SALAM KOPERASI 2012 UNITED NATIONS DECLARES 2012 INTERNATIONAL YEAR OF COOPERATIVES NEW YORK, 21 December (Department of Economic and Social Affairs) -- The United Nations General Assembly has declared 2012 as the International Year of Cooperatives, highlighting the contribution of cooperatives to socio-economic development. In adopting resolution 64/136 on 18 December, the Assembly noted that cooperatives impact poverty reduction, employment generation and social integration. A cooperative is an autonomous voluntary association of people who unite to meet common economic, social and cultural needs and aspirations, through a jointly owned and democratically controlled enterprise. In general, they contribute to socio-economic development. As self-help organizations that meet the needs of their members, cooperatives assist in generating employment and incomes throughout local communities. Cooperatives provide opportunities for social inclusion. In the informal economy, workers have formed shared service cooperatives and associations to assist in their self-employment. In rural areas, savings and credit cooperatives provide access to banking services that are lacking in many communities and finance the formation of small and micro businesses, promotes inclusive finance. The cooperative sector worldwide has about 800 million members in over 100 countries and is estimated to account for more than 100 million jobs around the world. The strength and reach of cooperatives are illustrated in the following examples:· under the umbrella of the World Council of Credit Unions, 49,000 credit unions serve 177 million members in 96 countries, and 4,200 banks under the European Association of Cooperative Banks serve 149 million clients;· agricultural cooperatives account for 80 to 99 per cent of milk production in Norway, New Zealand and the United States; 71 per cent of fishery production in the Republic of Korea; and 40 per cent of agriculture in Brazil;· electric cooperatives play a key role in rural areas. In Bangladesh, rural electric cooperatives serve 28 million people. In the United States, 900 rural electric cooperatives serve 37 million people and own almost half of the electric distribution lines in the country. International Years are declared by the United Nations to draw attention to major issues and encourage action. To commemorate the Year, regional conferences will raise awareness of cooperatives and seek ways to leverage their contribution to socio-economic development and foster regulatory frameworks. A research agenda will be proposed and Member States are to form national committees that will serve as focal points for the Year’s activities. For more information, contact the Department of Economic and Social Affairs focal point on cooperatives, Felice Llamas, [email protected], +1 212 963 2924. http://icaexpo.coop
--- On Mon, 4/19/10, CHPStar <[email protected]> wrote: From: CHPStar <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: CALL FOR IA ITB To: [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Date: Monday, April 19, 2010, 3:38 AM SALAM ITB 2020Akan seperti apa ITB pada tahun 2020, sama kah seperti tahun 2010? Berapa jumlah mahasiswa ITB pada tahun 2020? Bagaimana kehidupan dan lingkungan mahasiswa ITB pada tahun 2020? Bagaimana para pendidik dan peneliti ITB pada tahun 2020? Seberapa SEJAHTERA kah, para Dosen ITB pada tahun 2020? Adakah hasil penelitian ITB yang membanggakan dan bermanfaat? Bagaimana perpustakaan ITB pada tahun 2020? Bagaimana kampus ITB pada tahun 2020? Siapa Rektor ITB pada tahun 2020?Tentunya pertanyaan di atas hanya sebagian dari sekian banyak pertanyaan yang melintas. Pada tahun 2020 pendidikan tinggi teknik di Indonesia berusia 100 tahun, bila merujuk pada 3 Juli 1920, ketika Technische Hoogeschool (THS) lahir sebagai cikal bakal berdirinya ITB. Dan, bila merujuk pada 2 Maret 1959, yakni ketika Presiden Republik Indonesia Bung Karno meresmikan berdirinya ITB di kota Bandung, ITB akan berusia 61 tahun. Dua tanggal lahir Kampus ITB Ganesha adalah suatu keistimewaan yang merefleksikan semangat kepeloporan, tekad, dan cita-cita bangsa yaitu memajukan anak negeri secara berdaulat. Pertanyaannya kemudian, saat ini, seberapa besar para pengelola ITB dan civitas academica-nya mampu meneruskan semangat kepeloporan, tekad, dan cita-cita besar bangsa di balik penetapan lahirnya ITB oleh Founding Fathers tersebut.MWA bersama MGB, SA, dan Rektorat pada tahun 2007 telah menetapkan Rencana Induk Pengembangan ITB 2006-2025. Banyak pihak sudah merencanakan pembuatan "Masterplan Akademik ITB" dan merupakan tugas kita bersama lah untuk mensinergikan semua pemikiran untuk ITB masa datang. ITB perlu mempunyai dan menyebarluaskan dokumen rencana pengembangan ITB yang terukur dan komprehensif yang mudah dipahami masyarakat luas. Termasuk di dalamnya adalah sasaran, skenario, dan langkah kegiatan dalam membangun ITB menjadi perguruan tinggi bermakna dan bermanfaaat bagi bangsa serta tersohor di kawasan.Untuk menyamakan persepsi dan mengintegrasikan semua pemikiran positif dari semua stakeholders ITB, marilah kita (past leaders, current leaders, future leaders) duduk bersama dan berdialog pada tanggal24 April 2010. Hasil dialog dan berbagai masukan dari acara tersebut akan kita olah untuk menjadi suatu"STRATEGIC ACTION PLAN ITB 2020 (SAP ITB 2020)" yang akan kita sepakati bersama tidak lebih dari bulan Oktober 2010. Selanjutnya, SAP ITB 2020 ini akan digunakan sebagai pedoman bagi arah pengembangan ITB, yang akan diimplementasikan dari tahun 2011 sampai tahun 2020. Dalam perjalanan waktu sampai tahun 2020, "SAP ITB 2020" tentunya dapat disesuaikan dengan perkembangan baru yang terjadi.Pengembangan ITB memerlukan komitmen, dukungan, dan partisipasi dari semua pihak termasuk civitas academica ITB, Alumni ITB, Masyarakat, dan Pemerintah. Mungkin saja kita sudah tidak bisa lagi melihat hasilnya nanti. Namun, saat ini kita tidak berpikir untuk diri sendiri, melainkan untuk kemajuan generasi berikutnya, anak dan cucu kita. Hambatan dan masalah yang akan kita hadapi jangan menjadi penghalang tekad kita bersama tersebut. Kita harus yakin, saling percaya, fokus, dan terus berkarya sesuai dengan perannya masing-masing. Semoga Tuhan YME selalu meridhoi upaya keras kita bersama dan mengabulkan cita-cita kita semua. ITBmu ITBku ITB kita Yani Panigoro Ketua MWA-ITB http://icaexpo.coop --- On Mon, 4/19/10, CHPStar <[email protected]> wrote: From: CHPStar <[email protected]> Subject: [indonesia] CALL FOR IA ITB To: [email protected] Cc: [email protected], [email protected] Date: Monday, April 19, 2010, 2:56 AM BALI. Pemadaman listrik bergilir menjadi salah satu persoalan yang disinggung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam rapat kerja di Istana Tampak Siring, Bali. Persoalan listrik bergilir merupakan salah satu materi dalam sepuluh arahan Presiden. Presiden mengatakan, kebutuhan listrik baik jangka menengah maupun jangka pendek harus bisa terpenuhi. “Jangka pendek pemadaman listrik harus dapat diatasi,” ujar Presiden, Senin (19/4). Dirut PLN Dahlan Iskan menjelsakan bahwa penyelesaian masalah pemadaman bergilir paling lambat selesai pada Oktober 2010. “Tapi , akan diusahakan Juni supaya tidak terjadi byar-pet lagi,” kata Presiden mengulangi ucapan Dirut PLN kepada peserta rapat yang hadir. SBY pun meminta kepada para Gubernur menagih janji itu kepada pihak PLN. Selain itu, Presiden menyampaikan bahwa dalam pengembangan energi harus mampu mencapai target mixed energy, jangan hanya mengandalkan yang berasal dari fosil saja. Presiden juga menekankan pentingnya mengelola energi panas bumi dengan baik. “Jangan sampai kita capek-capek raker di Tampak Siring, lima tahun mendatang masih sepi pengembangan geothermal,” kata Presiden. Sekadar informasi, pada 8 April seusai rapat listrik di Istana Wakil Presiden, Dirut PLN Dahlan Iskan menjanjikan bahwa pemadaman listrik bergilir paling cepat diselesaikan pada 30 Juni nanti. Karena itu, PLN sedang membenahi persoalan byar-pet di beberapa wilayah di luar Pulau Jawa. Daerah di luar Pulau Jawa yang sedang dalam pembenahan antara lain Mentawai dan Sungai Penuh di Sumatera Barat, lalu daerah Palu, Toli-Toli, Luwu, dan Poso di Sulawesi, Flores di Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah daerah di Indonesia Timur. Perbaikan listrik di daerah-daerah itu sepenuhnya dilakukan PLN sendiri. Adapun khusus untuk Pulau Jawa dan Bali, kata Dahlan, sudah tidak ada lagi pemadaman bergilir. Tapi, menurutnya, bukan berarti tidak ada listrik yang padam, seperti saat Tangerang padam ketika ada perbaikan trafo. http://icaexpo.coop
