Terima kasih komentar dari rekans sekalian . . --- On Mon, 21/6/10, Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> wrote:
From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Bls: Re: Peluang BioEtanol terabaikan < salut TVRI To: [email protected] Date: Monday, 21 June, 2010, 7:34 PM Kalau gitu tutup semua kilang minyak, ganti dg solar cell. Sepakat? Inpartnership with Telkomsel BlackBerry®From: datu Wasesa <[email protected]> Sender: [email protected]: Mon, 21 Jun 2010 19:39:04 +0800 (SGT)To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected] Subject: [indonesia] Bls: Re: Peluang BioEtanol terabaikan < salut TVRI Komentar bio etanol he.. he....., Gini lho mas, kalo menurut saya lebih baik singkongnya dijual... duitnya buat beli BBM. Wis lah gak usah mikir jauh2 bikin bioetanol sagala, luwih becik mikir gimana agar bisa mangan singkong tanpa batas gitu loh..... Ini mirip idenya seseorang jaman tahun 70-an. Dia bilang bagaimana kalo gita bikin protein (SSP = single sel protein) dari minyak bumi ?. Saya bilang : mas kalo saya sebagai peneliti, tentu setuju bikin SSP dari minyak bumi. Tapi kalo harus ngomong atas nama ITB? wah, lebih baik minyaknya dijual, kita beli telor - dijamin gak bau minyak. He.. he.... (ojo nesu lho). Saya heran kenapa sih pada takut kalo minyak bumi habis, wong kita gak makan atau minum minyak kok. Yang sejatinya takut kalo minyak bumi habis adalah para mafia minyak bumi, mereka bakal kehabisan obyekan-nah kalo kita2 gak perlu takut-ingat masih ada beras, jagung, air bersih. Yang saya takutkan justru kalo kita kehabisan cara berpikir yang "waras". MARI KEMBALI KE JALAN YANG BENAR. JANGAN LAGI BILANG BBM ITU SUMBER ENERGI UTAMA. YANG NAMANYA SUMBER ENERJI UTAMA ADALAH SINAR MATAHARI, ANGIN MAMIRI - YANG SEMUANYA BERASAL DARI ALLAH. SEMUA YANG ASALNYA DARI ALLAH ITU UTAMA,BUKAN ALTERNATIF (AWAS KUALAT) --- Pada Sen, 21/6/10, Rum Mutiara <[email protected]> menulis: Dari: Rum Mutiara <[email protected]> Judul: [indonesia] Re: Peluang BioEtanol terabaikan < salut TVRI Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 21 Juni, 2010, 1:43 AM Rekans yth, cerita semacam ini memang sering kita dengar di republik ini trimakasih Rekan Dodiek EL yg mengangkat ceritanya. saya hanya ingin mengingatkan kita bersama dengan pernyataan dari beliau sbb: "Saya pikir kalau potensi lahan kritis jutaan Ha dioptimalkan memproduksi BBN dari beragam tanaman produktif (a.l. sorgum, nipah, aren, etc), maka kita tidak perlu import BBM, bahkan bisa eksport BBN ke manca negara. Surplus devisanya bisa buat bayar utang negara, sekaligus peningkatan pendapatan petani pendukung BBN dan membuka lapangan kerja skala pedesaan sesuai kemampuan tenaga kerja lokal. Anda punya komentar ? " ketika kita bertani selalu menghitung dengan tanah yg subur, ketika kita promosi menggunakan istilah lahan kritis, ketika kami membantu perusahaan besar melakukan penanaman singkong utk bioetanol, perlu upaya lebih utk dihasilkan rendemen yg tinggi, sehingga jargon lahan kritis akan sangat membutuhkan energi lebih daripada asumsi lahan biasa terimakasih Rum D Mutiara 2010/6/21 Dodiek EL <[email protected]> Rekans, Minggu 20 Juni 2010 jam 9 malam di kanal TVRI dengan host Slamet Rahardjo, sempat saya ikuti, membahas BioEtanol oleh narasumber Kurtubi pengamat energi, Ir. Ismiyatun anggota DPR komisi VII, dan DR. Adi Brata wakil petani singkong & produsen BioEtanol. Kurtubi mengatakan ada anggaran APBN untuk subsidi Bahan Bakar Nabati BBN (Biodiesel dan Bioetanol) sebesar + Rp. 2000,- per liter. Bu Ismiyatun mengatakan bahwa subsidi dikaitkan dengan harga BBN global (basis harga import). Yang menarik adalah pendapat DR. Adi Brata, bahwa secara umum biaya produksi BioEtanol basis singkong mencapai Rp. 3400,-/liter atas dasar rendemen bahan baku 6kg (@ Rp. 400,-/kg) singkong menjadi 1 liter BioEtanol 96%. Dan pencapaian optimal produksi panen singkong 180 Ton/ha, maka harga bahan baku singkong bisa Rp. 100,-/kg dan biaya produksi BioEtanol 96% dapat mencapai Rp. 1600,-/liter. Pada akhir tahun 2010 Belanda akan memproduksi BioEtanol 8,2 juta liter per tahun basis bahan singkong yg diimport dari Filipina dan Vietnam, padahal 3 tahun lalu mereka belajar dari petani Bogor. Referensi produksi BioEtanol terbesar dunia adalah Brazil dengan 11 juta liter /tahun berbasis tanaman tebu, dan aplikasi BioEtanol di Brazil untuk campuran 85% + 15% bensin pada mobil dan 100% bahan bakar pesawat ringan “Embraer – Ipanema model” produksi nasional Brazil. Jadi pertanyaan adalah untuk siapa besaran anggaran subsidi Bahan Bakar Nabati BBN pd APBN, padahal biaya produksi BBN BioEtanol lokal lebih rendah dari BBM subsidi. Dan mengapa pencapaian produksi BioEtanol tsb diabaikan oleh pejabat publik pemegang kebijakan energi nasional, bahkan cenderung mempertahankan kebijakan import BBM ! Yang menyedihkan beberapa produsen BioEthanol lokal ditangkap aparat karena dituduh memproduksi bahan minuman beralkohol ilegal, padahal struktur kimia BBN 99,9% (denaturated) berbeda dengan minuman beralkohol. Kesannya kok : siapa lawan siapa . . . Kita punya Inpres Nomor 1 tahun 2006, Dewan Energi Nasional, Komite Ekonomi Nasional, Komite Inovasi Nasional, program KIB II ‘de-bottlenecking’ . . “mana janjimu” (= lagu band Nidji) . . Saya pikir kalau potensi lahan kritis jutaan Ha dioptimalkan memproduksi BBN dari beragam tanaman produktif (a.l. sorgum, nipah, aren, etc), maka kita tidak perlu import BBM, bahkan bisa eksport BBN ke manca negara. Surplus devisanya bisa buat bayar utang negara, sekaligus peningkatan pendapatan petani pendukung BBN dan membuka lapangan kerja skala pedesaan sesuai kemampuan tenaga kerja lokal. Anda punya komentar ? Salam, Dodiek NB : Masyarakat tradisional biasa membuat minuman beralkohol (= saguer, sofi, tuak, arak, etc), dengan kadar alkohol 30~ 40% dengan teknologi pedesaan.
