resourcesnya kurang boss andri. kayak ini pas terakir saya kuliah 2006. perpus ITB masih menggunakan sistim manual belum menggunakan sistim e-card dan barcode. sehingga kalo kita hilang katu perpus kita perlu keliling perpus2 di ITB> saya rasa perpus di jurusan perlu dijadikan satu di perpus pusat, terus kartunya di ganti yang kyak kartu ATM he he.
2010/5/25 <[email protected]> > Mas Adi, > > Saya kan juga pakai @gmail nih, walaupun saya punya email @unswalumni, @ > usu.ac.id, dan @uts.edu.au. :-) Fitur penting Gmail yang tidak tersaji > dengan baik pada ketiga provider email saya yang lain menurut saya adalah > Archive, Star, Search, dan Label. Buzz dan Lab saya pikir tidak terlalu > perlu. > > Nah, untuk kriteria pelayanan kepada alumni, ITB belum pantas untuk menjadi > universitas kelas dunia -- sebelum fitur-fitur Gmail tersebut juga ada pada > email @....itb.ac.id. :-) > > Soo, 'nape ndak dibuat? Males kali ya? Atau pelit? ;-) > > Salam, > CA > > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -----Original Message----- > From: Adi Indrayanto <[email protected]> > Sender: [email protected]: Tue, 25 May 2010 06:12:18 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [indonesia] Re: Quo Vadis E-mail "@....itb.ac.id" untuk Alumni? > > Penting ya mas [email protected] ini ya? Wong saya yg di dalam saja, > malah lebih suka pakai @gmail.com ;-) Maklum, karena dulu sering > masalah emailnya dan sulit diakses dari luar, makanya pakai yg umum > ;-) > > Kalau ITB mau memberikan layanan "jasa internet" ke umum, perlu banyak > pembenahan pengelolaannya. Apalagi kalau pakai bayar ... wah makin > berat beban layanannya. Pasti dituntut Service Level tinggi juga. > Mungkin belum siap ... kan belum menjadi world class university, baru > mau ke situ ;-) > > ITB begitu besar ya dilihat dari luar? ;-) > > > salam, > > -ai- > > > 2010/5/24 <[email protected]>: > > Rekan-rekan Alumni ITB yth., > > > > Sebelumnya mohon maaf, saya ingin berkeluh-kesah di forum ini, siapa tahu > ada yang juga merasakan hal yang sama atau ada yang bisa memberikan solusi > maupun sumbang-saran. Saya kira kalau saja memang betul ITB adalah > universitas kelas dunia, maka sudah saatnya dan sudah seharusnya ranah > online dikelola dengan baik -- especially since *technology* is our middle > name. Sorry, ini normatif saja. > > > > Sekarang alumni ITB -- kecuali yang kerja atau menjadi dosen di ITB -- > sangat sulit untuk mendapat email address "@....itb.ac.id" semisal "@ > alumni.itb.ac.id", padahal konon "janji virtual"-nya sudah setahun lebih, > namun tetap tidak ada follow-up dan sosialisasi yang nyata ke alumni. > Padahal, ini penting sebagai sarana sosialisasi dan otentikasi diri antar > alumni, bahkan sangat memudahkan universitas untuk menghubungi alumni yang > ingin berkarya atau menyumbang ke almamater kita tercinta. > > > > Kalaulah kita pikir, apakah wajar alumni ITB pakai email "yahoo.com" > untuk berinteraksi dengan sesama? Beri sajalah email "@itb.ac.id", kalau > harus bayar bulanan pun bolehlah! Atau, apakah ITB memang perlu dibantu > untuk men-setup-nya? Waduh, bukankah "dedengkot IT" sudah banyak dihasilkan > ITB? > > > > Institusi pendidikan kelas dunia umumnya (kalau tidak semuanya) selalu > punya dedicated email untuk alumninya -- kecuali sudah dinyatakan bangkrut, > bagian IT-nya tidak dikaryakan dengan baik, atau pengelolanya korup > (misalnya). Bahkan, majalah alumni bulanan dari fakultas terkait di-send ke > email masing-masing alumni (atau bisa di-download di website) walaupun ybs. > sudah bertahun-tahun meninggalkan universitas dan berdomisili di luar negeri > -- dan, oh ya, ada yang dikirim via pos juga! Dan, you know what: it's free, > mate! > > > > Bila alasannya adalah sulit sekali untuk mendata dan mengotentikasi bahwa > seseorang adalah benar alumni ITB, waduh, kok minimal 2 bank justru sudah > bergerak lebih maju dengan kartu kredit alumni? Opo tumon? Quo vadis > "Teknologi"? > > > > Jadi, bila hal kecil seperti ini tidak juga bisa dipenuhi, mungkin wajar > saja deh kalau ITB terdepak dari sekian besar universitas dunia, apalagi > kalau ditambah adanya indikasi bahwa penghasil lumpur terbesar di dunia juga > pernah menjejakkan kaki di sini. :-) > > > > Salam, > > CA > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- Best Regards Tsulusun Ar Royan Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it beautifies it. Whenever it is taken from something, it leaves it tarnished.
