Mas, Pak Nuh hanya publish di seminar internasional (itupun yang diadakan di Indonesia). Dia belum pernah publish di IEEE/IET Transactions
--- On Wed, 2/17/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote: > From: Cardiyan HIS <[email protected]> > Subject: [indonesia] Bls: Re: Bls: Saatnya Rektor Menegor Profesor > To: [email protected] > Date: Wednesday, February 17, 2010, 10:00 AM > Mas Pekik Dahono, > > Kalau Mendiknas dulu yang doktor Ekonomi itu tak punya > publikasi di jurnal ilmiah internasional. Kalau Pak M. Nuh > silakan cari sendiri he he he ..... > > Salam, > > Cardiyan HIS > > --- Pada Sel, 16/2/10, Pekik Dahono > <[email protected]> menulis: > > > Dari: Pekik Dahono <[email protected]> > Judul: [indonesia] Re: Bls: Saatnya Rektor Menegor > Profesor > Kepada: [email protected] > Tanggal: Selasa, 16 Februari, 2010, 6:57 PM > > > Teman-teman: > > Sebenarnya banyak sekali profesor yang tidak punya karya. > Orang elektro, yang member IEEE saja sangat sedikit. Orang > elektro, yang publish paper di IEEE/IET Transactions sangat > sedikit. Orang elektro yang suka seminar internasional > sangat sedikit. Kalaupun ada, banyak publikasi tersebut > dilakukan saat mereka masih sekolah di luar negeri. > Tetapi itu juga nggak 100% salahnya orang-orang perguruan > tinggi. > Beberapa alasannya: > 1) Sekali seminar paling tidak habis US$ 3000 > 2) Publish paper di IEEE Transactions bayar US$ > 110/halaman > 3) Membership IEEE/IET cukup mahal > Itu semua belum biaya penelitiannya yang jauh lebih mahal. > > Kalau saya masih melakukan itu semua sampai sekarang, itu > karena saya melakukan cross-subsidi. Proyek dipakai untuk > mendanai penelitian dan publikasi. Ini juga hasil kerjasama > dengan istri yang rela uang dapur dipakai untuk > penelitian. > Jadi untuk teman2, jangan > kaget kalau saya suka charge mahal untuk proyek-proyek > saya. Habis harus membiayai sektor lain. Kalau nungguin dana > penelitian dari pemerintah, sampai kapanpun nggak mungkin > bisa. > > Saya bertanya kepada diri sendiri, "Emang Pak Nuh > menteri kita masih publikasi?" > > salam > > > --- On Wed, 2/17/10, Tsulusun ArRoyan <[email protected]> > wrote: > > > From: Tsulusun ArRoyan <[email protected]> > > Subject: [indonesia] Re: Bls: Saatnya Rektor Menegor > Profesor > > To: [email protected] > > Date: Wednesday, February 17, 2010, 9:37 AM > > PTN pula > > > kalo ga UNPAD IPB atau UI atau STPDN > > > > 2010/2/17 yudi - <[email protected]> > > > > > > saha rektor nu di jabar tea yg tdk memiliki > > karya penelitian ? > > > > --- Pada Sel, 16/2/10, Cardiyan HIS <[email protected]> > > menulis: > > > > > > > > Dari: Cardiyan HIS <[email protected]> > > Judul: [indonesia] Saatnya Rektor Menegor Profesor > > > > > > Kepada: [email protected] > > Tanggal: Selasa, 16 Februari, 2010, 8:29 PM > > > > > > > > Saatnya Rektor > > Menegor Profesor > > Oleh Cardiyan > > HIS > > > > Menteri Pendidikan > > Nasional Prof.DR. M. Nuh gundah. Ternyata begitu > mudah > > memperoleh gelar profesor di Indonesia. Ia mengeluh > > kemudahan itu tak diimbangi oleh karya penelitian > yang > > berkualitas yang tercermin tulisannya dimuat di > jurnal > > ilmiah internasional kredibel. Bahkan M.Nuh > > gerah ternyata ia menemukan fakta setidaknya > > ada dua Rektor universitas terkenal di Jawa Barat dan > Jawa > > Timur yang tak memiliki karya penelitian yang dimuat > di > > jurnal ilmiah internasional. > > Karena kemudahan > > menjadi profesor di Indonesia, tak mengherankan kini > ada > > istilah “Profesor Masturbasi”. Yakni, > > > seseorang yang mendapatkan gelar keprofesorannya melalui > > karya yang dilakukan sendiri. Penelitian dilakukan > sendiri > > (biaya sendiri, tidak berkolaborasi dengan lembaga > lain), > > ditulis sendiri (tidak di-review oleh ahli sebidang > > dari negara lain, tetapi di-review oleh teman > > sendiri), dipublikasikan di jurnalnya (milik lembaga > > sendiri), lalu untuk naik pangkat/jabatan sendiri. > Cerdas > > juga yang membuat istilah tersebut karena masturbasi > memang > > dilakukan sendiri, bahkan > > cenderung sembunyi-sembunyi (http://jawapos. > co.id/halaman/ index.php? > > act=detail&nid=116798). > > Memang betul ada > > etika yang berlaku universal pada > universitas-universitas > > kelas dunia bahwa karya seorang dosen peneliti “tak > > boleh” dinilai oleh kolega yang mantan profesor > pembimbing > > dan atau co-promotor > disertasinya; > > kolega yang pernah satu tim dalam penelitian, kolega > yang > > pernah menjadi co-author penulisan di jurnal ilmiah. > > Peer Reviewer harus berasal dari dosen > > peneliti universitas di luar negaranya, yang > kemampuan > > menelitinya telah berkelas internasional. Karya yang > dinilai > > pun “tak boleh” hanya dimuat sebagai > > paper di sebuah konferensi atau seminar internasional > yang > > kemudian ramai-ramai dijadikan “Proceedings”. > > Juga “tak boleh” hanya dimuat > > di jurnal nasional yang tak memiliki akreditasi > > internasional. > > Sejak jaman dahulu > > kala memang sudah ada adagium yang sudah sangat > meresap di > > kalangan masyarakat kampus berkualitas yakni > > “publish or perish” (“menulis dan > > mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional > kredibel > > atau mati”). Bagi seorang dosen peneliti apalagi > bila > ia > > seorang profesor, bila tak ada satu pun tulisannya > dimuat di > > jurnal kelas dunia yang memiliki Impact Factor adalah > > suatu aib besar. Maka tak mengherankan bila ada berita > nyata > > seorang doktor lulusan Stanford University di Amerika > > Serikat (AS) mundur dari sebuah lembaga penelitian > > terpandang dan beralih profesi menjadi supir taksi. > Entah > > berapa > > doktor lagi lulusan universitas kelas dunia di > AS yang > > beralih profesi sebagai pelayan hotel, tukang cuci > piring di > > restoran dan entah apa lagi. Sedangkan di Indonesia, > seorang > > profesor doktor tak mungkin nganggur hanya gara-gara > tak > > memiliki karya tulis di jurnal ilmiah internasional; > gajinya > > yang diraih di era SBY yang sudah naik jauh menjadi > Rp. 15 > > juta/bulan pun akan aman-aman saja masuk rekening > banknya. > > Bahkan boleh jadi kalau sang > > profesor pintar > “cakap” > > masih laku pula menjadi > > pengamat di media elektronik televisi; menjadi > seorang > > selebritas yang genit. > > Kalau pembaca tak > > punya akses ke Web of Science: ISI Knowledge yang > harga > > langganannya Rp. 800 juta rupiah/tahun atau Scopus > yang > > “lebih murah” Rp. 300 juta/tahun, sehingga untuk > itu ITB > > misalnya, berturut-turut dikasih Dana Hibah Inggris > untuk > > berlangganan ISI Web of Science (3 tahun > > sebelumnya) dan Chevron Texaco (2 tahun terakhir ini). > Maka > > dengan kemajuan teknologi informatika yang membuat > hampir > > segala informasi begitu transparan, kita dengan mudah > bisa > > melihat siapa profesor doktor di Indonesia dan di > dunia yang > > tak memiliki karya penelitian yang dimuat di jurnal > kredibel > > dunia seperti Nature, Science, Lancet. Asal tahu > namanya; > > “Oom GoogleScholar” akan dengan mudah searching > > > siapa profesor doktor yang hanya memiliki 1 (satu) > Citation > > saja yakni tak lebih > > dari disertasi yang ditulisnya. “Satu > > disertasi sampai mati”, ungkap seorang kolega saya; > > ahli komunikasi senior sebuah universitas > > terkenal di ibukota yang gagal meraih doktor di > Cornell > > University tetapi sering “berkilah dan membanggakan > > diri” (di banyak kesempatan pertemuan) masih > mendingan > > menulis banyak artikel dan beberapa buku > > ketimbang satu disertasi doktor. > > Di Indonesia, ITB meskipun > > yang bertahun-tahun merupakan barometer > > terbaik dari jumlah Citation para dosen penelitinya > > dibanding UI, UGM, IPB dan LIPI versi Scopus. Namun > jumlah > > Citation ITB belum memberikan gambaran umum bagi > setiap > > dosen yang bergelar PhD yang jumlahnya terbanyak pula > di > > Indonesia yakni 775 PhD dari 1.025 seluruh