Hati2 kita jangan sampai percaya kepada ramalan, yg jelas kenyataan abad akhir, 
yaitu tahun 2010 ini kita bisa melihat sendiri bagaimana dg martabat bangsa 
Indonesia sekarang ? Rakyat petani sudah tdk berdaya lagi, miskin akhirnya jadi 
TKI/TKW di luar negeri, disana disiksa, diperkosa dan masih banyak lagi....  
Dan bagaimana dengan rakyat lainnya ? Coba tanya mbah gugel ...kali bisa 
menjawab.. 


Salam,

Aziz

-----Original Message-----
From: S Roestam <[email protected]>
Date: Sat, 10 Apr 2010 17:50:12 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [indonesia] Abad Akhir Ramalan Jayabaya (2001-2100): Satriya Piningit 
dgn
 senjata sakti Trisula yg akan membuat Indonesia menjadi negeri yg aman,
 makmur, adil dan sejahtera

Kawan2 Anggota Milis Yth,

Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri yang terkenal sakti dan berilmu 
tinggi, konon beliau adalah titisan Betara Wishnu, sang Pencipta Kesejahteraan 
di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali. Beliau memerintah Kerajaan Kediri 
pada sekitar tahun 400-an Masehi. Beliau mampu meramalkan berbagai kejadian 
yang akan datang yang ditulis oleh beliau dalam bentuk tembang-tembang Jawa 
yang terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 
pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Musarar.

Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 
tahun, yaitu Zaman Permulaan (Kali-swara), Zaman Pertengahan (Kali-yoga) dan 
Zaman Akhir (Kali-sangara).

Yang menarik dari ramalan Jayabaya adalah ramalan Zaman Akhir (Kali-sangara) 
dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100, karena kita dapat 
membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia /Jawa dalam periode tersebut.

Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan 
bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para 
Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus 
tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), 
Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), 
Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik 
Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup 
akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna hitam 
(kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba mulia 
(Pemimpin Besar Revolusi). Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata (selalu 
lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita 
cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah 
beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan mahasiswa). Sang Raja 
sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa beliau sangat anti 
Imperialisme. Dalam tembang Jawa berbunyi: “Ratu digdaya ora tedhas tapak 
paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul 
ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak 
kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu”.

Bung Karno bergelar Panglima Tertinggi ABRI, siapa yang menentangnya bisa 
celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang tanpa 
merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau 
meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: “sing wani 
bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun menang 
tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang gula klapa. 
Patine marga lemes.”

Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh Prabu 
Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai berikut: 
“Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane saprowulan 
panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli gegaman uleg wesi 
pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa turangga nanging kaobah 
asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing nglanglang Gatotkaca kembar 
sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan. Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu 
/ telu sanga wolu / telu) warsa srani nga nem nem (sanga nenem nenem) alangan 
tutup kwali lumuten kinepung lumut seganten.

Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI 
(darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau 
(tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto 
(Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja 
yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari 
tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang saat 
Pak Harto mundur, karena saling berselisih. Setelah itu tidak ada lagi raja 
yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri sendiri-sendiri 
(otonom).

Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan 
datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa Srenggi 
(Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.

Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi 
sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari Ramalan 
Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu (Kalabendu) 
berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia menaruh 
hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin baru Indonesia 
dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah lulus Weda Jawa, 
bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam, sbb:

“Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda 
Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa 
untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir 
tolak colong njupuk winanda.”

Ramalan selanjutnya adalah:

“Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak menentu 
bisa selamat dari bahaya atau “jaya-baya”, maka jangan sampai keliru dalam 
memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula Weda 
pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak menghina yang 
lain. Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba. Rajanya menyembah 
rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para pendetapun menghargainya. Itulah 
asuhannya Sabdopalon – yang selama ini menanggung rasa malu tetapi akhirnya 
termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang. Tidak ada lagi yang 
mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak menentu telah usai 
berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia pun menaruh hormat.”

Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan 
alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali, dan 
lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam arti 
harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang mebuat 
seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah tiga 
sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg, jujur) 
seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.

Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya 
Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang 
Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia bekerja 
tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan 
negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat ditelusuri dalam 
kehidupannya sehari-hari.

Mungkinkah Sang Satria Piningit ini muncul dalam waktu dekat untuk mengantarkan 
Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana tercantum dalam 
Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera bagi 
segenap Rakyat Indonesia.

Siapakah gerangan sang Satriya Piningit ini? Silahkan ditanggapi.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
S Roestam
http://presidenkita.wordpress.com

Kirim email ke