Rekans,
Minggu
20 Juni 2010 jam 9 malam di kanal TVRI dengan host Slamet Rahardjo, sempat saya
ikuti, membahas BioEtanol oleh
narasumber Kurtubi pengamat energi, Ir. Ismiyatun anggota DPR komisi VII, dan
DR.
Adi Brata wakil petani singkong & produsen BioEtanol. Kurtubi mengatakan
ada anggaran APBN untuk subsidi Bahan Bakar Nabati BBN (Biodiesel dan
Bioetanol) sebesar + Rp. 2000,- per liter. Bu Ismiyatun mengatakan bahwa
subsidi dikaitkan dengan harga BBN global (basis harga import). Yang menarik
adalah pendapat DR. Adi Brata, bahwa secara umum biaya produksi BioEtanol basis
singkong mencapai Rp. 3400,-/liter atas dasar rendemen bahan baku 6kg (@ Rp.
400,-/kg) singkong menjadi 1 liter BioEtanol 96%. Dan pencapaian optimal
produksi panen singkong 180 Ton/ha, maka harga bahan baku singkong bisa Rp.
100,-/kg dan biaya produksi BioEtanol 96% dapat mencapai Rp. 1600,-/liter. Pada
akhir tahun 2010 Belanda akan memproduksi BioEtanol 8,2 juta liter per tahun
basis
bahan singkong yg diimport dari Filipina dan Vietnam, padahal 3 tahun lalu
mereka
belajar dari petani Bogor. Referensi produksi BioEtanol terbesar dunia adalah
Brazil dengan 11 juta liter /tahun berbasis tanaman tebu, dan aplikasi BioEtanol
di Brazil untuk campuran 85% + 15% bensin pada mobil dan 100% bahan bakar
pesawat ringan “Embraer – Ipanema model”
produksi nasional Brazil.
Jadi
pertanyaan adalah untuk siapa besaran anggaran subsidi Bahan Bakar Nabati BBN
pd APBN, padahal biaya produksi BBN BioEtanol lokal lebih rendah dari BBM
subsidi. Dan mengapa pencapaian produksi BioEtanol tsb diabaikan oleh pejabat
publik pemegang kebijakan energi nasional, bahkan cenderung mempertahankan
kebijakan import BBM ! Yang menyedihkan beberapa produsen BioEthanol lokal
ditangkap
aparat karena dituduh memproduksi bahan minuman beralkohol ilegal, padahal
struktur kimia BBN 99,9% (denaturated)
berbeda dengan minuman beralkohol. Kesannya kok : siapa lawan siapa . . .
Kita
punya Inpres Nomor 1 tahun 2006, Dewan Energi Nasional, Komite Ekonomi
Nasional, Komite Inovasi Nasional, program KIB II ‘de-bottlenecking’ . . “mana
janjimu” (= lagu band Nidji) . .
Saya
pikir kalau potensi lahan kritis jutaan Ha dioptimalkan memproduksi BBN dari
beragam tanaman produktif (a.l. sorgum, nipah, aren, etc), maka kita tidak
perlu import BBM, bahkan bisa eksport
BBN ke manca negara. Surplus devisanya
bisa buat bayar utang negara, sekaligus peningkatan pendapatan petani pendukung
BBN dan membuka lapangan kerja skala pedesaan sesuai kemampuan tenaga kerja
lokal. Anda punya komentar ?
Salam,
Dodiek
NB
: Masyarakat tradisional biasa membuat minuman beralkohol (= saguer, sofi,
tuak, arak, etc), dengan kadar alkohol 30~ 40% dengan teknologi pedesaan.