Benar Pak. Wimax adalah salah satu solusi terbaik untuk memperluas penetrasi BWA dan sebagai pengganti fix line. Namun sayangnya pemerintah masih keukeh belum mau mengeluarkan lisensi untuk 802.16e (wimax mobile), yang teknologinya cukup murah dan bisa dipakai secara mobile. Memang saat ini pemerintah sudah melepas lisensi untuk yang type 802.16d(nomaden), tetapi operator umumnya tidak mau pakai karena investasi mahal dan bukan mobile sifatnya.
Entah apa yang dipikirkan Kementrian Kominfo kita.

Salam.

Harlizon MBAu wrote:
Sebenarnya Telkom juga punya CDMA... "Telkom Flexi" itu...
Kalau tidak salah, coverage lisensinya juga nasional...
Jika benar begini, sebenarnya Telkom "dengan mudah" mengembangkan coverage CDMAnya untuk nasional juga...

Setahu saya, belum ada jasa layanan telepon tetap nirkabel (FWA) (dan juga CDMA?) yang memberikan keuntungan yang baik...
Bagaimana financial performancenya "Telkom Flexi" sendiri ?
Jika mau contoh tambahan, sila lihat "financial performance"nya CDMA Indosat... Sepertinya, ini karena coverage per BTSnya jauh lebih kecil dari keluarga GSM...
Sehingga biaya deploymentnya lebih mahal per satuan coverage-nya...

Sejauh perkembangan teknologi sekarang, sepertinya yang akan berkembang adalah WiMAX...
Fleksibilitas deployment dan interkonektibilitasnya jauh lebih unggul...
Karena itu, baik GSM maupun CDMA akan pelan-pelan ditinggalkan...

Jika memang seperti ini...
Pertanyaannya adalah, apa saja nilai strategis pembelian CDMA ini bagi Telkom?
Seperti disinyalir pada komentar Mas Basuki...
Dan mengingat terjadinya beberapa kasus serupa pada bisnis jasa telekomunikasi pada tahun-tahun yang lalu... Barangkali memang ada benarnya analisa para pakar tentang "political economy"...
Dalam hal ini, "political business"?
Wallahualam bissawab...

Barangkali Pak Soemitro atau para (ex) professional lain di bidang ini bisa memberikan pencerahan lebih lanjut?


Salam Z

2010/6/8 Achmad Chamdani Eka P. <[email protected] <mailto:[email protected]>>

    Saya kira ini strategi bisnis biasa dimana Telkom berusaha
    menguasai pasar melalui strategi M&A.
    Suatu keuntungan buat Telkom, kombinasi pasar Flexi yang menguasai
    jawa bagian timur dan tengah
    dan Esia yang mengusai jawa bagian barat sangat ideal. Ini akan
    mengembalikan kejayaan Telkom
    di masa basis layanan masih menggunakan fix line.

    Tetapi yang harus dicermati disini adalah :

    1) Setelah akuisisi ini Telkom praktis akan menguasai pasar
    layanan berbasis CDMA, dengan pangsa
         pasar 65% lebih. Dikhawatirkan hilangnya iklim kompetisi dan
    berkurangnya benefit layanan kepada
         pelanggan (terutama dari sisi cost).

    2) Berapa kocek yang harus dikeluarkan Telkom untuk mengakuisisi
    Bakie Tel ?
        Performance penjualan Bakrie Tel memang tidak kita ragukan.
    Tetapi, harus diingat bahwa ekspansi
        besar besaran selama ini menguras kocek operator yang satu
    ini. Sebagai contoh, beban bunga melesat
        Rp 362,87 miliar dari semula Rp85,08 miliar. Total pinjaman
    mencapai Rp 15,81 triliun (pinjaman jangka
        pendek sebesar Rp 4,04 triliun + utang repo Rp314,99 miliar +
    pinjaman jangka panjang Rp8,10 triliun
        + utang obligasi Rp3,37 triliun). Sedangkan pendapatan Rp 3.4
    Trilyun dan laba bersih "cuman" Rp 29 milyar saja.


Salam.
    Ach. Chamdani Eka


    Tsulusun ArRoyan wrote:
    
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/06/07/16103438/Pemerintah.Setuju.Telkom.Akuisisi.Bakrie-8
    Sebelumnya diberitakan, Telkom ingin mengembangkan layanan
    telepon tetap nirkabel (FWA) Flexi dengan mengambil alih operator
    CDMA. "Soal bagaimana cara mengambil alih, akuisisi atau merger,
    itu masalah korporasi," kata Mustafa.
-- Best Regards
    Tsulusun Ar Royan
    Be kind, for whenever kindness becomes part of something, it
    beautifies it. Whenever it is taken from something, it leaves it
    tarnished.


Kirim email ke