Saatnya Rektor Menegor Profesor
Oleh Cardiyan HIS
Menteri Pendidikan Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu mudah
memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh kemudahan itu tak diimbangi
oleh karya penelitian yang berkualitas yang tercermin tulisannya dimuat di
jurnal ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh gerah ternyata ia menemukan
fakta setidaknya ada dua Rektor universitas terkenal di Jawa Barat dan Jawa
Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah
internasional.
Karena kemudahan menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini ada
istilah “Profesor Masturbasi”. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar
keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan
sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis
sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di-review
oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga sendiri), lalu
untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat istilah tersebut
karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan cenderung sembunyi-sembunyi
(http://jawapos. co.id/halaman/ index.php? act=detail&nid=116798).
Memang betul ada etika yang berlaku universal pada universitas-universitas
kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak boleh” dinilai oleh kolega
yang mantan profesor pembimbing dan atau co-promotor disertasinya; kolega yang
pernah satu tim dalam penelitian, kolega yang pernah menjadi co-author
penulisan di jurnal ilmiah. Peer Reviewer harus berasal dari dosen peneliti
universitas di luar negaranya, yang kemampuan menelitinya telah berkelas
internasional. Karya yang dinilai pun “tak boleh” hanya dimuat sebagai paper
di sebuah konferensi atau seminar internasional yang kemudian ramai-ramai
dijadikan “Proceedings”. Juga “tak boleh” hanya dimuat di jurnal nasional yang
tak memiliki akreditasi internasional.
Sejak jaman dahulu kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat meresap di
kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni “publish or perish” (“menulis dan
mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional kredibel atau mati”). Bagi
seorang dosen peneliti apalagi bila ia seorang profesor, bila tak ada satu pun
tulisannya dimuat di jurnal kelas dunia yang memiliki Impact Factor adalah
suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita nyata seorang doktor
lulusan Stanford University di Amerika Serikat (AS) mundur dari sebuah lembaga
penelitian terpandang dan beralih profesi menjadi supir taksi. Entah berapa
doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di AS yang beralih profesi sebagai
pelayan hotel, tukang cuci piring di restoran dan entah apa lagi. Sedangkan di
Indonesia, seorang profesor doktor tak mungkin nganggur hanya gara-gara tak
memiliki karya tulis di jurnal ilmiah internasional; gajinya yang diraih di era
SBY yang sudah naik jauh
menjadi Rp. 15 juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening banknya.
Bahkan boleh jadi kalau sang profesor pintar “cakap” masih laku pula menjadi
pengamat di media elektronik televisi; menjadi seorang selebritas yang genit.
Kalau pembaca tak punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang harga
langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus yang “lebih murah” Rp. 300
juta/tahun, sehingga untuk itu ITB misalnya, berturut-turut dikasih Dana Hibah
Inggris untuk berlangganan ISI Web of Science (3 tahun sebelumnya) dan Chevron
Texaco (2 tahun terakhir ini). Maka dengan kemajuan teknologi informatika yang
membuat hampir segala informasi begitu transparan, kita dengan mudah bisa
melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di dunia yang tak memiliki karya
penelitian yang dimuat di jurnal kredibel dunia seperti Nature, Science,
Lancet. Asal tahu namanya; “Oom GoogleScholar” akan dengan mudah searching
siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 (satu) Citation saja yakni tak
lebih dari disertasi yang ditulisnya. “Satu disertasi sampai mati”, ungkap
seorang kolega saya; ahli komunikasi senior sebuah universitas terkenal di
ibukota yang gagal meraih doktor
di Cornell University tetapi sering “berkilah dan membanggakan diri” (di
banyak kesempatan pertemuan) masih mendingan menulis banyak artikel dan
beberapa buku ketimbang satu disertasi doktor.
Di Indonesia, ITB meskipun yang bertahun-tahun merupakan barometer terbaik
dari jumlah Citation para dosen penelitinya dibanding UI, UGM, IPB dan LIPI
versi Scopus. Namun jumlah Citation ITB belum memberikan gambaran umum bagi
setiap dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula di Indonesia yakni
775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; mampu mempublikasikan karya penelitiannya
di jurnal internasional kredibel. Ternyata tidak sedikit pula kalangan PhD dan
atau profesor ITB yang masih hanya memiliki satu Citation saja yakni
disertasinya itu! Pemilik dua ratusan Citation terbanyak asal ITB masih “eta
keneh eta keneh” (itu saja itu saja) antara lain Widiyantoro S, Halim M, Noer
AS, Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas WW, Hakim EH, Wiramihardja SD,
Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo D, Linaya C, Suwono, Priadi, Cahyati,
Hidayat T, Akhmaloka (Rektor ITB), Wenten IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto A,
Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J,
Hasanuddin ZA, Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT,
Arismunandar, Dahono P.
Kriteria Harus Diubah
Kritikan Mendiknas M. Nuh meskipun sangat terlambat tetapi lebih baik dari pada
tidak sama sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan memperoleh
profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar hendaknya diletakkan pada
jumlah karya penelitian dosen yang berhasil dimuat di jurnal ilmiah
internasional kredibel, yang memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan memacu
para dosen peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk terus melakukan
penelitian berkualitas dan mampu mempublikasikannya di jurnal ilmiah
internasional. Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan dalam
mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak asal untuk melakukan
riset. Tetapi mengubahnya menjadi dana riset yang jumlahnya besar tetapi tetap
selektif untuk riset-riset dasar maupun riset terapan yang berkualitas.
Saatnya para Rektor pun menegor para profesor yang sampai sekarang hanya
memiliki satu Citation yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para doktor
yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” profesor dengan performa ini hendaknya
“tobat” yakni kembali kepada suasana kondusif untuk fokus melakukan kegiatan
meneliti dalam intensitas tinggi kemdian mempublikasikan karyanya di jurnal
ilmiah internasional kredibel.
Juga secara sistimatis dan berjangka panjang, kalangan perguruan tinggi
hendaknya menjadi lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya organisasi
profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai
kebenaran, juga menjadi penerbit jurnal-jurnal ilmiah profesi yang independen,
yang berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal profesi ini bisa menjadi
wahana bagi para peneliti Indonesia untuk menuliskan karya-karya penelitiannya.
Dengan demikian secara jangka panjang, Indonesia akan keluar dari predikat
negara dunia ketiga yang kehilangan generasi peneliti; generasi yang hanya bisa
mengkonsumsi teknologi impor tetapi tak mampu mengkreasi teknologi sendiri.
http://cardiyanhis.blogspot.com
Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/