Jangan mau kalah.. Bikin senjata lainnya dg nama wedang.

Bisa wedang kopi, wedang jahe, sampe wedang banget dah.. Hahaha
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "husni" <[email protected]>
Date: Sun, 11 Apr 2010 07:37:44 
To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Abad Akhir Ramalan Jayabaya (2001-2100): Satriya 
Piningit dgn senjata sakti Trisula yg akan membuat Indonesia menjadi negeri yg 
aman, makmur, adil dan sejahtera

Gimana mau acurat, ramalannya sudah tidak menyebutkan kasus2  korupsi di
negri  ini. Tapi Buat koruptor ini jaman keemasan yang penuh
kepastian...trisulanya angodo kan disebut truno . dan pasti ngga akan kena
kesusahan.

Semua department takut dan hormat tuh.

 

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Tri Basoeki
Soelisvichyanto
Sent: Sunday, April 11, 2010 6:02 AM
To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Abad Akhir Ramalan Jayabaya (2001-2100): Satriya
Piningit dgn senjata sakti Trisula yg akan membuat Indonesia menjadi negeri
yg aman, makmur, adil dan sejahtera

 

Mungkin dulu tdk dikenal kata menduga atau prediksi.. Jadinya pakai bahasa
ramal.

Mungkin skrg tidak dikenal lagi namanya menjalin hubungan baik, tapi pakai
bahasa silaturahim. Dimana awalnya silaturahim sebelum menjalin hubungan
baik.

Karena saya tidak lahir di jaman jaya baya, maka sy tidak tau yg sebenarnya.

Makanya, sy pakai kata mungkin, drpd nanti dibilang sotoy dan dicela2...atau
pakai kata sepertinya...kayaknya... Etc

Padahalmah.. Tetep weee nge junk hahahahaa...

Powered by Telkomsel BlackBerryR

  _____  

From: Harlizon MBAu <[email protected]> 

Date: Sat, 10 Apr 2010 21:23:06 +0700

To: <[email protected]>

Subject: [indonesia] Re: Abad Akhir Ramalan Jayabaya (2001-2100): Satriya
Piningit dgn senjata sakti Trisula yg akan membuat Indonesia menjadi negeri
yg aman, makmur, adil dan sejahtera

 

Sepertinya Prabu Jayabaya nga punya internet kala itu (ini ramalan saya
lho...)
Karena internet ngomongnya agak sedikit beda:

Prabu J:

Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik
Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup
akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna
hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba
mulia (Pemimpin Besar Revolusi). 

Internet:

http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

When his father sent him to Surabaya <http://en.wikipedia.org/wiki/Surabaya>
in 1916 to attend a secondary school, he met Tjokroaminoto
<http://en.wikipedia.org/wiki/Tjokroaminoto> , a future nationalist.

http://www.answers.com/topic/sukarno

 

At an early age the family moved to Modjokerto, where his father taught
school. Sukarno's adequate knowledge of Dutch made it possible for him to
enter the European elementary school.

http://www.answers.com/topic/sukarno-achmed
 

(b. Surabaya, 6 June 1901; d. 21 June 1970) Indonesian; President 1945 - 68
Son of a Muslim Javanese teacher and his Balinese
<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>  wife,
Sukarno was educated in his father's school, in the European school system,
and at the Technical College in Bandung
<http://www.answers.com/topic/bandung>  (1921 - 6), where he trained as an
engineer and became imbued with radical, secular nationalism against Dutch
colonialism.


Kalau soal trisula, agaknya memang Sukarno punya trisula asli turun temurun.
Namun Soeharto dan Habibie agaknya juga punya...
Ada member laki-laki disini yang nga punya?

http://en.wikipedia.org/wiki/Sukarno


Sukarno


From Wikipedia, the free encyclopedia


 

The son of a Javanese primary school teacher, an aristocrat
<http://en.wikipedia.org/wiki/Aristocracy_%28class%29>  named Raden Soekemi
Sosrodihardjo and his Balinese <http://en.wikipedia.org/wiki/Bali>  wife
named Ida Ayu Nyoman Rai from Buleleng
<http://en.wikipedia.org/wiki/Buleleng>  regency, Sukarno was born as Kusno
Sosrodihardjo in Blitar <http://en.wikipedia.org/wiki/Blitar> , East Java in
the Dutch East Indies <http://en.wikipedia.org/wiki/Dutch_East_Indies>  (now
Indonesia <http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia> ). Following Javanese
custom, he was renamed after surviving a childhood illness. He was admitted
into a Dutch <http://en.wikipedia.org/wiki/Netherlands> -run school as a
child. When his father sent him to Surabaya
<http://en.wikipedia.org/wiki/Surabaya>  in 1916 to attend a secondary
school, he met Tjokroaminoto <http://en.wikipedia.org/wiki/Tjokroaminoto> ,
a future nationalist. In 1921 he began to study at the
<http://en.wikipedia.org/wiki/Institut_Teknologi_Bandung> Technische
Hogeschool (Technical Institute) in Bandung
<http://en.wikipedia.org/wiki/Bandung> . He studied civil engineering and
focused on architecture.

 

http://www.answers.com/topic/sukarno

 

Sukarno

 

Sukarno was born on June 6, 1901, in Surabaya
<http://www.answers.com/topic/surabaya-indonesia> , East Java, of a Javanese
father and Balinese
<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>  mother. At
an early age the family moved to Modjokerto, where his father taught school.
Sukarno's adequate knowledge of Dutch made it possible for him to enter the
European elementary school. In 1916 he enrolled at a high school in
Surabaya. During this period he lived with H. O. S. Tjokroaminoto a
prominent Islamic leader and head of Sarekat Islam
<http://www.answers.com/topic/sarekat-islam> . The 5 years (1916-1921)
Sukarno spent in Surabaya were most important in his future intellectual and
political development, for here he came in contact with prominent Indonesian
nationalists and with Dutch socialists.

 

http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

 

Sukarno

The son of a Javanese school teacher and his Balinese wife from Buleleng
regency, Sukarno was born in Surabaya, East Java in the Dutch East Indies
(now Indonesia <http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Indonesia> ). He
was admitted into a Dutch-run school as a child. When his father sent him to
Surabaya in 1916 to attend a secondary school, he met Tjokroaminoto, a
future nationalist. In 1921 he began to study at the Technische Hogeschool
(Technical Institute) in Bandung. He studied civil engineering
<http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Civil_engineering>  and focused
on architecture.

http://www.answers.com/topic/sukarno-achmed


Sukarno, Achmed


 

(b. Surabaya, 6 June 1901; d. 21 June 1970) Indonesian; President 1945 - 68
Son of a Muslim Javanese teacher and his Balinese
<http://www.answers.com/topic/balinese-s-asia-in-encyclopedia>  wife,
Sukarno was educated in his father's school, in the European school system,
and at the Technical College in Bandung
<http://www.answers.com/topic/bandung>  (1921 - 6), where he trained as an
engineer and became imbued with radical, secular nationalism against Dutch
colonialism.






2010/4/10 S Roestam <[email protected]>

Kawan2 Anggota Milis Yth,

Prabu Jayabaya adalah Raja Kerajaan Kediri yang terkenal sakti dan berilmu
tinggi, konon beliau adalah titisan Betara Wishnu, sang Pencipta
Kesejahteraan di Dunia, yang akan menitis selama tiga kali. Beliau
memerintah Kerajaan Kediri pada sekitar tahun 400-an Masehi. Beliau mampu
meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis oleh beliau dalam
bentuk tembang-tembang Jawa yang terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana,
29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab ini
dikenal dengan nama Kitab Musarar.

Ramalan Jayabaya dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama
700 tahun, yaitu Zaman Permulaan (Kali-swara), Zaman Pertengahan (Kali-yoga)
dan Zaman Akhir (Kali-sangara).

Yang menarik dari ramalan Jayabaya adalah ramalan Zaman Akhir (Kali-sangara)
dari tahun Masehi 1401 sampai dengan tahun 2100, karena kita dapat
membuktikannya dengan catatan sejarah Indonesia /Jawa dalam periode
tersebut.

Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut cukup akurat dalam meramalkan
bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para
Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus
tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600
M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900
M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik
Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup
akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna
hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba
mulia (Pemimpin Besar Revolusi). Sang Raja kebal terhadap berbagai senjata
(selalu lolos dari percobaan pembunuhan), namun memiliki kelemahan mudah
dirayu wanita cantik, dan tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang
mengelilingi rumah beliau (mundurnya beliau karena demo para pelajar dan
mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing sebagai lambang bahwa
beliau sangat anti Imperialisme. Dalam tembang Jawa berbunyi: "Ratu digdaya
ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh
setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah
surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang
sing doyan asu".

Bung Karno bergelar Panglima Tertinggi ABRI, siapa yang menentangnya bisa
celaka, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa pusaka, dan menang perang tanpa
merendahkan lawannya, kaya tanpa harta, benderanya merah-putih. Beliau
meninggal dalam genggaman manusia. Dalam tembang Jawa berbunyi: "sing wani
bakal wirang, yen nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji apa-apa, lamun
menang tanpa ngasorake liyan, sugih tan abebandhu, umbulane warna jenang
gula klapa. Patine marga lemes."

Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh
Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai
berikut: "Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane
saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli
gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa
turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing
nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan.
Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga
nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut
seganten.

Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI
(darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau
(tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto
(Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun, dan menurut Jayabaya ada tiga raja
yang menguasai tanah Jawa /Indonesia saat itu sebagai lambang kekuasaan dari
tiga kekuatan politik: Golkar-Parpol-ABRI. Ketiga kekuatan itu menghilang
saat Pak Harto mundur, karena saling berselisih. Setelah itu tidak ada lagi
raja yang disegani, dan para Bupat Manca Negara (luar Jawa) berdiri
sendiri-sendiri (otonom).

Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan
datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa
Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.

Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi
sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari
Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu
(Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh
dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin
baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah
lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam,
sbb:

"Mula den upadinem sinatriya iku wus tan abapa, abibi, lola, wus pupus weda
Jawa mung angendelake trisula, landepe trisula sing pucuk gegawe pati utawa
untang nyawa, sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan, sing
pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda."

Ramalan selanjutnya adalah:

"Inilah jalan bagi yang selalu ingat dan waspada! Agar pada zaman tidak
menentu bisa selamat dari bahaya atau "jaya-baya", maka jangan sampai keliru
dalam memilih pemimpin. Carilah sosok Pemimpin yang bersenjatakan Trisula
Weda pemberian dewa. Bila menyerang tanpa pasukan, kalau menang tidak
menghina yang lain. Rakyat bersukaria karena keadilan Tuhan telah tiba.
Rajanya menyembah rakyat yang bersenjata Trisula Weda; para pendetapun
menghargainya. Itulah asuhannya Sabdopalon - yang selama ini menanggung rasa
malu tetapi akhirnya termasyhur- karena segalanya tampak terang benderang.
Tidak ada lagi yang mengeluh kekurangan; itulah pertanda bahwa zaman tidak
menentu telah usai berganti zaman penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia
pun menaruh hormat."

Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan
alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali,
dan lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam
arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang
mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah
tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg,
jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.

Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya
Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang
Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia
bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan
bangsa dan negara. Sudah ada langkah-langkahnya yang nyata yang dapat
ditelusuri dalam kehidupannya sehari-hari.

Mungkinkah Sang Satria Piningit ini muncul dalam waktu dekat untuk
mengantarkan Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana
tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan
sejahtera bagi segenap Rakyat Indonesia.

Siapakah gerangan sang Satriya Piningit ini? Silahkan ditanggapi.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
S Roestam
http://presidenkita.wordpress.com

 


Kirim email ke