Tergantung cara pandang ,
saya ketemu pengembang aplikasi grid computing dari spanyol ,
dari model yg dikembangkan (WRF4G) ternyata hanya 4 orang saja yang bertahan dari sekian ratus orang (PhD), jadi biasa saja , sistem mau tidak mau akan bergantung pada orang , yg penting sustainability nya yang harus dijaga
dan 4 orang tersebut masih punya dedikasi yg kuat ....


M. Irwan Hrp wrote:
Kalau system-nya adalah system komputer, ketergantungan kepada orang
adalah mutlak pak. At least s/d saat ini belum ada system email server
yg memperbaiki diri sendiri. Tugas terampuh dari mail adm adalah
restart server :D





On 5/25/10, Adi Indrayanto <[email protected]> wrote:
Sistem yg baik mustinya tidak tergantung dari orang. Kebayang kalau 4
orang ini tidak ada, seluruh sistem runtuh :-(

Memang ITB belum siap untuk ke WCU ... masih juauh ... . Tapi kalau
saya bilang ini di milis umum, sama saja mencoreng diri sendiri bukan?


salam,

-ai-


2010/5/25 Basuki Suhardiman <[email protected]>:
selama lebih dari 15 tahun bergulat dgn network ,
yang paham ngurus email/mail system  tidak lebih dar 4 orang , :-)
ini memang tidak mudah , karena ngurus email butuh ketelatenan (ngopeni)
yg
luar biasa , hehehe ..
selama ada domain itb.ac.id , mailmaster yg dihasilkan tidak lebih dari 4
orang , bukan karena tidak bisa ngurus tapi memang hanya 4 orang itu yg
sanggup ngurus email secara benar ..

saya sedang mengadakan kaderisasi untuk bikin mailmaster ,
walaupun mungkin dari 30 orang belum tentu jadi satu orang yg tangguh  :-)
-bsd-





On Tue, 25 May 2010, [email protected] wrote:

Kalau gitu sudah jelas bottlenecknya.

Kira2 adakah yg dapat mempermudah para admin di ITB?

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Basuki Suhardiman <[email protected]>
Sender: [email protected]: Tue, 25 May 2010 07:20:46
To: Indonesianext<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Quo Vadis E-mail "@....itb.ac.id" untuk Alumni?


saya sering menggunakan teori polusi (polluted environment),
kita yang di dalam lingkungan polluted sering kali tidak tahu bahwa kita
kena polusi , kita baru mengetahui bahwa kita kena polusi setelah kita
lihat linkungan kita dari jauh :-)

soal email , itu soal yang paling sulit ngurusnya :-)
saat ini , email di ITB bisa lebih dari 1 juta email transaksi per hari
nya, sementara tidak ada orang yang mau ngurus email ;-) ,
bahkan ada yg ngotot taruh saja email nya di google supaya tidak ada usah
ngurus susah-susah ...seringkali alokasi 'dana' yg akan kita gunakan utk
ngurus 'alumni' kita gunakan utk hal lain yg lebih mendesak (peralatan
rusak karena 'disaster' dll)

kita sedang mengusahakan email utk alumni , dan memang tidak mudah .
walaupun dari sekian banyak alumni hanya satu dua orang saja yang pernah
tercatat menyumbangkan mesin/fasilitas dan bandwidth utk ITB ,
dan yang nyumbang biasanya ndak banyak omong , ndak banyakperlu
woro-woro, dan tidak pernah ngeluh :-) ...


-bsd-


On Mon, 24 May 2010, [email protected] wrote:

Mas Basuki bisa bantu case @itb.ac.id atau @alumni.itb.ac.id. ini kah?


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Adi Indrayanto <[email protected]>
Sender: [email protected]: Tue, 25 May 2010 06:12:18
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Quo Vadis E-mail "@....itb.ac.id" untuk Alumni?

