Sebenarnya Telkom juga punya CDMA... "Telkom Flexi" itu... Kalau tidak salah, coverage lisensinya juga nasional... Jika benar begini, sebenarnya Telkom "dengan mudah" mengembangkan coverage CDMAnya untuk nasional juga...
Setahu saya, belum ada jasa layanan telepon tetap nirkabel (FWA) (dan juga CDMA?) yang memberikan keuntungan yang baik... Bagaimana financial performancenya "Telkom Flexi" sendiri ? Jika mau contoh tambahan, sila lihat "financial performance"nya CDMA Indosat... Sepertinya, ini karena coverage per BTSnya jauh lebih kecil dari keluarga GSM... Sehingga biaya deploymentnya lebih mahal per satuan coverage-nya... Sejauh perkembangan teknologi sekarang, sepertinya yang akan berkembang adalah WiMAX... Fleksibilitas deployment dan interkonektibilitasnya jauh lebih unggul... Karena itu, baik GSM maupun CDMA akan pelan-pelan ditinggalkan... Jika memang seperti ini... Pertanyaannya adalah, apa saja nilai strategis pembelian CDMA ini bagi Telkom? Seperti disinyalir pada komentar Mas Basuki... Dan mengingat terjadinya beberapa kasus serupa pada bisnis jasa telekomunikasi pada tahun-tahun yang lalu... Barangkali memang ada benarnya analisa para pakar tentang "political economy"... Dalam hal ini, "political business"? Wallahualam bissawab... Barangkali Pak Soemitro atau para (ex) professional lain di bidang ini bisa memberikan pencerahan lebih lanjut? Salam Z 2010/6/8 Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> > Saya kira ini strategi bisnis biasa dimana Telkom berusaha menguasai pasar > melalui strategi M&A. > Suatu keuntungan buat Telkom, kombinasi pasar Flexi yang menguasai jawa > bagian timur dan tengah > dan Esia yang mengusai jawa bagian barat sangat ideal. Ini akan > mengembalikan kejayaan Telkom > di masa basis layanan masih menggunakan fix line. > > Tetapi yang harus dicermati disini adalah : > > 1) Setelah akuisisi ini Telkom praktis akan menguasai pasar layanan > berbasis CDMA, dengan pangsa > pasar 65% lebih. Dikhawatirkan hilangnya iklim kompetisi dan > berkurangnya benefit layanan kepada > pelanggan (terutama dari sisi cost). > > 2) Berapa kocek yang harus dikeluarkan Telkom untuk mengakuisisi Bakie Tel > ? > Performance penjualan Bakrie Tel memang tidak kita ragukan. Tetapi, > harus diingat bahwa ekspansi > besar besaran selama ini menguras kocek operator yang satu ini. Sebagai > contoh, beban bunga melesat > Rp 362,87 miliar dari semula Rp85,08 miliar. Total pinjaman mencapai Rp > 15,81 triliun (pinjaman jangka > pendek sebesar Rp 4,04 triliun + utang repo Rp314,99 miliar + pinjaman > jangka panjang Rp8,10 triliun > + utang obligasi Rp3,37 triliun). Sedangkan pendapatan Rp 3.4 Trilyun > dan laba bersih "cuman" Rp 29 milyar saja. > > > > Salam. > Ach. Chamdani Eka > > > Tsulusun ArRoyan wrote: > > > http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/07/16103438/Pemerintah.Setuju.Telkom.Akuisisi.Bakrie-8 > Sebelumnya diberitakan, Telkom ingin mengembangkan layanan telepon tetap > nirkabel (FWA) Flexi dengan mengambil alih operator CDMA. "Soal bagaimana > cara mengambil alih, akuisisi atau merger, itu masalah korporasi," kata > Mustafa. > -- > Best Regards > Tsulusun Ar Royan > Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it beautifies it. > Whenever it is taken from something, it leaves it tarnished. > >