dosennya; > mampu > > mempublikasikan karya penelitiannya di jurnal > internasional > > kredibel. Ternyata tidak sedikit pula kalangan PhD dan > atau > > profesor ITB yang masih hanya memiliki satu > > Citation saja yakni disertasinya itu! Pemilik dua > ratusan > > Citation terbanyak > > asal ITB masih “eta keneh eta keneh” (itu > saja > > itu saja) antara lain Widiyantoro S, Halim M, Noer > AS, > > Soenarko B, Soemarsono H, Hidayat R, Wenas WW, Hakim > EH, > > Wiramihardja SD, Ariando, Gusnidar T, Pancoro, Onggo > D, > > Linaya C, Suwono, Priadi, Cahyati, Hidayat T, > Akhmaloka > > (Rektor ITB), Wenten IG, Hadi S, Adisasanto, Wuryanto > A, > > Herdianita NR, Rusydi A, Widjaja J, Hasanuddin ZA, > > Retnoningrum, Baskoro ET, Sutjahja IM, Iskandar DT, > > Arismunandar, Dahono P. > > > > > > > > Kriteria Harus Diubah > > Kritikan Mendiknas M. Nuh > meskipun > > sangat terlambat tetapi lebih baik dari pada tidak > sama > > sekali. Oleh karena itu kriteria bagi persyaratan > memperoleh > > profesor di Indonesia harus diubah. Bobot terbesar > hendaknya > > diletakkan pada jumlah karya penelitian dosen yang > berhasil > > dimuat di jurnal ilmiah internasional kredibel, yang > > memiliki Impact Factor. Kebijakan ini akan memacu para > dosen > > peneliti yang bergelar PhD (Doktor) untuk > > terus melakukan penelitian berkualitas dan mampu > > mempublikasikannya di jurnal ilmiah internasional. > > Sebaliknya Mendiknas pun harus mengubah pandangan > dalam > > mengalokasikan dana riset bagi perguruan tinggi tidak > > asal untuk melakukan riset. Tetapi mengubahnya > menjadi > > dana riset yang jumlahnya besar tetapi tetap selektif > untuk > > riset-riset dasar maupun riset terapan yang > > berkualitas. > > Saatnya para Rektor pun menegor > para > > profesor yang sampai sekarang hanya memiliki satu > Citation > > yakni dari satu disertasinya saja. Bagi para > > doktor yang sudah terlanjur mendapat “pangkat” > profesor > > dengan performa ini hendaknya “tobat” yakni > kembali > > kepada suasana kondusif untuk fokus melakukan > kegiatan > > meneliti dalam intensitas tinggi kemdian > mempublikasikan > > karyanya di jurnal ilmiah internasional kredibel. > > > > > > Juga secara sistimatis dan berjangka > > panjang, kalangan perguruan tinggi hendaknya menjadi > > lokomotif penarik bagi tumbuh berkembangnya > organisasi > > profesi yang disamping mampu menjadi garda terdepan > dalam > > menjaga nilai-nilai kebenaran, juga menjadi penerbit > > jurnal-jurnal ilmiah profesi yang independen, yang > > berkualitas internasional. Sehingga jurnal-jurnal > profesi > > ini bisa menjadi wahana bagi para > peneliti Indonesia untuk > > menuliskan karya-karya penelitiannya. Dengan demikian > secara > > jangka panjang, Indonesia akan keluar dari predikat > negara > > dunia ketiga yang kehilangan generasi peneliti; > generasi > > yang hanya bisa mengkonsumsi teknologi impor tetapi > tak > > mampu mengkreasi teknologi > > sendiri. > > http://cardiyanhis.blogspot.com > > > > > > > > > > > > > > > > > > Lebih aman saat online. > > Upgrade > > ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang > > dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih > aman. > > Gratis. Dapatkan > > IE8 di sini! > > > > > > > > > > Berselancar lebih cepat. > > > > > > Internet Explorer 8 > yang dioptimalkan untuk Yahoo! > > otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali > Anda > > membuka browser.Dapatkan > > IE8 di sini! (Gratis) > > > > > > > > > > -- > > Best Regards > > Tsulusun Ar Royan > > Be kind, for whenever kindness becomes part of > something, > > it beautifies it. Whenever it is taken from something, > it > > leaves it tarnished. > > > > > > > > > > > > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > dunia dan akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > > Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih > Bersih. Rasakan bedanya > sekarang! -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
