Mungkin dulu tdk dikenal kata menduga atau prediksi.. Jadinya pakai bahasa 
ramal.

Mungkin skrg tidak dikenal lagi namanya menjalin hubungan baik, tapi pakai 
bahasa silaturahim. Dimana awalnya silaturahim sebelum menjalin hubungan baik.

Karena saya tidak lahir di jaman jaya baya, maka sy tidak tau yg sebenarnya.

Makanya, sy pakai kata mungkin, drpd nanti dibilang sotoy dan dicela2...atau 
pakai kata sepertinya...kayaknya... Etc

Padahalmah.. Tetep weee nge junk hahahahaa...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Harlizon MBAu <[email protected]>
Date: Sat, 10 Apr 2010 21:23:06 
To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Abad Akhir Ramalan Jayabaya (2001-2100): Satriya 
        Piningit dgn senjata sakti Trisula yg akan membuat Indonesia menjadi 
negeri 
        yg aman, makmur, adil dan sejahtera

Sepertinya Prabu Jayabaya nga punya internet kala itu (ini ramalan saya
lho...)
Karena internet ngomongnya agak sedikit beda:

Prabu J:

Munculnya *Presiden Sukarno *sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik
Indonesia dalam periode Kala-*sumbaga* (1901-2000) diramalkan secara cukup
akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna
hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba
mulia (Pemimpin Besar Revolusi).

Internet:

http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

*When his father sent him* to
Surabaya<http://en.wikipedia.org/wiki/Surabaya>in 1916 to attend a
secondary school, he met
Tjokroaminoto <http://en.wikipedia.org/wiki/Tjokroaminoto>, a future
nationalist.

http://www.answers.com/topic/sukarno


At an early age the family moved to Modjokerto, *where his father taught
school*. Sukarno's adequate knowledge of Dutch made it possible for him to
enter the European elementary school.

http://www.answers.com/topic/sukarno-achmed
* *

*(b. Surabaya, 6 June 1901; d. 21 June 1970)* *Indonesian; President 1945 –
68* Son of a Muslim Javanese teacher and his
Balinese<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>wife,
Sukarno was educated in
*his father's school*, in the European school system, and at the Technical
College in Bandung <http://www.answers.com/topic/bandung> (1921 – 6), where
he trained as an engineer and became imbued with radical, secular
nationalism against Dutch colonialism.

Kalau soal trisula, agaknya memang Sukarno punya trisula asli turun temurun.
Namun Soeharto dan Habibie agaknya juga punya...
Ada member laki-laki disini yang nga punya?

http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno
Sukarno From Wikipedia, the free encyclopedia



The son of a Javanese primary school teacher, an
aristocrat<http://en.wikipedia.org/wiki/Aristocracy_%28class%29>named
*Raden Soekemi Sosrodihardjo* and his
Balinese<http://en.wikipedia.org/wiki/Bali>wife named Ida Ayu Nyoman
Rai from
Buleleng <http://en.wikipedia.org/wiki/Buleleng> regency, *Sukarno* was born
as *Kusno Sosrodihardjo* in Blitar <http://en.wikipedia.org/wiki/Blitar>,
East Java in the Dutch East
Indies<http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_Indies>(now
Indonesia <http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia>). Following Javanese
custom, he was renamed after surviving a childhood illness. He was admitted
into a Dutch <http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands>-run school as a
child. *When his father sent him* to
Surabaya<http://en.wikipedia.org/wiki/Surabaya>in 1916 to attend a
secondary school, he met
Tjokroaminoto <http://en.wikipedia.org/wiki/Tjokroaminoto>, a future
nationalist. In 1921 he began to study at the *Technische
Hogeschool*<http://en.wikipedia.org/wiki/Institut_Teknologi_Bandung>(Technical
Institute) in
Bandung <http://en.wikipedia.org/wiki/Bandung>. He studied civil engineering
and focused on architecture.



http://www.answers.com/topic/sukarno



*Sukarno***



Sukarno was born on June 6, 1901, in
Surabaya<http://www.answers.com/topic/surabaya-indonesia>,
East Java, of a Javanese father and
Balinese<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>mother.
At an early age the family moved to Modjokerto,
*where his father taught school*. Sukarno's adequate knowledge of Dutch made
it possible for him to enter the European elementary school. In 1916 he
enrolled at a high school in Surabaya. During this period he lived with H.
O. S. Tjokroaminoto a prominent Islamic leader and head of Sarekat
Islam<http://www.answers.com/topic/sarekat-islam>.
The 5 years (1916-1921) Sukarno spent in Surabaya were most important in his
future intellectual and political development, for here he came in contact
with prominent Indonesian nationalists and with Dutch socialists.



