
    Egoisme setiap perusahaan masih sangat menonjol. 
    Padahal, dua-duanya milik pemerintah. 
    
    Memang itu saja belum cukup. 
    PGN juga sebuah perusahaan yang harus berlaba. 
    Apalagi, sekarang sudah menjadi perusahaan publik. 
    PGN sendiri kekurangan gas untuk melayani pelanggannya. 
    Baik pelanggan rumahan dan terutama pelanggan industri. 
    Maka, terjadilah persaingan ketat antara PLN dan PGN sebagai
    sama-sama pembeli gas dari ladang migas. 
    Persaingan ini yang sampai sekarang belum mendapatkan 
    jalan keluar.
    
    Tentu ada yang berdoa agar kedua perusahaan itu 
    jangan cepat-cepat rukun. 
    Para pedagang solar (di dalam maupun di luar negeri) yang setiap 
    tahun mengeruk uang PLN sampai Rp 80 triliun akan kehilangan 
    bisnis yang mengilap dari pedagangan solar. 
    Bahwa itu membuat PLN dan pemerintah sulit, yang kurang pintar 
    kan PLN dan pemerintah sendiri.
    
    Tentu ide yang paling realistis adalah membangun 
    LNG-gasifikasi terminal. 
    PLN atau investor yang bekerja sama dengan PLN diminta 
    membangun terminal LNG-gasifikasi. 
    PLN atau investor bisa membeli LNG (Liquefied Natural Gas atau
    gas alam cair) dari mana saja dalam jumlah yang pas untuk 
    kepentingan PLN. 
    Bisa dari Tangguh di Papua, bisa dari Senoro di Luwuk (Sulteng) 
    bisa juga dari Qatar atau Iran.
    Atau dari tempat lainnya. 
    
    LNG itulah yang kemudian diubah menjadi gas di sebuah terminal 
    LNG-gasifikasi. 
    Terminal ini bisa dibangun di sekitar Cilegon. 
    Bahkan, sudah pula ada teknolgi baru: terminalnya dibuat terapung 
    di lepas pantai Jakarta. 
    Agar dekat dengan "PLTG salah makan" yang sekarang membuat 
    masalah itu. 
    
    Saya tidak melihat jalan lain.
    Hanya dua itulah jalan keluarnya: kerja sama yang baik dengan 
    PGN atau membangun terminal LNG-gasifikasi. 
    Yang pertama harus difasilitasi pemerintah dan yang kedua harus 
    difasilitasi pemerintah. 
    
    Memang masih ada jalan lain. 
    Tapi, terlalu radikal. 
    Lelang saja PLTG-PLTG itu! 
    Daripada bikin penyakit yang mengisap darah 
    keuangan pemerintah. 
    Hasil lelang barang bekas itu untuk dibelikan PLTU bekas yang 
    direkondisi seperti baru. 
    
    Jalan "gila" itu bisa menyelamatkan uang negara setidak-tidaknya 
    Rp 10 triliun/setahun. 
    Baca: 10.000.000.000.000/setahun. 
    Kalau saja di swasta dan saya yang menjadi pemiliknya, saya akan 
    lakukan yang terakhir ini. 
    
    Masih ada penghematan lain yang juga triliunan rupiah. 
    Tapi, dua seri tulisan ini saja sudah bisa menggambarkan mengapa 
    PLN mengalami kesulitan selama ini. 
    Dan mengapa sulit pula dipecahkan. (*)
    
    
    
    
    
    
    
    
    -- 
    Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
    kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan 
akhirat.
    
    Info pengelolaan milis Indonesia next better :
    http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
    

________________________________

    Akses email lebih cepat. 
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>
 
    Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru 
yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis) 
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>
 


Scanned by IronPort Email Security Gateway


DISCLAIMER:
This Message is confidential; it contents does not constitute a commitment by 
PT. INDONESIA POWER, except where provided for in a written agreement between 
you and PT. INDONESIA POWER. Any unauthorized disclosure, use or dissemination 
of the content, either whole or partial, is strictly prohibited. If you are not 
the intended recipient of the message or you have received this electronic 
transmission in error, please notify or contact the sender immediately.

PT.INDONESIA POWER is subsidiary of PT. PLN PERSERO which operates in power 
generating business. Through its 130 power plants, with a total capacity of 
8,872 MW, PT.INDONESIA POWER has contributed significantly to the Java Bali 
interconnection system electricity supply. PT.INDONESIA POWER operates through 
its eight generating Business Unit (GBU) : Suralaya, Priok, Saguling, Kamojang, 
Mrica, Semarang, Perak Grati, Bali and one maintenance Services business unit 
(MSBU).
Scanned by IronPort Email Security Gateway


--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt



      

Kirim email ke