Judul di atas bukan membela almamater, apalagi "memuja" plagiator ataupun mencoba memaklumi kelalaian dosen pembimbing. Namun, kalau benar pernyataan Pak Freddy yang dikutip detik berbunyi, "Sepanjang tahun 1997-2010, ada sekitar 2,5 juta artikel yang dipublikasikan lewat IEEE," maka ada baiknya dicari solusi yang elegan untuk menghindari plagiarisme ini, dengan topik yang cukup jelas: bagaimana caranya seorang dosen pembimbing tahu bahwa penelitian itu sudah pernah dilakukan di antara jutaan jurnal tersebut?
Apakah cukup dengan Google search? Apa semua jurnal bisa di-Google? Apa seluruh departemen harus berlangganan semua jurnal? Tapi mungkin jawabannya gampang saja: butuh penelitian sendiri untuk memecahkan masalah ini dan kata kuncinya adalah "data mining techniques". Salam, CA Source: http://m.detik.com/read/2010/04/16/110924/1339536/10/itb-hanya-satu-dari-151-kasus-plagiarisme-di-ieee --begins-- Plagiarisme Doktor ITB ITB Hanya Satu Dari 151 Kasus Plagiarisme di IEEE Fitraya Ramadhanny : detikNews detikcom - Jakarta, Rupanya kasus plagiarisme yang dilakukan doktor dari ITB, bukan satu-satunya kasus penjiplakan yang diungkap oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE). IEEE sudah membongkar 151 kasus serupa yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai negara. Kenapa harus IEEE? Menurut Sekjen Ikatan Alumni (IA) ITB Freddy P Zen, IEEE adalah organisasi paling prestisius bagi para ilmuwan teknik. Barangsiapa yang bisa mempublikasikan tulisan ilmiah melalui IEEE, mereka akan sangat naik pamor. "IEEE adalah organisasi ilmuwan tingkat dunia yang sangat prestisius," kata Freddy dalam perbincangan telepon dengan detikcom, Jumat (16/4/2010). Namun sayangnya, demi gengsi tersebut, banyak ilmuwan yang mengambil jalan pintas dengan menjiplak karya ilmuwan lain. IEEE bukannya tidak tahu akan hal ini. Sepanjang tahun 1997-2010, ada sekitar 2,5 juta artikel yang dipublikasikan lewat IEEE. Artikel ini memang nantinya bisa diunduh lewat perpustakaan digital IEEE yaitu ieeexplore.ieee.org. Dari sekian banyak makalah itu, ada juga yang ditemukan menjiplak makalah lain yang terkadang bahkan sama-sama dipublikasikan oleh IEEE. Saat detikcom, mencari data kasus penjiplakan yang diungkap IEEE, ternyata ada 151 kasus sejenis. Para pelaku adalah ilmuwan dari berbagai belahan dunia, sebut saja Malaysia, India, Kanada, dan Skotlandia. Tapi, kebanyakan pelaku plagiat berasal dari China. Bahkan ada juga satu ilmuwan dari Amerika Serikat yang ketahuan 47 kali menjiplak, tapi rupanya tidak kapok-kapok. Nah, dari 151 kasus plagiat yang dibongkar, hanya satu kasus dari Indonesia. Tepatnya riset dari Mochammad Zuliansyah, yang saat itu masih menjadi mahasiswa S3. Para pembimbingnya adalah Prof Dr Ir Suhono Harso Supangkat, M Eng, Prof Dr Ir Carmadi Machbub dan Dr Ir Yoga Priyana. Meskipun hanya satu kasus, tetap saja plagiarisme tidak boleh dibiarkan. --ends-- Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