http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

* *

*Sukarno***

The son of a Javanese school teacher and his Balinese wife from Buleleng
regency, Sukarno was born in Surabaya, East Java in the Dutch East Indies
(now Indonesia <http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Indonesia>). He
was admitted into a Dutch-run school as a child. *When his father sent
him*to Surabaya in 1916 to attend a secondary school, he met
Tjokroaminoto, a
future nationalist. In 1921 he began to study at the Technische Hogeschool
(Technical Institute) in Bandung. He studied civil
engineering<http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Civil_engineering>and
focused on architecture.

http://www.answers.com/topic/sukarno-achmed
Sukarno, Achmed

* *

*(b. Surabaya, 6 June 1901; d. 21 June 1970)* *Indonesian; President 1945 –
68* Son of a Muslim Javanese teacher and his
Balinese<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>wife,
Sukarno was educated in
*his father's school*, in the European school system, and at the Technical
College in Bandung <http://www.answers.com/topic/bandung> (1921 – 6), where
he trained as an engineer and became imbued with radical, secular
nationalism against Dutch colonialism.




2010/4/10 S Roestam <[email protected]>

> Kawan2 Anggota Milis Yth,
>
> *Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri* yang terkenal sakti dan
> berilmu tinggi, konon beliau adalah *titisan Betara Wishnu*, sang Pencipta
> Kesejahteraan di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali. Beliau
> memerintah *Kerajaan Kediri pada sekitar tahun 400-an Masehi.* Beliau
> mampu meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis oleh beliau
> dalam bentuk tembang-tembang Jawa yang terdiri atas 21 pupuh berirama
> Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo.
> Kitab ini dikenal dengan nama Kitab Musarar.
>
> Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama
> 700 tahun, yaitu Zaman Permulaan (Kali-swara), Zaman Pertengahan (Kali-yoga)
> dan Zaman Akhir (Kali-sangara).
>
> Yang menarik dari ramalan Jayabaya adalah *ramalan Zaman Akhir
> (Kali-sangara) dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100*, karena
> kita dapat membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia /Jawa dalam
> periode tersebut.
>
> Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan
> bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para
> Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus
> tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600
> M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900
> M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan *Kala-surasa (2001-2100 M).*
>
> Munculnya *Presiden Sukarno *sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik
> Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup
> akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna
> hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba
> mulia (Pemimpin Besar Revolusi). Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata
> (selalu lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah
> dirayu wanita cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang
> mengelilingi rumah beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan
> mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa
> beliau sangat anti Imperialisme. Dalam tembang Jawa berbunyi: “Ratu digdaya
> ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh
> setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah
> surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang
> sing doyan asu”.
>
> Bung Karno bergelar *Panglima Tertinggi ABRI,* siapa yang menentangnya
> bisa celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang
> tanpa merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau
> meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: “sing wani
> bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun
> menang tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang
> gula klapa. Patine marga lemes.”
>
> Naik-turunnya Preside RI ke-2 *Suharto* juga secara jelas diramalkan oleh
> Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai
> berikut: “Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane
> saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli
> gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa
> turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing
> nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan.
> Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga
> nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut
> seganten.
>
> Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI
> (darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau
> (tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto
> (Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja
> yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari
> tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang
> saat Pak Harto mundur, karena saling berselisih. Setelah itu tidak ada lagi
> raja yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri
> sendiri-sendiri (otonom).
>
> Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan
> datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari *Nusa
> Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.*
>
> *Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi
> sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari
> Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu
> (Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh
> dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin
> baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah
> lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam,
> *sbb:
>
> “Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda
> Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa
> untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing
> pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda.”
>
> Ramalan selanjutnya adalah:
>
> “Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak
> menentu bisa selamat dari bahaya atau “jaya-baya”, maka jangan sampai keliru
> dalam memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula
> Weda pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak
> menghina yang lain. Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba.
> Rajanya menyembah rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para pendetapun
> menghargainya. Itulah asuhannya Sabdopalon – yang selama ini menanggung rasa
> malu tetapi akhirnya termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang.
> Tidak ada lagi yang mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak
> menentu telah usai berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia
> pun menaruh hormat.”
>
> Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan
> alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali,
> dan lain-lainnya, maka senjata *Trisula Weda mungkin bukanlah senjata
> dalam arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan
> yang mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu
> adalah tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener,
> jejeg, jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan
> Jayabaya.*
>
> Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya
> Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang
> Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia
> bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan
> bangsa dan negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat
> ditelusuri dalam kehidupannya sehari-hari.
>
> Mungkinkah Sang Satria Piningit ini muncul dalam waktu dekat untuk
> mengantarkan Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana
> tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan
> sejahtera bagi segenap Rakyat Indonesia.
>
> Siapakah gerangan sang Satriya Piningit ini? Silahkan ditanggapi.
> Semoga bermanfaat.
> Wassalam,
> S Roestam
> http://presidenkita.wordpress.com

Kirim email ke