Fungsi otak yang sebenanya adalah "mengontrol"... Mirip dengan CPU atau Micro(Macro)Processor... Fungsi kerjanya yang terdasar adalah memBEDA-BEDA kan (FURQAAN); makanya Al-Quran disebut Al-Furqaan... Bagi saudara-saudara yang belajar sensing (sensor) - apa masih ada jurusan Telekomunikasi di EL ITB? - akan lebih mudah memahaminya... Sinyal dari sensor mata kemudian "warna-warna"nya di BEDA-BEDA kan oleh otak sehingga ter(RE)COGNIZE adanya benda... Demikian juga dengan sensor suara, kulit dsb... Prinsip kerja otak manusia cuma FURQAAN (membeda-bedakan) saja... Selanjutnya cuma menghubung-hubungkan (asosiasi?)... Hubungan tersebut ada yang benar, ada yang NGACO... (sepertinya lebih sering ngaconya daripada benarnya...)
Untuk dapat menggunakan otaknya dengan baik, manusia perlu dalam keadaan *sadar *(makanya tidak boleh mabok oleh Islam) dan *fokus *(makanya "tidak boleh" shalat dalam keadaan mengantuk atau lapar)... Kira-kira proses dan tingkatannya (meski juga terjadi proses neural-mixing yang paralel) adalah sbb: 1. Mengetahui; adalah salah satu hasil terdasar kecerdasan (intelligence) , selanjutnya 2. Memahami (memengerti), membayangkan (memprediksi), menemukan... 3. MELAKUKAN (action) dan MENCIPTAKAN... Adakah yang lebih cerdas dari orang yang punya kemampuan untuk dapat menciptakan sesuatu? (meskipun pada dasarnya, semua dasar-dasar pengetahuan, bahkan kata-kata yang digunakan dalam menciptakan tersebut adalah dengan MENCONTEK hasil kerja/pikiran orang lain) Dimensi penciptaan juga bertingkat-tingkat: mulai dari kelas benda (patung, kubus dsb), alat; sampai ke tingkat sosial dan lingkungan dengan segala macam mixing-nya... Sekalipun manusia bisa menciptakan teori yang bisa mengubah ENERGY jadi MASSA... (Kekekalan Energy-Massa) Pada kenyataanya, sampai sekarang tidak seorangpun yang bisa melakukannya; (ternyata sekolah "exacta" juga diinDOKTRINasi) Apalagi menciptakan sesuatu benda dari ketiadaan.. Segitulah cuma manusia... Salam Z 2010/4/27 <[email protected]> > Einstein bilang ..The true sign of intelligence is not knowledge but > imagination. > > Kemudian ada lagi, > Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creativity > pursuits. > > Any man who read to much and uses his own brain too little falls into lazy > habiys of thinking. > > Salam, > > -Irsal > > The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination. > #Albert Einstein > ------------------------------ > *From: * Harlizon MBAu <[email protected]> > *Date: *Tue, 27 Apr 2010 11:33:33 +0700 > *To: *<[email protected]> > *Subject: *[indonesia] Re: Lulusan UN Terbaik: Saya Hanya Ingin Masuk ITB > > Salah seorang teman alumni ITB beberapa tahun yang lalu dengan nada "self > critique" mengungkapkan, "Sekolah kita menangnya karena bisa memilih > mahasiswa-2 yang pintar". > Bagi yang melihat kepintaran dari kulitnya, sepintas pernyataan tersebut > ada benarnya... > Namun bagi yang betul-betul menyelidiki bagaimana terjadinya proses > pemintaran barangkali akan berpendapat lain... > Apalagi bagi yang mengerti bahwa kepintaran tidak hanya monopoli domain > ilmu pasti alam (MIPA)... > Bukankah banyak diantara kita sebelumnya adalah orang-orang yang kurang > atau tidak pintar? > Bukankah begitu banyak orang-orang yang dulunya berprestasi "kurang OK" > setelah mengarungi hidupnya menjadi jauh lebih pintar dari orang-orang yang > dulunya disangka lebih pintar? > Bukankah sebelum belajar Al Jabar / Algebra (dulunya mathematik disebut al > jabar) bahkan tidak tahu 1 + 1 = 2? > Bukankah anak-anak Einstein "tidak sepintar" Einstein? > > Kepintaran ternyata tidaklah diturunkan atau berlaku sepanjang masa... > Kepntaran ternyata tergantung kepada bagaimana lingkungan (termasuk > sekolah) men"support"nya... > Indeed, paradigma "feodal", "kolonial", memperbudak, mempersulit, > menyalahgunakan kekuasaan/status atau menekan tanpa alasan yang baik akan > merusak proses pemintaran masyarakat... > Baik bagi para penekannya, karena lalu dia kurang/tidak merasa ada gunanya > belajar lagi... > Maupun kepada yang ditekan, karena dia akan takut atau tidak merasa ada > gunanya "belajar" lagi... > Feodalisme berperan besar dalam proses pembodohan masyarakat... > Dan feodalisme dapat terjadi di sekolah, pemerintahan, institusi agama, > perusahaan dan lingkungan sosial lainnya... > Berbahagialah Anda yang tidak bertabiat feodal, dan mengubahnya jadi > menghormati orang lain yang tidak lebih rendah... > Karena sebenarnya Anda adalah orang pintar, setidaknya berpotensi pintar... > > Salam Z > > 2010/4/27 <[email protected]> > >> Waktunya untuk membangkitkan kembali "esprit de corps" dan "narsisme" >> setelah diterjang kasus plagiarisme. :> >> >> Salam, >> CA >> >> Source: >> http://www.poskota.co.id/metro/2010/04/26/idham-hafizh-lulusan-tertinggi-un-se-dki-jakarta >> >> --begins-- >> Idham Hafizh Lulusan Tertinggi UN se DKI Jakarta >> >> Senin, 26 April 2010 - 17:57 WIB >> >> PASAR MINGGU (Pos Kota) – ‘Alhamdulillah… Kalau betul saya menjadi yang >> tertinggi mendapatkan nilai hasil Ujian Akhir Nasional (UAN) untuk tingkat >> DKI Jakarta khususnya sekolah negeri,’ ucap Idham Hafizh, siswa kelas III >> IPA 2 SMA N 28, Pasar Minggu, Senin (26/4). >> >> Anak bungsu dari dua bersaudara ini mengaku sama sekali tak tahu menahu >> mengenai hasil nilai ujian yang diperoleh setelah pengumuman lulus dari >> sekolah ini. >> >> “Sama sekali tak bermimpi untuk menjadi yang paling tinggi mendapatkan >> nilai ujian,” tuturnya. >> >> Tak ada yang diharuskan atau diajarkan kedua orang tuanya, Iwan Ridwan >> Hudaya pensiunan PNS Pegawai Departemen Perdagangan tahun 2008, dan Ny. Lili >> Nyulianti, pensiunan Bank Indonesia tahun 2010 ini. >> >> Idham yang tergolong pendiam ini, mengakui sama sekali tak bermimpi jika >> dirinya bakal menjadi yang tertinggi mendapatkan nilai hasil ujian nasional. >> “Tak ada mimpi atau keanehan mendapatkan nilai tertinggi ini,” ujarnya, yang >> mengetahui nilainya tertinggi sekitar Pk. 13:30 setelah ditelepon >> sekolahnya. >> >> Hasil yang dicapai sekarang ini, katanya, memang tak ada dalam rencana >> tapi yang penting tetap belajar dan menyiapkan diri untuk menghadapi ujian >> nasional. “Saya hanya ingin melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) >> ,” ujarnya yang lahir di Bandung, 19 Nopember 1992. >> >> Kepala SMA N 28 Drs. H. Edi Sumarto didampingi Kabag Humas setempat Drs. >> Bahari Lubis, mengaku sangat bangga dengan hasil yang diraih salah satu >> siswa terhadap nilai UAN tahun 2010 ini. >> >> Dengan mendapatkan hasil rata 9,45 tentunya, tambah dia, akan menjadi >> contoh siswa lain untuk lebih berprestasi di masa mendatang. Nilai Bahasa >> Indonesia 8,8, Bahasa Inggris 9,0, Matematika 10, Fisika 10, Kimia 9,25 dan >> Biologi 9,75 sehingga total nilai 56,80. >> >> Walikota Jaksel Syahrul Effendi, mengaku bangga dengan keberhasilan salah >> satu murid di Jaksel khususnya Idham Hafizs siswa SMA N 28 menjadi yang >> tertinggi mendapatkan nilai ujian akhir nasional (UAN). >> >> “Ini seharusnya dapat menjadi motivasi seluruh siswa atau warga Jaksel >> untuk giat belajar guna meraih prestasi yang tinggi,” tuturnya. (anton/ir) >> --ends-- >> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > >
