PTN pula kalo ga UNPAD IPB atau UI atau STPDN 2010/2/17 yudi - <[email protected]>
> saha rektor nu di jabar tea yg tdk memiliki karya penelitian ? > > --- Pada *Sel, 16/2/10, Cardiyan HIS <[email protected]>* menulis: > > > Dari: Cardiyan HIS <[email protected]> > Judul: [indonesia] Saatnya Rektor Menegor Profesor > Kepada: [email protected] > Tanggal: Selasa, 16 Februari, 2010, 8:29 PM > > *Saatnya Rektor Menegor Profesor* > > *Oleh Cardiyan HIS*** > > > > Menteri Pendidikan Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu mudah > memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh kemudahan itu tak > diimbangi oleh karya penelitian yang berkualitas yang tercermin tulisannya > dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh gerah > ternyata ia menemukan fakta setidaknya ada dua Rektor universitas terkenal > di Jawa Barat dan Jawa Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat > di jurnal ilmiah internasional. > > Karena kemudahan menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini ada > istilah *“Profesor Masturbasi”*. Yakni, seseorang yang mendapatkan gelar > keprofesorannya melalui karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan > sendiri (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga lain), ditulis > sendiri (tidak di-*review* oleh ahli sebidang dari negara lain, tetapi di- > *review* oleh teman sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga > sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. Cerdas juga yang membuat > istilah tersebut karena masturbasi memang dilakukan sendiri, bahkan > cenderung sembunyi-sembunyi (http://jawapos. co.id/halaman/ index.php? > act=detail&nid=116798<http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=116798> > ). > > Memang betul ada etika yang berlaku universal pada universitas-universitas > kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak boleh” dinilai oleh > kolega yang mantan profesor pembimbing dan atau *co-promotor *disertasinya; > kolega yang pernah satu tim dalam penelitian, kolega yang pernah menjadi > *co-author > *penulisan di jurnal ilmiah. *Peer Reviewer* harus berasal dari dosen > peneliti universitas di luar negaranya, yang kemampuan menelitinya telah > berkelas internasional. Karya yang dinilai pun “tak boleh” hanya dimuat > sebagai paper di sebuah konferensi atau seminar internasional yang kemudian > ramai-ramai dijadikan *“Proceedings”.* Juga “tak boleh” hanya dimuat di > jurnal nasional yang tak memiliki akreditasi internasional. > > Sejak jaman dahulu kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat meresap > di kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni *“publish or perish” > *(“menulis > dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional kredibel atau mati”). > Bagi seorang dosen peneliti apalagi bila ia seorang profesor, bila tak ada > satu pun tulisannya dimuat di jurnal kelas dunia yang memiliki *Impact > Factor *adalah suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita > nyata seorang doktor lulusan Stanford University di Amerika Serikat (AS) > mundur dari sebuah lembaga penelitian terpandang dan beralih profesi menjadi > supir taksi. Entah berapa doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di AS > yang beralih profesi sebagai pelayan hotel, tukang cuci piring di restoran > dan entah apa lagi. Sedangkan di Indonesia, seorang profesor doktor tak > mungkin nganggur hanya gara-gara tak memiliki karya tulis di jurnal ilmiah > internasional; gajinya yang diraih di era SBY yang sudah naik jauh menjadi > Rp. 15 juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening banknya. Bahkan > boleh jadi kalau sang profesor pintar “cakap” masih laku pula menjadi > pengamat di media elektronik televisi; menjadi seorang selebritas yang > genit. > > Kalau pembaca tak punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang harga > langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus yang “lebih murah” Rp. > 300 juta/tahun, sehingga untuk itu ITB misalnya, berturut-turut dikasih Dana > Hibah Inggris untuk berlangganan ISI Web of Science (3 tahun sebelumnya) > dan Chevron Texaco (2 tahun terakhir ini). Maka dengan kemajuan teknologi > informatika yang membuat hampir segala informasi begitu transparan, kita > dengan mudah bisa melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di dunia > yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal kredibel dunia > seperti Nature, Science, Lancet. Asal tahu namanya; “Oom GoogleScholar” akan > dengan mudah *searching* siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 > (satu) Citation saja yakni tak lebih dari disertasi yang ditulisnya. “Satu > disertasi sampai mati”, ungkap seorang kolega saya; ahli komunikasi > senior sebuah universitas terkenal di ibukota yang gagal meraih doktor di > Cornell University tetapi sering “berkilah dan membanggakan diri” (di banyak > kesempatan pertemuan) masih mendingan menulis banyak artikel dan beberapa > buku ketimbang satu disertasi doktor. > > Di Indonesia, ITB meskipun yang bertahun-tahun merupakan barometer > terbaik dari jumlah Citation para dosen penelitinya dibanding UI, UGM, IPB > dan LIPI versi Scopus. Namun jumlah Citation ITB belum memberikan gambaran > umum bagi setiap dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula di > Indonesia yakni 775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; mampu mempublikasikan > karya penelitiannya di jurnal internasional kredibel. Ternyata tidak sedikit > pula kalangan PhD dan atau profesor ITB yang masih hanya memiliki satu > Citation saja yakni disertasinya itu! Pemilik dua ratusan Citation terbanyak > asal ITB masih *“eta keneh eta keneh” *(itu saja itu saja) antara lain > Widiyantoro S, Halim M, Noer AS, Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas > WW, Hakim EH, Wiramihardja SD, Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo D, Linaya > C, Suwono, Priadi, Cahyati, Hidayat T, *Akhmaloka (Rektor ITB)*, Wenten > IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto A, Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J, > Hasanuddin ZA, Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, > Arismunandar, Dahono P. > > * * > > *Kriteria Harus Diubah* > > Kritikan Mendiknas M. Nuh meskipun sangat terlambat tetapi lebih baik dari > pada tidak sama sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan memperoleh > profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar hendaknya diletakkan pada > jumlah karya penelitian dosen yang berhasil dimuat di jurnal ilmiah > internasional kredibel, yang memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan > memacu para dosen peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk terus > melakukan penelitian berkualitas dan mampu mempublikasikannya di jurnal > ilmiah internasional. Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan > dalam mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak asal untuk > melakukan riset. Tetapi mengubahnya menjadi dana riset yang jumlahnya besar > tetapi tetap selektif untuk riset-riset dasar maupun riset terapan yang > berkualitas. > > Saatnya para Rektor pun menegor para profesor yang sampai sekarang hanya > memiliki satu Citation yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para > doktor yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” profesor dengan performa ini > hendaknya “tobat” yakni kembali kepada suasana kondusif untuk fokus > melakukan kegiatan meneliti dalam intensitas tinggi kemdian mempublikasikan > karyanya di jurnal ilmiah internasional kredibel. > > Juga secara sistimatis dan berjangka panjang, kalangan perguruan tinggi > hendaknya menjadi lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya organisasi > profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga > nilai-nilai kebenaran, juga menjadi penerbit jurnal-jurnal ilmiah profesi > yang independen, yang berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal > profesi ini bisa menjadi wahana bagi para peneliti Indonesia untuk > menuliskan karya-karya penelitiannya. Dengan demikian secara jangka panjang, > Indonesia akan keluar dari predikat negara dunia ketiga yang kehilangan > generasi peneliti; generasi yang hanya bisa mengkonsumsi teknologi impor > tetapi tak mampu mengkreasi teknologi sendiri. > > http://cardiyanhis.blogspot.com > > > > > > > > > > > > > > ------------------------------ > Lebih aman saat online. > Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih > cepat<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>yang > dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan > IE8 di > sini!<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> > > > ------------------------------ > Berselancar lebih cepat. > <http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> > Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 > halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di > sini! > (Gratis)<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/> > -- Best Regards Tsulusun Ar Royan Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it beautifies it. Whenever it is taken from something, it leaves it tarnished.
