Inilah Empat Kesepakatan SBY dengan Empat Partai Koalisinya JUM'AT, 07 MEI 2010 | 20:05 WIB Besar Kecil Normal
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin rapat kerja dengan Menteri-Menteri dan Gubernur se-Indonesia di Istana Tampaksiring, Bali (19/4). ANTARA/Nyoman Budhiana TEMPO Interaktif, Jakarta - Diam-diam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumpulkan empat partai mitra koalisinya Kamis (6/5) malam kemarin di kediamannya, Cikeas. Pertemuan itu langsung dipimpin SBY dan dihadiri para ketua umum partai koalisi, pimpinan fraksi partai koalisi, serta menteri-menteri dari partai koalisi. Empat partai koalisi pemerintah itu adalah Golkar, PPP, PKS, dan PAN. Menurut Sekretaris Fraksi PPP Romahurmuziy, pertemuan itu menghasilkan empat kesepakatan. Diantara butir kesepakatan itu adalah SBY ditetapkan sebagai ketua koalisi dan Aburizal Bakrie sebagai ketua harian. Kesepakatan lain, partai koalisi sepakat membentuk kantor sekretariat gabungan yang direncanakan berlokasi di Jalan Diponegoro, Menteng. "Koalisi bakal lebih stabil karena dengan dipilihnya Ical sebagai ketua harian, Golkar akan siap pasang badan seperti zamannya Pak JK," kata dia saat dihubungi Tempo, Jumat (7/5). Dia yakin, empat kesepakatan partai koalisi yang dibuat itu akan berpengaruh positif bagi situasi politik tanah air. "Kami yakin hubungan antar sesama partai koalisi akan semakin stabil," katanya. Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie membenarkan adanya pertemuan itu. Kata dia, pertemuan bertujuan untuk memperbaiki hubungan partai-partai koalisi dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Salah satu bentuknya adalah Presiden Yudhoyono membentuk Forum Partai Koalisi yang dipimpin langsung oleh Yudhoyono. Inilah Empat Kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan Kamis malam itu: Pertama, adalah kesepakatan politik untuk memperkokoh dan mengefektifkan koalisi sehingga pemerintah dapat makin banyak berbuat untuk kepentingan rakyat. Kedua, partai-partai koalisi bersepakat untuk membentuk Sekretariat Gabungan Partai Koalisi. Ketua adalah SBY, ketua harian Aburizal Bakrie, Sekretaris Syarif Hasan. "Ini adalah preseden sejarah pertama dan inisiatif politik yang cerdas dari SBY. Ini adalah sejarah awal berkoalisi yang terlembaga di Indonesia," tambah Anas. Ketiga, partai-partai bersepakat untuk membina koalisi komprehensif, baik di pemerintahan dan di parlemen, tanpa kehilangan identitas dan eksistensi politik masing-masing. "Koalisi tidak bermaksud menyeragamkan, tetapi bertujuan membina kerjasama politik yang sejati, yakni membangun pemerintahan yang kuat, stabil dan efektif," kata dia lagi. Keempat, dalam Sekretariat Gabungan Koalisi akan dibahas dan disepakati isu-isu dan agenda strategis yang akan dilaksanakan bersama oleh seluruh partai koalisi. --- On Fri, 5/7/10, Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> wrote: From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: Fw: Sri (Kandi) Mulyani To: [email protected] Date: Friday, May 7, 2010, 1:13 AM Mantab.... Inpartnership with Telkomsel BlackBerry® From: Sjaiful Bahri <[email protected]> Date: Fri, 7 May 2010 00:54:52 -0700 (PDT) To: <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: Fw: Sri (Kandi) Mulyani ada yg gak suka DPR (tidak termasuk PD), bisa ditebak mereka simpatisan SBY dkk, sebaliknya yg gak suka SBY dkk bisa ditebak mereka setuju dengan vokalis DPR. ini sama saja dengan identifikasi tentang alur pemikiran GusDur, apa yg disukai Gus Dur biasanya gak disukai FPI dkk. sample: Gus Dur pro Ahmadiyah, FPI anti Ahmadiyah. Gus Dur dan FPI pasti beseberangan. Kalau zaman dulu buat algorithm kayak beginian di Prolog untuk Expert System gak susah2 banget, karena pattern-nya udah bisa diidentifikasi... :-) coba di-identifikasi orang2 yg pro dan anti pemerintah, pasti dengan mudah ditemukan, mereka khan menggunakan looping process untuk memproduksi komentarnya, ini bisa di-identifikasi dari historis komentarnya... :)) --- On Fri, 5/7/10, Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> wrote: From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: Fw: Sri (Kandi) Mulyani To: [email protected] Date: Friday, May 7, 2010, 3:23 AM Mantab... Kalau gitu 2 partai aja utk selanjutnya. Lbh murah beli a4 drpd a3 ªќªќªќ =D ªќªќªќ =)) Inpartnership with Telkomsel BlackBerry® From: Sjaiful Bahri <[email protected]> Date: Thu, 6 May 2010 20:09:15 -0700 (PDT) To: <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: Fw: Sri (Kandi) Mulyani iya, sekarang banyak partisan, partisan membela pemerintah dan partisan anti pemerintah, orang2nya itu2 juga, sebelum nulis udah bisa ketebak kok apa yg mau ditulis... he..he..he. --- On Thu, 5/6/10, Agung Kresnamurti <[email protected]> wrote: From: Agung Kresnamurti <[email protected]> Subject: [indonesia] Bls: Re: Fw: Sri (Kandi) Mulyani To: [email protected] Date: Thursday, May 6, 2010, 8:43 AM Saya sih lebih suka pendapat yang berimbang...... Lihat dari dua atau tiga sisi..... Gak ada salahnya untuk bersimpati atau nge fans..... Hanya lebih enak mengulas kalo dari berbagai arah..... Sehingga pembaca akan mendapat informasi yang berimbang, Jadi tergantung tingkat pemahaman, analisa, dan intelektualitas pembaca yang menuntun mereka menentukan pilihan, atau mendapat kesimpulan tentang kebenaran. Buat saya sih, ada 2 hal yang membuat Indonesia tidak maju: 1. Ketergantungan sebuah organisasi pada sosok individu, tidak akan membawa organisasi tersebut kepada suatu kemajuan. Karena seharusnya, organisasi itu besar dengan sistem dan budayanya, bukan karena sosok individu. Sehingga sering terjadi di Indonesia, ketika organisasi tersebut ditinggalkan oleh sosok pemimpin tersebut, karena ketergantungan terhadap sosok pemimpin tersebut, akhirnya organisasi itu pun kolaps. 2. Pengkultusan atau penghormatan atau penghargaan yang berlebihan terhadap seseorang. Sehingga apapun yang diperbuatnya, tetap terlihat baik, menutup pandangan objektif. Bahkan, pembelaan pun cenderung membabi-buta, menganggap pokoknya pandangan yg lain salah, menganggap pendapat yg lain itu karena iri, dengki. Gak masalah juga buat saya, kalau ada yang seperti itu, sah-sah aja dan manusiawi. Ngapain juga maksain bahwa pendapat kita yg harus benar. Jadi...siapa nih kandidat Menteri Keuangan Republik Indonesia? Mikirin itu aja udah pusing. Jadi....lebih baik serahkan aja ke Presiden...gak pusing kan :-)