Penting ya mas [email protected] ini ya?  Wong saya yg di dalam saja,
malah lebih suka pakai @gmail.com ;-)  Maklum, karena dulu sering
masalah emailnya dan sulit diakses dari luar, makanya pakai yg umum
;-)

Kalau ITB mau memberikan layanan "jasa internet" ke umum, perlu banyak
pembenahan pengelolaannya.  Apalagi kalau pakai bayar ... wah makin
berat beban layanannya. Pasti dituntut Service Level tinggi juga.
Mungkin belum siap ... kan belum menjadi world class university, baru
mau ke situ ;-)

ITB begitu besar ya dilihat dari luar? ;-)


salam,

-ai-


2010/5/24  <[email protected]>:
Rekan-rekan Alumni ITB yth.,

Sebelumnya mohon maaf, saya ingin berkeluh-kesah di forum ini, siapa
tahu ada yang juga merasakan hal yang sama atau ada yang bisa
memberikan
solusi maupun sumbang-saran. Saya kira kalau saja memang betul ITB
adalah
universitas kelas dunia, maka sudah saatnya dan sudah seharusnya ranah
online dikelola dengan baik -- especially since *technology* is our
middle
name. Sorry, ini normatif saja.

Sekarang alumni ITB -- kecuali yang kerja atau menjadi dosen di ITB --
sangat sulit untuk mendapat email address "@....itb.ac.id" semisal
"@alumni.itb.ac.id", padahal konon "janji virtual"-nya sudah setahun
lebih,
namun tetap tidak ada follow-up dan sosialisasi yang nyata ke alumni.
Padahal, ini penting sebagai sarana sosialisasi dan otentikasi diri
antar
alumni, bahkan sangat memudahkan universitas untuk menghubungi alumni
yang
ingin berkarya atau menyumbang ke almamater kita tercinta.

Kalaulah kita pikir, apakah wajar alumni ITB pakai email "yahoo.com"
untuk berinteraksi dengan sesama? Beri sajalah email "@itb.ac.id",
kalau
harus bayar bulanan pun bolehlah! Atau,  apakah ITB memang perlu
dibantu
untuk men-setup-nya? Waduh, bukankah "dedengkot IT" sudah banyak
dihasilkan
ITB?

Institusi pendidikan kelas dunia umumnya (kalau tidak semuanya) selalu
punya dedicated email untuk alumninya -- kecuali sudah dinyatakan
bangkrut,
bagian IT-nya tidak dikaryakan dengan baik, atau pengelolanya korup
(misalnya). Bahkan, majalah alumni bulanan dari fakultas terkait
di-send ke
email masing-masing alumni (atau bisa di-download di website) walaupun
ybs.
sudah bertahun-tahun meninggalkan universitas dan berdomisili di luar
negeri
-- dan, oh ya, ada yang dikirim via pos juga! Dan, you know what: it's
free,
mate!

Bila alasannya adalah sulit sekali untuk mendata dan mengotentikasi
bahwa seseorang adalah benar alumni ITB, waduh, kok minimal 2 bank
justru
sudah bergerak lebih maju dengan kartu kredit alumni? Opo tumon? Quo
vadis
"Teknologi"?

Jadi, bila hal kecil seperti ini tidak juga bisa dipenuhi, mungkin
wajar
saja deh kalau ITB terdepak dari sekian besar universitas dunia,
apalagi
kalau ditambah adanya indikasi bahwa penghasil lumpur terbesar di dunia
juga
pernah menjejakkan kaki di sini. :-)

Salam,
CA
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi
serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
 êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ® ­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢ ¬z»Z‘«"†Æ²jx jyš öš¶éíºK
ŠÈš•© zh¤y¶¡j šjwnž& jv¤†*Ú´‰ß¢—§
éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb Ú'zÈšŠwè·
 êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ® ­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢ ¬z»Z‘«"†Æ²jx jyš öš¶éíºK
ŠÈš•©
zh¤y¶¡j šjwnž& jv¤†*Ú´‰ß¢—§
éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb Ú'zÈšŠwè·
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt





--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke